
My eyes refuse to watch you leave, so tears will blur the memory.
{*}
"Capek ah, ke UKS mulu," protes Rara kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Ia bosan dengan bau khas ruangan putih itu. Belum satu minggu sekolah, ia sudah dua kali memasuki ruangan itu. Dengan ekspresi yang malas, Rara berjalan ogah-ogahan.
Sedangkan Alzra, pandangannya tetap lurus ke depan, tidak berani menatap manik mata Rara. "Sorry, gara-gara gue, lo jadi sakit lagi," katanya, lalu memencet tombol lift hingga pintu lift terbuka.
Rara mendesah pasrah lalu melangkah ke dalam lift. "Salah gue, bukan salah lo." Akhirnya, hanya itu yang mampu Rara katakan.
Saat pintu lift tertutup, suasana mendadak canggung dan mencekam. Rara seakan berjalan bersama orang asing. Arah yang sama, tapi punya pikirannya masing-masing.
Kaki Rara bergerak tak nyaman, terus mengetuk lantai lift hingga menimbulkan decitan. "Lama amat ya nyampenya," Rara terkekeh, berusaha basa-basi karena Alzra sangat berbeda belakangan ini.
Alzra mengangguk, ikut terkekeh, "Iya nih."
Hening. Tidak ada yang berinisiatif membuka pembicaraan lagi. Mereka bergumul dalam pikirannya tersendiri dan berdiri saling membelakangi.
Jemari Rara saling tertaut, meyakinkan dirinya untuk berbicara. Lalu saat keberanian itu sudah terkumpul, Alzra malah ikutan memanggilnya.
"Alzra."
"Ara."
Ara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu kembali membelakangi Alzra. Ternyata ia belum siap.
"Lo mau ngomong? Duluan gih," ujar Alzra, mempersilahkan Rara lebih dulu memompa jantungnya lebih keras.
Rara menarik nafasnya panjang. Jemarinya mencengkram baju olahraganya erat. "Maaf ya, gue udah buat hubungan lo sama Della jadi kayak gini."
__ADS_1
Alzra terhenyak, berusaha menetralkan mimik wajahnya yang sedih. "Bukan salah lo."
Ucapan Alzra seakan menyentil Rara. Jelas itu salahnya. Ia yang menyukai Alzra padahal tau kalau Alzra sudah dimiliki orang lain. Ia yang terlalu egois, memikirkan kebahagiannya sendiri. Sekarang, malah Alzra yang kena dampak dari keegoisannya.
Kecanggungan mulai mengisi lagi hingga pintu lift terbuka dan mereka sama-sama tersadar dari pikirannya tersendiri.
Rara menunduk cemas, pastilah Alzra akan menjauhinya.
Binar di mata Alzra meredup. "Gue tinggal gapapa ya? Gue lagi butuh waktu buat sendiri. Nanti gue suruh Galih buat temenin ya?"
"Lo tadi mau ngomong apa?" Rara buru-buru bertanya.
"Gakjadi, nanti aja ya."
Rara mengangguk dan melihat tubuh jangkung cowok itu menjauhi figurnya. Rara hanya bisa melambaikan tangan, padahal jauh dilubuk hatinya, ia merasa takut. Sangat takut.
{*}
Sekolah sudah sepi, menyisakan segelintir murid yang masih terjebak hujan atau mengikuti ekskul karena bel pulang sekolah sudah berbunyi daritadi. Dan di ujung sana, berdiri calon tunggal penerus pemilik SMA Tantara kelak, Demetrius Hazel.
Matanya menerawang ke sekitar sambil berteduh di bawah atap depan gerbang sekolah. Kejadian itu cepat sekali menjungkirbalikkan hidupnya. Ia takut semua yang berbau air, apalagi hujan, seakan ribuan air datang untuk menyerbu dirinya.
Saat indra penciumannya menerima bau hujan yang kental, ia jadi sesak nafas. Gejala itu muncul lagi, merasuki seluruh dirinya hingga tubuhnya merasa kesakitan.
Sampai kapan ia harus terus seperti ini?
"Loh, Hazel? Kamu ngapain di sini? Berteduhnya di dalem aja," salah seorang dari satpam sekolah menghampiri Hazel ketika menyadari gerak-gerik Hazel yang aneh. "Muka kamu pucet banget. Kamu kedinginan?" tanyanya lagi, tapi Hazel tidak bisa menjawab.
Tubuh Hazel terus menginggil dan bibirnya membiru. Dengan gerakan lemah, ia menggeleng. Ia harus kuat.
"Mau saya panggil Bu Nini?" satpam itu terlihat khawatir. "Saya anterin ya?"
__ADS_1
Hazel menepis uluran satpam tersebut. "Sa-saya gapapa, Pak." katanya, lalu langsung berlari di bawah rintik hujan, dengan perasaan campur aduk.
"Dek! Jangan hujan-hujan-an!" teriakan dari pak satpam yang lama-lama memudar saat Hazel berbelok di tikungan.
Hanya berbalutkan seragam, ia menerobos hujan, melawan semua kenangan buruknya. Air matanya dengan cepat mengalir, tapi hujan langsung menghapusnya seakan Hazel baik-baik saja.
Hazel takut, tapi ia harus melawan rasa takutnya. Ia tidak suka kalau orang mengetahui kelemahannya. Ia tak suka terlihat tak berdaya.
Saat rintik hujan semakin besar, nafasnya ikut makin memburu, disertai suara petir dan kilat yang menggelegar.
"Kakak harus gimana, Lidya?" tanyanya sambil mengadah ke langit. Rintik hujan memasuki matanya hingga ia meringis.
Tangannya mengepal, rasa sakit mulai bergejolak di dada. Hidupnya seperti dikutuk karena di bayang-bayangi adiknya. Ia tidak sengaja melakukannya, tapi tak ada yang percaya padanya.
"Semua salah kamu! Lihat apa yang udah kamu perbuat! Kamu bahkan tega bunuh adik kamu sendiri," kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, membuat ia sedikit pusing.
Ia kehilangan semuanya.
Tubuhnya mendadak terhuyung ke belakang, berusaha berdiri mencari keseimbangan dengan bersandar pada dinding besar berwarna abu-abu. Ia terduduk lemas, meratapi kemeranaan hidupnya.
Hujan-pun tampak terus menghujamnya, di iringi rasa sakit yang juga memuncak. Sepertinya cuaca tidak mendukungnya hari ini karena justru mereka membuat Hazel kembali merasakan pedihnya hari itu.
"Hazel.. Takut.." Hazel menutup kedua matanya, menangis, sambil memeluk kedua lututnya kedinginan. "Maafin Hazel," katanya lagi.
Ia membenamkan wajahnya di antara kedua lutut lalu menangis sejadi-jadinya. Luapan emosi yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Perasaan yang ia kubur agar tidak ada satu orang-pun yang mengetahuinya.
Isakkannya makin kuat, lalu ia mulai sadar kalau air hujan tidak lagi menerpa kulitnya.
Sebuah tangan mungil yang hangat terulur, menyentuh lembut kepala cowok itu sebelum akhirnya berteriak. "TOLONG, ADA YANG PINGSAN!"
Gadis berpayung merah muda terlihat panik. Ia mengangkat wajah Hazel dengan telapak tangannya lalu ikut menangis. "Jangan mati di sini, Hazel! Tolong! Siapapun, tolong!"
__ADS_1
Kelopak mata sembab Hazel terbuka, menangkap sosok itu lagi di sana. Dipegangnya pergelangan tangan mungil itu, seakan tau kalau ia pasti akan berdiri di sana, menemaninya. "Ara?"