
"Diandra? Tumben pagi-pagi seperti ini kamu datang ke rumah. Kamu mau pergi ke kampus bareng Sasa ya?" Tanya Satria yang tidak menyangka akan melihat bidadari di pagi hari.
"Enggak Kak. Aku datang ke sini bukan karena Sasa tapi aku ingin menemui Kak Satria," jawab Diandra.
Tentu saja Satria sangat terkejut mendengar akan hal itu dan ia merasa sangat senang karena sudah didatangi oleh wanita yang disukainya.
"Ada apa Di? Ayo duduk dulu," ajak Satria sembari menunjuk kursi yang ada di depan teras rumahnya.
"Terimakasih Kak, tapi tidak perlu. Aku datang ke sini hanya sebentar karena aku mau mengembalikan ini dan ini semua adalah barang-barang dari kamu," kata Diandra yang menyerahkan sebuah paper bag.
"Ini apa?" Tanya Satria tak mengerti.
"Di dalam paper bag ini ada gaun yang kemarin kamu kirim ke aku dan boneka yang tadi malam kamu kirim Kak. Lain kali jangan mengirim apapun lagi ke rumah, aku tidak membutuhkan ini semua. Aku juga tidak mau merepotkan Kak Satria," kata Diandra dengan tegas.
"Tapi aku sama sekali tidak merasa direpotkan dan ini semua juga aku berikan karena atas kemauanku sendiri, bukan kamu yang memintanya," kata Satria yang tak mengerti dengan jalan pikiran Diandra.
"Aku benar-benar minta maaf Kak. Sama sekali bukan niatku untuk tidak menghargai pemberian Kakak, tapi aku benar-benar tidak enak jika harus menerima ini semua, aku sama sekali tidak pantas karena aku bukan siapa-siapa Kak Satria. Jadi aku mohon jangan pernah memberikan apapun lagi untukku ya Kak dan ini tolong diterima," ucap Diandra sembari menyerahkan barang-barang tersebut hingga Satria terpaksa mengambil kembali apa yang telah ia berikan.
"Justru kamu yang paling pantas Di, karena kamu adalah satu-satunya wanita yang saat ini sudah berhasil membuat aku jatuh cinta lagi," batin Satria.
Di saat itu pun terlihat Sasa yang keluar dari rumahnya bersiap akan pergi ke kampus.
"Diandra ada apa?" Tanya Sasa yang menatap sahabat serta kakaknya itu secara bergantian.
"Aku hanya mengembalikan gaun yang kemarin Kak Satria berikan," jawab Diandra.
__ADS_1
"Loh bukannya kata Kak Satria itu gaunnya buat kamu aja ya," kata Sasa.
"Aku nggak enak lah jika harus menerimanya. Gaun itu juga pasti harganya 'kan sangat mahal, aku yakin kok jika dikembalikan paling nggak pasti uang Kak Satria akan kembali meskipun tidak sepenuhnya," kata Diandra.
"Oh … ya udah kalau gitu kita ke kampus aja ya sekarang," ajak Sasa dan Diandra pun menganggukkan kepala menyetujuinya.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah. Sedangkan Satria di saat itu masih tampak terdiam, ia benar-benar tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mendekati Diandra. Menurutnya Diandra benar-benar wanita yang berbeda, dia sama sekali tak tertarik dengan barang-barang mewah seperti yang dinginkan oleh wanita lain.
*****
Pada sebuah klub malam, terlihat seorang pemuda yang di saat itu sedang mengkonsumsi minuman alkohol tanpa henti. Meskipun sudah dalam setengah sadar, tetapi ia tetap memesan lagi dan lagi. Karena menurutnya hanya minuman inilah satu-satunya yang membuatnya bisa tenang, dengan mabuk-mabukan membuat beban di dalam hidupnya seakan berkurang.
Pria tersebut adalah Kenzo, ia yang merasa sangat jenuh dengan masalah keluarganya, ditambah lagi mendengar kabar tentang Diandra yang saat ini telah dekat dengan pria lain, membuatnya pun menjadi patah semangat. Sehingga ia memilih pergi ke sebuah klub malam untuk menenangkan pikirannya. Kenzo juga meminta Riko untuk datang menemaninya, mendengarkan keluh kesahnya saat ini.
"Ken, sudahlah. Lebih baik sekarang kita pergi dari sini. Kenapa kau menjadi seperti ini, kau yang biasanya selalu kuat dan selalu sabar, tapi kenapa sekarang kau benar-benar sangat lemah," kata Riko yang kewalahan menghadapi sahabatnya itu.
"Siapa bilang tidak ada yang peduli denganmu, aku peduli Ken. Jika aku tidak peduli, untuk apa aku berada di sini. Ayo sekarang kita pulang!" Ajak Riko yang menarik tangan sahabatnya.
"Lepaskan! Diandra aku mau Diandra. Tapi kenapa kau malah memilih bersama dengan Satria, kenapa kau malah bersama dengan musuhku," racau Kenzo.
Mendengar akan hal ini, Riko tahu jika sahabatnya itu memang benar-benar sudah menyukai wanita yang bernama Diandra itu. Meskipun sampai saat ini Riko belum mengetahui siapa dia, hanya mendengar ceritanya saja dari Kenzo.
"Ken, kau hanya mendengar berita tersebut dari Laura. Menurutku belum tentu benar jika Diandra itu sudah berpacaran dengan Satria. Lagipula jika memang benar, kau 'kan masih memiliki Laura. Laura juga wanita yang baik, kau bisa memacarinya," kata Riko yang mencoba menenangkan Kenzo, meskipun ia tahu itu pasti sama sekali tidak akan berhasil.
"Diam! Aku tidak membutuhkan nasehatmu," kata Kenzo yang kadang menangis dan juga tertawa seperti layaknya orang gila.
__ADS_1
Bug …
Karena sudah sangat kesal melihat tingkah sahabatnya itu, Riko pun memukul Kenzo hingga ia jatuh terkapar di atas lantai. Setelah itu Riko membopong tubuh Kenzo bak karung beras dan membawanya menuju mobil, lalu mencampakkannya begitu saja di kursi penumpang.
"Benar-benar menyebalkan dan sangat menyusahkan," umpat Riko, merasa sangat kesal. Jika bukan karena sahabatnya, sudah pasti Riko akan membiarkan Kenzo atau akan membuangnya di tepi jalan.
"Papi, Mami, Diandra."
Sepanjang perjalanan hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulut Kenzo, yang membuat Riko benar-benar tak mengerti dan juga merasa kasihan terhadap sahabatnya itu. Memang semenjak kehancuran keluarganya, membuat Kenzo menjadi berubah dari good boy menjadi bad boy. Meskipun dulu ia bergabung dengan geng motor bahkan menjadi ketuanya, tetapi kenzo merupakan pemimpin yang baik dan selalu membela kebenaran. Tidak seperti sekarang ini yang selalu saja bertindak sendirian dan main tangan, serta bersikap kasar kepada siapapun yang membuat masalah dengannya.
"Berhenti!"
Chit …
Mendengar suara teriakan Kenzo, membuat Riko pun mendadak memberhentikan mobilnya itu. Untung saja keadaan jalanan sepi karena sudah larut malam, tidak ada kendaraan lain yang berhenti, sehingga mereka dalam keadaan baik-baik saja.
"Kau ini sudah gila ya? Kenapa kau berteriak seperti itu, hah!" Bentak Riko.
Tanpa menggubris ocehan sahabatnya itu, Riko pun langsung saja keluar dari mobil dan …
Huek … huek …
Ia memuntahkan seluruh isi dalam perutnya yang sedari tadi sudah terasa sangat mengguncang di dalam sana. Setelah cukup lega dan menegakkan kepalanya, tidak sengaja Kenzo melihat seseorang yang dikenalnya berada di dalam mobil yang saat itu lewat.
"Diandra? Diandra … Diandra … !" Panggil Kenzo yang berlari dan berusaha mengejar mobil tersebut.
__ADS_1
Bersambung …