
Sebelum menghampiri Alga, Edgar bingung harus menghubungi siapa lagi mengingat Gavin yang belum tentu datang, tapi mau tidak mau dia tetap harus menghubungi Gavin, setidaknya Gavin tau walaupun belum tentu datang.
Selain itu dia juga kepikiran untuk mengatakan hal ini pada Chatrina, Chatrina pasti bisa datang untuk menghentikan Alga.
Chatrina yang baru saja menyelesaikan kegiatannya memakai skincare rutin setiap malam, matanya teralihkan saat melihat notifikasi dari twitter yang men tag akunnya dengan tiba-tiba, sekaligus pesan masuk dari Edgar yang mengabari mengenai Alga.
Dengan pakaiannya yang akan menuju ke alam mimpi, Chatrina buru-buru keluar rumah hanya membawa kunci mobil dan ponselnya, malam ini ibunya tidak pulang jadi dirumah sendirian. Chatrina mengeluarkan mobil yang sudah lama tidak digunakan karena malas kena macet tapi jam segini biasanya jalanan agak renggang, lagipula kalau pakai motor juga tidak ada motor di rumah, hanya ada mobil ini saja.
Chatrina menutup kembali gerbang rumahnya kemudian melajukan mobilnya menuju ke lokasi yang dikirimkan oleh Edgar. Sampai disana, lokasi balapan sudah sangat ramai, dari yang adu siapa pemenangnya malam ini, juga yang mendukung pertandingan. Chatrina buru-buru berlari ke lokasi tersebut, saat dia melihat Edgar di sebelah motor Alga dan Alga yang duduk di atasnya mendengarkan celotehan Edgar.
“Alga!.” Sebuah panggilan membuat semua orang menoleh termasuk Alga dan Devano.
Pertandingan akan di mulai, tapi Alga meminta waktu untuk bicara dengan kekasihnya sebentar, antara bingung dan kaget karena Chatrina bisa ada disini tiba-tiba. Alga melepaskan helmnya dan memberikan pada Edgar kemudian turun dari motor menghampiri Chatrina.
“Kenapa kamu bisa ada disini?.”
“Semua tau kalau kamu mau balapan sama Devan, nggak usah ya...”
“Miau...” Alga menggenggam kedua tangan Chatrina lembut sambil menatapnya dalam-dalam “Nggak papa kok, jangan khawatir, aku biasanya menang pertandingan gini doang.”
“Tapi-.”
Alga mengusap rambut Chatrina lembut sambil tersenyum “Percaya padaku, kamu sama Edgar dulu, tunggu di garis finish, aku pasti datang.”
Akhirnya Chatrina pun mengangguk, memeluk Alga erat.
Balapan motor pun di mulai, Algaleo melawan Devano. Alga dengan motor hitamnya dan Devano dengan motor merahnya, mereka berdua sedang adu suara knalpot motor, hitungan mundur dan bendera berkibar melepaskan kedua motor itu adu kecepatan di jalanan untuk mencapai finish.
‘Aku harus menang.’ Kalimat yang terus berada di kepala Alga.
Sebelum mereka berada di jalanan sekarang ini, Devano sudah mengajukan sebuah perjanjian pada Algaleo dan walaupun berat dia menyetujui hal tersebut. Sudah hampir 5 menit berlalu, motor Devano muncul lebih awal di belokan, disusul motor Alga. Detik-detik menuju finish, Alga berhasil merebut posisi Devano hingga sampai di finish.
__ADS_1
Semua bersorak terutama orang yang mendukung Alga dan menyerahkan uangnya untuk memilih nama Algaleo, motor itu berhenti di pinggir jalan, Chatrina dan Edgar langsung menghampiri Alga bersamaan dengan Gavin yang baru saja tiba setelah pertandingan berakhir.
Flashback On
Alga menghampiri Devano menggunakan motornya, laki-laki itu melepaskan helm dan tersenyum pada Alga.
“Gue mau tantang lo buat balapan malam ini.”
“Gue lagi ga mood.”
“Cupu! Mending lo lepasin Chatrina aja kalo masih ga berani lawan gue.”
“Lo mau apa sebenarnya?.”
“Jadi, Gue bakal berpasangan sama Erika saat Effect live show. Kalau gue menang, kita tukeran pasangan, gue sama Chatrina dan lo sama Erika. Tapi kalo lo yang menang, lo boleh minta apapun ke gue.”
“Kalo gue minta lo buat ga ganggu hubungan gue sama Chatrina, plus lo jangan pernah ganggu Chatrina seujung kuku pun, lo siap?.”
“Oke deal!.”
Flashback Off
Alga turun dari motornya melepaskan helm kemudian membawa Chatrina kedalam pelukannya, mengusap kepala itu dengan sayang dan beberapa kali mengecupnya.
Edgar yang melihat keromantisan mereka, menuju ke Gavin dan memeluk tubuh Gavin sambil melihat iri. Gavin yang merasa jadi sasaran kejombloan Edgar, menoyor kepala laki-laki itu hingga melepaskan pelukannya.
Mereka berempat mampir di warung bu Endang, Alga melepaskan jaketnya dan memakaikan pada Chatrina.
“Kenapa ga pake apa-apa kesini?.”
“Habisnya udah khawatir.” Chatrina meminum air mineral yang Edgar beli dengan sekali teguk saking paniknya melihat Algaleo.
“Gue sih yakin lo pasti menang walaupun motor lo bermasalah.” Ucapan Gavin membuat Alga menoleh sambil tersenyum pada laki-laki itu yang juga khawatir dan meninggalkan adiknya hanya untuk datang.
“Ntar nitip hubungi orang bengkel suruh ngambil ke rumahnya vin.”
“Dah tau gue, gampang lah.”
__ADS_1
Setelah perbincangan yang tidak lama, Alga mengantarkan Chatrina pulang kerumahnya. Mengikuti mobil Chatrina dari belakang hingga tiba di rumahnya, setelah mengantarkan Chatrina pulang, Alga kembali bergabung dengan tongkrongannya sampai subuh datang.
Sedangkan Devano setelah kekalahannya, dia langsung ke club malam. Kebiasaan yang tidak akan pernah bisa diubah dari Devano adalah kehidupan liarnya, dia tidak bisa hidup tanpa alkohol, rokok, dan ****.
“Kalahkan? Sok-sok an sih.” Suara Amanda yang baru saja datang menghampiri Devano dan duduk disebelahnya.
Amanda sangat cantik memakai pakaian minim seperti biasanya, dress ketat hitam yang menampakkan belahan dada dan paha mulusnya.
Tangan Devano terulur menyentuh paha Amanda lembut, Amanda tersenyum sambil memindahkan tangan Devano ke sofa.
“Sorry ya, gue nggak suka sama lo.” Amanda beranjak dari sofa meninggalkan Devano dan memilih bersama pria lain yang lebih segala-galanya dari Devano, entah segi ekonomi maupun ke rolayan dan juga mereka berdua sudah dekat lama sebelum Devano datang kembali.
“Sialan!.”
Devano pun memutuskan untuk menghubungi Erika agar menemuinya di club malam ini. Panggilan langsung di terima oleh Erika tidak membutuhkan waktu lama.
“Hei baby, what are u doing now?.”
“Mau tidur, kenapa?.”
“Kalau nggak sibuk, lo bisa kesini nggak? I Miss you so bad.”
“Oke, wait me.”
Panggilan berakhir, Devano tersenyum senang. Dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau, minimal ada cadangan wanita lain yang siap melakukan apapun untuknya. Beberapa menit kemudian Erika datang dengan pakaian yang lebih minum dari Amanda, gadis itu membiarkan rambutnya tergerai dan menghampiri Devano yang tersenyum padanya.
Devano menepuk paha nya agar Erika duduk di pangkuannya, Erika dengan senang hati duduk di pangkuan Devano, kecupan singkat berada di bibir Erika.
“Gue suka semua tentang lo.” Kalimat yang sangat Erika sukai.
Antara mabuk dan nafsu menjadi satu, Devano menarik Erika menuju ke ruang VVIP untuk kalian semua tau sendiri selanjutnya apa yang mereka lakukan, yang pasti bukan main uno atau catur. Melainkan olahraga malam yang bisa mengeluarkan keringat dan cairan kenikmatan, di kejauhan Amanda melihat apa yang Devano lakukan bersama Erika. Amanda hanya menggeleng tidak percaya, kejadian ini bukan pertama kalinya Devano melakukan hal itu, tapi sebagai orang yang sangat dekat dengan Devano, Amanda menyayangkan apa yang laki-laki itu lakukan. Alih-alih menjadi laki-laki yang lebih baik setelah kesalahan sebelumnya, Devano menjadi lebih parah dari yang dia pikirkan.
“Kenapa sayang?.”
“Apa? Enggak kok.” Amanda tersenyum pada kekasihnya.
Bersambung...
__ADS_1