Tertambat Bad Boy Insyaf

Tertambat Bad Boy Insyaf
Kondisi Diandra


__ADS_3

Danu begitu terkejut melihat anaknya yang saat itu terjatuh di atas lantai karena terkena pukulan dari Bram, sehingga ia pun tak memperdulikan Bram untuk saat ini dan langsung membopong anaknya, mencari keberadaan dokter. Akan tetapi dalam hatinya mengumpat kesal dan berjanji tidak akan pernah memaafkan pria tersebut jika terjadi sesuatu dengan putrinya. Sasa yang juga merasa sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya, memilih untuk mengikuti Danu agar mengetahui kondisi Diandra saat ini.


Sedangkan Bram terlihat masih berdiri mematung tak percaya jika tangannya itu telah melukai seorang wanita. Ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa saat ini karena masih dikuasai rasa amarahnya terhadap Danu. Tetapi ia juga masih memiliki perasaan yang sebenarnya dari dalam lubuk hatinya paling dalam ikut merasa khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Diandra.


"Om, om lihat 'kan bagaimana keadaan Diandra sekarang karena ulah Om. Seharusnya Om bisa mengontrol emosi, anak Om sedang berada di dalam, pasti dia merasa sangat sedih jika tahu ayahnya malah bertengkar dengan ayah wanita yang dicintainya dan mengakibatkan Diandra terluka," ucap Riko dengan beraninya, ia merasa jika sikap Bram sudah sangat keterlaluan.


"Riko, jadi kamu sekarang lebih membela mereka. Kamu tidak peduli dengan Om? Om juga dipukul Riko. Kamu lihat Om juga terluka," ucap Bram membela diri.


"Iya Om aku tahu, tapi Om dulu yang memulainya. Ya sudah Om, mumpung kita di rumah sakit lebih baik kita minta Dokter untuk mengobati luka Om saja," tukas Riko.


"Tidak perlu, lebih baik kamu juga pergi dari sini. Biar saya sendiri yang menemani anak saya, saya tidak butuh kamu atau siapapun," ucap Bram yang terlihat kecewa lalu menjauhi Riko dengan duduk sendirian.


Riko menghela nafas panjang, saat ini ia merasa berada di posisi yang serba salah. Bagaimanapun juga Bram adalah orang tua dari sahabatnya, tetapi mana mungkin ia terus membela yang salah. Bahkan Riko sendiri sadar bahwa tadi ia sudah menyakiti hati Diandra, wanita yang dicintai oleh Kenzo. Sekarang Riko hanya bisa terdiam sembari berdoa agar Kenzo cepat sadar dan mau memaafkan kesalahannya.


------


"Dokter, saya mohon lakukan yang terbaik untuk Anak saya. Periksa kondisinya Dok, saya takut terjadi sesuatu dengan Anak saya akibat dari pukulan yang begitu keras," ucap Danu di dalam kepanikannya, hingga Dokter masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Baik Tuan, Tuan tenang saja Dokter pasti akan melakukan yang terbaik. Tapi sekarang silahkan Tuan tunggu dulu di luar," ucap Suster saat Bram hendak masuk ke dalam ruangan tersebut. Lalu Suster menutup pintu dan terlihat wajah cemas Danu yang menunggu kabar tentang anaknya itu.


"Om Danu, Om yang sabar ya. Kita berdoa saja semoga Diandra tidak kenapa-napa. Aku yakin Om Diandra itu kuat, mungkin tadi Diandra hanya syok kena pukulan itu, maka itu dia pingsan Om," ucap Sasa yang mencoba untuk menenangkan Danu.


"Iya Sa, terimakasih banyak ya. Tapi Om tidak akan pernah memaafkan laki-laki ba ji ngan itu jika sampai terjadi sesuatu dengan Anak Om," ucap Danu yang menatap murka.


"Iya Om, aku paham kok. Wajar kalau sekarang Om khawatir dan marah, aku juga khawatir dengan keadaan Diandra Om. Ya sudah sekarang kita duduk di sana aja ya Om," ucap Sasa yang membawa Danu duduk di sebuah kursi panjang di depan ruang pemeriksaan.


Tak lupa pula Sasa juga memberi kabar kepada ayahnya tentang kondisi Diandra sekarang dan tentang Danu yang berada di rumah sakit.


*****


"Diandra … Diandra … kamu dimana Diandra? Jangan tinggalkan aku Diandra. Aku mencintaimu."

__ADS_1


Tiba-tiba saja Kenzo meracau, padahal kondisinya di saat itu masih koma. Sehingga Bram yang berada di ruangan tersebut pun merasa sangat terkejut dan langsung menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.


Tidak berapa lama kemudian, dokter dan suster telah tiba untuk memeriksa keadaan Kenzo. Sedangkan Bram menunggu di luar ruangan dengan perasaannya yang senang karena mendengar suara Kenzo dan juga cemas bercampur aduk menjadi satu.


"Om yakin kalau Kenzo berbicara seperti itu? Apa itunya artinya Kenzo sudah sadar Om?" Tanya Riko saat Bram sudah menceritakan apa yang baru saja terjadi kepadanya.


"Iya Riko, apa kamu pikir Om ini budek atau terlihat sedang bercanda? Om mendengarnya dengan jelas, tapi yang Om tidak suka kenapa dia harus memanggil nama Diandra. Padahal sudah jelas-jelas wanita itu yang sudah menyebabkannya menjadi seperti sekarang ini," kata Bram yang kembali menyalahkan Diandra.


"Om Sudahlah Om, jangan egois. Mungkin memang saat ini Diandra yang menjadi sumber kekuatan Kenzo, jadi lebih baik Om memikirkan kesembuhan Kenzo saja, jangan malah terus menyalahkan orang lain," tukas Riko yang membuat Bram pun bungkam. Bukan karena ia menyetujui apa kata Riko, akan tetapi ia sangat malas untuk berdebat dengan sahabat anaknya saat ini.


Memang benar jika yang dipikirkannya saat ini adalah kesembuhan Kenzo, tentunya ia merasa sangat bahagia jika Kenzo benar-benar sudah terbangun dari komanya, tetapi Bram juga tidak akan rela jika harus melibatkan Diandra anak dari laki-laki yang sudah terang-terangan menjadi musuhnya.


-----


Sedangkan Diandra di saat ini sudah sadar dan kondisinya juga baik-baik saja, hanya terlihat sedikit luka memar pada wajahnya akibat dari pukulan Bram. Iya juga sudah dipindahkan ke ruang rawat inap karena dokter menyarankan untuk tetap berada di rumah sakit sampai esok hari.


"Diandra, seharusnya kamu tidak melakukan hal tadi. Itu sangat membahayakan kamu Sayang," kata Danu yang merasa sangat khawatir.


"Baik-baik saja bagaimana Di? Kalau kamu baik-baik saja kamu tidak akan pingsan Diandra. Untung saja tulang pipi kamu tidak patah karena pukulan dari laki-laki brengsek itu," tukas Danu dan malah ditanggapi senyuman oleh anaknya. Ia merasa bahagia karena memiliki ayah yang begitu perhatian terhadapnya.


"Papa jangan lebay dong masa iya hanya gara-gara pukulan sedikit seperti itu aja sampai tulang pipi aku patah. Udah ya Pa jangan. marah-marah. Aku benar-benar baik-baik aja, malah Papa tu yang terluka," ucap Diandra menunjuk ke arah sudut bibir ayahnya.


"Papa ini laki-laki dan Papa kuat, berbeda dengan kamu Diandra," ucap Danu mengeratkan giginya, terlihat sangat geram terhadap anaknya itu.


"Syukurlah Diandra kamu sudah sadar, Om merasa sangat khawatir saat Sasa tadi mengabarkan tentang kondisi kamu," ucap Harry yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap bersama dengan 2 anaknya yaitu Sasa dan Satria.


"Om Harry, Kak Satria, Sasa," ucap Diandra yang merasa surprise dengan kedatangan mereka.


"Hai Di," ucap Sasa yang terlebih dahulu mendekati sahabatnya itu.


"Diandra kamu baik-baik saja 'kan? Apa terasa sangat sakit? Aku lihat pipi kamu sampai lebam seperti itu," tanya Satria yang menganggap tidak sedang mempunyai masalah apapun dengan Diandra, ia terlalu khawatir terhadap wanita itu sehingga nekat untuk menemuinya.

__ADS_1


"Aku baik-baik aja kok. Kak Satria, Om Harry, terimakasih ya karena kalian semua sudah datang ke sini dan kamu Sasa kamu yang sudah menemani aku, maaf ya kalau aku jadi melibatkan kamu. Papa, Papa jangan marah dengan Sasa ya, aku yang meminta Sasa menemani aku ke sini, aku khawatir dengan Kenzo Pa," ucap Diandra.


"Kamu ini, untung saja kamu lagi sakit. Nanti tunggu waktunya Papa pasti akan memarahi kamu," hardik Danu yang menggoda anaknya itu.


"Ih Papa, masa tega sih. Lagipula anaknya lagi sakit malah dibilang untung," gerutu Diandra sembari mengerucutkan bibirnya.


"Iya sama-sama Diandra, syukurlah kamu baik-baik saja. Tapi untuk apa juga sih kamu masih peduli dengan laki-laki itu? Yang aku dengar ayahnya menyalahkan kamu, seharusnya kamu itu tidak usah datang ke sini untuk melihat dia," tukas Satria.


"Papa setuju dengan Satria, seharusnya kamu tidak perlu lagi memperdulikan pria itu. Lupakan dia Diandra, apa kamu tidak bisa melihat pria yang lebih baik daripada Kenzo," sahut Danu sembari melirik Satria.


"Om, jangan marah-marah dengan Diandra. Pasti pria itu yang sudah menghasut Diandra, tapi Om tenang saja mulai sekarang aku yang akan selalu menjaga Diandra di kampus. Aku pastikan Diandra tidak akan pernah dekat-dekat lagi dengan Kenzo," ucap Satria.


"Kak Satria apaan sih, nggak usah ikut campur deh. Ini tuh urusan Diandra dan Kenzo, jadi jangan ikut campur Kak," hardik Sasa.


"Lebih baik kamu tuh yang diam, aku hanya ingin membantu Om Danu aja kok," ucap Satria ketus.


"Sudah-sudah, Satria Sasa, kalian berdua ini apa-apaan. Diandra lagi sakit tapi kalian malah ribut seperti itu. 'Kan tidak enak juga di depannya Pak Danu," tegur Harry kepada anak-anaknya.


"Tidak apa-apa Tuan, justru saya senang jika Satria memang mau membantu menjaga Diandra dan saya mengucapkan terimakasih banyak kepada Nak Satria," ucap Danu.


"Sama-sama Om, aku senang kok bisa menjaga Diandra. Terimakasih juga ya Om sudah mengizinkanku," ucap Satria yang merasa sangat bahagia karena merasa mendapatkan lampu hijau dari orang tua Diandra.


Tok … tok … tok …


Hingga di saat itu pun terdengar suara ketukan pintu dan terlihat seseorang yang masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Riko, ada apa?" Tanya Diandra saat melihat kehadiran sahabat dari mantan kekasihnya itu.


"Diandra, syukurlah kamu sudah sadar. Aku mohon Diandra, sekarang juga kamu harus ke ruang ICU. Dokter yang memintanya," ucap Riko yang membuat seluruh orang yang ada di ruangan tersebut merasa keheranan.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2