
Bram masih tampak terpukul atas kejadian yang menimpanya. Mungkin karena Sinta adalah cinta pertama Bram yang membuatnya sangat mencintai wanita yang telah menjadi mantan istrinya itu. Hanya saja karena ia sangat sibuk dan hampir tidak memiliki waktu untuk keluarga, membuat Sinta pun merasa jika dirinya kurang diperhatikan oleh sang suami. Untuk itu ia pun mencari pria lain yang lebih perhatian kepadanya dan membuatnya nyaman.
"Pi, sudah ya Pi. Aku mohon jangan seperti ini terus, kehidupan kita masih panjang Pi. Papi masih punya aku," ucap Kenzo yang memeluk Papinya itu, tetapi langsung ditolak dengan kasar oleh Bram.
"Heh kamu? Kamu saja sibuk dengan duniamu sendiri Kenzo. Kamu mengatakan Papi sibuk, padahal Papi ini mencari uang untuk keluarga kita. Pada kenyataannya apa? Kamu yang selalu sibuk tak menentu, kamu tidak pernah punya waktu di rumah, bahkan Papi yang selalu berada di rumah terlebih dulu daripada kamu. Kamu itu sama saja seperti Mami kamu yang selalu menyalahkan Papi, tetapi tidak pernah menyadari apa kesalahan kalian. Kamu selalu saja membuat ulah dengan ugal-ugalan di jalanan, dengan berkelahi, tawuran, dan sekarang kamu minta Papi tenang bersama dengan kamu, iya? Yang ada kamu tuh bikin Papi semakin pusing. Lebih baik sekarang kamu keluar dari kamar ini!" Ucap Bram dengan bentakan di ujung kalimat sembari memberi gestur agar Kenzo segera keluar dari kamarnya.
Kenzo pun terdiam, rasanya sangat sakit mendengar ucapan ayahnya yang seakan menembus ke dalam relung hatinya. Tetapi ia mencoba untuk mengerti, mungkin memang saat ini tidak seharusnya ia berada di kamar Papinya, ia tahu betul bagaimana perasaan sang ayah saat ini. Bisa saja ini hanya emosi sesaat karena Bram belum bisa terima bahwa Sinta akan menikah dengan pria lain. Sehingga Kenzo pun memilih untuk keluar dari kamar tersebut dan menuju ke kamarnya.
Ting …
Sebuah pesan WhatsApp masuk pada ponsel Kenzo, ia pun segera saja membaca pesan tersebut yang dikirim oleh sang ibu.
"Ken, besok temui Mami di restoran X. Ada yang ingin Mami bicarakan denganmu."
Kenzo tersenyum kecut, tanpa memperdulikan pesan itu sama sekali.
"Akh … !" Teriak Kenzo seraya membanting ponselnya di sudut kamar. Ia juga memukul-mukul kepalanya sendiri karena merasa stres dengan hidupnya saat ini. Jika boleh meminta ia sangat ingin kembali ke masa kecil, dimana hidupnya tanpa beban dan hanya senang untuk bermain. Tidak seperti sekarang yang selalu saja salah melakukan hal apapun.
Hingga di saat itu pun Kenzo meraih kunci motornya dan memilih pergi meninggalkan rumah.
*****
"Tolong … tolong keluarkan aku dari sini, aku mohon! Aku takut gelap … Tolong!"
Diandra terus saja mengigau dan berteriak, hingga terbangun dari mimpi buruknya itu. Karena kejadian saat ia terkunci di gudang kampus, membuatnya merasa ketakutan sampai terbawa mimpi. Karena kisah itu juga mengingatkannya pada kejadian di masa lalu saat ia dan adiknya tidak sengaja terkurung di dalam gudang. Tentu saja hal tersebut membuatnya merasa sedih, karena saat ini adiknya sudah tidak ada lagi karena ulah geng motor.
Diandra bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia pun menuju ke dapur untuk mengambil air minum karena merasa tenggorokannya kering. Akan tetapi di saat ia melewati jendela ruang depan rumahnya, tidak sengaja matanya itu malah melihat ke arah luar dan melihat sebuah motor beserta pemiliknya yang berada di sana. Segera saja Diandra mendekati jendela tanpa membuka gorden, karena di luar yang terang dengan cahaya lampu. Sehingga ia bisa melihatnya dengan jelas siapa yang berada di sana dalam jarak dekat, untuk memastikannya jika apa yang ia lihat itu tidak salah.
__ADS_1
"Kenzo? Kenapa dia bisa ada di sini?" Diandra merasa terkejut dan bertanya-tanya sendiri sembari melihat jam dinding yang saat ini sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Diandra membalikkan tubuhnya, lalu melangkahkan kaki kembali menuju ke kamarnya. Ia meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Kenzo tetapi ternyata nomornya itu tidak aktif, sehingga Diandra pun memutuskan untuk menghubungi Sasa saja.
"Halo Di, kenapa malam-malam seperti ini kamu nelpon?" Tanya Sasa saat menjawab teleponnya.
"Sa, syukurlah ternyata kamu belum tidur dan masih bisa menjawab telepon aku," ucap Diandra yang tampak lega.
"Iya Di. Besok 'kan nggak ada jadwal kuliah pagi, jadi aku habis nonton drama Korea terbaru itu loh dan ini baru mau tidur, eh kamu nelpon," ucap Sasa yang malah menjelaskan hal yang tidak penting untuk saat ini.
"Iya iya, tapi sekarang ini aku menelpon kamu karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ucap Diandra.
"Ada apa Di? Apa terjadi sesuatu dengan kamu?" Tanya Sasa yang menjadi khawatir, mengingat jika kondisi sahabatnya tadi siang tidak baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja Sa. Tapi aku melihat Kenzo ada di depan rumahku," kata Diandra.
"Iya aku yakin. Memangnya kamu pikir aku udah buta? Tadi aku terbangun karena mimpi buruk dan sewaktu aku mau ke dapur ambil minum, nah dari situ aku melihat Kenzo ada di depan rumahku," terang Diandra, berharap jika Sasa akan percaya.
"Kalau memang benar itu Kenzo, mungkin dia hanya mengkhawatirkan keadaan kamu. Maka dari itu dia berada di sana untuk memastikannya lagi," kata Sasa.
"Tapi gimana kalau tetangga lihat? 'Kan nggak enak Sa. Ini udah malam, apalagi aku hanya sendiri di rumah," kata Diandra.
"Iya juga ya. Tapi memangnya Kenzo kurang kerjaan banget ya malam-malam, dingin-dingin seperti ini ada di depan rumah kamu. Coba kamu lihat lagi benar nggak itu Kenzo yang benar-benar ada di depan atau kamu hanya bermimpi," kata Sasa yang masih tak yakin dan tentunya membuat Diandra merasa kesal.
"Oke, sekarang juga aku akan ke depan dan aku akan tunjukkan ke kamu supaya kamu percaya," ucap Diandra yang langsung saja keluar dari kamar dan menuju ke ruang depan.
Akan tetapi di saat ia mendekati jendela, betapa terkejutnya Diandra karena ia sudah tak melihat Kenzo yang berada di sana. Sedangkan ia juga sama sekali tidak mendengar suara motor yang pergi dari rumahnya.
__ADS_1
*****
"Sa, aku tuh nggak bohong. Masa sih kamu nggak percaya sama aku, aku benar-benar yakin kalau aku melihat Kenzo ada di depan rumah." Diandra mencoba menjelaskan lagi kepada Sasa saat berada di kampus.
"Sahabatku sayang, bukannya aku nggak percaya sama kamu, tapi buktinya setelah kamu lihat lagi nggak ada 'kan orangnya? Itu pasti hanya halusinasi aja karena kamu terus memikirkan Kenzo, iya 'kan? Ayo ngaku," ledek Sasa.
"Ih … Sasa, kok malah ngeledek aku sih. Untuk apa juga aku mikirin Kenzo Sa," ucap Diandra tak mau mengakuinya. Meskipun memang benar ia sempat memikirkan Kenzo, tetapi ia yakin jika yang dilihatnya itu benar-benar Kenzo bukan halusinasi seperti yang saya katakan.
"Ya bisa aja kamu memang memikirkan Kenzo karena dia telah menolong kamu. Jujur aja deh sama aku. Kamu kalau bohong ketahuan, tuh lihat wajah kamu memerah, ha … ha … ha … ," ledek Sasa lagi diiringi gelak tawanya, sehingga membuat Diandra pun merasa malu dan kesal terhadap sahabatnya itu.
"Enggak Sasa dan aku yakin kalau aku nggak berhalusinasi!" Teriak Diandra yang tetap kekeh. "Gini aja deh, untuk memastikan itu Kenzo atau bukan gimana kalau kita tanya langsung ke orangnya," tantangnya.
"Oke, siapa takut," jawab Sasa menyetujui dan juga tersenyum.
Akan tetapi di saat itu tiba-tiba saja ponsel Sasa berdering, sehingga membuat langkah keduanya terhenti.
"Halo, ada apa?" Tanya Sasa saat menjawab telepon tersebut.
"Apa?"
Mendengar kabar dari seberang telepon membuat Sasa sangat terkejut. Sehingga Diandra yang tidak tahu apa-apa pun juga ikut merasa khawatir dengan apa yang sedang terjadi.
"Sa, ada apa?"
Bersambung …
__ADS_1