
"Akh," rintih Kenzo yang refleks memegang tangan Diandra.
Sehingga membuat Diandra merasa terkejut dan keduanya saling bertatapan.
Deg …
Ada rasa yang bergejolak di dalam dada, akan tetapi Diandra dan Kenzo sama-sama tak mengerti tentang apa itu. Hingga di saat itu pun Diandra merasa gugup dan langsung melepaskan tangannya dari pegangan Kenzo.
"Ma-maaf aku tidak sengaja," ucap Kenzo.
"Iya, aku juga minta maaf ya sudah membuatmu kesakitan. Aku juga tidak sengaja, tapi ini sudah selesai kok," ucap Diandra.
"Terimakasih ya Di sudah mengobati lukaku," ucap Kenzo.
"Iya sama-sama, terimakasih juga karena kamu tadi telah menolongku. Tapi lain kali kamu tidak perlu ikut campur urusan orang lain," ucap Diandra dan hanya ditanggapi anggukkan kepala oleh Kenzo.
Dari kejauhan, Laura yang sedari tadi mencari keberadaan Kenzo dan melihat mereka sedang berdua itu pun merasa sangat murka. Lalu ia langsung saja berjalan mendekati keduanya.
"Kenzo, kenapa kamu bisa terluka seperti ini? Pasti Diandra 'kan yang sudah menyebabkan ini semua," tuding Laura yang sangat khawatir melihat keadaan Kenzo.
Akan tetapi di saat Laura hendak memegang sudut bibir Kenzo yang terluka, Kenzo pun langsung saja menepisnya dengan kasar.
"Aku baik-baik saja, kau jangan sembarangan menuduh Diandra seperti itu," ucap Kenzo tidak suka.
"Diandra, apa yang kamu lakukan terhadap Kenzo hah?" Tanya Laura yang mendorong tubuh Diandra begitu saja.
"Apaan sih kamu. Aku tidak melakukan apapun terhadap Kenzo," jawab Laura yang sangat malas meladeni seniornya ini.
"Kalau kanu tidak melakukan apapun, mana mungkin Kenzo terluka seperti ini!" Bentak Laura.
"Stop Laura! Kau ini kenapa? Diandra baru saja menolongku, dia mengobati lukaku," kata Kenzo yang tidak suka melihat Diandra dimarahi seperti itu.
"Tapi, kamu pasti bisa terluka gara-gara wanita ini 'kan? Dari tadi kamu baik-baik saja. Lagipula kamu itu kemana aja sih, dari tadi tuh aku mencari kamu," kata Laura.
"Untuk apa kau mencariku. Kau bukan ibuku atau baby sisterku yang kemana aku pergi maka kau harus mendampingiku. Dengar ya Laura, aku mau berteman denganmu bukan berarti kau bisa mengatur hidupku, kau bisa selalu mencari-cariku. Kau bukan siapa-siapa bagiku," ucap Kenzo yang kata-katanya itu terasa sangat sakit didengar oleh Laura.
"Kamu lupa ya apa yang sudah aku lakukan? Aku yang sudah menolong kamu, aku sudah menyelamatkan nyawa kamu," kata Laura sehingga membuat Diandra pun tampak terkejut.
__ADS_1
"Menyelamatkan nyawa? Apa maksud Laura dengan menyelamatkan nyawa?" Diandra bertanya-tanya di dalam hatinya.
Laura yang melihat Diandra seperti merasa curiga itu pun langsung mengalihkan pembicaraan.
"Ken, ayo sekarang kita masuk kelas. Sebentar lagi Dosen galak akan masuk. Kamu mau dimarahi dengan dosen itu lagi," kata Laura yang langsung saja menarik tangan Kenzo.
"Tidak usah tarik-tarik, aku bisa jalan sendiri," kata Kenzo. "Di, terimakasih ya. Aku masuk kelas dulu, kamu juga mau masuk kelas 'kan?" Ucapnya yang kini beralih pada Diandra.
Tanpa menjawab apapun, Diandra pun langsung saja pergi terlebih dahulu sebelum Kenzo dan Laura pergi.
"Kau bisa melihatnya sendiri 'kan jika Diandra itu sama sekali tidak mempunyai sopan santun. Itu yang selalu membuat aku kesal terhadap Diandra," kata Laura yang sengaja ingin meracuni otak Kenzo.
Sedangkan Kenzo sama sekali tak menanggapi ucapan Laura, ia pun berjalan dengan langkah panjang meninggalkan Laura.
"Ken, tunggu dong!" Teriak Laura sembari mengejar Kenzo
*****
"Di, kita langsung pulang nggak apa-apa 'kan? Aku antar kamu pulang sekarang, setelah itu aku harus buru-buru jemput Mami nih. Aku juga nggak tahu kenapa Mami tiba-tiba minta aku yang jemput," kata Sasa.
"Kalau kamu memang terburu-buru, kamu nggak usah antar aku pulang ya. Aku pulang naik taksi aja," kata Diandra.
"Nggak apa-apa Sa, aku pulangnya naik taksi aja. 'Kan aku juga udah sering pulang sendiri. Kamu tenang aja, aku pasti akan baik-baik aja kok, kamu nggak usah khawatir," kata Diandra.
"Benar nggak apa-apa? Kamu nggak marah 'kan sama aku karena aku pergi duluan meninggalkan kamu," tanya Sasa yang merasa tidak enak.
"Justru aku akan marah kalau kamu nggak pergi sekarang, kasian Tante Santi kalau kelamaan menunggu kamu jemput," kata Diandra.
"He … he … he … Iya deh. Tapi kamu hati-hati ya, jangan lupa lupa kabari kalau kamu sudah sampai rumah. Oke Beb," kata sasa yang merasa tidak enak.
"Idih, udah melebihi pacar aja deh," kata Diandra.
"Siapa suruh sampai sekarang kamu masih jomblo," ledek Sasa.
"Nggak sadar diri banget, memangnya kamu punya pacar?" Sindir Diandra yang membuat keduanya pun sama-sama tertawa.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya Di. Benar 'kan nggak apa-apa?" Tanya Sasa untuk memastikannya lagi.
__ADS_1
"Iya, benar. Nggak apa-apa kok," jawab Diandra.
Lalu segera saja mereka berpisah, dengan Sasa yang menuju ke parkiran dan meninggalkan sahabatnya itu, sedangkan Diandra berjalan keluar dari kampus menuju ke jalan raya untuk mencari taksi atau tukang ojek yang lewat.
Di saat itu pun Kenzo yang baru saja keluar dari kampus berhenti tepat di depan Diandra.
"Di, kau menunggu siapa? Tumben tidak pulang dengan Sasa," tanya Kenzo yang sok akrab.
"Bukan urusan kamu," jawab Diandra ketus.
"Mau aku antar pulang?" Tawar Kenzo.
"Tidak, terimakasih banyak." Lagi-lagi Diandra menjawabnya dengan begitu ketus, bahkan pandangannya pun ia alihkan ke arah lain, enggan menatap pria tersebut.
"Ayolah Di, ini jalanan sudah sepi. Apa kau tidak takut jika nanti ada orang jahat yang akan mengganggumu lagi seperti tadi pagi," kata Kenzo mengingatkan.
"Tidak, terima kasih Ken. Lebih baik kamu pulang saja. Untuk apa juga sih kamu mengganggu aku di sini," kata Diandra.
"Aku tidak akan pulang jika kau tidak naik motorku sekarang dan kau aku antar pulang," kata Kenzo seakan memaksa.
"Aku tidak akan mau pulang menggunakan motor sport anak geng motor," kata Diandra singkat, padat dan jelas.
"Alasannya kenapa?" Tanya Kenzo penasaran.
"Kamu tidak perlu tahu kenapa, tapi yang penting kamu sekarang sudah tahu kalau aku tidak menyukai anak geng motor, apalagi kalau aku sampai harus pulang bareng menggunakan motornya. Jadi sekarang kamu pulang dan jangan pernah lagi menawarkan untuk mengantarku pulang," kata Diandra yang menatap serius.
Mendapat tatapan seperti itu membuat Kenzo yakin jika ada sesuatu yang membuat Diandra trauma akan motor sport dan geng motor, sehingga membuat Kenzo memilih tak lagi berani memaksa. Meskipun ia merasa sangat penasaran, tapi kali ini ia pun memilih untuk tidak banyak bertanya lagi.
"Taksi!" Panggil Diandra saat melihat ada taksi yang lewat, hingga taksi tersebut berhenti tepat di depannya.
"Hati-hati ya Di," ucap Kenzo.
Tanpa menjawab apapun, Diandra pun segera saja masuk ke dalam taksi tersebut, lalu sang supir melajukan taksinya pergi meninggalkan Kenzo.
"Diandra, kau benar- benar berbeda dengan wanita lain dan kau semakin membuatku penasaran. Diandra … Diandra … hanya kau satu-satunya wanita yang sudah berhasil membuatku menjadi seperti ini setelah sekian lama. Aku pasti akan mencari tahu tentangmu secepatnya," gumam Kenzo mengulas senyum tipis.
Bersambung …
__ADS_1