
Alga masuk kedalam kelasnya sendirian setelah berpisah dengan beberapa temannya anak butterfly. Laki-laki itu menarik kursinya dan duduk di sebelah Chatrina, padahal di sebelah Chatrina ada Liana.
“Minggir lo, pindah sana.” perintah Alga dengan nada yang sangat dingin, kejadian itu membuat Chatrina menoleh ke arah Alga dengan tatapan bingung.
Liana bahkan tidak mengatakan apapun selain pindah tempat di sebelah Dinda karena hanya disana yang kosong dan tidak berada di bangku belakang, tatapan Alga membuat Liana takut, apalagi setelah dia membaca permintaan maaf dari media sosial Anonim Effect, siapa yang membuat mereka meminta maaf selain anak butterfly.
Alga duduk dengan nyaman memangku dagunya sambil memperhatikan wajah Chatrina yang duduk di sebelahnya mendengarkan penjelasan guru, bahkan guru pun sudah tidak bisa menegur Alga lagi. Mau jadi apa kamu kalau nggak niat sekolah? Alga nggak akan miskin hanya karena tidak mendengarkan penjelasan guru di depan, keluarganya tidak akan bangkrut hanya karena Alga bolos sekolah, dia tetap akan berkecukupan memiliki banyak uang dan kebutuhan lainnya.
“Ehm kamu kenapa sih?.” Chatrina yang di perhatikan terus merasa tidak nyaman, apalagi wajah tampan Alga yang terkena pantulan sinar dari luar nampak sangat sempurna pahatannya.
“Cantik.” Puji Alga tanpa mengalihkan pandangannya dari Chatrina.
“ALGA! Kamu mau dengerin materi ibu atau pilih keluar kelas?.” Teriakan dari guru yang mengajar di depan mengubah posisi Alga melihat kedepan dan memperhatikan gurunya dengan tatapan dingin.
“Saya memperhatikan bu, tapi memperhatikan pacar saya.”
“Keluar kamu dari kelas!.”
Alga beranjak dari duduknya kemudian mencondongkan tubuh ke arah Chatrina “Aku tunggu di kantin cantik.” Ucap Alga sambil tersenyum pada Chatrina. Setelah itu dia benar-benar meninggalkan kelas menuju ke kantin.
...
Meja kantin paling ujung menjadi meja paling ramai karena pembahasan anak-anak butterfly mengenai poker dan judi online, Algaleo tidak pernah menyarankan mereka untuk bermain seperti itu, hanya saja karena melihatnya yang banyak menghasilkan uang dari sana membuat banyak anggota butterfly tertarik mempelajari apa yang Alga pelajari.
Ada Gavin paling pro di bagian sini, dia mainnya pakai otak sehingga ada pikiran untuk berhenti maka dia akan berhenti, pikiran untuk tidak main maka dia tidak akan main. Berbeda dengan Alga, dia lebih ke permainan berani, selama ada kesempatan maka dia akan turun bertaruh, tidak ada rem yang membuatnya berhenti tanpa Gavin di sebelahnya.
“Lo tau nggak yang waktu itu? Nyokap bokap gue udah muji gue kayak anak dewa tau nggak gue kasih duit.” Edgar ikut nimbrung dengan senang membahas mengenai dirinya, ketimbang membeli motor baru yang keren, dia lebih memilih membantu ekonomi keluarganya, mengembangkan bisnis keluarganya, toh bisnis itu akan menjadi miliknya juga nanti.
__ADS_1
Alga hanya tersenyum mendengarkan celotehan teman-temannya, setelah lulus nanti belum tentu dia bisa mendengarkan hal bodoh yang Edgar bicarakan atau hal-hal dingin yang jarang Gavin ucapkan, semuanya akan berubah saat mereka benar-benar lulus dari SMA Effect, tidak ada lagi Butterfly yang menguasai lorong-lorong kelas dengan jaket kebanggaannya, tidak akan lagi ada karena Alga tidak ingin ada golongan seperti ini di sekolah setelah angkatannya lulus, tidak ada Butterfly kedua ketiga atau keempat, karena anggota butterfly hanya akan berjaya sampai dia lulus.
“Alga.” Sebuah panggilan lembut seorang gadis membuat Alga menoleh, Chatrina ada disana berdiri menjadi perhatian semua anak butterfly.
“Cie elah di samperin ayang.” Ledek Edgar yang membuat Chatrina tidak nyaman.
Alga tersenyum dan beranjak dari duduknya menghampiri Chatrina, mereka berdua duduk di salah satu meja kosong, rasanya akan aneh kalau Chatrina berada di antara banyak laki-laki, lagipula Alga tidak akan ikhlas jika kekasihnya menjadi pemandangan teman-temannya.
Alga membawa nampan berisi makanan dan minuman, kemudian duduk di depan Chatrina. Makanan dan minuman yang sebelumnya sudah mereka pesan dan tinggal mengambilnya saja, perlakuan Alga sangat berbeda saat bersama dengan Chatrina, dia lebih banyak melakukan hal baru, mengambil makanan, memesan makanan, biasanya saat di kantin Alga hanya duduk dan menikmati makanan yang datang dibawakan teman-temannya.
“Kamu yang buat akun Anonim Effect hilang?.”
“Iya.” Jawab Alga dengan sangat santai.
“Kenapa sampai seperti itu? Bukannya hanya foto editan?.”
“Erika.”
“Benar tapi bukan hanya dia.”
Chatrina menghentikan kegiatan makannya dan melihat kearah Alga dengan tatapan penasaran.
“Aku tau semua, kalau aku bilang aku tau semua tentang kamu itu adalah nyata. Orang yang buat kamu terkunci di toilet dengan basah kuyup itu aku tau, dan orang di balik foto kamu, aku juga tau karena mereka orang yang sama.”
“Dia juga yang melakukan dibalik foto?.”
Alga mengangguk “Aku tidak akan diam miau, aku sudah sangat lama diam, aku tidak ingin menyesali banyak hal hanya karena aku mendiamkan kejadian hari ini, karena hari esok akan terulang kembali, aku tidak ingin itu terjadi.”
__ADS_1
“Apa yang akan kamu lakukan? Aku tidak ingin memiliki masalah dengan siapapun, aku hanya ingin lulus dari SMA dan melanjutkan hidupku dengan baik.”
“Kamu tidak pernah membuat masalah, mereka yang menyalakan api dan aku hanya memadamkannya.”
Belum selesai membahas masalah ini, Amanda datang bersama kedua temannya dengan buru-buru menghampiri meja Alga dan Chatrina, namun bukannya dia marah tetapi dia tersenyum lebar sambil duduk di kursi kosong diantara Chatrina dan Alga.
“Gue suka cara lo.” Ucap Amanda sambil melihat Alga yang tengah meneguk minumannya.
“Kenapa?.” Chatrina melihat kearah Amanda dengan tatapan bingung.
“Liana dikeluarkan dari sekolah karena memalsukan nilai masuk SMA Effect, setelah hampir 3 tahun kenapa baru ketahuan sekarang?.” Amanda menghentikan ucapannya sambil melihat kearah Chatrina “Erika kemungkinan juga akan di keluarkan dari sekolah, gue nggak tau alasannya apa tapi kayaknya adik lo udah ga bisa bayar sogokan ke kepala sekolah ya?.”
Chatrina melihat ke arah Alga.
“Bukannya menyeimbangkan dunia adalah tugas manusia, gue Cuma membuat semuanya berjalan di jalan masing-masing dengan benar.”
“Thanks, tapi gue seneng akhirnya tuh cewek di depak dari sekolah juga.” Amanda menepuk pundak Alga kemudian meninggalkan kantin bersama dengan teman-temannya.
Ini yang Chatrina mau, ini yang Chatrina inginkan selama ini, menyingkirkan Erika dan membuatnya merasakan apa yang dia rasakan selama ini. Dikeluarkan dari sekolah, pindah sekolah tiap tahun karena kejadian yang tidak dia lakukan.
Chatrina tersenyum namun dia meneteskan air matanya, Alga yang melihat itu langsung menyentuh tangan kekasihnya “Kenapa? Ada yang sakit?.”
“Nggak, aku senang, nggak tau tapi aku senang, rasanya lega.”
Alga menatap Chatrina dengan pandangan iba, namun dia merasakan kasih sayang yang tidak bisa dia ungkapkan pada gadis itu.
Bersambung...
__ADS_1