
Pria yang dilihat oleh Diandra saat ini tak lain adalah Kenzo, membuat Diandra rasanya sangat malas untuk berhubungan lagi dengannya. Akan tetapi terpikirkan lagi olehnya bahwa ini masalahnya soal nyawa dan darurat, sehingga Diandra pun menepiskan egonya untuk saat ini.
"Tidak apa-apa Di, ini untuk terakhir kalinya," batin Diandra yang menenangkan hatinya sendiri. "Ayo Pak, sekarang kita bawa ke mobil dan bawa ke rumah sakit terdekat!" Titah Diandra yang tidak akan mungkin tega membiarkan Kenzo berada di jalanan dalam kondisi memprihatinkan.
"Bagaimana dengan motornya Nona?" Tanya supir taksi.
"Biarkan saja Pak, nyawanya lebih penting daripada motor itu," ucap Diandra.
Lalu supir taksi pun segera membopong tubuh Kenzo dan membawanya ke dalam taksi dan setelah itu mereka membawanya menuju ke rumah sakit.
*****
Setelah mengantar Diandra dan Kenzo ke rumah sakit, kini supir taksi pun memilih pergi dengan alasan ada urusan keluarga. Sehingga Diandra pun membiarkan saja dan saat ini hanya ia seorang diri, menunggu Kenzo yang sedang ditangani oleh dokter.
Krek …
Terdengar suara pintu ruangan pemeriksaan terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri Diandra yang masih tampak duduk termenung di depan ruangan tersebut.
"Maaf Nona, apakah Anda keluarga pasien?" Tanya dokter.
"Bukan Dokter, kebetulan saya tadi hanya menemukannya saja di jalan, jadi saya membawanya ke sini," jawab Diandra apa adanya.
"Oh begitu. Jadi begini Nona, saat ini pasien masih belum sadar. Tetapi keadaannya baik-baik saja, mungkin karena sedikit benturan kepalanya yang menyebabkan beliau pingsan. Tidak ada hal yang serius, saya juga sudah memberikan obat dan juga mengobati seluruh lukanya. Kemungkinan sebentar lagi beliau akan sadar," ucap dokter yang memberitahu kondisi Kenzo saat ini.
"Oh syukurlah Dokter, lalu apakah sekarang saya boleh meninggalkan pria itu?" Tanya Diandra.
"Kenapa Nona harus meninggalkannya? Jujur saat ini pihak kami bingung harus mencari keluarganya dimana," ucap dokter.
__ADS_1
"Oh iya Dokter, maaf. Jadi ini adalah tas pria itu," ucap Diandra yang menyerahkan tas ransel kepada dokter dan langsung diterima oleh dokter tersebut.
"Mungkin saja di dalam tas ini ada petunjuk untuk menemukan keluarganya Dokter. Saya benar-benar tidak mau ada urusan lagi dengan pria ini, saya hanya berniat menolongnya. Jadi saya boleh minta tolong dengan Dokter jangan melibatkan saya dengan pria ini lagi dan sekarang saya harus pergi Dokter, saya masih ada urusan lain," ucap Diandra.
Di saat itu terlihat dokter yang membuka tas Kenzo dan benar saja di dalam sana ia menemukan kartu identitas Kenzo dan juga ponsel miliknya, sehingga tentu saja akan memudahkan pihak rumah sakit untuk menghubungi keluarganya. Dokter juga tidak mungkin berpikiran bahwa Diandra saat ini ingin cepat-cepat pergi karena ingin lepas tanggung jawab, karena yang dilihatnya Diandra benar-benar tulus ingin menolong Kenzo.
"Baiklah Nona, jika itu memang mau Anda. Nanti kami akan mencoba menghubungi keluarganya. Tetapi apakah boleh saya boleh tahu nama Nona? Nanti di saat pasien sudah sadar menanyakan siapa menolongnya, saya tidak kebingungan untuk menjawab," tanya Dokter.
"Tidak perlu Dok, katakan saja jika ada seseorang yang menolongnya. Saya ikhlas dan dia tidak perlu tahu siapa saya. Lebih baik Dokter segera menghubungi keluarganya dan saya yakin kok jika pria itu anak orang kaya, karena dari pakaian yang digunakannya, juga motor sport yang tadi digunakannya juga terlihat jika dia anak orang kaya. Jadi sudah pasti keluarganya akan datang untuk membayar seluruh administrasi," kata Diandra asal.
"Baiklah Nona jika seperti itu. Jika Anda memang mau pergi, silahkan Anda pergi saja," ucap dokter.
Lalu segera saja Diandra pun pergi meninggalkan rumah sakit, ia benar-benar hanya ingin menolong Kenzo dengan menyembunyikan identitasnya. Setelah kejadian ini, ia berharap tidak akan pernah berhubungan lagi dengan pria tersebut.
*****
"Aku kenapa? Kenapa aku bisa di sini," batin Kenzo.
Saat menoleh ke arah kanan, Kenzo baru menyadari jika ada Riko yang di saat itu tampak ketiduran dengan menyandar di kursi.
"Riko!" Panggil Kenzo sehingga mengejutkan Riko dan membangunkannya.
"Ken, akhirnya kau sadar juga," ucap Riko yang terlihat sangat senang.
"Kenapa aku bisa di sini? Lalu sudah berapa lama aku pingsan?" Tanya Kenzo.
"Sekitar 2 jam," jawab Riko. Kau kenapa? Kenapa kau bisa sampai seperti ini. Tadi Bobby juga menemukan motormu di jalan dan membawanya ke markas karena tidak melihat kau di sana. Lalu tiba-tiba Om Bram menghubungiku dan meminta agar aku menemanimu di sini, karena beliau ada meeting penting yang tidak bisa ditinggalkan," terangnya.
__ADS_1
Kenzo tampak berpikir sejenak, lalu ia pun mengingat kejadian yang tadi dialaminya sehingga membuatnya menjadi seperti sekarang ini dan menceritakan kepada sahabatnya itu.
"Ini benar-benar sudah keterlaluan Ken dan aku yakin pasti mereka salah satu anggota dari Geng Motor Warrior," ucap Riko dengan yakin.
"Tapi aku tidak mengenali mereka. Motor yang mereka gunakan juga begitu asing," kata Kenzo.
"Bisa saja itu orang suruhan mereka, supaya mereka bisa menghilangkan jejak. Lagipula siapa lagi sih musuh Eagle kalau bukan Warrior," ujar Rio.
"Entahlah. Lalu siapa yang membawaku ke sini?" Tanya Kenzo.
"Aku juga tidak tahu. Dokter hanya mengatakan jika yang membawamu ke sini adalah seorang wanita cantik tetapi ia tidak mau menyebutkan siapa namanya, ya seperti sengaja menyembunyikan identitas agar tidak ada yang mengetahui bahwa dialah membawamu ke sini. Tadinya aku pikir dia yang sudah membuatmu celaka, tapi ternyata wanita itu benar-benar tulus menolongmu. Bahkan ia sama sekali tidak mau diketahui identitasnya," jawab Riko yang membuat Kenzo pun kebingungan.
"Siapa dia? Aku harus mencari tahu siapa wanita itu," batin Kenzo yang mendadak penasaran.
Tok … tok … tok …
Terdengar suara ketukan pintu dan terlihat seorang pria paruh baya yang masuk kedalaman ruang rawat inap tesebut, sehingga Kenzo dan Riko langsung saja menatap ke arahnya.
"Sudah berapa kali Papi katakan jangan membuat ulah terus-menerus Kenzo. Ini pasti karena kamu terlibat perkelahian di jalanan 'kan, sehingga kamu menjadi babak belur seperti ini," ucap Bram yang baru saja tiba dan langsung memarahi anaknya itu.
"Ck, aku menjelaskannya juga Papi tidak akan percaya. Terserah Papi saja," ucap Kenzo.
"Ken, seharusnya kamu mendengarkan apa kata-kata Papi. Jangan pernah lagi bergabung dengan geng motor jika hanya berdampak buruk. Sekarang lihat, kamu membuat masalah lagi 'kan? Dokter menghubungi Papi di saat Papi sedang meeting. Untungnya Papi masih menyimpan nomor Riko dan meminta Riko untuk menemanimu di sini," ucap Bram.
"Ya, itu karena Papi selalu mementingkan pekerjaan daripada anak sendiri," ucap Kenzo yang selalu saja memancing emosi Bram.
Bersambung …
__ADS_1