Tertambat Bad Boy Insyaf

Tertambat Bad Boy Insyaf
Sahabat Lama


__ADS_3

"Tante, ada apa?" Tanya Diandra yang terkejut melihat ekspresi Sinta saat melihat kalung liontin yang dikenakannya.


"Iya Tante, Tante kenapa jadi sedih seperti ini?" Tanya Laura pula.


Keduanya sama-sama merasa sangat penasaran melihat Sinta yang tampaknya sangat sedih dan menatap ke arah Diandra. Lalu Sinta pun memeluk Diandra dengan erat sehingga membuat Diandra merasa kebingungan dengan diam mematung. Sedangkan Laura begitu terkejut melihat perlakuan Sinta, ia yang ingin membuat Diandra menjauh tetapi kenapa malah Sinta bisa sedekat itu dengan Diandra.


"Sial! Kenapa malah jadi seperti ini," umpat Laura yang sangat tidak menyukai pemandangan yang ada di depan matanya.


"Apakah kalung yang kamu pakai ini adalah kalung Ibu kamu? Apa Kamu anaknya Rita Amalia?" Tanya Sinta melerai pelukannya.


Diandra mengangguk pelan, pertanda jika memang benar ia adalah anak dari wanita yang baru saja disebut oleh Sinta.


"Diandra, Tante benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan kamu lagi. Dimana ibu kamu sekarang?" Tanya Sinta yang menatap mata Diandra.


"Iya ini kalung ibu aku. Bagaimana Tante bisa mengenal Mamaku?" Tanya Diandra yang merasa kebingungan.


"Tante adalah sahabat lama Mama kamu. kalau tidak percaya kamu lihat ini," ucap Sinta sembari menunjukkan seutas kalung yang sedang dikenakannya dan bersembunyi di balik baju.


Diandra melihat kalung tersebut, benar-benar sama persis dengan kalung yang saat ini digunakannya. Itu artinya apa yang diucapkan Sinta memang benar apa adanya.


"Apa? Bagaimana bisa Tante Sinta adalah sahabat lama Mamanya Diandra? Kalau begini sudah pasti rencana aku akan berantakan. Enggak, ini nggak boleh terjadi," batin Laura yang merasa usahanya akan sia-sia.

__ADS_1


"Pantas saja Mama pernah cerita kalau kalung ini adalah kalung persahabatan Mama dengan sahabat lamanya. Aku nggak nyangka bisa bertemu dengan sahabat lama Mama," ucap Diandra dengan tatapan sendu.


"Oh ya? Tapi sudah lama sekali Tante tidak bertemu dengan Mama kamu, sejak Tante pindah ke luar negeri dan setelah kedua orang tua Tante meninggal, Tante kembali lagi ke Indonesia. Hingga pada akhirnya Tante menikah dengan ayahnya Kenzo. Tante sudah sangat lama mencari Mama kamu, tapi sayangnya setelah Tante sudah mengetahui tentang keberadaan sahabat Tante, Tante malah takut menemuinya atas kesalahan yang sudah dilakukan oleh suami Tante terhadap keluarga kamu," ucap Sinta.


"Kesalahan? Kesalahan apa Tante?" Tanya Diandra tak mengerti.


"Maaf Diandra, tapi sepertinya lebih baik Tante ketemu dengan Mama kamu langsung. Tante akan menjelaskan semuanya," ucap Sinta yang terlihat menyesal dari raut wajahnya.


"Tapi sayangnya Mama aku sudah nggak ada Tante, Mama aku sudah meninggal," ucap Diandra.


"Apa? Jadi Rita sudah tidak ada? Bahkan Tante belum sempat untuk meminta maaf," ucap Sinta tak mempercayainya.


"Iya Tante, waktu aku masih kecil Papa pernah mengalami kebangkrutan karena dikhianati oleh partner kerjanya sendiri. Mama menjadi sakit-sakitan karena terus memikirkan keadaan Papa yang terus saja terpuruk. Tapi sekarang Papa sudah bangkit lagi karena orang tua sahabat aku yang membantu Papa, sayangnya sebelum itu Mama tidak bisa bertahan karena Mama juga memiliki penyakit yang berbahaya sejak lama. Jika Tante memang sahabat lama Mama, pasti Tante tahu 'kan apa penyakit Mama," ucap Diandra.


"Tante, Tante nggak usah sedih ya. Apapun kesalahan Tante di masa lalu dengan Mama, aku yakin kok pasti Mama akan memaafkan Tante," ucap Diandra, karena memang ibunya itu adalah perempuan yang murah hati dan pemaaf.


Diandra memilih untuk tak banyak bertanya. Mungkin memang belum saatnya ia mengetahui apa masalah yang terjadi di antara orang tuanya dan orang tua Kenzo di masa lalu. Ia mengerti jika saat ini Sinta pasti merasa sangat sedih karena keadaan anaknya yang belum juga sadarkan diri.


"Iya Diandra, terimakasih ya. Oh iya Tante percaya kalau kamu itu orang yang baik, karena Tante juga sudah mengenal Ibu Kamu dengan baik. Kamu mau melihat Kenzo 'kan? Kamu lihat saja ya, tadi Tante juga sudah masuk, sekarang kamu boleh masuk ke dalam," ucap Sinta.


"Tapi Tante, bukannya tadi Tante mengizinkan aku yang masuk ke dalam," kata Laura tak terima.

__ADS_1


"Maaf Laura, tapi sebenarnya Tante sudah tahu siapa Diandra dari Riko. Dan kamu itu bukan siapa-siapa Kenzo, jadi lebih baik sekarang kamu pergi dari sini," ucap Sinta.


"Tapi Tante-"


"Tolong kamu pergi dari sini," ucap Sinta yang mencela ucapan Laura begitu saja, sehingga membuat Laura pun sangat kesal dan pergi meninggalkan ruang IGD.


"Lihat saja Diandra, aku tidak akan tinggal diam. Aku pasti akan mencari tahu apa maksud Tante Sinta tadi dengan meminta maaf dan membuat kesalahan di masa lalu. Aku pastikan Diandra dan Kenzo tidak akan pernah bisa bersama," umpat Laura yang kini pun sudah keluar dari rumah sakit.


*****


Diandra masih tampak termenung melihat Kenzo yang masih dalam keadaan lemah tak berdaya, meskipun sudah satu minggu lamanya ia berada di ruangan tersebut. Rasanya begitu perih melihat Kenzo yang biasanya selalu saja mengganggunya, kali ini terasa ada yang sunyi di dalam hatinya, seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Diandra sendiri tak mengerti kenapa perasaan itu bisa ada, apa mungkin ia benar-benar sudah jatuh cinta terhadap Kenzo? Entahlah yang pasti Diandra masih terus menepis perasaannya, mengingat ia yang sudah berjanji tidak akan pernah mau memiliki hubungan dengan anak geng motor. Dan sekarang ini ia berada di sini hanya ingin melihat Kenzo sadar, ia tidak mengerti dan masih merasa penasaran kenapa malam itu Kenzo berada di depan rumahnya, lalu mengalami kecelakaan hingga koma.


Diandra memberanikan dirinya untuk memegang tangan Kenzo, berharap bukan hanya ucapannya tetapi sentuhannya juga bisa dirasakan oleh Kenzo agar pria tersebut cepat bangun.


"Ken, kamu harus bangun. Kamu ini benar-benar lemah ya Ken, mana Ken yang suka menggangguku dan sekarang kamu itu nggak ada apa-apanya tahu nggak. Kalau sekarang aku mau menyakiti kamu, aku bisa melakukannya dengan mudah, karena kamu hanya pria cemen yang hanya bisa terbaring seperti ini, kamu sama sekali nggak bisa melawanku Ken. Ck, pria angkuh yang menyebalkan sekarang hanya bisa terbaring lemah seperti ini," hardik Diandra menahan sakit di dadanya. Meskipun ia berusaha untuk kuat, tetap saja air matanya itu terus mengalir membanjiri pipinya.


Diandra semakin erat menggenggam tangan Kenzo, hingga di saat itu tiba-tiba saja ia merasakan jika tangan Kenzo bergerak serta membalas genggaman tangannya.


"Ken, kamu membalas genggaman tanganku, kamu meresponnya Ken. Kenzo bangun Ken," ucap Diandra yang masih tak percaya, ia takut ini hanyalah halusinasinya saja karena sangat ingin melihat Kenzo bangun.


Bersambung …

__ADS_1



__ADS_2