
Kenzo tampak acuh tak acuh mengikuti kelas hari ini. Ia merasa sangat bosan dengan suasana baru di kampus yang baru, ia belum mengenal siapa pun yang ada di dalam kelas tersebut, ditambah lagi pria berdarah Turki-Indonesia ini tidak menyangka jika akan sekelas dengan musuh bebuyutannya dalam geng motor. Membuatnya merasa jika hidupnya saat ini benar-benar membosankan.
Hingga tidak berapa kemudian kelas pun berakhir. Seorang wanita yang bernama Laura, cantik seksi dan sangat berpengaruh di kampus karena merupakan anak dari salah satu donatur terbesar di kampus, sifatnya yang terkenal arogan dan sangat membenci Diandra, karena menganggap Diandra selalu saja mendapatkan perhatian dari para pria, berjalan mendekati Kenzo dengan bermaksud mengajaknya berkenalan. Akan tetapi baru melihat Laura mendekatinya saja Kenzo sudah dulu menjauhinya, sehingga membuat Satria menertawakannya.
"Apa dia menjadi targetmu selanjutnya setelah berpisah denganku? Bukankah kau mengatakan ingin mencari pria yang lebih baik dan lebih tampan dariku? Jika kau mendekati pria itu, dia tidak lebih baik dariku Laura," hardik satria yang berjalan dan menjauh dari Laura, membuat Laura pun memasang wajah kesal dan sangat membenci mantan kekasihnya itu.
"Kenapa Ra? Kamu bermasalah lagi dengan Satria?" Tanya Rere yang merupakan sahabat Laura.
"Kamu lihat sendiri 'kan bagaimana sifat songongnya Satria itu semakin hari. Aku harus segera mencari penggantinya, kalau tidak aku akan semakin diremehkan seperti itu dan aku yakin jika Kenzo adalah pria yang tepat. Oke mungkin sekarang Kenzo menghindar, tetapi aku yakin nantinya dia pasti akan luluh padaku," kata Laura dengan PD-nya.
*****
Setelah memesan makanan, Diandra dan Sasa duduk di kantin untuk menikmati makan siang sebelum pulang ke rumah.
"Di, memangnya nggak bosan ya makan di kantin terus. Kenapa kita nggak makan di luar aja sih, bosan makan di kantin, makanannya ini-ini aja," gerutu Sasa.
"Sa, kamu 'kan tahu sendiri aku itu lagi hidup hemat. Kalau makan di luar terus, pastinya pengeluaran aku akan lebih besar. Kalau di kantin 'kan lebih hemat. Apalagi aku selalu bawa ini nih," ucap Diandra yang mengeluarkan botol minuman dari dalam tas-nya.
"Kamu nih ya Di, padahal kalau hanya untuk makan siang kamu aja aku bisa kok traktir kamu. Bahkan makan malam, sarapan pagi, semuanya deh aku yang belikan untuk kamu, untuk sahabat terbaik aku," kata Sasa.
"Nggak perlu Sa, aku nggak mau hidup ketergantungan sama orang lain, meskipun itu kamu. Aku udah terlalu banyak merepotkan kamu," kata Diandra yang membuat Sasa bosan mendengarnya, karena sudah sering kali Diandra mengucapkan hal itu.
"Iya, iya, terserah deh. Sekarang kita makan aja yuk, kamu nggak mau stik nih?" Tawar Sasa yang melihat sahabatnya itu hanya memesan mie ayam saja.
"Eh ada duo ubur-ubur nih. Makanya ya kalau sudah dasarnya miskin tuh yang miskin aja, terima kenyataan. Kenapa juga harus kuliah di kampus elite seperti ini, kesannya maksa banget sih. Kamu 'kan tahu sendiri yang kuliah di sini tuh rata-rata anaknya bos perusahaan, ini hanya anak seorang karyawan biasa loh, kok berani banget sih buat kuliah di sini," ledek Laura yang tiba-tiba saja muncul bersama 2 sahabatnya.
"Uh … kasihan banget ya, kasihan banget harus memaksa hidup seperti itu. Padahal 'kan kampus lain banyak yang bisa menerima kalangan kelas bawah," sambung Rere.
"Iya, tapi sepertinya dia punya sahabat yang kaya deh, kenapa harus makan makanan rakyat jelata seperti ini sih. Memangnya di kantin ini sudah nggak ada makanan yang bermutu lagi. Sepertinya ada lah ya, buktinya tuh sahabatnya saja makan makanan elite. Nggak kasihan apa ya sama sahabatnya, kasih kek sahabatnya stik dagingnya, kasihan tuh makan mie terus, ups," sindir Katty yang menutup mulutnya itu, sengaja ingin memanasi Diandra.
Sehingga membuat Sasa menjadi naik darah dan ingin menghajar Laura serta sahabatnya saat ini juga. Akan tetapi tidak dengan Diandra yang terlihat cuek karena sudah merupakan makanan sehari-harinya mendapatkan ledekan dari Laura dan sahabat-sahabatnya itu.
"Sudah Sa nggak usah diladeni," ucap Diandra saat melihat Sasa sudah beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Tapi ini nggak bisa diamkan terus-menerus Di," ucap Sasa. Memang Diandra ada salah apa sih sama kalian, kenapa kalian begitu sensi terhadap Diandra. Oke kalau kalian merasa kalian semua orang kaya, seharusnya sudah cukup puas dong, kenapa kalian masih menindas orang yang berada di bawah kekayaan kalian. Benar-benar nggak ada otak ya kalian semua. Dan kamu Katty, kamu nggak usah sok kaya deh. Memangnya kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu bisa masuk ke kampus ini karena belas kasihan dari orang tuanya Laura. Kalau bukan karena orang tua Laura yang yang membiayai semua kuliah kamu, kamu nggak akan mungkin bisa berkuliah di sini. Berbeda dengan Diandra karena ayahnya terus berusaha keras untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuknya, bahkan Diandra juga bekerja supaya bisa tetap berkuliah di sini, tidak mengandalkan orang lain seperti kamu," kata Sasa yang kesabarannya sudah tampak habis, membuat Katty pun merasa malu dan menjadi murka.
"Jangan kurang ajar ya kamu. Kamu itu tidak tahu apa-apa tentang hidupku!" Bentak Katty dengan menatap tajam.
"Justru karena aku tahu semuanya. Makanya kamu bersedia selalu menjadi kacungnya Laura, karena hidup kamu selalu dibiayai dari keluarganya Laura. Kamu pikir aku tidak tahu siapa kedua orang tua, apa pekerjaannya? Atau perlu aku beberkan semuanya di sini," kata Sasa yang menatap tak kalah tajamnya.
"Sasa sudah Sa, kamu nggak perlu buang-buang tenaga kamu untuk meladeni orang-orang gila ini, sama aja kita yang ikut gila dan kamu bukan orang gila 'kan," kata Diandra yang kini beranjak dari tempat duduknya dan ikut angkat bicara.
"Heh Diandra, berani sekali ya kamu berbicara seperti itu," ucap Laura dan hendak melayangkan tangannya ke arah Diandra.
Akan tetapi tiba-tiba saja ada seseorang yang menahan tangan Sasa, sehingga membuat semuanya saat ini pun menoleh ke arah sosok pria tampan yang ada di hadapan mereka dan tentu saja mereka semua merasa sangat kagum. Kecuali Diandra yang sama sekali tak bergeming dan juga Sasa yang terlihat sangat terkejut.
"Kamu? Kamu nggak usah pura-pura membela aku di sini, karena aku sama sekali tidak butuh," ucap Diandra ketus dan langsung saja menarik tangan Sasa pergi dari kantin.
"Di, kenapa menghindar sih? Seharusnya kamu itu mengucapkan terimakasih karena siapa nama cowok tadi, oh iya Kenzo," Kata Sasa yang bertanya dan menjawabnya sendiri.
"I don't care," ucap Diandra.
"Whatever, yang penting kamu harus berterimakasih karena dia yang sudah menolong kamu tadi. Kalau nggak, pasti kamu udah ditampar deh dengan Laura," ucap Sasa mengingatkan sahabatnya itu.
Sementara Kenzo yang tadinya menahan tangan Laura, segera saja menghempaskannya dengan sangat kasar.
"Akh," rintih Laura.
"Jadi seperti ini sifat mahasiswa di kampus ini? Arogan dan suka menghina," cibir Kenzo.
"Kenzo, kamu itu tidak tahu apa-apa tentang wanita tadi. Dia yang selalu membuat masalah denganku, makanya aku kesal dan kamu lihat sendiri 'kan tadi bagaimana beraninya dia melawanku," kata Laura membela diri.
"Apa kau pikir aku ini bodoh? Aku sudah melihat dengan jelas tadi, aku bisa menilai siapa yang benar dan siapa yang salah," hardik Kenzo yang langsung saja pergi meninggalkan Laura.
*****
Kenzo melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Saat ini ia dan teman-temannya berjanji akan berkumpul di markas setelah pulang kuliah.
__ADS_1
Hingga tidak berapa lama kemudian, Kenzo pun telah tiba di markas dan terlihat teman-temannya yang juga sudah berkumpul di sana.
"Ken, kau sudah datang? Bagaimana dengan kampusmu yang baru?" Tanya Riko.
"Ya begitulah, sangat membosankan," jawab Kenzo.
"Oh ya? Atau kau mau aku pindah ke kampus itu juga supaya kau tidak merasa kesepian?" Tanya Riko.
"Ck, tidak perlu. Apa kau tahu dimana sekarang aku pindah?" Tanya Kenzo.
"Kampus B 'kan?" Sahut Riko.
"Bukan itu maksudku," ujar Kenzo.
"Lalu?" Tanya Riko yang mengernyitkan dahinya karena kebingungan.
"Tempat dimana ketua geng motor Warrior berada," jawab Riko.
"Hah? Kau serius? Jadi satria berkuliah di sana, di kampus B?" Tanya Riko untuk memastikan apa yang didengarnya tidak salah.
"Ya, bahkan bukan hanya Satria saja, tetapi 2 kacungnya itu Joe dan Endru," ucap Kenzo.
"Wah … sepertinya fix aku harus pindah ke kampus itu, supaya kau mempunyai teman yang sefrekuensi," kata Riko.
"Kalian berdua datang ke sini mau membahas soal pribadi atau masalah geng kita?" Tanya Andre yang tiba-tiba saja muncul, ia terlihat sangat tidak suka melihat kedekatan Andre dan Riko, entah apa sebabnya.
Bersambung …
Bonus Visual nih guys.
Diandra Olivia Jhonson.
__ADS_1
Kenzo Matthew.