Tertambat Bad Boy Insyaf

Tertambat Bad Boy Insyaf
Menyesal


__ADS_3

Tok … tok … tok …


Terdengar suara ketukan pintu ruang rawat inap Satria, membuat Sasa pun langsung tersenyum.


"Huft, akhirnya Mami datang juga," ucap Sasa lega, karena ia yakin jika yang datang adalah sang ibu.


"Sepertinya kamu happy banget, sudah nggak sabar mau meninggalkanku di sini ya," sindir Satria.


"Iya dong, bete tahu nggak berada di dalam ruangan ini terus. Mau cari angin segar di luar," ucap Sasa tanpa memandang kakaknya sama sekali.


"Ck, kenapa kamu tidak keluar saja dari tadi. Lagipula siapa juga yang butuh ditemani kamu, aku hanya menginginkan Diandra di sini," ucap Satria ketus.


"Selamat sore."


Sapa seseorang dengan lembut dan di saat ini berdiri di depan pintu. Wanita yang sedari tadi sudah ditunggu kedatangannya oleh Satria, sehingga membuat pria tersebut pun tersenyum dan merasa sangat bahagia.


"Ternyata dugaan aku salah, kirain Mami ternyata Diandra," ucap Sasa.


"Memangnya kenapa? Maaf aku mengganggu ya, apa kehadiranku sama sekali nggak diinginkan di sini?" Tanya Diandra yang menghampiri Sasa.


"Tentu saja diinginkan, lebih baik sekarang kamu langsung hampiri Kak Satria deh. Dari tadi dia sudah menunggu kamu Di," ucap Sasa yang memuncungkan bibirnya itu ke arah sang kakak.

__ADS_1


"Apaan sih Sa, kamu nggak usah terlalu percaya apa kata bocil itu ya Di. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana reseknya Sasa," hardik Satria.


Diandra mengernyitkan dahinya, ia menatap ke arah Sasa dan Satria secara bergantian, lalu melangkahkan kakinya berjalan mendekati Satria.


"Diandra, mumpung kamu ada di sini, aku boleh 'kan keluar sebentar mau cari angin segar. Aku titip Kak Satria ya," ucap Sasa yang bangkit dari tempat duduknya.


"Iya, boleh kok Sa. Biar aku yang jaga Kak Satria," jawab Diandra.


"Thank you sahabatku tersayang," ucap Sasa dan berlalu pergi.


"Kak, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah lebih baik?" Tanya Diandra.


"Ya, keadaanku baik-baik saja seperti yang kamu lihat. Sebentar lagi aku juga akan keluar dari rumah sakit ini," ucap Satria yang memang rasanya sudah sangat bosan terbaring di rumah sakit.


"Bosan Di, kecuali kalau ada kamu di sini yang menemaniku," ucap Satria to the point.


"Kak Satria bisa aja. Kalau aku tetap bisa ada di sini, aku pasti akan ada di sini kok Kak, tapi masalahnya aku juga 'kan kuliah, terus Papa juga di rumah hanya sendirian. Kakak tenang aja ya aku pasti akan selalu menyempatkan waktu di sela-sela kesibukan aku untuk menemani Kakak sini. Aku juga sadar Kakak seperti ini juga 'kan karena mau melindungi aku waktu itu," ucap Diandra yang merasa sangat bersalah, seandainya waktu itu ia bisa melakukan sesuatu, mungkin Satria tidak akan menjadi babak belur seperti saat ini.


Sama sekali bukan kesalahan kamu Diandra, itu memang mereka saja yang keterlaluan, mereka yang main keroyok seperti itu, padahal aku nggak tahu apa kesalahanku. Lihat saja nanti, aku pasti akan mencari mereka sampai ketemu dan membalas semua perbuatan mereka," ucap Satria yang terlihat begitu emosi.


"Ya sudahlah Kak, nggak usah dendam seperti itu. Lagipula kalau kamu mencari mereka lalu membalasnya, masalah ini nggak akan pernah selesai Kak. Menurut aku apa yang dikatakan oleh Sasa itu benar, masalah ini harus segera dilaporkan ke polisi. Biar polisi saja yang bertindak Kak," ucap Diandra.

__ADS_1


"Di, kalian bisa berbicara seperti itu karena kalian tidak tahu bagaimana kerasnya dunia antar anak geng motor. Jika ada yang berani melaporkan ke polisi, maka orang-orang terdekatnya yang akan menjadi ancamannya. Misalnya aku melaporkan hal ini ke polisi, nantinya keluargaku yang akan terancam," ucap Satria dengan mode serius.


"Benar-benar sadis ya Kak. Itu alasannya yang membuat aku sangat membenci anak geng motor," ucap Diandra, sehingga membuat Satria pun terdiam.


"Heh, kamu bilang kamu membenci anak geng motor, tapi nyatanya kamu terlihat begitu dekat dengan Kenzo Di. Apa iya kamu sama sekali tidak akan pernah mempunyai hubungan dengan Kenzo karena dia adalah anak geng motor?" Batin Satria tersenyum kecut.


"Kak aku sama sekali nggak bermaksud untuk menyindir Kak Satria, aku sudah mengenal Kak Satria cukup lama, aku percaya sama kamu. Meskipun kamu juga anak yang motor, tapi aku nggak benci kok sama Kak Satria. Aku sudah menganggap kamu seperti Kakakku sendiri, karena kamu itu 'kan kakaknya Sasa, sahabat aku," ucap Diandra yang merasa tidak enak dengan ucapannya tadi. Bisa saja jika saat ini Satria tersindir, sehingga membuatnya pun bungkam.


"Hanya menganggap sebagai Kakak? Tidak lebih?" Tanya Satria ingin memastikannya, berharap jika di antara memiliki perasaan yang lain terhadapnya.


"Ya iyalah Kak, memang mau sebagai apa lagi Kak?" Tanya Diandra tersenyum kecil.


Di saat itu pun terlihat seorang Suster yang datang mengantar makan siang beserta obat Satria, setelah menyuapi Satria makan dan memberinya obat, kini Satria pun memejamkan matanya dan terlelap karena efek dari obat yang dikonsumsinya. Sedangkan Diandra masih tetap menemani Satria sampai menunggu Sasa atau keluarganya datang untuk menjaga pria tersebut.


*****


Pada sebuah Tempat Pemakaman Umum, terlihat seorang wanita paruh baya yang di saat itu sedang duduk bersimpuh di depan sebuah makam sahabatnya. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua rasa penyesalan dan kesedihannya meskipun semua sudah tak ada gunanya lagi.


"Rita, aku benar-benar menyesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh mantan suamiku dulu. Aku yang terlalu bodoh tidak berani untuk mengakuinya, aku malah menghindarimu Rita. Demi kekayaan Bram tega menyakiti siapapun dan aku sadar betul waktu itu Mas Bram mati-matian bekerja untuk menghidupiku dan Kenzo dengan menghalalkan segala cara, termasuk dengan mengkhianati rekan kerjanya sendiri, rekan kerja yang sudah membantunya dari nol. Aku tidak menyangka jika ternyata perusahaan yang telah dirugikan itu adalah perusahaan suami kamu. Sekarang kamu sudah pergi untuk selamanya, bagaimana caranya aku menebus semua ini Rita. Seandainya dengan menyatukan Diandra dan Kenzo adalah satu-satunya cara, aku pasti akan menyatukan mereka. Aku tahu persis bagaimana perasaan Diandra dan Kenzo dapat ini. Aku berjanji bahwa aku akan menjaga Diandra seperti anak aku sendiri Rita, aku mohon maafkan aku," ucap Sinta penuh penyesalan diiringi air matanya yang terus saja bercucuran hingga jatuh ke atas tanah.


Akan tetapi apapun yang dilakukannya saat ini sepertinya sama sekali tidak ada gunanya, nasi telah menjadi bubur dan tidak akan mungkin bisa berubah menjadi nasi lagi. Kini Sinta hanya bisa menyesali apa yang terjadi di masa lalu dimana ia sengaja menyimpan rahasia Bram yang telah menyabotase perusahaan Danu sehingga Danu mengalami kerugian besar. Sedangkan Bram mendapatkan keuntungan berlipat ganda hingga ia bisa menguasai perusahaan Danu lalu membuka perusahaannya sendiri. Dengan sengaja Bram memfitnah Danu di depan para klien, sehingga membuat para klien pun mencabut semua saham mereka di perusahaan tersebut. Karena ulah licik Bram, Danu harus mengikhlaskan perusahaannya yang sudah susah payah ia bangun dari nol. Membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun lamanya ia baru bisa bangkit kembali dengan bantuan Harry, orang tua dari sahabat anaknya itu.

__ADS_1


"Di saat yang bersamaan, terlihat dari kejauhan seseorang yang merekam jelas video dan juga dimana saat itu Sinta sedang menangis dan menyesali perbuatannya. Orang itu pun tersenyum karena pada akhirnya ia mendapatkan apa yang diinginkannya.


Bersambung …


__ADS_2