The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
Episode 16


__ADS_3

Chatrina baru saja keluar dari rumah pukul 10 pagi saat Alga sudah berada di depan gerbang rumahnya dengan menggunakan motor, pria tampan itu terlihat 10 kali lipat lebih tampan dari sebelumnya, hanya dibalut kaos putih dan celana pendek sekaligus sepatu vans, jangan lupakan pula jaket denim.


Chatrina juga nampak cantik dengan hoddie hitam dan celana pendeknya, make up tipis, rambut yang dibiarkan tergerai.


"Sudah siap?."


"Iya." Chatrina memakai helmnya dan naik ke atas motor Alga.


Mereka akan kencan hari ini yang kebetulan hari minggu, tujuan pertama nya adalah mall, Chatrina ingin makan es krim terlebih dahulu.


Saat tengah bermain ponsel sambil menunggu es krim datang, Alga memotret wajah gadis itu dan mengunggahnya ke salah satu media sosialnya, twitter dengan pengikut 1,5jt dan telah mendapatkan centang biru dari twitter sebagai seorang businessman.



Melihat Alga yang senyum-senyum sendiri membuat Chatrina kebingungan, gadis itu sedikit mencondongkan tubuhnya melihat ponsel Alga, walaupun terkesan tidak sopan tapi Chatrina sangat penasaran dengan apa yang dilihat Alga.


"Aku post fotomu di twitter."


"Ha? Kenapa? Jangan."


"Udah terlanjur."


"Boleh lihat?."


"Kamu ngga pake twitter?."


Chatrina menggeleng.


"Ya udah nih."


Edgaarrr : Bucin terusss! Selamat ultah pacar bos


Amanda : Aaaa hbd girl


Gavin : Hbd ya bos cantik, dah ada pawangnya sekarang


Liana : HBD bestie!


Erika : Pasti Cewenya sendiri yang posting


Chatrina membaca komentar dengan nama akun Erika, itu milik Erika adik tirinya, benar-benar membuat Chatrina kesal. Tapi setidaknya Chatrina puas karena melihat Erika yang jauh dibawahnya sekarang.


Selesai makan es krim di salah satu kedai es krim, mereka berdua berjalan beriringan bahkan Alga menggandeng tangan Chatrina sambil sesekali berbincang membuat gadis itu tersenyum.


Mereka melewati salah satu resto yang ada di mall tersebut, Erika dan keluarganya tengah makan siang disana, Chatrina hanya bisa melihat dari jauh.


"Kenapa? Mau makan?."


"Engga kok."


Alga melihat arah pandang Chatrina, entah kenapa Alga merasakan sakit yang mendalam padahal bukan dia yang mengalami, seakan mereka benar-benar terikat.


"Kalau kamu kuat, kita bisa makan disana."


"Ya aku mau makan disana."


Dengan mesra Chatrina menggandeng tangan Alga, pura-pura tidak lihat kalau ada keluarganya disana. Alga menarik kursi untuk Chatrina duduk, dan dia sendiri duduk di kursi depan Chatrina.


Dari kejauhan Erika melihat mereka berdua kesal.


"Kenapa?." Tanya ibu Erika saat melihat putrinya yang nampak kesal


"Dia." Erika menunjuk meja Chatrina dan Alga


"Anak itu ngapain disana." Ucap Adrian tidak nyaman.

__ADS_1


"Pa bilangin ke kak Chatrina."


"Papa sudah bilang ke mama nya juga."


"Lagian kan kakak harus sibuk belajar buat masuk kuliah kenapa malah pacaran."


"Iya benar kata Erika mas."


"Sebentar."


Ayah beranjak dari tempat duduknya menghampiri meja Chatrina dan Alga yang tengah menikmati makan siang.


"Chatrina!."


"Ya?." Chatrina menengok


"Ngapain kamu disini? Harusnya pulang belajar bukannya malah pacaran."


"Om, saya cuma mengajak Chatrina makan siang sekalian merayakan ulang tahunnya."


"Ulang tahun?."


"Anda memangnya ingat? Tentu saja tidak.”


“Papa ingat, selamat ulang tahun.”


“Terimakasih, Anda kesini karena mereka kan? jangan pernah mengatur hidup saya lagi."


"Jangan kurang ajar sama orang tua, awas kamu ya." Ayah meninggalkan meja Chatrina dan Alga, sejujurnya Chatrina benar-benar sakit melihat ayahnya dengan keluarga lain, dia merindukan saat-saat ayah ibunya masih bersama, dan sekarang semua itu tak akan pernah kembali lagi.


"Kamu baik-baik saja?." Tanya Alga


"Ya aku baik-baik saja."


Kehidupan Chatrina berubah 360 derajat setelah kehadiran Alga, dia yang hanya menghabiskan waktu di kamar menjadi seseorang yang mau keluar rumah, dia yang bahkan tidak punya teman memiliki banyak orang yang sadar akan kehadirannya, dan semua hal itu karena pria yang ada di hadapannya saat ini. Awalnya Chatrina tidak berniat sejauh ini membutuhkan Alga, tapi semakin hari dia semakin bergantung pada Alga, dan hatinya yang beku perlahan mulai mencair.



Awalnya akun Chatrina hanya memiliki 3 pengikut dan 20 mengikuti.


Tapi setelah tag dari Alga membuat akun Chatrina menjadi banyak pengikut walaupun tidak semuanya menyukai gadis itu, bahkan banyak yang menghate nya karena jadian dengan Alga.



Setelah mematikan notifikasi instagram, Chatrina juga mematikan semua notif ponselnya, selalu berbunyi kapanpun dan dimanapun membuatnya sedikit tidak nyaman.


Alga dan Chatrina masuk ke gramedia, tempat paling seru untuk Chatrina karena bisa memilih barang-barang lucu dan buku-buku novel kesukaannya. Bagi Chatrina ketimbang ke butik membeli baju, ke gramedia itu adalah kewajiban untuk membeli.


Chatrina mengambil keranjang yang menumpuk di sudut, di ikuti Alga domi belakangnya, Chatrina memilih dari pensil, pulpen, sticky notes, buku novel hampir memenuhi keranjang belanjaan.


Cukup menghabiskan 1 jam di dalam gramedia, dia mengantri di kasir dengan dompet di tangannya.


"Ini mbak." Ucap Chatrina mendorong keranjang belanjaannya.


Kasir pun menghitungnya "total semua 2.534.000."


Masih akan mengeluarkan atm nya, Alga lebih dulu mengeluarkan black card nya dan memberikan pada kasir.


"Eh ngga usah, biar aku sendiri aja yang bayar."


"Ngga papa biar aku yang bayar."


"Jangan-jangan."


"Jadi gimana mbak mas, mau pake yang mana?."

__ADS_1


"Punya saya aja." Keduanya menyahut barengan.


Karena mendapatkan saran dan nasehat oleh mbak kasir, Chatrina pun mengikhlaskan Alga yang membayar belanjaannya. Mereka keluar dari Gramedia dengan Alga yang membawa paper bag belanjaan Chatrina.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Chatrina dari ibunya.


Mama : Sayang, mama ngga bisa pulang minggu ini, nggak papa kan? oh iya bibi katanya besok juga pulang kampung. Tapi mama udah bilang buat stok bahan makanan atau apapun buat kamu, uang jajannya mama tf ya… jangan lupa makan dan sehat- sehat dirumah. Kalau ada apa-apa bilang ke mama.


"Yaahh."


"Kenapa?."


"Mama nggak pulang sampai minggu depan kayaknya."


"Kamu sendirian? Kan masih ada bibi."


"Bibi mau pulang kampung."


"Ya udah aku bisa nginep di rumahmu."


"Eh nggak perlu kok."


"Ya udah kalo ada apa-apa hubungi aku aja."


"Makasih ya."


"Sama-sama."


Setelah kencan hari ini, malam itu setelah makan malam di pinggir jalan, Alga mengantarkan Chatrina pulang kerumahnya.


Chatrina melambaikan tangannya pada Alga dan masuk kedalam rumah, belum sampai masuk kedalam sebuah mobil berhenti didepan rumahnya.


Mobil milik ayahnya, Erika dan ibunya keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah gerbang.


"Tante sama Erika ngapain kesini?." Chatrina membuka gerbang untuk mereka berdua.


Plaaaakkk


Tiba-tiba ayahnya datang menampar pipi Chatrina sangat keras membuatnya terjatuh di lantai. Bibi yang melihat itu langsung keluar dan membantu Chatrina bangun.


"Non Chatrina, non nggak papa?."


"Ngga papa kok bi."


Chatrina melihat kearah ayahnya, sudut bibirnya yang keluar darah, mata tajamnya yang menusuk.


"Kalian semua mau apa kesini? Saya bisa memanggil satpam untuk mengusir kalian karena mengganggu ketenangan orang lain."


"Jauhi Kak Alga!." Teriak Erika


"Jadi karena ini? Gimana ya? Masalahnya Alga suka sama gue, bukan sama lo, ****** KECIL." ucap Chatrina penuh penekanan pada dua kata terakhir yang keluar.


Ayahnya siap-siap untuk menampar Chatrina tapi Chatrina menangkapnya.


"Kita sudah tidak ada hubungan keluarga, saya bisa menuntut anda karena kekerasan."


"Chatrina, bisakah kamu menuruti papa, biarkan adikmu yang bersama laki-laki itu."


Chatrina menghela nafasnya mendengar ucapan ayahnya.


"Kalau begitu bagaimana kalau mereka mengembalikan keluarga Chatrina yang lama? Ngga bisa kan? Sampai kapanpun Alga milik Chatrina, bukan milik Erika." Tegas Chatrina.


Gadis itu berjalan masuk kedalam rumah setelah menyuruh bibi untuk menutup gerbang nya. Tanpa menghiraukan Erika yang terus memaki nya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2