The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
Episode 43


__ADS_3

Pengumuman kelulusan pun akhirnya di umumkan, lapangan yang biasanya di isi anak-anak bermain bola sekarang di isi anak kelas 12 yang menerima surat kelulusannya masing-masing, Alga berdiri di sebelah Chatrina, di belakang mereka ada Devano yang juga menunggu surat kelulusannya.


Dalam hitungan bersama, semua siswa membuka suratnya masing-masing, mendapatkan hasil kerja kerasnya masing-masing selama ujian. Memang bukan nilai yang bisa di banggakan, tetapi kata LULUS di kertas tersebut sukses membuat semua murid kelas 12 meloncat bahagia. Alga tiba-tiba memeluk erat Chatrina, membuat semua mata melihat ke arahnya, alasannya tentu saja karena ini area sekolah.


“Sorry..”


Chatrina hanya tersenyum “Kamu lulus juga?.” Tanya Chatrina lirih.


“Tentu saja, kalau tidak lulus juga aku bisa bayar sekolah buat lulusan.” Alga menunjukkan deretan giginya dengan santai.


Anak-anak butterfly berkumpul di parkiran depan seperti biasa, kalau anak sekolah lain lulusan saling coret tapi berbeda dengan SMA Effect, mereka memiliki tradisi sendiri, yaitu membantu orang jalanan dengan membagikan makanan dan minuman pada hari itu, semuanya turun ke jalanan membagikan makanan dan minuman pada para pedagang kaki lima atau para pencari sampah, bahkan para pengemis jalanan.


Kebiasaan itu telah di junjung sejak 2 tahun yang lalu karena dinilai kegiatan corat coret seragam sama sekali tidak berguna, seragam yang seharusnya menjadi benda bersejarah harus dirusak dengan banyak coretan tidak jelas, padahal jika membuat kenangan pun sudah ada album kenangan SMA Effect sendiri.


Saat tengah membagikan makanan, ponsel Chatrina berdering dari telepon rumah.


“Halo...”


“Halo non Chaty... ini non Erika mau melahirkan.”


“Apa? Udah dibawa ke rumah sakit bi?.”


“Sudah, tadi kebetulan nyonya juga ada dirumah mau mengambil barang.”


“Mama belum menghubungi Chaty, kira-kira rumah sakit mana Erika dibawa?.”


“Rumah sakit xxxxxx.”


“Kalau begitu Chaty langsung kesana aja bi.”


“Iya non, hati-hati.”


Chatrina mematikan ponselnya dan melihat kearah Alga yang menunggunya bicara.


“Erika mau melahirkan, sekarang perjalanan kerumah sakit xxxx. Aku akan kesana, kamu lanjutin aja acara ini.”


“Aku anterin ke sana.”


Alga memakai helmnya dan memberikan helm pada Chatrina untuk dipakai juga.

__ADS_1


“Kamu yakin? Masih banyak yang belum dibagi.”


“Biar dilanjutin yang lain, ayo naik.”


Chatrina langsung naik ke atas motor Alga, mereka berdua menuju ke rumah sakit xxxxx dimana Erika melahirkan anaknya. Sampai di parkiran rumah sakit, Alga dan Chatrina buru-buru melepaskan helmnya dan masuk kedalam, kamar persalinan 02, disana ada Sarah dan Kevin juga selaku orang tua yang membawa Erika ke rumah Sakit.


“Ma, gimana keadaannya?.”


“Masih ditangani dokter.”


“Erika sendirian ma?.”


Sarah mengangguk.


“Kalau gitu Chatrina aja yang nemenin Erika di dalam.”


“Kamu yakin? Kamu belum menikah, lebih baik di luar.”


“Chatrina nggak papa kok ma.”


Walaupun Alga juga tidak mengijinkan sebenarnya, tapi akhirnya Chatrina tetap masuk mengenakan jubah steril serta penutup kepala dan masker. Gadis itu masuk kedalam dan berdiri di sebelah Erika, terlihat Erika yang berkeringat sangat banyak, sebagai gadis yang masih 18 tahun berada di tempat ini cukup menegangkan untuk Chatrina, bagaimana dengan Erika yang bahkan belum genap 17 tahun tetapi sudah berusaha setengah mati menyelamatkan bayinya.


“Lo bisa, ayo, semua akan baik-baik saja.” Chatrina menggenggam tangan Erika erat.


Cukup lama berada di dalam ruangan tersebut hingga suara tangis bayi terdengar menggema di seluruh ruangan, rasanya tubuh tegang Chatrina menjadi lemas, air matanya jatuh, dia terharu karena bahagia saat mendengar tangisan bayi.


Chatrina keluar setelah melepaskan semua pakaian yang melindungi seragam sekolahnya, bergabung dengan keluarganya di luar, sedangkan para dokter dan suster mengurus bayi sekaligus Erika untuk pindah ke kamar inap biasa.


Semua masih menunggu di luar ruangan sampai Erika siap di kunjungi, Chatrina duduk di sebelah Alga dengan wajah tidak tenang. Selama berada di dalam memang tidak ada masalah apapun, bayi Erika juga lahir sangat sehat. Beberapa menit kemudian, bersamaan dengan Erika yang sudah berada di kamar inap, keluarga Erika datang, lebih tepatnya ibu kandung beserta ayah kandung Chatrina.


“Dimana Erika?.” Tanya Mayang tanpa rasa bersalah sama sekali.


Sarah yang baru saja berdiri langsung berjalan menghampiri Mayang, sebagai mantan teman dekat, Sarah sangat kecewa dengan Mayang. Mau bagaimana pun juga Erika adalah anaknya, tapi sama sekali tidak bertanggung jawab sebagai seorang ibu.


“Saya ingin bicara dengan anda.” Ucap Sarah pada Mayang.


Mereka berdua menjauh dari lorong itu dan berbincang hanya berdua, sedangkan Adrian saling melempar tatapan dengan Chatrina, putrinya.


“Anda datang? Terimakasih.” Ucap Chatrina singkat dan nampak sangat kecewa.

__ADS_1


Mereka menuju ke kamar inap Erika, perempuan itu masih terlelap dengan nyaman di balut selimut. Di sebelahnya ada ranjang bayi kosong, bayinya masih di bersihkan oleh suster.


Chatrina berjalan menghampiri ranjang Erika, baru akan menyentuh tangannya, Erika membuka mata dengan sangat lembut dan menatap kearah Chatrina sedih. Chatrina melempar senyuman bahagia pada Erika “Bagaimana keadaanmu?.”


“Terimakasih kak... apa aku bisa melihat bayiku?.”


“Tentu saja.”


Chatrina berjalan keluar, masuk kembali dengan suster yang menggendong bayi perempuan cantik kemudian memberikan bayi tersebut pada gendongan Erika. Erika tersenyum tapi juga meneteskan air matanya, “Terimakasih telah lahir di dunia, maafkan mama.” Cup!! Erika mengecup dahi bayinya kemudian memberikan bayi itu pada suster kembali.


“Kak.” Panggil Erika yang membuat Chatrina mendekat kearahnya.


“Terimakasih banyak, tanpa kakak, aku tidak akan pernah bisa melahirkannya, aku tidak akan bisa membiarkannya hidup di dunia. Terimakasih, maaf selama ini aku selalu menyusahkan hidupmu, bahkan kedepannya akan tetap sama. Namanya Eleanor Elena.” Erika menyentuh tangan Chatrina lembut.


“Nama yang indah.” Chatrina tersenyum.


“Benarkah, aku tidak ingin dia tumbuh sepertiku, mungkin dia bukan anakmu tapi aku berharap dia kuat sepertimu, hebat sepertimu dan memiliki keluarga yang sangat menyayanginya lebih dari apapun.”


“Semua akan menjadi keluarga mulai hari ini, Tante Mayang datang, Papa juga ada di luar.:


Erika tersenyum kecut, dia bahkan tidak ingin menemui ibunya sendiri “Aku ingin istirahat.”


“Tentu, kamu harus banyak istirahat.”


Chatrina membantu Erika untuk merebahkan tubuhnya di ranjang, setelah melihat Erika tidur. Chatrina menoleh kearah Alga yang berdiri tidak jauh darinya.


“Kamu baik-baik saja?.”


Chatrina mengangguk sambil tersenyum.


“Ah satu lagi.” Chatrina menoleh kearah Erika yang sudah tertidur lelap “Erika...” Panggil Chatrina tapi tidak ada jawaban apapun dari perempuan itu.


Tangan Chatrina menyentuh pergelangan tangan Erika, tidak ada nadi di sana, tubuh Erika melemas. “PANGGILKAN DOKTER SEKARANG!!.” Teriak Chatrina sangat keras, tangisnya pecah saat dia sama sekali tidak bisa membangunkan Erika.


Rumah nampak sangat sepi, hanya orang berlalu lalang tanpa mengatakan apapun, orang dengan pakaian serba hitam. Bahagia kala itu langsung berubah berkabung dalam sekali waktu, hari kelahiran disertai hari kematian. Tanah yang masih basah dengan bunga diatasnya menyisakan banyak tangis, keluarga berada disana mendoakan yang telah berpulang ke tempat asalnya.


Tidak ada pernikahan yang diharapkan terjadi, tidak ada hari bahagia yang bisa di kenang, semuanya kembali pada tempatnya masing-masing. Kemudian bangkit menjalani kehidupannya masing-masing, yang telah pulang maka harus beristirahat dan yang belum pulang tetap harus menyeimbangkan alam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2