
Kenzo bertanya untuk memastikan apa yang ia dengar dari Sasa tadi tidak salah dan telah membuatnya penasaran.
"Iya gelang persahabatan. Jadi waktu itu aku pernah ke Jepang dan aku membeli 2 gelang yang sama untuk aku dan Diandra. Tapi aku juga nggak tahu kenapa waktu tiba-tiba aja gelang aku hilang, padahal hanya ketinggalan sebentar di toilet dan aku taruh gelang itu di atas wastafel," ucap Sasa yang menceritakannya kepada Kenzo.
"Oh ya? Lalu gelang Diandra hilangnya dimana?" Tanya Kenzo lagi.
"Gelang Diandra hilangnya di jalan," sahut Sasa.
"Di jalan? Di jalan mana?" Tanya Kenzo semakin penasaran.
"Ya di jalan waktu dia me-" ucapan Sasa terhenti. "Hampir aja aku keceplosan, ya ampun … ini mulut kalau ngomongin soal Diandra ke Kenzo kenapa sih lancar banget," batin Sasa.
"Me? Me apa Sa?" Tanya Kenzo penasaran.
"Pokoknya sewaktu di jalan sepulang dari kampus," jawab Sasa.
"Kalau aku boleh tahu, memang gelangnya seperti apa?" Tanya Kenzo lagi.
Krek …
Di saat itupun terdengar suara pintu ruangan pemeriksaan terbuka dan dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Huft … untung saja," batin Sasa yang tampak bernafas lega.
"Nona, Tuan, Nona Diandra sudah sadar dan ingin bertemu dengan kalian," ucap dokter.
"Syukurlah, terimakasih banyak ya Dok," ucap Sasa dan Kenzo. Lalu segera saja keduanya masuk ke dalam ruang pemeriksaan untuk menemui Diandra.
"Diandra, kamu baik-baik saja 'kan? Ya ampun aku tuh khawatir banget tahu nggak sama keadaan kamu," ucap Sasa yang langsung saja memeluk sahabatnya sejenak.
"Iya, aku baik-baik saja kok. Terimakasih ya karena kalian berdua sudah menolong aku, aku nggak tahu tadi gimana jadinya kalau tidak ada kalian. Aku benar-benar udah nggak sanggup lagi buat bernafas, ruangan itu benar-benar gelap dan sempit," ucap Diandra yang terlihat masih merasa ketakutan jika mengingat kejadian tadi dan mengingatkannya pada kejadian di masa lalu.
"Diandra, kau tenang ya. Coba cerita kenapa kau bisa sampai berada di dalam gudang dan terkunci di sana?" Tanya Kenzo.
__ADS_1
Lalu Diandra pun menceritakan awal mula kejadiannya sehingga ia bisa berada dan terkunci di dalam gudang tersebut.
"Ya ampun ini benar-benar keterlaluan ya. Siapa sih yang iseng? Aku yakin kalau ini memang ada yang sengaja ingin menjebak kamu Di. Karena kejadian di kantin tadi juga sepertinya settingan, sengaja membuat aku lama berada di kantin seperti itu supaya aku nggak cepat ketemu kamu," umpat Sasa yang begitu kesal. "Lalu apa kamu ingat siapa adik tingkatan yang tadi datang menemui kamu?" Tanyanya dan ditanggapi gelengan kepala oleh Diandra.
"Kurang ajar, aku harus cari tahu siapa yang sudah berani menyakiti Diandra," batin Kenzo yang mengepal erat kedua tangannya menahan emosi.
"Ken, kamu kenapa?" Tanya Sasa yang melihat wajah Kenzo tampak memerah seperti kepiting rebus.
"Aku tidak apa-apa. Tapi benar apa yang kau katakan, orang yang sudah melakukan hal ini benar-benar keterlaluan dan memang sudah direncanakan dengan matang. Kalian tenang saja, aku pastikan aku akan segera menemukan pelakunya dan akan membalas perbuatannya," ucap Kenzo.
"Nggak usah Ken, jangan membuat keributan. Aku baik-baik saja kok," ucap Diandra yang memang memiliki hati begitu baik. Bahkan Sasa sebagai sahabatnya saja terkadang heran melihat Diandra yang selalu saja disakiti, tetapi ia terus mencoba untuk mengalah dengan alasan tidak mau mencari masalah.
Meskipun Sasa dan Kenzo mengangguk saja di depan Diandra, tetapi Kenzo sudah berjanji dengan dirinya sendiri bahwa ia akan mengusut masalah ini sampai tuntas.
Karena keadaan Diandra baik-baik saja, setelah mengurus administrasinya, kini Kenzo dan Sasa pun mengantar Diandra pulang ke kediamannya.
*****
"No problem Di, kamu itu 'kan sahabat terbaik aku. Aku minta maaf ya karena aku nggak bisa jadi sahabat yang baik buat kamu. Aku nggak bisa menjaga kamu, sampai kamu bisa dalam keadaan seperti ini dan aku minta maaf tadi aku mau mengabari Om Danu, tapi sama sekali nggak dijawab teleponnya. Aku juga sudah menghubungi Papi tapi sama aja, sepertinya mereka lagi sibuk. Tapi kamu tenang aja ya, aku sudah mengirim pesan kok untuk Papi," ucap Sasa.
"Idih, sok jagoan banget kamu. Biasanya juga aku yang selalu melindungi kamu," ucap Diandra.
"Diandra … aku serius tahu. Kata siapa aku tidak bisa melindungi kamu, gini-gini aku juga jagoan," kata Sasa yang mengerucutkan bibirnya, merasa kesal terhadap sahabatnya itu.
"Iya deh sorry, aku kan hanya bercanda. Dan soal Papa nggak apa-apa kok. Lagipula Om Harry dan Papaku 'kan lagi berada di luar kota, kalau kamu mengabari tentang keadaan aku, yang ada nanti malah mereka terganggu. Sekarang aku juga sudah baik-baik aja kok," ucap Diandra.
"Tapi kamu di rumah sendirian loh. Aku temenin ya, atau kamu nginap di rumah aku aja," kata Sasa.
"Nggak usah Sa, aku udah biasa kok sendiri," tolak Diandra.
"Ehem."
Terdengar suara Kenzo berdehem karena sedari tadi ia tidak diberi kesempatan untuk berbicara dan hanya mendengar 2 sahabat yang sedang asik itu dan tampak mengabaikannya.
__ADS_1
"Eh Kenzo, maaf ya kami berdua memang suka begitu. Tapi terimakasih sekali lagi karena kamu sudah mengantar aku ke rumah," ucap Diandra yang kini beralih kepadanya.
"Iya sama-sama Di, aku senang kok bisa membantumu," jawab Kenzo.
"Hm … Ken, kamu yakin nggak mau aku antar pulang?" Tanya Sasa.
"Iya aku yakin, aku pulang naik taksi saja," jawab Kenzo yang memilih untuk turun di rumah Diandra, lalu akan menaiki kendaraan lain untuk mengambil motor yang tadi ia tinggal di kampus.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya, kalian lanjutkan aja dulu ngobrolnya," kata Sasa yang langsung saja pergi meninggalkan kediaman Diandra.
"Ken, kamu mau mampir dulu minum atau langsung pulang?" Tanya Diandra saat mobil Sasa sudah tak terlihat lagi dari pandangan mata mereka.
"Memangnya boleh? 'Kan kau hanya sendiri di rumah," jawab Kenzo yang sebenarnya masih sangat ingin bersama dengan Diandra.
"Nggak boleh masuk sih, duduk di luar aja kalau kamu mau," jawab Diandra.
"Sebenarnya aku sangat mau Di. Tapi lebih baik kamu istirahat saja ya, nanti kalau ada apa-apa kamu hubungi aku saja, aku akan datang," ucap Kenzo tersenyum.
"Terimakasih ya Ken, kamu sudah peduli denganku dan lagi-lagi kamu menolongku. Kamu tenang saja ya, aku akan baik-baik saja kok," ucap Diandra yang membalas senyuman tersebut.
Akan tetapi di saat itu pun tiba-tiba saja Diandra merasa kepalanya pusing, hingga tubuhnya terhuyung. Untung saja Kenzo dengan cepat menangkap tubuhnya, sehingga Diandra lagi-lagi jatuh di dalam pelukannya lalu membantu Diandra untuk berdiri kembali.
"Tadi katanya sudah baik-baik saja, tapi baru juga sebentar sudah mau tumbang lagi," sindir Kenzo.
"Iya, aku hanya merasa kepalaku sedikit pusing," kata Diandra.
"Ya sudah aku antar kamu sampai depan rumah ya. Boleh 'kan? Hanya untuk memastikan keadaan kamu baik-baik saja," kata Kenzo dan ditanggapi anggukkan kepala oleh Diandra, tanda menyetujuinya. Lalu Kenzo pun menuntun Diandra sampai di depan pintu rumah.
Setelah Diandra masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya, Kenzo pun melangkahkan kakinya menjauh dari kediaman Diandra untuk menunggu taksi yang dipesannya tadi. Akan tetapi tiba-tiba saja ada seseorang yang muncul di hadapannya dan menatapnya dengan begitu tajam.
Bersambung …
__ADS_1