The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
11. Runtuhan langit


__ADS_3

Sorry that I can't believe that anybody ever really starts to fall in love with me


{*}


Hazel tidak suka gadis itu dipermalukan. Ia marah, rasanya seakan dunianya ikut hancur. Tapi, siapa dirinya? Dan pertanyaan yang lebih penting, siapa gadis itu? Rara bukanlah siapa-siapa, Hazel juga tidak mau punya perasaan pada gadis itu.


Semua bermula saat ia ingin menuju lapangan futsal yang berada di aula lantai 6 untuk mengunjungi Adrian. Ia mendengar suara gaduh dari koridor lantai 5.


Kelas 10 IPS 1. Kelas yang paling dekat dengan tangga dan awalan dari koridor.


Karena ia adalah kakak kelas, semua orang tampak bingung ketika kakinya melangkah masuk ke koridor, tidak jadi naik lagi. Lantai 5 SMA Tantara murni hanya dihuni oleh anak kelas 10. Jadi wajar saja kalau semuanya heboh dan memusatkan perhatiannya pada Hazel.


"Ternyata kak Hazel kalau diliat dari deket ganteng ya," ujar salah satu siswi kelas sepuluh.


"Iya! Dia itu mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna!" temannya yang lain meladeni.


Hazel sudah biasa menerima ucapan seperti itu.


Demetrius Hazel. Semua wanita rela melakukan apa saja demi mendapatkan hati sang pria. Tidak ada yang mampu menolak kesempurnaannya. Ia begitu dominan dan juga memikat. Ia punya segalanya. Jika menginginkan sesuatu, pasti ia dapatkan dengan mudah. 


Siapa yang tau kalau ternyata Hazel juga punya kelemahan? Semua mendekati Hazel karena tergiur dengan harta yang dimiliki keluarga Demetrius. Pemilik sekolahaan swasta paling bergengsi di Jakarta, pemilik perusahaan tambang emas dan batu bara, serta hampir memiliki seperempat hak atas tanah di Jakarta. 


Orang pasti mengira kalau ia adalah orang yang paling bahagia. Nyatanya, ia hanya seseorang yang kesepian dan mempunyai banyak sisi gelap.


Ia seperti berlindung di balik nama keluarganya, Demetrius. Nama yang membuatnya seperti Raja, bersih tanpa noda.


"Lo suka sama pacar gue?"


Kakinya berhenti tepat di depan sumber kegaduhan. Semua siswa di dalam kelas kaget atas kehadiran Hazel dan mengalihkan perhatian ke arahnya. Namun, mata Hazel malah menangkap figur gadis itu lagi, Nayara Pratista, terduduk di lantai dengan tatapan kebencian dari sekitarnya.


Mata Rara berkaca-kaca seakan meminta pertolongan.

__ADS_1


Tapi, Hazel hanya menatap Rara dalam diam. Ia tidak mau jatuh ke dalam lubang itu lagi. Lubang yang membuatnya terus jatuh. Lubang dimana hanya berisi dirinya sendiri.


Karena kondisi Rara mengingatkannya pada Theresa.


{*}


Jam pelajaran olahraga malah di isi dengan kecanggungan. Della lebih memilih untuk menjauh dan bergabung bersama geng Laras, orang yang sama liciknya dengan Aldo.


Rara berteduh di bawah pohon sendirian sambil menunggu Pak Zomar datang. Ia bahkan tidak sanggup menatap mata Alzra yang juga sedang terduduk tepat di sebrangnya.


Setelah kejadian pasca istirahat, semua orang menghindarinya, begitujuga dengan Alzra.


Lalu Hazel datang, menatapnya sebentar, tapi langsung berbalik seakan ia tidak melihat apapun.


Ia merasa sendirian lagi.


"Eh, kepala lo masih sakit gak?" Galih tiba-tiba muncul sambil membawa teh kotak lalu menyodorkannya ke Rara. "Nih, minum dulu. Gue tau lo pasti shock banget."


"Gue takut," lirihnya, terdengar seperti orang yang rapuh. "Gue gak mau Della benci sama gue."


"Udah gapapa, nanti juga pada lupa," kata Galih, berusaha menenangkan sahabatnya lalu duduk di sebelahnya. "Della bukan orang yang jahat kok. Dia pasti bisa ngertiin lo."


Rara melirik Della dan mendapati bahwa Della sedang sibuk bercerita dengan geng Laras. Sepertinya mengenai insiden tadi. "Kayaknya, gue jahat banget ya?"


"Enggak. Mereka yang jahat. Mereka yang gak bisa ngertiin lo. Perasaan gak bisa dipaksain kan?" ujar Galih pelan, membuat hati Rara setidaknya lebih tenang. "Gue pasti ada buat bantuin lo."


Rara tersenyum samar lalu kepalanya mendongak untuk menatap Galih yang lebih tinggi darinya. "Bisaan aja lo, dasar botak."


"Yeh, niat baik malah di ejek," ucap Galih dengan nada sok dramatis. "Yaudah, yuk ke tengah lapangan, Pak Zomar bentar lagi dateng."


Galih berdiri lebih dulu untuk memberikan tangannya pada Rara dan Rara menyambut ulurannya. "Makasih ya, buat waktunya."

__ADS_1


Beberapa detik setelahnya, Pak Zomar datang sambil membawa bola tangan dalam dekapannya. "Semuanya baris!"


Siswa-siswi mulai berlarian dari segala arah menuju tengah lapangan. Saat Rara ingin berbaris, ia malah di dorong oleh Laras hingga cewek itu hampir terjungkal. "Aduh, kalo jalan hati-hati dong," desis Laras keras. "Dasar cewek gatel."


Lagi-lagi, Rara merasa tersudut. Tidak ada yang membelanya. Alzra juga hanya diam. Pikiran cowok itu benar-benar sedang kacau.


Galih membalas dengan kesal, "Heh, nenek lampir, mulut tolong di jaga ya!"


"Kok jadi lo yang marah sih?" ujar Laras.


"Udah-udah. Yang mau berantem, bukan di sini! Kalian kira ini tempat anak berandal?" oceh Pak Zomar berusaha menengahi.


"Dia duluan tuh pak!" Hesti, si ketua kelas ikutan berbicara sambil menunjuk Rara. Ia seperti dimusuhi segerombolan cewek-cewek kelasnya.


"Sudah!" Pak Zomar mendesah. "Kita mulai dulu pembelajarannya! Sekali lagi ada yang berbicara, kalian saya bawa ke ruang BK!"


Tentunya ancaman itu membuat satu kelas bungkam.


"Oke, bapak akan bagi kalian dalam dua tim. Aldo dan Alzra maju."


Yang di sebut namanya langsung maju. Tak heran Pak Zomar memilih mereka karena kemampuan mereka dalam olahraga patut di acungi jempol.


"Kalian pilih satu orang sebagai ratu, lalu diskusi untuk membentuk kelompok. Kelompok yang menang akan mendapat nilai tambahan. Kita akan bermain olahraga bola tangan."


"YAAAA," semua siswa perempuan berteriak kecewa karena mereka malas untuk mengambil peran dalam olahraga. Sedangkan yang laki-laki, mereka hanya ber-oh-ria karena cowok memang suka olahraga kan?


"Dega, lo jadi ratunya." Aldo sudah jelas memilih Dega sebagai ratu karena Dega merupakan anggota inti dari olahraga bola tangan sehingga ia pasti gesit dalam menghindari serangan.


Tiba giliran Alzra. Semua berspekulasi bahwa Alzra pasti akan memilih Della dan menunjuknya sebagai ratu untuk dilindungi. Tapi, tebakan mereka salah.


Disaat Della sudah bertatapan dengan Alzra dan memiliki kepercayaan diri, Alzra malah memutuskan pandangannya, beralih kepada cewek yang saat ini Della hindari. "Ara, lo jadi ratu ya."

__ADS_1


__ADS_2