
"Papa, kenapa Papa berbicara seperti itu? Aku dan Kenzo tidak ada hubungan apa-apa dan dia ke sini hanya mengantarkan aku pulang Pa," terang Diandra yang merasa tidak enak dengan Kenzo.
"Papa tahu Diandra, tapi mulai sekarang Papa tidak mau lagi kamu berdekatan dengan Kenzo. Apa kamu tahu ayahnya juga menentang hubungan kalian, jadi Papa tidak mau jika kamu masih memiliki hubungan dengan pria ini!" Kata Danu dengan tegas.
"Iya aku paham Pa, tapi jangan ngomong di sini dong, gak enak sama Kenzo Pa. Nanti aja di dalam bicaranya," bisik Diandra, tetapi Kenzo masih dapat mendengarnya.
"Di, tidak apa-apa kok. Aku paham kenapa Papa kamu bersikap seperti itu dan Om Danu saya minta maaf atas kesalahan orang tua saya, saya tahu Om pasti seperti ini karena sudah tahu 'kan bahwa Ayah saya yang dulu sudah menghancurkan perusahaan Om, saya benar-benar minta maaf Om. Tapi saya tidak seperti ayah saya, saya tidak terlibat dalam masalah itu Om," ucap Kenzo.
"Apapun itu saya tidak peduli. Saya tetap tidak suka kamu berhubungan dengan Anak saya, jadi lebih baik sekarang kamu pergi!" Ucap Danu.
"Ken, lebih baik kamu pulang aja ya. Terimakasih karena sudah mengantarku pulang," ucap Diandra. "Pa, ayo Pa kita masuk." Diandra menggandeng tangan ayahnya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Sementara Kenzo terlihat muram, lalu ia pun masuk ke dalam mobil dan melaju pergi meninggalkan kediaman Jhonson.
"Brengsek! Ini semua gara-gara Papi. Aku jadi tidak bisa dekat lagi dengan Diandra, bahkan untuk berteman dengannya saja Om Danu sudah melarang keras. Sikap Om Danu kepadaku benar-benar berubah drastis. Aku tidak menyangka semuanya akan berubah secepat ini, semuanya gara-gara Papi," umpat Kenzo yang menatap begitu tajam. "Argh … !" teriaknya sembari memukul setir mobil beberapa kali.
Lalu ia pun menambah kecepatan mobilnya itu menuju ke perusahaan ayahnya.
*****
"Kenzo, ada apa? Tumben sekali kamu ke perusahaan Papi, biasanya kamu akan mengabari Papi dulu atau uang jajan kamu sudah habis? Kamu mendadak membutuhkan uang, jadi kamu cari Papi," ucap Bram saat melihat Kenzo yang masuk ke dalam ruangannya dan saat ini telah berdiri di hadapannya.
"Ck, apa hanya uang saja yang Papi pikirkan? Apa Papi sama sekali tidak memikirkan kebahagiaan anak Papi ini," tukas Kenzo.
__ADS_1
"Bukankah uang sudah membuatmu bahagia? Jangan munafik kamu Kenzo, kamu pikir selama ini kamu bisa hidup mewah karena apa kalau bukan karena uang Papi hah? Jadi kamu jangan lupakan itu, uang Papi yang sudah menghidupi kamu dari kamu lahir ke dunia sampai sekarang, yang membiayai pendidikan kamu sampai kamu sekarang bisa kuliah," ucap Bram yang mengingatkan anaknya.
"Untuk apa Pi kalau hasil dari kecurangan, dari menipu orang dengan menghancurkan perusahaannya. Bahkan dia adalah sahabat Papi sendiri," hardik Kenzo.
"Tutup mulutmu!" Ucap Bram yang beranjak dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah Kenzo.
"Kenapa Pi? Memang itu 'kan kenyataannya. Papi itu hanya seorang pecundang yang berani berbuat tetapi tidak berani untuk bertanggung jawab. Apakah Papi tidak pernah merasa bersalah sedikitpun, apa tidak pernah terpikir apa akibat dari kelakuan Papi itu. Papi sudah merugikan orang lain, tapi sekarang Papi bisa dengan bangganya memamerkan kekayaan Papi yang Papi dapatkan dari hasil yang tidak sehat," ucap Kenzo yang memancing amarah Bram, seakan membangunkan singa yang sedang tidur.
"Diam! Anak kecil tahu apa kamu. Berani sekali kamu menasehati Papi setelah apa yang Papi berikan untuk kamu, dasar anak tidak tahu di untung. Kenapa tiba-tiba kamu datang kesini dan menghakimi Papi seperti ini? Apa kamu baru bertemu dengan pria yang merasa dirinya paling benar? Dengan pria sok suci itu?" Bram menebaknya dengan sangat yakin.
"Jangan pernah berbicara seperti itu tentang orang lain karena di sini memang Papi yang bersalah. Bukannya minta maaf tapi malah memperburuk keadaan. Papi sudah menghancurkan impian aku untuk bersama wanita yang aku cintai dan sekarang Papi bisa dengan tenang berada di sini. Aku benar-benar membencimu," Ucap Kenzo menatap serius, tubuhnya seakan bergetar setelah mengeluarkan apa yang selama ini dipendam di dalam hatinya.
"Apa? Kamu membenci Papi? Lalu apa yang bisa kamu lakukan sekarang Kenzo, tanpa Papi kamu itu bukan apa-apa. Jangan menjadi orang yang sok baik, kamu bisa seperti sekarang ini karena hanya Papi yang bisa menghidupi kamu, bahkan Mami kamu saja tidak peduli denganmu. Tanpa uang Papi kamu tidak akan mungkin bisa hidup," ucap Bram dengan santai tetapi kata-katanya itu sangat menusuk ke relung hati.
"Siapa bilang, akan aku buktikan kalau aku bisa hidup tanpa uang Papi," ucap Kenzo yang menyerahkan dompet beserta ATM-nya, ponsel dan juga kunci motor yang ia letakkan di atas meja kerja sang ayah.
"Kamu yakin mau mengembalikan ini semuanya ke Papi? Lalu bagaimana hidupmu nanti Kenzo. Tapi kalau kamu memang sudah mengambil keputusan untuk tidak menggunakan seluruh harta Papi lagi, kamu juga harus keluar dari rumah Papi!" Ancam Bram yang bermaksud hanya ingin menggertak anaknya saja.
"Oke, aku akan keluar dari rumah papi," ucap Kenzo yang membalikkan tubuhnya, lalu ia pun segera saja keluar dari ruangan Bram.
Bram tak peduli, ia yakin jika ini hanyalah emosi sesaat Kenzo dan pada akhirnya Kenzo nanti akan kembali kepadanya lagi.
*****
__ADS_1
Meskipun semuanya terasa sangat berat, tetapi bagi Kenzo ini adalah keputusan yang terbaik. Ia tidak mau lagi terlibat dalam masalah yang pernah dilakukan ayahnya di masa lalu, rasanya hidupnya benar-benar sudah tak tentu arah dengan apa yang sedang menimpanya saat ini. Diandra yang mampu membuatnya menjadi lebih baik pun saat ini sudah pergi meninggalkannya karena orang tuanya itu.
Kenzo berjalan di tepian tanpa tahu arah tujuannya, ia merasa bingung karena saat ini tidak memiliki apapun, bahkan uang sepeser pun sudah tidak ada karena ia sudah meninggalkan semuanya di kantor ayahnya kecuali pakaian dan juga alas kaki yang melekat pada tubuhnya itu. Bisa dikatakan Kenzo bagaikan seorang gembel di jalanan yang tempat tinggal pun ia tak punya.
"Aku harus pergi kemana sekarang? Mau naik taksi tidak ada duit, mau makan duitnya juga tidak ada. Nasib … nasib … ," gumam Kenzo sembari mengelus perutnya yang terasa sangat lapar.
Hingga di saat itu pun ada seseorang yang menggunakan motor trail berhenti tepat di sampingnya.
"Kenzo? Jadi ternyata kau benar-benar Kenzo," ucap Bara yang merupakan ketua dari geng motor The Blues atau bisa dikatakan sahabat Kenzo, ia cukup terkejut melihat keadaan Kenzo yang sudah seperti anak jalanan.
"Kak Bara? Kenapa kau ada di sini?" Tanya Kenzo.
"Kenzo, Kenzo, ini jalanan umum. Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau jalan seperti ini, dimana motormu? Kau sepertinya sangat lelah," ujar Bara.
"Bukan hanya lelah Kak, tapi aku juga lapar," ungkap Kenzo.
"Ya sudah lebih baik kau ikut aku saja, kita cari warung makan di dekat sini. Nanti kau bisa menceritakan masalahmu," ucap Bara.
Kenzo pun tak menolak, mungkin memang saat ini hanya Bara yang bisa menolongnya dari para cacing yang sedang menguasai perutnya itu.
Akan tetapi saat sedang di dalam perjalanan, motor Bara malah dihadang oleh segerombolan geng motor yang sama sekali tidak dikenali oleh Bara dan Kenzo sebelumnya.
Bersambung …
__ADS_1