The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
5. Kejadian tak terduga


__ADS_3

The sun love the moon so much. He died everynight to let her breathe


{}*


Papa: Pulang temenin papa di kantor makan dong. Sedih nih makan sendiri.


Rara tersenyum ketika melihat pesan masuk dari Radit, tapi hatinya tak bisa berbohong.


Sudah 2 tahun semenjak kepergian ibunya dan mereka masih berusaha menghilangkan memori yang tersisa. Rasanya sakit, dada Rara seakan dihempaskan ke tanah ketika melihat orang lain berbahagia dengan kedua orangtuanya. Ia agak cemburu.


Begitupula dengan Radit. Ia harus mulai membiasakan diri dengan peran gandanya sebagai ayah maupun ibu bagi Rara. Mengurus anak tanpa figur seorang ibu memang agak merepotkan dan pastinya butuh penyesuaian.


Mata Rara menilik ke sekeliling ruangan kelas. Hanya ada Alzra. Orang yang berhasil mencuri hatinya,  tapi mungkin tak menaruh rasa yang sama. Rara mulai benci dirinya yang tak bisa bahagia.


"Gue hari ini latihan basket lagi,  loh." Alzra bersuara,  membuat lamunan Rara buyar.


"Eh? Kenapa?" tanya Rara memastikan. "Latihan basket?"


Alzra mengangguk lalu memutar tubuhnya agar dapat melihat dengan jelas wajah Rara. "Inget ya,  lo harus dateng! Kalau gak, lo gue kelitikin sampe gak bisa ketawa lagi!" ancamnya yang malah membuat Rara menabok pelan cowok bermata abu itu.


Alzra mengadu kesakitan,  tapi bibirnya tetap tersenyum. Lama-lama, Rara jadi bingung. Kenapa Alzra suka sekali membuatnya terbang setinggi langit,  namun sedetik kemudian dijatuhkan tanpa ampun hingga meremukkan tulang dan meremas ulu hatinya.


Perasaan yang bercampur aduk membuatnya ingin sekali memutar waktu. Jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat 30, tapi belum ada satu murid-pun yang datang terkecuali mereka. Memang, anak-anak SMA wajib di acungi jempol. Lagipula, Rara sudah tobat telat karena takut kejadian kemarin terulang. Tapi, kalau hanya berduaan begini, sepertinya Rara lebih memilih untuk telat saja.


"Harus dateng ya! Plisplisplis!" rengek Alzra seperti anak kecil.


Rara mengangguk ragu dan langsung disambut antusian Alzra. Kalau orang lain lihat,  mungkin mereka akan mengira kalau Alzra dan Rara sedang dimabuk asmara.


Lagi-lagi,  realita kembali menampar gadis itu.


Rara memainkan kedua telapak tangannya gusar, berusaha keluar dari keadaan yang malah menumbuhkan perasaannya. "Kayaknya gue harus ke toilet deh."


Baru saja Rara ingin berdiri dan melangkah, kecerobohan selalu mengambil bagian dalam moment krusial seperti ini. Ia malah tersandung kaki meja dan hampir terjungkal ke depan kalau saja Alzra tak langsung menahan lengan gadis itu. Rara shock, begitu juga Alzra.


Wajahnya penuh tanya seakan kebingungan dengan sikap tiba-tiba Rara.


"Hati-hati, Ara," ingat Alzra sambil memperhatikan intens raut Rara. "Gue perhatiin, belakangan ini muka lo agak pucet. Lagi sakit?" tanyanya perhatian, membuat jantung Rara lagi-lagi lari marathon.


Rara reflek memegang bibirnya dan menggeleng. Ia baik-baik saja secara fisik,  tapi entah kenapa hatinya berkata lain. Sepertinya gadis itu hanya kurang asupan nutrisi akibat junk food yang belakangan ini mulai ngetrend di kalangan anak muda.


"Gue kira lo sakit," katanya lagi namun belum juga melepaskan cengkramannya.

__ADS_1


Rara yang sadar-pun mendadak canggung. "Jadi,  gue udah boleh ke toilet?  Udah kebelet,  Zra." ujar Rara agak gugup.


Alzra ikutan canggung, "Eh? Ohiya, sorry-sorry."


Rara melenggang keluar kelas ketika tangan mereka tak saling terikat lagi. Selagi kakinya melangkah, matanya malah sibuk membolak-balik pergelangan tangannya. Sentuhan Alzra mampu menyebabkan tubuhnya seakan tersengat listrik dan itu bukan hal yang baik. Berada di dekat cowok itu membuatnya seperti orang bodoh yang di mabuk cinta.


"Bisa gila lama-lama," racuh Rara pada dirinya sendiri.


{*}


Bel istirahat yang berbunyi membuat koridor sekolah yang awalnya sunyi menjadi ramai. Murid-murid mulai berhamburan keluar kelas dengan sorak gembira. Ada yang sekedar ingin ke toilet, perpustakaan, kantin, atau bahkan mengunjungi pacarnya yang berada di kelas lain.


Rara memasukan handphone-nya kedalam saku roknya lalu memakai jaket merah muda kesukaannya. Tangannya meraih botol minumnya dan meneguknya dengan ganas. “Yaampun, matematika bener-bener ngures otak gue!” keluhnya kesal. “Untung gue masuk IPS. Kalau masuk IPA, bisa-bisa botak kali! Kapasitas otak gue gak cukup,” ujar Rara prihatin.


“Sini aku ajarin, beb,” goda Galih dengan senyuman jahil yang biasa ia berikan khusus untuk Rara. Ia memang menyebalkan.


“Nilai lo aja di bawah gue!” balas Rara sinis. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke Della yang pastinya sedang berada di dunia lain bersama Alzra. “Della, temenin gue beli makan dong. Laper hehe.”


Rara mengguncang tubuh Della sehingga gadis berponi itu meringis, “Duh, sakit, Ra!” Della cemberut. “Tunggu sebentar, gue ngucapin salam perpisahan dulu sama Alzra.”


Galih dan Rara sama-sama terkekeh geli lalu berlagak seakan jijik. “Ih, sejak kapan pacaran kalian jadi alay gitu?” ejek Galih dengan tawa renyahnya. “Jadi merinding dengernya.”


Alzra ikutan tertawa sambil menyisir helaian rambutnya yang agak berantakan. Sedangkan Della, ia malah memukul keras lengan Galih sampai cowok itu mengaduh kesakitan. Kekuatan Della memang tak di ragukan lagi.


Entah kenapa, Rara jadi sedih. Dulu, ia menganggap kalau Della tak pantas berada di samping Alzra karena Della adalah gadis yang manja dan juga lemah. Tapi, lama-lama, ia jadi tau daya Tarik Della. Gadis itu baik dan juga lucu. Senyuman Della yang tulus membuatnya iri pada Della.


Mereka memasuki lift lalu suara riuh mendadak masuk ke indra pendengaran Rara dan Della ketika pintu lift terbuka di lantai 1. Sepertinya ada yang membuat kegaduhan. Siswa-siswi lainnya juga mulai berdatangan mengerumuni sumber suara. Ada yang bersorak-sorak, ada yang diam, ada juga yang mengabadikan momen ini. Pasti berita perkelahian hari ini akan menjadi trending di laman Instagram Tantara.


“Ayo! Ayo! Ayo!”


Sorakan yang semakin keras membuat Della dan Rara ikutan mengikuti sumber suara diantara gerombolan murid lainnya karena penasaran. “Kayaknya ada yang berantem deh? Haduh, Gue takut, Ra.” Della memegang lengan Rara erat. “


“Di sekolah sebagus ini? Masih zaman ya berantem gitu?” Rara menaikkan alisnya bingung.


Ia sebenarnya paling takut perkelahian. Entah kenapa, mendengar riuh dari lapangan depan sekolah membuat memori itu kembali terlintas. Suasana dan dentuman suaranya sama persis. Ia seperti berada di tempat itu lagi.


Mendadak kakinya lemas dan pandangannya agak buyar. Ia hampir pinngsan kalau saja Della tidak menyadarkannya. Della dengan wajah khawatirnya terus menepuk pipi Rara keras sehingga gadis itu bangun dari khayalannya. Mereka sudah berada di lapangan. Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat para siswa-siswi untuk menyaksikan perkelahian brutal ini.


“Lo kenapa? Lo pusing? Lo laper ya? Mau masuk beli makan aja?” tanya Della bertubi-tubi.


“Gu-gue gapapa, Del.”

__ADS_1


Della agak tidak yakin, tapi ia lebih memilih untuk percaya. “Bener ya? Kalau ada apa-apa, kasih tau gue.”


Rara mengangguk dan mereka berdua berusaha untuk melihat siapa yang memicu kerumunan ini. Sebenarnya agak mustahil untuk dapat melihat dari tempat mereka berdiri. Akhirnya, Rara mengambil inisiatif untuk lebih ke depan.


“Del, gue mau nerobos. Lo mau ikut atau di sini aja?”


Mata Della membulat sempurna, sudah pasti ia menolak. “Gak, gak! Gue takut. Terlalu susah buat nyelip kedepan.”


“Oke, lo tunggu sini ya.”


Rara menarik nafasnya pelan lalu secara ganas menabrak murid-murid yang mengganggu pandangannya. Memang, sebagai perempuan, ia bisa dikategorikan liar. Desahan dan sedikit makian-pun Rara terima oleh murid lain yang terdorong, tapi Rara hiraukan.


Sekarang, Rara sudah berada di baris agak depan dan irisnya menangkap dua lelaki berseragam sama dengannya sedang berkelahi. Kakinya terus berjinjit karena ia belum bisa mengenali wajah keduanya.


“Ayo, Erik! Tonjok terus! Haha!” salah seorang siswa laki-laki berseru sangat semangat. Kenapa tidak ada yang berani melerai perkelahian ini sih?


Rara mulai berasumsi kalau cowok dengan gelang merah di tangannya adalah Erik karena posisi cowok itu yang berada di atas lawan, siap untuk menghabisi musuhnya dengan pukulan bertubi-tubi.


Yang terpojok hanya diam, tidak melawan, tidak juga memberi pertahanan. Mungkin sudah kehabisan tenaga, mengingat tubuh Erik sangat besar penuh otot. Darah mengalir dan siswa lainnya semakin keras bersorak.Ini namanya gila!


Setelah puas memukul, Erik menyeringai ke arah lawannya, “Emang lo kan penyebabnya, Hazel?”


Rara terkejut dan baru menyadari kalau Hazel lah yang sedang terpojok. Ketika Erik ingin melayangkan pukulan terakhirnya, sebuah batu berukuran kecil mengenai jidatnya, menyebabkan luka gores kecil.


Semua siswa menengok dan Rara mendadak panik. Sepertinya itu langkah yang salah.


“Siapa yang berani lempar batu ini ke gue?!” Erik mengeram kesal.


Ah, tindakan bodoh apalagi ini? Harusnya ia tau kalau Erik adalah orang yang paling di takuti satu sekolah akibat kenakalan dan juga kesadisannya. Sekarang, Rara malah ikut terlibat dalam masalahnya.


Erik berdiri dan menghempaskan Hazel ke tanah. Semua siswa mundur, menyisakan Rara di barisan terdepan. Suasana langsung hening. Oh, siapapun tolong bebaskan Rara dari suasana mencekam ini.


Erik mendekati Rara lalu tatapannya menajam. “Lo yang lempar batu ini?”


Belum sempat Rara berbicara, tangan Erik langsung menampar gadis itu, menyisakan bekas kemerahan di pipi Rara. Semuanya diam, tak berani ikut campur. Riuh yang awalnya memenuhi atmosfer sekolah menjadi hening hingga isakan kecil Rara terdengar.


“Harusnya lo gak main-main sama gue,” ancamnya dalam. “Gue bisa bales lo lebih dari apapun!”


Rara tak bergeming dan hanya bisa memegang pipinya sambil menangis dan merutuki tindakannya. Tidak ada yang membantunya, bahkan semua siswa tampak ketakutan. Kaki gadis itu akhirnya mundur selangkah, membuat Erik semakin mencondongkan tubuhnya.


“Cengeng.” Erik mendecih dan bersamaan dengan kata itu, sebuah tangan menghantamnya dengan keras.

__ADS_1


“Lo gak berhak ngomong gitu.”


__ADS_2