
She denies it. But truth is, she's falling in love with him. It was beyond her control.
{*}
Cowok berseragam olahraga itu menyeka bulir-bulir keringat di dahinya dan berbalik sambil mengangkat kedua tangannya. Senyumnya sangat sumringah sampai-sampai menimbulkan kerut-kerut di wajahnya. Tubuh cowok itu bahkan terus melompat saking girangnya, ia tidak bisa mengontrol luapan emosinya yang begitu menyeruak ke seluruh tubuh. Ia suka sensasi ini.
"Shoot akhir dilakukan oleh Alzra dengan nomor punggung 16 dari SMA Taranta. Skor akhir dari kedua tim adalah 58-45."
Siswa-siswi langsung berdiri dari tempatnya dan memberikan applause yang meriah untuk performa para pemain basket SMA Taranta. Tak terkecuali gadis berkuncir kuda dan berbalut sweater hijau yang sudah menatap salah seorang dari kelima pemain basket itu dari kejauhan. Ia menyungging senyuman tipis sambil membenarkan helaian rambut yang berantakkan ke belakang telinga.
Siapa yang tidak kenal Alzra? Matanya yang bulat di tambah keindahannya lagi dengan corak abu-abu. Rahangnya pun sangat kokoh, tapi tidak menghilangkan kesan ramahnya.
"Ara!" mata Alzra bersinar seperti kilat perak ketika melihat Rara dari kejauhan. Sepertinya Alzra menyadari kehadiran gadis itu. Tangannya melambai kuat ke atas sambil tersenyum, membuat Rara mau tak mau ikut menyungging senyum.
Alzra punya senyuman yang mampu membuat dunianya seakan berterbangan, tak memiliki daya gravitasi. Rasanya seperti melayang, tapi bisa jatuh kapan saja apabila ia tak berusaha menjaga massanya tetap ada.
"Mantul," ujar Rara tanpa suara di sertai dua jempol dan goyangan kecil sebagai penghargaan.
__ADS_1
Kedua tim-pun saling berjabat tangan saat perlombaan selesai. Senyum bangga masih Alzra terpancarkan selaku ketua tim basket SMA Taranta. Tangannya tak pernah kosong ketika sekolah mengirimnya untuk beradu keahlian.
Satu persatu murid dan supporter mulai meninggalkan lapangan, tak terkecuali para pemain. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, tapi Alzra dan Rara masih disana.
Alzra duduk menyandar di pinggir lapangan sambil meneguk minumannya dengan ganas. Sesekali ia mengelap keringatnya menggunakan handuk kecil yang terlilit di lehernya. Tenaganya terkuras habis hanya untuk pertandingan ini. Padahal, 2 hari lagi masih ada final karena tim-nya menang.
"Gue padahal udah yakin lo bakal kalah. Eh, taunya menang," ejek Rara dan langsung dihadiahi toyoran tepat di kepala.
"Padahal tadi niatnya gue mau traktiran. Yah, batal deh," kata Alzra tak mau kalah, menunggu reaksi cemberut Rara.
Rara melipat kedua tangannya di depan dada, "Ih, dasar curang!"
"Del, kamu kok gak nonton? Kasian nih, Ara kayak gak punya temen di sini haha." Alzra melirik Rara dengan tatapan mengejek lalu memeletkan lidahnya. Yang di ejek pun hanya bisa memutar bola matanya.
"Lain kali kalau mau kerja kelompok, bilang. Aku kan jadi gak semangat kalo gak ada kamu. Untung Ara nemenin," balas Alzra agak kesal.
Rara menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menyimak percakapan dua sejoli ini. Bahkan terkadang ia harus membuat senyuman palsu untuk sekadar menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Tapi, sampai kapan ia bisa terus menahan perasaan ini?
__ADS_1
Alzra mangut-mangut. "Yaudah, sebagai gantinya, besok temenin aku jalan ya."
"Yeh, dasar modusan aja lo," sahut Rara pelan dan dibalas dengan cengiran.
"Oke, besok sore aku jemput ya."
Tut. Sambungan telephone dimatikan. Tangan Alzra memasukkan benda pipih itu kedalam tas dan membereskan barang-barangnya.
Langit sudah mulai gelap sehingga membuat Alzra sedikit terburu-buru membereskan perlengkapannya. Sepertinya mereka sudah terlalu lama berada di lapangan. Gerbang sekolah sebentar lagi akan di tutup. Mereka juga pasti akan kena hukum jika ketawan berduaan di lapangan saat malam sudah tiba. Apa kata orang nanti?
Mereka pun akhirnya tiba di parkiran dan berhenti tepat di depan mobil milik Alzra. "Oh iya, Della juga nitip salam, tuh. Dia minta maaf gara-gara gak bisa nemenin lo dan katanya gue harus nganterin lo balik."
Rara menggeleng cepat, "Gak usah, gue bisa pulang naik bus sendiri, Alzra."
"Eh, gak boleh gitu. Lo kan cewek. Kalo kenapa-napa, yang disalahin pasti gue," cecarnya seakan Rara adalah adik kecil yang harus ia jaga.
Rara tersenyum kecut lalu mengangguk sebagai arti meng-iya-kan, tapi hatinya tetap tak bisa berbohong. Ia senang, namun tidak mau perasaan ini terus berkembang.
__ADS_1
"Ayo, sekalian gue traktir. Kan gue menang gara gara dukungan dari lo!" Alzra tertawa lagi sambil merangkul teman dekatnya, tapi Rara hanya bisa tersenyum simpul ketika menanggapi perlakuan itu.
Nayara Pratista. Gadis itu baru sadar kalau ia baru saja melakukan kesalahan dengan menyukai pacar sahabatnya sendiri.