The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
9. Gelas yang retak


__ADS_3

Everyone wants to be someone's sun to light out someone's life, but why not someone's moon to brighten in the darkest hour?


{*}


Jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat 40 menit, tapi masih ada sepasang murid yang berada di halte,  menunggu bus arahan sekolah datang dengan wajah panik.


Alzra mengernyit bingung ketika Rara menolak untuk naik mobilnya dengan alasan mual dan takut membuat kotor mobil mahalnya dengan muntahan. Padahal,  sebenarnya, Rara hanya takut berduaan dengan Alzra. Ia takut suasana mendadak canggung dan Alzra jadi tidak nyaman.


"Kayaknya kita bakal telat deh?" Alzra membuka percakapan. "Duh, gimana ya?"


Rara tersenyum geli. Rasanya lucu saat melihat ekspresi Alzra seperti itu.


"Apaan yang lucu dah?" Alzra mengernyitkan dahinya bingung ketika melihat Rara tersenyum. "Tuhkan,  lo jadi gila gara-gara kepentok batu! Haduh, temen gue orang gila." Alzra pura-pura menunjukkan wajah sedihnya.


Rara langsung membulatkan mulutnya, "Lo bilang gue gila? Yaampun, gue aja gila, apalagi lo!" ejek Rara tak mau kalah.


Perhatian Rara langsung teralih pada pundaknya yang terasa agak sakit dan pegal akibat menenteng tas berat berisi buku-buku pelajaran. Ia memijat pelan pundaknya lalu bergerak tidak nyaman. Seharusnya ia tidak membawa banyak buku hari ini.


Alzra melirik Rara dan baru menyadari kalau gadis itu keberatan dengan beban sebesar itu di tubuh mungilnya. Tanpa aba-aba, Alzra langsung menarik tas pink Rara lalu mengaitkannya di pundak sebelah kanannya. "Kalau berat, ngomong dong. Nanti kalau lo makin pendek gara-gara tas ini gimana? Dasar mumi berjalan." 


Rara memukul pelan lengan Alzra dengan jengkel, "Dih, nyebelin banget sih!"  


"Cepet sembuh ya, biar gak jadi mumi lagi!" ujar Alzra sambil mengelus puncak rambut Rara yang sedikit tertutup oleh balutan kain. 


Desiran itu muncul lagi, membuat Rara jadi salah tingkah. Untung saja bus yang mereka ingin naiki sudah datang sehingga Alzra tidak melihat ketegangan dalam dirinya.


"Eh, tuh busnya udah dateng!" Alzra berseru senang sambil menunjuk mobil besar berwarna merah. "Ayo, buruan, nanti kita ketinggalan."


Mereka-pun berjalan berdampingan, berdesakan dengan orang-orang yang juga berebut ingin naik bus. Rara sempat tersandung sehingga tangan Alzra langsung mengenggam jemari Rara,  takut kalau semisalnya gadis itu hilang atau tersesat. Sebenarnya,  Rara ingin menolak,  tapi,  lagi-lagi mulutnya seakan terkatup. 


Mereka masuk ke dalam bus dan duduk di bagian paling belakang. Semua orang terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang membaca, ada yang main handphone,  ada yang bercanda,  ada juga Alzra dan Rara yang jadi canggung, menyadari kalau jemari mereka masih terpaut.


"Udah kali,  Zra. Keringetan nih tangan gue," canda Rara dengan suara agak pelan,  padahal ia suka kehangatan yang tadi tercipta. 

__ADS_1


Alzra hanya terkekeh lalu melepaskan tautan itu. Ia meletakkan tasnya dan juga tas Rara di antara sela kakinya. Tangannya merongoh saku jaketnya dan mengeluarkan coklat batangan kesukaan Rara. Ia juga ternyata sudah menyiapkan bekal sehat untuk Rara. Wah! 


"Mau makan lagi gak? Bareng, yuk," ajak Alzra sambil membuka kotak makannya. Roti tawar gandum dengan selai coklat, kesukaan Rara!


Rara menyipitkan matanya, "Kesambet apaan lo?  Tumben bawa makanan?"


"Yeh,  geer amat lo! Orang ini mama gue yang nyiapin,  blee." Alzra menjulurkan lidahnya.


Rara memutar bola matanya kesal,  tapi ia tetap tersenyum.


Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu,  mereka sampai di sekolah tepat pada waktunya. Untunglah! Rara benar-benar malas berurusan dengan guru piket yang kiler itu!  Dan yang lebih penting, Rara juga malas kalau sampai di suruh membersihkan toilet atau semacamnya.


Mereka memasuki gerbang bersama dan mendapati Hazel yang sedang bersender di dekat papan pengumuman sekolah sambil memainkan handphonenya. Wajahnya masih bengkak, tak ada tanda-tanda sudah di obati. Lebamnya bahkan merembet ke bagian tubuh lainnya. Padahal, Rara sudah mengobatinya kemarin. 


Langkahnya terhenti,  membuat Alzra ikutan menyesuaikan tingkah gadis itu.


"Kenapa berhenti?"


Rara menunjuk sosok yang berdiri dekat tangga, "Luka Hazel kok makin parah ya?"


Akhirnya,  hanya kata itu yang bisa di lontarkan Alzra.


"Kenapa?" tanya Rara penasaran.


"Gue cuma gak mau lo kenapa-napa"


"Kalau alesannya karena kejadian kemarin,  lo salah paham. Bukan Hazel yang buat gue-"


Alzra keburu memotong ucapan Rara, "Enggak,  lo yang salah paham tentang dia."


Terlalu banyak yang tak bisa Alzra ceritakan pada Rara. Kernyitan dahi muncul, Rara meminta penjelasan. Di saat itu jugalah ia mendapati Hazel sedang memperhatikan dirinya.


Mata mereka sempat bertemu saat Hazel berjalan melewatinya, menuju luar sekolah. Hazel kembali angkuh dan tak tersentuh.

__ADS_1


Alzra menggeleng,  memperingati Rara untuk menjauh, menahan tangannya kalau-kalau gadis itu ingin mengejarnya. Ketika Rara hanya bisa memperhatikannya dari jauh,  ia malah menangkap luka sayat yang lumayan banyak di pergelangan tangan Hazel.


Rara tidak bisa hanya diam kalau seperti ini!


{*}


"Del, Alzra pacar lo kan?" 


"Eh, gue liat mereka berduaan naik bus tadi pagi!"


"Masa lo sebagai pacarnya ngebiarin hal itu sih?" 


Beberapa siswi sudah mengerumuni Della sejak pagi karena melihat Alzra dan Rara berduaan. Menanggapi itu, Della hanya tersenyum lembut, tak mau ikut pusing, "Itu gue yang suruh kok, tenang aja. Mereka emang udah sahabatan dari kecil." 


Meja Della yang awalnya sepi, jadi ramai karena di kerumuni siswi-siswi lain yang ikut penasaran. "Gue emang sering liat mereka bareng sih," ucap Hesti, ketua kelas mereka yang tiba-tiba ikutan nimbrung. "Ternyata cuma temen, gue kira mereka yang pacaran!" 


Yang lain mengangguk, seakan mereka tidak tau kalau Della sedang bergumul dengan hatinya mengenai hal ini. Perasaan yang tidak ia bicarakan pada siapapun, perasaan yang hanya ia tau dan rasakan sendiri. 


"Jangan buat gosip begituan dong," kata Della, berusaha tersenyum di sela keraguannya. 


"Hati-hati aja sih, gue sekarang sering liat fenomena temen yang makan temen!" Aldo, si tukang gosip mulai membuat panas keadaan. 


Suasana langsung riuh dan Galih yang awalnya bermain game tidak bisa hanya diam. "Eh, Eh! Jangan ngomong sembarangan!" Galih bersuara dari belakang Della. "Ara sama Alzra bukan orang yang kayak gitu!"


"HUUU, GAK SERU!" semuanya berteriak kesal dan lebih memilih untuk bubar karena suasana panasnya keburu di hancurkan oleh Galih. Galih memang tidak bisa di ajak bergosip. 


Della mengambil botol minumnya dan meneguk airnya dengan pikiran yang buyar sampai-sampai airnya tumpah ke roknya. Galih yang sadar akan hal itu-pun langsung mengambil tissue dan memberikannya pada Della. "Kalau minum pelan-pelan atuh, neng." 


"Eh? Makasih, Galih," ujarnya lemah, masih belum bisa melupakan perkara itu. 


Ia berusaha tersenyum, menutupi keraguan itu dalam dalam. Mereka tidak mungkin tega untuk melakukan hal seperti itu?


Lalu, semuanya mulai jelas saat Alzra masuk kelas sambil tertawa geli karena Rara mengelitikinya. Alzra-pun langsung mendekap gadis itu dengan tangannya agar tingkah pecicilannya berhenti.

__ADS_1


Senyum Della meredup. Sebenarnya,  yang sepasang kekasih itu siapa? Alzra dengan Rara atau Alzra dengannya?


__ADS_2