
Meskipun demikian, Diandra memilih untuk diam saja tak mau memberitahu Riko tentang apa yang sebenarnya terjadi. Malah menurutnya itu adalah yang hal yang bagus, karena memang Diandra sendirilah yang menyembunyikan identitasnya sebagai penolong Kenzo. Sehingga saat ini Diandra berusaha untuk mengalihkan ke arah pembicaraan lain.
"Maaf Rik, aku mau tanya, kamu bilang 'kan Ayah Kenzo selalu sibuk bekerja, terus bagaimana dengan ibunya Kenzo, apa ibunya juga bekerja?" Tanya Diandra.
"Sebenarnya Kenzo bukan pria yang seperti ini, yang suka tawuran, ugal-ugalan di jalan atau suka main hakim sendiri. Kenzo adalah pemimpin yang baik di dalam geng motor kami, dia selalu menjadi panutan karena sikapnya yang selalu murah hati dan care sama semua orang. Tetapi karena masalah di dalam keluarganya, membuat dia menjadi pemarah, keras kepala dan juga terkadang suka memukul orang sembarangan tanpa tahu penyebabnya. Tetapi bukan berarti Kenzo tidak memiliki perasaan ya, dia tetap masih memiliki perasaan kok. Dan 1 lagi Kenzo juga jadi sering mabuk-mabukan untuk menenangkan pikirannya itu, karena kedua orang tuanya sudah berpisah," terang Riko, rasanya sudah tak sanggup lagi untuk menyimpan rahasia ini dari Diandra. Apalagi wanita tersebut ada wanita yang disukai oleh sahabatnya.
Sementara itu Diandra tampak terdiam, ia mencerna setiap ucapan Riko dan mengerti kenapa Kenzo bisa menjadi Bad Boy seperti sekarang ini. Tentunya ia mengalami masalah yang begitu berat dalam hidupnya dan mendadak membuat Diandra pun menjadi semakin iba terhadap pria tesebut.
*****
"Aku minta maaf ya Mas karena tidak bisa ikut andil dalam mengurus pernikahan kita, syukurlah karena kamu sudah mengatur semuanya. Tapi sampai sekarang kondisi Anakku masih koma, bagaimanapun juga aku butuh Anakku Mas. Kamu tahu sendiri 'kan kedua orang tuaku sudah meninggal, jadi hanya Anak aku satu-satunya keluarga yang aku punya," ucap Sinta saat sedang makan siang bersama Jack di sebuah restoran.
"Iya, aku mengerti. Tapi pernikahan kita tinggal 3 hari lagi, undangan sudah disebar dan semuanya juga sudah siap. Bagaimana jika Anak kamu belum sadar juga, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Jack yang butuh kepastian.
"Kita harus menundanya dulu lah Mas. Apa kamu mau kita tetap menikah tetapi dalam kondisi Anakku seperti sekarang ini? Kamu tega Mas," kata Sinta. Bagaimanapun juga dia adalah seorang ibu yang menyayangi anaknya, mana mungkin ia bisa bahagia dengan pernikahannya, sementara anaknya saat ini sedang dalam kondisi yang memprihatinkan.
"Jadi kamu lebih memilih untuk menundanya? Masa iya hanya gara-gara Anak kamu tidak sadarkan diri, lalu kamu mau menunda pernikahan kita, itu artinya kamu egois Sinta," ucap Jack yang terlihat sangat kesal.
"Aku minta maaf dan aku mohon kamu bersabar ya. Begini saja Mas, beri aku waktu dulu untuk datang ke rumah sakit dan menemani Anakku, aku akan berbicara dengannya. Meskipun Anakku dalam keadaan koma, aku yakin kok pasti dia bisa mendengar ucapanku sebagai wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya. Aku adalah orang yang paling dekat dengannya Mas. Dan seandainya memang Anakku belum sadar juga, ya sudah nanti aku akan pikirkan lagi Mas. Jika memungkinkan, maka kita akan tetap menikah. Sekarang aku mau ke rumah sakit melihat Anakku. Boleh 'kan?" Ucap Sinta.
"Ya sudah aku yang akan mengantar mu," ucap Jack yang menyetujuinya.
"Iya Mas, terimakasih banyak ya," ucap Sinta.
__ADS_1
"Iya sama-sama Sayang. Nanti aku juga akan meminta Anakku datang ke rumah sakit melihat calon saudaranya. Sekarang lanjutkan makannya dulu, setelah ini kita akan langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat Anak kamu," ucap Jack.
Sinta hanya menanggapinya dengan mengangguk dan tersenyum kepada calon suaminya itu.
*****
Diandra mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur, meskipun sudah berusaha untuk memejamkan matanya, tetapi ia sama sekali belum bisa terlelap hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 di hari. Pasalnya otaknya itu selalu saja terpikir oleh keadaan Kenzo, ia semakin khawatir terhadap Kenzo setelah mendengar cerita dari Riko tentang kondisi keluarga pria tersebut. Entah kenapa malah membuat Diandra ingin selalu berada di dekat dan menemani Kenzo saat ini. Tetapi apaIah daya, ia bukan siapa-siapa Kenzo yang harus selalu berada di sana.
"Duh, ngapain juga sih aku memikirkan Kenzo terus. Kenzo itu bukan siapa-siapa aku. Lagipula apa yang terjadi dengan Kenzo saat ini ya itu urusan pribadi dia lah. Kamu ini kenapa sih Diandra, bukankah kamu sendiri yang mengatakan tidak mau lagi mengenal apalagi sampai dekat dengan anak-anak geng motor. Ingat dong, Doni itu meninggal gara-gara anak geng motor. Tapi kenapa sekarang kamu seperti sangat peduli dengan Kenzo," ucap Diandra yang terus saja bermonolog dengan hatinya.
Diandra sendiri merasa sangat bingung dengan perasaannya. Meskipun Kenzo sedang berada di rumah sakit dengan orang tua dan teman-temannya, tetapi tetap saja id merasa sangat khawatir jika bukan dirinya sendiri yang menemani Kenzo.
Lalu Diandra pun mencoba kembali untuk memejamkan matanya dan berharap pagi segera tiba, agar ia bisa menuju ke rumah sakit dan menemui Kenzo.
*****
Akan tetapi baru saja membuka pintu rumahnya, Diandra dibuat sangat terkejut melihat kemunculan seseorang yang saat ini berdiri di depan rumahnya itu.
"Pagi Diandra," ucap seorang pria tampan yang menyambut Diandra dengan senyuman termanisnya.
"Kak Satria, kenapa kamu ada di sini?" Tanya Diandra kebingungan.
"Aku datang ke sini karena mau mengantar kemanapun kamu pergi. Pasti sekarang kamu mau ke rumah sakit 'kan? Mau melihat keadaan Kenzo," ucap Satria seakan bisa membaca pikiran Diandra.
__ADS_1
Diandra mengernyitkan dahinya, "Kok Kakak tahu, terus kenapa juga Kakak harus mengantarku ke sana? Bukannya kamu aja nggak suka melihat Sasa ada di sana kemarin? Terus kenapa kamu malah malah mau mengantarku?" Tanyanya yang semakin dibuat bingung oleh Satria.
"Di, aku tahu kalau kelakuanku waktu itu salah, aku sudah keterlaluan dan aku sangat menyesal. Sebenarnya aku tidak melarang Sasa untuk menjenguk Kenzo atau marah karena Sasa menemani kamu, tapi aku hanya tidak suka Sasa berdekatan dengan Riko," kata Satria mencari alasan.
"Oh ya? Memangnya Riko kenapa Kak? Riko itu baik kok," ucap Diandra.
"Sudahlah Di, Kamu tidak akan mengerti masalahnya. Sekarang kamu mau aku antar atau tidak?" Tanya Satria yang menurutnya ini adalah kesempatan untuk berduaan dengan Diandra, meskipun ia harus mengantarnya ke rumah sakit tempat dimana musuhnya itu berada.
Diandra tampak berpikir, mungkin saja tujuannya Satria saat ini benar-benar baik. Lagipula ia juga akan membutuhkan waktu lama jika harus mencari taksi atau memesan taksi online. Apalagi ia dan Satria juga sudah cukup dekat, ditambah lagi saat ini Satria tidak membawa motor melainkan mobil, karena ia tahu betul bagaimana Diandra sangat anti untuk menaiki sepeda motornya. Bahkan Diandra lebih memilih untuk naik ojek daripada harus menaiki motor sport. Akhirnya Diandra pun menyetujuinya, membuat Satria sangat senang.
Saat sedang di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, tiba-tiba saja ada dua orang yang menggunakan motor trail mengikuti mereka. Tentu saja Satria tahu jika kedua orang tersebut pasti adalah orang yang sengaja ingin mengganggu mereka, tetapi ia pun berusaha untuk bersikap tenang agar tidak menambah kekhawatiran yang terlihat dari wajah Diandra.
"Kak, itu siapa?" Tanya Diandra yang merasa ketakutan, karena 2 orang tersebut semakin dekat bahkan saat ini sudah berada di samping dan mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil.
"Aku juga tidak tahu, tapi kamu pegangan yang kuat ya, aku akan membawa mobil ini lebih laju," kata Satria
"Iya Kak," jawab Diandra yang mengerti.
Akan tetapi sekencang apapun Satria melajukan mobilnya, kedua pengendara sepeda motor itu tetap bisa mengejar mereka.
Chit …
Satria mendadak mengerem mobilnya di saat salah satu dari mereka ada yang berhenti tepat di depan mobilnya, membuat Diandra semakin merasa ketakutan.
__ADS_1
Bersambung …