
Sesuai janjinya, setelah selesai kelas Kenzo pun tampak sudah berada di depan kelas Diandra untuk menunggu kekasihnya itu. Hingga tidak berapa lama kemudian, terlihat Diandra dan Sasa yang baru saja keluar dan menghampirinya.
"Hm, sekarang kalau keluar kelas udah ada yang nunggu aja nih, ya udah deh kalau begitu aku ke kantin duluan aja," sindir Sasa.
"Sa jangan gitu dong, sama-sama aja ya ke kantinnya. Kamu nggak masalah 'kan Ken?" Tanya Diandra.
"Sama sekali nggak masalah lah," jawab Kenzo.
"Iya kalian berdua nggak masalah, tapi aku yang masalah. Aku nggak mau lah jadi obat nyamuk kalian berdua," kata sasa yang langsung saja pergi meninggalkan keduanya.
Diandra dan Kenzo hanya saling memandang dan tersenyum melihat kelakuan Sasa, lalu keduanya pun berjalan untuk menyusul Sasa menuju ke kantin. Akan tetapi di saat itu Kenzo pun teringat ucapan Riko yang telah menceritakan apa yang telah disampaikan oleh Sasa pada saat mereka berada di cafe waktu itu.
"Sayang, aku melupakan sesuatu. Aku minta maaf ya, sepertinya aku belum bisa ke kantin sekarang. Gimana kalau kamu ke kantin aja dulu, aku mau menyelesaikan urusan aku sebentar," ucap Kenzo yang menghentikan langkah keduanya.
"Oh … gitu, ya udah kalau gitu kamu selesaikan aja urusannya dulu. Nanti kalau udah selesai kamu susul aku aja," kata Diandra.
"Kamu nggak curiga atau kamu nggak nanya gitu aku ada keperluan apa?" Tanya Kenzo yang melihat kekasihnya itu seakan tak peduli dengan urusannya.
"Untuk apa juga aku harus curiga karena yang terpenting dalam sebuah hubungan itu adalah kepercayaan. Aku percaya kok sama kamu, jadi selagi aku masih memberikan kepercayaan itu, aku harap kamu bisa menjaganya," ucap Diandra tersenyum, yang membuat Kenzo pun tampak lega tetapi juga merasa bersalah karena ternyata ia hanya salah paham terhadap kekasihnya itu.
"Oh … syukurlah. Aku janji nggak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaan yang kamu berikan. Bagaimana kamu percaya ke aku, begitu juga aku percaya ke kamu," kata Kenzo.
"Iya, iya, ya udah gih sana selesaikan dulu urusan kamu. Nanti kamu lapar kalau nggak makan," ucap Diandra yang terlihat begitu perhatian terhadap Kenzo.
"Iya Sayang, pacar aku perhatian banget sih," ucap Kenzo yang mendadak bucin dan ditanggapi senyuman oleh Diandra.
Lalu keduanya pun berpisah, Diandra menuju ke kantin untuk menyusul sahabatnya, sedangkan Kenzo pergi berlawanan arah untuk menyelesaikan urusannya.
*****
Kenzo tampak kesana-kemari mencari seseorang hingga akhirnya ia menemukannya di taman depan kampus. Segera saja ia melangkahkan kakinya mendekati 3 orang wanita yang di saat itu tampak sedang bercanda.
"Ra, ada Kenzo tuh," ucap Katty yang memuncungkan bibirnya ke arah belakang.
"Hah! Serius ada Kenzo? Dia beneran ke sini atau jangan-jangan hanya lewat sini aja?" Tanya Laura yang begitu terkejut dan tak mempercayainya.
"Iya serius Sa, aku yakin kok dia datang ke sini mau menghampiri kamu. Kalau nggak percaya tanya aja tuh dengan Rere," ujar Katty.
__ADS_1
"Iya Ra, Katty benar. Itu Kenzo memang ke sini buat menghampiri kamu, lebih baik kamu nggak usah noleh deh. Biar aja pura-pura nggak tahu dan kita lihat saja nanti apakah benar Kenzo itu menghampiri kamu atau tidak," ucap Rere.
"Oke, tapi kalian lihat aku cantik nggak?" Tanya Laura sembari membetulkan rambutnya.
"Cantik, kamu cantik banget kok. Memangnya kapan sih Kamu nggak cantik," kata Rere yang membuat Laura pun tersenyum senang.
"Hai," ucap Kenzo yang saat ini sudah berada di hadapan ketiganya.
Laura sangat senang karena ternyata benar bahwa Kenzo datang untuk menghampiri dirinya.
"Hai Ken," ucap Laura, begitu juga dengan kedua sahabatnya itu.
"Maaf mengganggu kalian. Tapi aku ingin berbicara berdua dengan Laura, apa boleh?" Tanya Kenzo.
"Tentu saja boleh," jawab Katty dengan cepat.
"Ya tentu saja boleh, kalau begitu silahkan kalian berdua berbicara, kami akan pergi," ucap Rere yang langsung saja mengajak Katty untuk menjauh dari Laura dan Kenzo.
Hingga di saat itu pun Kenzo langsung saja mendudukkan dirinya di samping Laura sehingga membuat wanita tersebut merasa senang, jantungnya berdetak tak karuan, karena pada akhirnya ia bisa begitu dekat dengan Kenzo. Bahkan pria tersebut yang menghampirinya terlebih dahulu.
"Ada apa Ken?" Tanya Laura dengan jaimnya, yang masih bersikap sok jual mahal karena Kenzo yang berkali-kali menolaknya.
"Maksudmu? Bukankah kamu sudah jadian dengan Diandra, tapi kenapa sekarang kamu malah datang ke sini mengatakan hal ini?" Tanya Laura tak mengerti.
"Siapa bilang aku jadian dengan Diandra, kami hanya dekat saja kok," jawab Kenzo yang terpaksa berbohong untuk melancarkan rencananya.
"Serius? Jadi kamu nggak jadian sama Diandra?" Tanya Laura untuk memastikannya lagi.
"Iya, benar. Sudahlah lagipula untuk apa juga bahas soal itu, sekarang aku hanya ingin membahas tentang kita. Bagaimana kalau nanti aku akan mengantarmu pulang dan sebelum pulang aku akan mengajakmu makan terlebih dulu," ucap Kenzo, membuat Laura terkejut dan tak percaya mendengarnya. Tentu saja ia sangat senang dan langsung mengangguk menyetujuinya.
"Ya sudah, kalau begitu nanti tunggu aku di depan ya. Sekarang aku mau ke kantin dulu," ucap Kenzo.
"Iya Ken," jawab Laura, bibirnya seakan kaku untuk mengucapkan kata karena sangat gugup dan bahagia mendapatkan ajakan tersebut.
Tak henti-hentinya ia tersenyum dan di saat Kenzo telah menjauh dari pandangan matanya, ia pun mengapresiasikan rasa bahagianya dengan berteriak kegirangan.
*****
__ADS_1
Siang hari, di saat matahari begitu terasa menusuk ke kulit, Laura tampak dengan sabar menunggu kedatangan Kenzo yang berjanji akan mengantarnya pulang dan memintanya untuk menunggu di halte depan kampus. Karena kenzo sudah merencanakannya dengan matang, tentunya ia juga sudah mengatakan hal ini kepada Sasa, sehingga Sasa juga sudah terlebih dahulu mengajak Diandra pulang agar wanita tersebut tidak melihat kekasihnya bersama dengan wanita lain. Setelah semuanya aman, kini Kenzo pun keluar dari kampus hendak menghampiri Laura yang di saat itu terlihat sangat kesal, serta wajahnya juga tampak memerah akibat terkena sinar matahari secara langsung.
"Ini Kenzo kemana sih? Kalau bukan karena dia yang ingin mengantarku pulang dan mengajakku makan, nggak sudi aku menunggu dia di sini. Nggak tahu apa kulit aku rasanya terbakar seperti ini. Lagipula kenapa juga sih aku harus menunggu di sini, kenapa nggak dari kampus aja keluar bareng. Mana nanti harus naik motor lagi," gerutu Laura dengan wajah bete, tetapi demi cintanya pada Kenzo, ia pun mencoba untuk bertahan.
Hingga di saat itu terdengar suara motor Kenzo yang saat ini sudah berhenti di hadapannya bersama motor sportnya itu.
"Maaf ya Ra, tadi aku ada sedikit urusan di dalam. Aku benar-benar minta maaf, pasti kau sangat kepanasan menungguku disini," ucap Kenzo diakhiri dengan senyuman meledek.
Melihat kedatangan Kenzo, rasanya di saat itu Laura ingin mengumpat dan memaki-maki pria tersebut. Akan tetapi lagi-lagi ia berusaha untuk bersikap sabar demi pria yang disukainya.
"Memang panas sih, tapi nggak apa-apa kok. 'Kan demi kamu, beberapa jam menunggu di sini pun aku rela," ucap Laura tersenyum.
"Ck, dasar wanita ular. Kalau bukan karena untuk mengambil gelang itu kembali, aku tidak akan sudi untuk bersama denganmu. Bahkan kekasihku saja tidak pernah menaiki motor ini," batin Kenzo yang sangat muak, tetapi berusaha untuk tersenyum di depan Laura.
"Ya sudah, ayo naik," ucap Kenzo, lalu segera saja Laura naik ke atas motornya dan tanpa malu langsung memeluk Kenzo. Tetapi Kenzo pun langsung melepaskan tangannya dan meminta Laura untuk tidak menyentuhnya. Meskipun kesal Laura mengikutinya saja, yang penting ia masih bisa bersama dengan pria tersebut. Laura hanya berpikir mungkin saat ini Kenzo masih malu kepadanya.
*****
Setelah tadi mampir terlebih dahulu menikmati makan siang bersama, kini Kenzo pun mengantar Laura langsung pulang ke rumahnya.
"Ken, kamu mau masuk dulu nggak? Biar aku buatkan kamu minuman dulu," ucap Laura saat mereka telah tiba di depan rumah Laura.
"Justru memang ini yang aku inginkan," batin Kenzo. "Boleh deh, kebetulan aku juga haus," jawabnya.
"Ya udah, yuk masuk," ajak Laura, lalu Kenzo masuk ke dalam rumah Laura dan duduk di ruang tamu.
"Ken, kamu duduk dulu ya. Aku buatkan minuman dulu untuk kamu," ucap Laura.
"Iya Ra. Oh ya aku boleh izin ke toilet tidak, sepertinya karena habis makan tadi perutku sedikit mules," ucap Kenzo.
"Iya boleh, toiletnya disebelah sana," kata Laura sembari menunjuk. "Oh ya, mau sekalian aku buatkan cemilan juga nggak?" Tanyanya.
"Boleh, terserah kamu saja asalkan tidak merepotkan," ucap Kenzo yang sengaja mengiyakan, karena itu pastinya akan mengulur-ngulur waktu.
Setelah Laura ke belakang, kini Kenzo pun mulai berpura-pura untuk menuju ke toilet. Akan tetapi tujuannya adalah untuk mencari keberadaan kamar Laura. Hingga pertama kali Kenzo membuka sebuah kamar yang ternyata kamar tersebut adalah kamar orang tua Laura, terlihat dari dekorasi kamar. Lalu ia naik ke lantai atas dan menemukan sebuah kamar yang ia yakini jika itu adalah kamar Laura, karena kamar tersebut bernuansa serba warna pink.
Kenzo masuk ke dalam kamar itu, ia mencoba mencari-cari sesuatu yang dicarinya hingga di saat itu pun mata Kenzo tertuju pada meja rias dan di sana terdapat 2 buah gelang yang dicarinya. Segera saja Kenzo menghampiri dan mengambil 2 gelang tersebut. Akan tetapi di saat itu tiba-tiba saja terdengar langkah kaki yang mendekati kamar, sehingga membuat Kenzo pun merasa gugup dan kebingungan harus berbuat apa saat ini.
__ADS_1
Bersambung …