
Mendapat perlakuan kasar yang tiba-tiba, tentunya membuat Kenzo pun merasa sangat terkejut. Bukan hanya Kenzo saja, bahkan Riko, Bobby dan Teddy yang menyusul ke luar mengejar Kenzo juga merasa terkejut melihat seseorang yang di saat ini sedang menatap tajam ke arah Kenzo.
"Om Bram?" Ucap Riko yang tak mempercayainya.
"Papi? Apa yang Papi lakukan? Kenapa Papi tiba-tiba memukulku?" Tanya Kenzo saat melihat ayahnya tersebut.
"Kamu benar-benar keterlaluan Kenzo! Sudah Papi katakan jangan pernah bergabung dengan geng motor lagi dan sekarang kamu masih tetap berada di sini. Bahkan kamu baru saja memukuli temanmu sendiri, mau jadi apa kamu Kenzo!" Bentak Bram dengan sangat emosi.
"Dari mana Papi tahu?" Tanya Kenzo yang dibuat bingung, bahkan Kenzo juga baru tahu jika ayahnya itu mengetahui markas geng motornya.
"Kamu tidak perlu tahu dari mana Papi mengetahuinya. Yang terpenting sekarang juga kamu harus ikut Papi pulang," kata Bram yang menarik tangan Kenzo dengan paksa, tak perduli banyaknya orang yang di saat itu menatap ke arah mereka. Bagi Bram Kenzo sudah seperti buronan yang baru saja tertangkap olehnya.
"Lepaskan aku! Aku bukan anak kecil yang harus ditarik seperti ini," tolak Kenzo yang menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman sang ayah.
"Benar-benar keterlaluan! Jika kamu bukan anak kecil dan masih peduli dengan Papi, sekarang juga kamu harus ikut pulang," ucap Bram yang kembali menatap tajam.
Di saat itu pun terlihat Andre dan Boy yang keluar dari markas dan menatap sinis ke arah Kenzo dan ayahnya.
"Cih, anak Papi. Masalah seperti ini saja harus orang tua yang turun tangan," ucap Andre dengan senyum meledek, membuat Kenzo sangat murka mendengarnya. Jika tidak ada orang tuanya, sudah pasti Kenzo akan kembali menghajar Andre.
"Oke aku akan pulang, tapi aku bisa pulang sendiri," ucap Kenzo yang akhirnya pun mengalah. Bukan hanya karena rasa malu di depan teman-temannya, tetapi ia juga sudah muak berada di Markas Geng Motor Eagle yang melihat Andre sangat puas melihatnya dalam kondisi seperti sekarang ini.
"Papi tunggu di rumah," ucap Bram yang langsung saja melangkahkan kakinya menuju ke mobil. Begitu juga dengan Kenzo yang di saat itu juga langsung menaiki motor sportnya.
"Ken apa kau baik-baik saja?" Tanya Riko.
Tanpa menjawab apapun, Kenzo pun langsung saja menyalakan motornya itu lalu melaju dengan kecepatan tinggi menuju pulang ke rumahnya.
*****
Sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah, tak henti-hentinya Kenzo memikirkan Diandra karena bayangan mantan kekasihnya itu selalu saja muncul di ingatannya. Ia merasa sangat marah karena tidak menyangka wanita yang dicintainya malah tidak mau mendengarkan penjelasannya, ia lebih memilih untuk meninggalkannya di dalam keadaan seperti ini.
"Diandra, kau tahu betul bahwa aku sama sekali tidak terlibat di masa lalu itu. Tetapi kenapa kau malah membenciku, kenapa kau malah mengorbankan hubungan kita? Padahal aku baru saja merasakan cinta itu kembali, tapi kau sudah berhasil untuk menghancurkannya lagi. Aku benar-benar tidak menyangka Diandra," batin Kenzo menahan perih di hatinya. "Akh … !" Teriaknya dengan penuh emosi, lalu kembali melaju.
__ADS_1
"Woy hati-hati kau bawa motornya!" Teriak salah satu pejalan kaki yang ingin menyeberang karena hampir saja ditabrak oleh Kenzo.
Akan tetapi ia tak peduli dan tetap saja mengendarai motor secara ugal-ugalan sampai ia melewati mobil yang dikendarai oleh ayahnya. Bram juga dapat melihat dengan jelas bagaimana anaknya berkendara dan hampir merugikan banyak orang.
------
Hingga tidak berapa lama kemudian, Kenzo pun telah tiba di rumah dan disusul oleh ayahnya.
"Berhenti kamu!" Teriakan Bram membuat langkah kaki Kenzo pun terhenti.
Saat sudah berada di dekat Kenzo, Bram langsung saja melayangkan tangannya hendak menampar Kenzo, akan tetapi dengan cepat Kenzo pun menangkisnya.
"Ada apa Pi? Papi mau tampar aku lagi hah! Belum puas apa yang Papi lakukan tadi di depan teman-temanku. Papi memperlakukan aku seperti binatang tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun. Belum puas Pi? Kenapa Papi tidak membunuh aku saja sekalian, bunuh saja aku supaya Papi puas!" Seru Kenzo yang tak habis pikir dengan kelakuan orang tuanya. Seharusnya sebagai anak satu-satunya ia akan menjadi anak kesayangan orang tuanya, tetapi pada kenyataannya apa yang dilakukannya selalu saja salah di mata orang tuanya itu.
Bram tampak menghela nafas panjang, ia mencoba untuk menetralisir perasaannya, menahan emosinya di depan Kenzo.
"Apakah yang kamu lakukan ini semua gara-gara kamu ditinggalkan oleh Diandra? Karena Diandra mengetahui bahwa Papi yang sudah mengkhianati Papanya? Tapi kenapa Ken, kenapa hidupmu harus hancur hanya gara-gara seorang wanita dan ini terulang lagi. Papi hanya ingin kamu menjadi orang yang baik, tapi bukannya semakin baik malah kamu semakin hancur," ucap Bram.
"Ck, Papi ingin aku menjadi orang yang baik? Seharusnya Papi itu berkaca, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Ya Papi benar ini semua karena Papi, karena perbuatan buruk Papi itu di masa lalu yang telah menghancurkan hubunganku dengan Diandra. Aku mau Papi bertanggung jawab atas apa yang sudah Papi lakukan, hanya itu yang aku inginkan. Jangan hanya bisanya menuntutku untuk menjadi yang Papi mau, sementara Papi tidak pernah mau menuruti apa yang menjadi permintaanku," ucap Kenzo menatap serius lalu ia pun membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan sang ayah.
*****
"Diandra kamu juga tahu 'kan itu adalah kesalahan masa lalu yang dilakukan oleh orang tuanya, masa sih kamu malah melibatkan ini semua dengan Kenzo. Kenzo itu nggak tahu apa-apa loh, masa sekarang dia harus menanggung akibatnya, harus ikut bertanggung jawab. Dia sendiri terkejut, dia juga marah sama ayahnya, seharusnya kamu nggak boleh egois seperti inilah," kata Sasa yang berusaha untuk membuat hubungan Diandra dan Kenzo kembali membaik.
"Sudahlah Sa, kamu itu kenapa sih dari kemarin bahasnya itu terus. Aku lagi nggak mau bahas Kenzo, bisa nggak sih kamu jangan bahas dia lagi," tukas Diandra yang terlihat kesal.
"Nggak bisa lah, kamu itu benar-benar nggak punya perasaan ya. Mana Diandra yang aku kenal, lagipula kamu nggak usah bohongin perasaan kamu seperti itulah," hardik Sasa.
"Aku nggak bohongin perasaan aku Sa, aku memang mencintai Kenzo, aku juga nggak mau hubungan kami berakhir, tapi ini semua sudah melibatkan orang tua. Apa kamu pikir aku akan tetap menjalin hubungan dengan anak dari seorang pengkhianat yang dulu telah menghancurkan keluargaku bahkan tidak sengaja membuat Ibuku meninggal? Bagaimana kalau kamu yang ada di dalam posisi ini?" Ucap Diandra dengan tatapan serius tetapi terlihat jelas ia juga merasa sangat sedih karena harus mengorbankan hubungan percintaannya yang baru saja dimulai.
"Ya ampun Di, Tante Rita itu udah tenang di alam sana. Yang aku dengar ceritanya dari kamu, Tante Rita juga orang yang baik dan aku yakin Tante Rita nggak suka kalau tahu anaknya itu pendendam seperti ini," ucap Sasa.
"Aku nggak dendam, aku juga nggak benci, aku hanya nggak mau berhubungan sama orang-orang itu, itu aja," terang Diandra.
__ADS_1
"Hai, lagi pada ngomongin apa?" Tanya Satria yang tiba-tiba saja muncul menghampiri keduanya.
"Apaan sih Kak, datang nggak dijemput pulang nggak diantar," ucap Sasa ketus, terlihat tidak menyukainya.
"Jelangkung dong," sahut Satria.
"Ya bisa dibilang seperti itulah. Lagipula kenapa sih Kakak datang di waktu yang nggak tepat," ujar Sasa.
"Tepat kok. Aku yang minta Kak Satria datang ke sini, aku dan Kak Satria mau ke kantin bareng," kata Diandra.
"Hah? Terus aku gimana?" Tanya Sasa yang cukup terkejut, biasanya Diandra selalu menghindari kakaknya itu.
"Terserah kamu mau ikut atau nggak," jawab Diandra.
"Ya udah kalian aja yang pergi berdua. Aku juga nggak lapar," ucap Sasa yang memasang mode ngambek.
"Oke!" Jawab Diandra. "Kak Satria, yuk Kak," ajaknya, lalu ia bersama Satria pun segera saja keluar dari kelas dan menuju ke kantin.
"Ih … mereka nyebelin banget sih. Kenapa Diandra jadi seperti itu," gerutu Sasa.
------
Setibanya di kantin, tidak sengaja mata Diandra tertuju pada sosok Kenzo dan Laura yang di saat itu sedang berada di sana. Terlihat juga Laura yang sok bersikap manja terhadap Kenzo meskipun pria tersebut terlihat menghindarinya. Tetapi setelah melihat kehadiran Diandra dan Satria, Kenzo terlihat sengaja untuk melayani Laura agar ia cemburu. Di saat itu pula karena melihat Kenzo dan Diandra yang sama-sama tampak saling memandang dan ada rasa tidak suka ataupun cemburu, membuat Laura dan Satria memanfaatkan keadaan tersebut.
"Di, kita duduk di sini aja ya," ajak Satria menunjuk tempat kosong yang tidak jauh dari Kenzo dan Laura berada.
Diandra hanya mengangguk, lalu ia mendudukkan dirinya di kursi yang ditarik oleh Satria untuknya.
------
"Ken, kamu mau cobain makanan aku nggak? Ini enak loh," tawar Laura yang menyendokkan makanannya dan hendak menyuapi Kenzo. Tanpa ragu Kenzo pun menerima suapan tersebut, yang membuat Diandra rasanya begitu dongkol di dalam hati.
Diandra pun tak mau tinggal diam dengan berpura-pura bercerita dan tertawa bahagia bersama Satria, yang membuat Kenzo juga merasa sangat kesal melihat keakraban di antara keduanya.
__ADS_1
Kenzo dan Diandra tampak saling memanasi sembari curi-curi pandang melihat ke arah mantan kekasih yang sebenarnya masih sangat mereka cintai itu dengan memanfaatkan keadaan di sekitar.
Bersambung …