
Bug …
Tanpa menanyakan dulu siapa yang salah dan apa penyebabnya, Kenzo pun langsung saja memukul pria yang di saat itu sedang memukuli pria lain yang sudah terkapar di jalanan. Sebagai pria yang saat ini sangat hobi berkelahi, tentunya membuat jiwa Kenzo seakan meronta-ronta untuk memukuli orang tersebut.
"Siapa kau? Kenapa kau ikut campur urusan kami. Kau tidak tahu masalahnya, kenapa tiba-tiba saja kau memukulku?" Tanya seorang pria yang tak terima.
"Apapun alasannya dan apapun masalah kalian, aku tidak suka karena kau telah memukuli orang yang sudah sangat lemah," kata Kenzo, bukan bermaksud untuk membela tetapi tidak mungkin jika ia harus memukuli pria yang saat ini sudah tak berdaya.
"Kau itu tidak tahu apa masalahnya, tetapi kau malah ikut campur. Bagaimana jika aku katakan pria ini adalah maling dan sekarang kau membelanya, iya?" Kata pria tersebut.
"Walaupun dia maling, seharusnya sekarang tinggal kau laporkan saja ke kantor polisi. Bukankah dia juga sudah tidak berdaya? Atau kau mau membunuhnya agar kau yang masuk penjara," cibir Kenzo yang membuat pria itu pun terdiam.
Tidak berapa lama kemudian, karena ada yang melaporkan hal itu kepada polisi, kini polisi pun telah tiba dan menangkap semua orang yang terlibat dalam perkelahian, termasuk Kenzo.
*****
Hingga saat ini Kenzo sedang berada di kantor polisi dan menunggu kedatangan orang tuanya yang sudah dihubungi oleh polisi tersebut.
"Lagi-lagi kamu membuat masalah, sudah Papi katakan jangan terlibat perkelahian lagi. Kamu kenapa Kenzo, kamu itu benar-benar sudah sangat berubah," kata Bram yang baru saja tiba di kantor polisi dan langsung menceramahi anaknya itu.
"Bukankah Papi sudah mengatakan tidak akan mengurusiku lagi, tidak akan peduli lagi denganku? Tapi kenapa sekarang Papi harus datang ke sini, biarkan saja aku berada di sini. Aku tidak peduli jika aku harus masuk penjara," kata Kenzo.
"Anak bodoh, bicara apa kamu Kenzo! Apa kamu pikir dengan kamu berada di sini maka Papi akan tenang? Nama baik Papi juga yang akan hancur Kenzo. Apa kata orang-orang jika tahu anak dari seorang Bram masuk penjara gara-gara terlibat perkelahian yang tidak jelas di jalanan. Karir Papi juga akan hancur," ucap Bram.
"Ck, itulah tujuan Papi sebenarnya. Papi menolongku di sini bukan karena Papi peduli dengan anak papi, tetapi karena memikirkan karir Papi,"sindir Kenzo, rasanya sangat sakit mengetahui jika orang tuanya lebih mementingkan karir daripada anaknya sendiri
"Jika kamu sudah tahu seperti itu, kenapa kamu terus saja membuat ulah. Kenapa kamu tidak bisa menjaga image Papi sedikit pun sebagai pengusaha terkenal di kota ini. Kenapa kamu sama sekali tidak bisa menghargai Papi Ken, Papi juga bekerja keras banting tulang untuk kamu!" Bentak Bram.
"Maaf Tuan, karena semuanya sudah selesai. Sekarang Anda boleh membawa anak Anda pulang dan kalian bisa membahas masalah ini di rumah. Dan kamu Kenzo jangan pernah melakukan hal ini lagi di jalan, apalagi main hakim sendiri. Jika kamu terlibat sekali lagi, saya tidak jamin kamu akan dibebaskan," ucap polisi menegaskan.
Kenzo memutar bola mata malas, sedangkan Bram berjabat tangan dan mengucapkan terimakasih kepada polisi. Setelah itu ia pun membawa anaknya pulang ke rumah.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Bram juga tak henti-hentinya mengomeli Kenzo. Ia benar-benar tak habis pikir dengan anaknya yang dulu adalah anak yang penurut, berperilaku baik, sekarang menjadi bad boy yang benar-benar sudah tidak bisa diatur. Mungkin ini juga kesalahannya yang terlalu sibuk sehingga kurang memperhatikannya, ditambah lagi dengan masalahnya dengan sang istri yang membuat Kenzo berubah total menjadi seperti saat ini.
*****
Saat sedang asyik memainkan laptopnya tiba-tiba saja ponsel Sasa berdering, ada panggilan masuk pada WhatsApp-nya. Sasa pun melirik ponselnya tersebut dan ia sangat enggan menjawab telepon dari nomor yang tak dikenal.
"Angkat dong teleponnya, berisik tahu," hardik Satria yang sudah sangat terbiasa masuk ke dalam kamar adiknya tanpa permisi.
"Kalau berisik ngapain juga Kakak samperin aku di sini. Keluar sana! Ganggu aja sih," usir Sasa ketus.
"Sebenarnya seperti biasa sih, ada yang ingin aku tanyakan," kata Satria.
"Mau tanya soal apa Kak? Soal Diandra lagi? Bukannya Kakak sudah bisa ya mendekati Diandra dengan cara Kakak sendiri. Jujur, aku mendukung banget ya kalau Kakak bisa jadian sama Diandra. Karena Diandra itu 'kan sahabat baik aku, Kakak dan Diandra juga sudah mengenal baik. Ditambah lagi Kakak juga Kakak tersayang aku, meskipun Kakak suka nyebelin. Tapi seperti apa yang pernah aku katakan sama kakak kalau Diandra itu paling anti sama anak-anak geng motor, jadi aku nggak beranilah buat nyomblangin Kakak sama Diandra. Jadi Kakak usaha sendiri aja ya," kata Sasa.
"Ya ampun … belum juga usaha udah nyerah," sindir Satria.
"Kata-kata itu cocoknya untuk kamu Sendiri Kak. Seharusnya kamu dong yang berusaha meyakinkan Diandra gimana caranya supaya Diandra itu nggak memandang buruk terhadap anak geng motor," hardik Sasa.
"Anak kecil sok ngajarin," cibir Satria.
"Eh kalau seandainya memang Diandra itu tidak menyukai anak geng motor, kenapa dia dekat dengan Kenzo?" Tanya Satria, tentunya ia selalu memperhatikan Diandra dan Kenzo saat di kampus.
"Dekat gimana maksud Kakak? Kalau menurut aku sih enggak ya. Itu Diandra juga bicara dengan Kenzo ogah-ogahan, malah dia lebih dekat dengan Kak Satria lagi daripada Kenzo. Ya kalau sekarang Kakak lihat Diandra dekat dengan Kenzo itu hanya sebagai rasa terimakasihnya aja karena waktu itu Kenzo sudah menyelamatkan Diandra, waktu di kolam renang," terang Sasa.
"Oh ya? Tapi Diandra 'kan juga tahu waktu itu aku sudah sempat nyebur ke dalam kolam dan mau menyelamatkan dia juga. Tapi ya udah keduluan aja sama laki-laki itu," kata Satria.
"Diandra tahu itu kok Kak dan bukannya waktu itu dia juga udah mengucapkan terimakasih ya sama Kakak, terus Kakak mau apa lagi?" Tanya Sasa, dari sini Sasa tahu jika kakaknya itu memang benar-benar sudah sangat menyukai sahabatnya.
"Banyak sih keinginan aku, ingin jalan bareng Diandra, makan, nonton, pokoknya apapun lah yang penting dengan Diandra," jawab Satria.
Ting …
__ADS_1
Karena di saat itu telepon sama sekali tak digubris oleh Sasa, akhirnya si penelpon mengirim pesan untuknya. Segera saja Sasa meraih ponselnya dan melihat pesan tersebut.
"Maaf kalau aku mengganggu kamu sampai kamu tidak mau menjawab telepon dariku. Tapi ini sangat penting, aku Kenzo dan aku hanya ingin bertanya sesuatu tentang Diandra kalau kamu tidak keberatan."
Setelah membaca pesan tersebut, membuat Sasa pun merasa sangat terkejut dan membelalakkan matanya. Sehingga membuat Satria juga merasa kebingungan.
"Siapa? Kok kaget gitu ekspresinya?" Tanya Satria.
"Bukan urusan Kakak. Sekarang Kakak keluar dari kamar aku!" Usir Sasa yang menarik tangan kakaknya itu hingga keluar dari kamarnya. Setelah itu pun Sasa langsung saja menutup pintunya tersebut, serta menguncinya.
Tok … tok … tok …
"Sa, kenapa ditutup pintunya? Sasa … !" Teriak Satria sembari terus mengetuk pintu, tetapi sama sekali tak dipedulikan oleh sang adik.
*****
Tok … tok … tok …
"Sayang … Panggil Danu yang mengetuk pintu kamar dan memanggil nama anaknya itu.
Diandra yang di saat itu sedang mengerjakan tugas kampus pun segera saja beranjak dari tempat duduk dan membukakan pintu tersebut. Meskipun tidak dikunci, tetapi Danu sangat segan untuk masuk ke dalam kamar anak gadisnya jika tidak berkepentingan.
"Ada apa Pa?" Tanya Diandra saat sudah berhadapan langsung dengan sang ayah.
"Ini yang kirim paket untuk kamu. Papa juga tidak tahu isinya apa, kamu buka saja ya," kata Danu yang langsung meninggalkan kamar putrinya itu.
Sedangkan Diandra pun langsung membawa paket yang berupa paperbag tersebut ke dalam kamarnya.
"Semoga mimpi indah ya. Jangan lupa peluk bonekanya kalau tidur supaya tidur kamu bisa lebih nyenyak."
Setelah membaca kartu ucapan itu, membuat Diandra merasa sangat terkejut setelah mengetahui siapa yang mengirim boneka malam-malam ke rumahnya.
__ADS_1
Bersambung …