Tertambat Bad Boy Insyaf

Tertambat Bad Boy Insyaf
Phobia Kegelapan


__ADS_3

"Apa-apaan sih itu orang, nggak jelas banget. Ngapain coba cari keributan di kantin, di depan orang yang lagi antri pula, 'kan aku jadi lama seperti ini belanjanya. Pasti Diandra kesal deh nungguin aku," gerutu Sasa sepanjang perjalanan dari kantin menuju ke pohon untuk menghampiri sahabatnya.


Akan tetapi setibanya di tempat, Sasa kelimpungan karena tidak menemukan keberadaan sahabatnya itu.


"Tuh kan, pasti karena aku kelamaan jadi Diandra udah ke kelas duluan," gumam Sasa, lalu meletakkan minuman dan juga cemilan yang tadi dibelinya di atas kursi.


Setelah itu Sasa meraih ponsel yang diletakkan di dalam tas dan melihat ada beberapa panggilan masuk dari Diandra, serta pesan WhatsApp yang menanyakan keberadaannya.


"Ya ampun, kenapa juga ini HP pakai mode silent, nggak getar lagi sama sekali, ya wajah aja lah aku nggak denger waktu Diandra nelpon," umpat Sasa yang semakin kesal dengan keadaan.


Lalu ia pun mencoba menghubungi Diandra tetapi nomornya itu berada di luar jangkauan, sehingga Sasa langsung saja pergi meninggalkan tempat tersebut mencari Diandra.


 ------


Sementara itu, Diandra yang masih berada di dalam gudang sudah sangat lemah dan sulit untuk bernafas. Mungkin karena rasa ketakutannya dan juga ruangan yang begitu gelap dan sempit. Saat ini ia hanya bisa mengandalkan lampu senter pada ponselnya yang baterainya hanya tinggal 2% saja. Di dalam gudang tersebut juga tidak mendapatkan signal, sehingga membuat Diandra pun tidak bisa untuk menghubungi siapapun dan meminta pertolongan. Benar-benar lengkap sudah penderitaan Diandra saat ini, entah siapa yang telah tega melakukan hal ini dengan sengaja kepadanya.


"Tolong … tolong … ."


Tok … tok … tok …


Suara minta tolong diiringi kutukan pintu yang keluar dari mulut Diandra itu pun semakin melemah dan hampir tak terdengar.


 ------


Sasa masih tampak berlarian mencari keberadaan Diandra setelah tadi tidak menemukannya di dalam kelas. Ia juga menanyakan kepada mahasiswa dan mahasiswi sekitar tetapi dari mereka sama sekali tidak ada yang melihat Diandra, sehingga di saat itu ia tidak sengaja menabrak seseorang karena tidak fokus berjalan.


"Sasa? Kau kenapa?" Tanya Kenzo. Ya pria tersebut adalah Kenzo, ia merasa penasaran melihat Sasa yang begitu terburu-buru.


"Ken, aku sedang mencari Diandra," jawab Sasa yang menceritakan kronologi kejadian sampai ia kehilangan jejak sahabatnya itu.


"Sa, yang tenang oke! Ayo kita cari sama-sama," kata Kenzo yang juga ikut merasakan khawatir.


Sasa pun menganggukkan kepala menyetujuinya, lalu keduanya bersama-sama mencari Diandra ke seluruh penjuru kampus, hingga kini mereka sudah berada di lorong yang menuju ke gudang.


"Diandra … ."


"Diandra … ."

__ADS_1


Kenzo dan Sasa saling bersahutan memanggil nama Diandra, berharap jika akan mendapat jawabannya.


Diandra yang di saat itu hampir saja pingsan, mendadak mendapatkan energi saat mendengar suara sahabat dan juga Kenzo yang memanggil namanya. Ia pun berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dan kembali meminta pertolongan.


"Sasa, Kenzo, aku di sini," ucap Diandra Lirih.


"Sa, aku seperti mendengar suara Diandra," kata Kenzo seperti mendengar bisikan angin lalu.


"Kamu yakin?" Tanya Sasa yang mendekati Kenzo.


Tok … tok …


"Tolong aku."


Terdengar suara Diandra kembali yang membuat Sasa dan Kenzo sama-sama saling memandang dan yakin jika memang suara tersebut adalah suara Diandra.


"Ken itu benar-benar suara Diandra, dan sepertinya dari dalam gudang ini," kata sasa yang menunjuk gudang.


"Diandra … apa kau ada di dalam?" Panggil Kenzo yang juga mengetuk pintu.


Meskipun saat ini Diandra semakin lemah tak berdaya, tetapi ia lega karena ternyata sudah ada yang menemukannya di dalam gudang dan akan menolongnya.


"Iya, aku di dalam," jawab Diandra hampir tak bersuara.


"Ternyata benar Ken Diandra ada di dalam, bagaimana ini? Kita harus membuka pintunya," kata Sasa. "Diandra, kamu bertahan ya. Aku dan Kenzo akan menolong kamu," ucapnya.


"Tapi bagaimana? Pintunya terkunci," kata Kenzo.


"Ya di dobrak lah Ken. Kamu ini gimana sih, masa dalam hal seperti ini saja kamu masih bertanya," ucap Sasa di dalam kepanikannya.


"Aku tahu kau panik, sama aku juga panik dan ingin cepat-cepat menolong Diandra. Tapi aku yakin jika saat ini Diandra berada di depan pintu, bagaimana jika aku dobrak dan Diandra tidak bisa menjauh dari pintu, apa kau tidak memikirkan apa akibatnya?" Bentak Kenzo yang membuat Sasa pun terdiam dan membenarkan ucapannya itu.


"Diandra, apa kau mendengar ucapanku? Kalau sekarang kau berada di depan pintu, tolong menjauh. Karena aku akan mendobrak pintunya," ucap Kenzo tetapi sama sekali tak ada jawabannya.


"Diandra nggak jawab Ken, aku yakin pasti sudah terjadi sesuatu di dalam. Apa yang harus kita lakukan sekarang Kenzo," kata Sasa dengan mata berkaca-kaca karena sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.


"Tunggu di sini, aku akan meminta kunci cadangannya kepada penjaga kampus," kata Kenzo dan segera pergi.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Kenzo telah kembali dengan membawa kunci cadangannya.


"Cepat Ken!" Titah Sasa.


Lalu Kenzo pun membuka pintu gudang dan benar saja, di saat itu mereka berdua melihat Diandra yang sudah terkapar dengan wajahnya yang begitu pucat.


"Diandra … Di bangun Di," ucap Sasa diiringi air matanya yang mengalir.


"Sa, kita harus bawa Diandra ke rumah sakit sekarang. Kau bawa mobil 'kan, karena aku bawa motor hari ini," kata Kenzo.


"Ya, aku bawa mobil," jawab Sasa.


Segera saja Kenzo menggendong tubuh Diandra menuju ke mobil, lalu membawanya menuju ke rumah sakit bersama Sasa.


Sementara itu, dari kejauhan terlihat seorang wanita yang terlihat sangat tidak suka karena melihat Diandra yang lagi-lagi selamat dan ditolong oleh pria yang disukainya.


*****


Sasa tampak panik dan mondar-mandir menunggu di depan ruang pemeriksaan, menunggu dokter yang sedang memeriksa Diandra, tetapi sampai sekarang sama sekali belum juga keluar dari ruangan tersebut.


"Sa, apa kau tidak bisa duduk diam. Kau malah membuatku semakin pusing," tegur Kenzo.


"Ken, apa kamu ini sama sekali tidak punya perasaan. Kamu tahu 'kan kalau saat ini aku sedang cemas, aku khawatir memikirkan keadaan Diandra," ucap Sasa emosi.


"Aku tahu Sa, aku juga khawatir. Aku juga cemas dan takut terjadi sesuatu dengan Diandra, tapi apa kau pikir dengan mondar-mandir seperti itu akan memperbaiki keadaan, tidak 'kan? Sudahlah, lebih baik sekarang kau duduk tenang, kita tunggu Dokter keluar ya," ucap Kenzo, sehingga Sasa pun mendudukkan dirinya di samping Kenzo.


"Aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik Ken. Seandainya tadi aku tidak berlama-lama di kantin dan meninggalkan Diandra, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Diandra? Pasti Om Danu akan menyalakanku, aku ini benar-benar sahabat yang tidak berguna Ken," kata Sasa dengan matanya yang berkaca-kaca.


Kenzo sangat tahu jika saat ini Sasa benar-benar sangat sedih dengan apa yang dialami oleh sahabatnya.


"Sa, aku minta maaf jika tadi aku membentakmu. Tapi itu karena aku juga ikut panik. Kau harus tenang, aku yakin pasti Diandra tidak kenapa-napa," ucap Kenzo dengan lembut.


"Ya mudah-mudahan saja seperti itu, karena Diandra phobia dengan kegelapan. Dia pernah mengalami hal buruk sewaktu kecil saat terkunci di dalam gudang bersama adiknya. Aku benar-benar merasa tidak bisa menjadi sahabat yang baik, apa mungkin persahabatan kami berdua memang benar-benar akan hancur? Setelah kemarin kami berdua sama-sama menghilangkan gelang persahabatan, sekarang Diandra dalam keadaan seperti ini gara-gara aku," ucap Sasa yang sangat takut dengan pikiran negatifnya itu.


"Gelang persahabatan?"


Bersambung …

__ADS_1



__ADS_2