The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
6. Rasa itu


__ADS_3

You are my blue crayon, the one I never have enough of, the one I use to color my sky


{*}


Rara mengedipkan matanya berkali-kali saat cahaya lampu menyilaukan matanya, berusaha menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk. Bau khas dari ruangan ini membuatnya sadar kalau ia sedang berada di UKS. Hanya pantulan warna putih yang berhasil ia tangkap dan juga sesosok lelaki di ujung ruangan.


Sambil meringis, gadis itu perlahan berusaha untuk duduk dan memfokuskan pandangannya. Kepalanya terasa agak sakit, mungkin terbentur sesuatu. Tangannya pun terangkat untuk mengusap kepalanya dan benar saja, ada perban dan kapas yang menempel di sana. Apa yang baru saja terjadi?


“Akhirnya sadar,” laki-laki itu bersuara, tapi Rara lebih memilih untuk diam, masih mencerna keadaannya. “Sorry, gara-gara gue lo jadi gini.”


Tanpa melihat wajahnya, Rara sudah tau siapa dia dari suara dinginnya. Demetrius Hazel.


“Gue kenapa?”


“Lo pingsan.” Hazel berbalik dan duduk di sofa dekat kasur Rara terbaring. “Kepala lo masih sakit?”


Rara mengangguk pelan. Perlahan, ia mulai mengingat kejadian tadi siang.


“Kok kepala gue kayak bengkak ya?” tanya Rara bingung. “Jangan bilang, Erik mukulin kepala gue bertubi-tubi sampe gue geger otak?!” Rara mulai berasumsi sembarangan dengan histeris.


Hazel hanya terkekeh pelan, “Lo pas pingsan gak liat-liat sih, jadinya kebentur batu,” jelas Hazel.


“Yeh, lo kira gue bisa milih mau pingsan dimana?!” Rara cemberut sambil mengelus pelan pelipisnya yang agak pening dan juga terasa perih. “Luka lo gimana?” tanya Rara saat meyadari kalau Hazel juga sedang terluka.


Ujung bibirnya berdarah, kepalanya juga, dan banyak lebam di pipinya. Sepertinya Hazel tidak ingin lukanya diobati karena bekas darah masih terlihat dengan jelas di area wajahnya.


“Lo gak minta PMR buat ngobatin luka lo juga?”


“Gak usah peduliin gue. Lo pikirin dulu aja luka lo,” Hazel membalas dengan nada datarnya. Dasar cowok galak!

__ADS_1


“Gimana gue bisa gak peduliin lo? Gue sampe rela kayak gini demi nyelametin lo! Duduk sini!” perintah Rara lebih galak dari Hazel sambil menepuk-nepuk pinggiran kasurnya. “Gue ambil kotak P3K dulu,” ujarnya, tapi langsung di tahan Hazel ketika gadis itu ingin beranjak dari tempat tidurnya.


“Gue aja yang ambil.”


Rara agak kaget ketika tangan dingin Hazel menyentuh pergelangan tangannya. Pandangan Rara beralih tepat di manik mata coklat hazel milik Hazel. Pasti nama cowok itu terinspirasi dari warna matanya.


“Lo duduk aja dulu, jangan kemana-mana,” ujarnya lagi lalu bergegas menghampiri lemari kaca yang berisi obat-obatan.


Setelah sedikit mengobrak-abrik lemari UKS, Hazel-pun akhirnya menemukan kotak putih P3K yang terletak di rak terbuka. Dengan langkah yang agak gontai, ia menghampiri Rara dan duduk di dekat gadis itu sesuai perintahnya.


“Lo gak boleh berantem kayak gitu lagi. Kalau misalkan muka lo jadi jelek gara-gara bengkak gimana? Nanti lo gak punya pacar terus gak nikah-nikah loh! Lo mau jadi jomblo seumur hidup?” cerocos Rara kesal. Ia mengambil kapas, menuangkan sedikit alkohol, lalu mulai membersihkan bekas-bekas darah di wajah Hazel. “Erik beneran brutal banget sih. Gila, gue gak nyangka ada manusia sejahat dia!”


Karena terlalu kesal, Rara malah tidak sengaja menekan luka Hazel sehingga si korban langsung meringis. “Aw, Pelan-pelan, bisa?”


“Iya, iya,” jawab Rara sembari mengambil betadine dan mengoleskannya ke luka Hazel. “Kenapa lo gak ngelawan Erik tadi? Seakan, lo nerima semua pukulan dia. Padahal sebelum gue pingsan, gue liat dengan jelas banget kalo Erik langsung jatoh pas lo nonjok dia.” Rara masih terlihat penasaran.


“Gue mau semuanya puas.”


“Tapi, lo kan gak salah apa apa,” Rara sedikit bingung. “Harusnya lo bisa ngebela diri dong?”


“Gue gak mau nyakitin orang lagi.” Lirihnya pelan, seperi bukan Hazel yang berbicara. “Gue akuin, lo berani banget tadi.”


DEG! Entah kenapa, jantung Rara seakan mau copot ketika suara baritone milik Hazel masuk melewati telinganya. Tak lupa, tatapan setajam elang milik Hazel dulu sekarang terlihat lebih teduh dan hangat. Tunggu, sejak kapan Hazel jadi pribadi yang memiliki hati sebaik itu?!


Hazel tiba-tiba menyungging senyum miring, “Bengong terus.”


“Siapa yang bengong? Orang gue lagi ngeliatin luka lo!” elak Rara sambil berpura-pura mengecilkan matanya untuk mengamati lukanya lebih detail. “Banyak juga ya luka lo.” Gadis itu mangut-mangut dengan canggung lalu mulai menempelkan kapas dan plester.


Setelah selesai diobati, Hazel tersenyum tipis. Tangannya memegang pergelangan tangan Rara lagi sehingga keheningan mulai menyelimuti mereka. Hazel-pun terus mencondongkan tubuhnya ke arah Rara sehingga gadis itu terpojok, terhimpit di antara dinding dan Hazel sampai-sampai ia menjatuhkan kotak P3K yang berada di dekatnya. APA HAZEL AKAN MENCIUM RARA SEKARANG?

__ADS_1


Tidak, tidak. Itu hanyalah khayalan mesum anak SMA yang sudah jomblo dari lahir!


Saat situasi sudah serius-seriusnya, Hazel malah bersuara, “Benjolan kepala lo gede juga kayak telor.”


TAK! Dengan gemas Rara menekan luka Hazel. Sepertinya tingkat kehaluan Rara sudah bertambah! Ciuman seperti itu tidak akan terjadi tau!


Hazel meringis lagi, tapi tawanya berada di sela ringisannya, “Lo pasti mikir yang enggak-enggak ya?” tebak Hazel yang sudah pasti 100 persen benar!


“ARA! SUMPAH, TADI TUH LO GILA BANGET!” suara teriakan cempreng milik Della menggema di ruangan ketika pintu UKS terbuka dengan keras. “GUE SAMPE MAU IKUTAN PINGSAN TAU!”


Rara dan Hazel sama-sama kaget. Hazel-pun langsung berdiri dan menepuk-nepuk seragamnya yang kotor karena bekas tanah. Sedangkan Rara, gadis itu berusaha menetralkan wajahnya yang mungkin berwarna merah muda karena Hazel.


"Dellaaaa!" panggil Rara manja.


Ternyata,bukan hanya Della yang datang. Alzra juga muncul dari balik gadis itu. Wajahnya terlihat agak kesal, “Gue bakal kasih Erik pelajaran, Ra!” tegas Alzra.


“Lo pasti kalah.” balas Hazel langsung.


Alzra sinis dan terlihat tidak suka dengan kehadiran Alzra. “Lo ngapain di sini? Gara-gara lo, Ara jadi luka kan!”


“Alzra, udah tenang dulu,” Della berusaha menengahi. “Mending kita pulang. Besok, Ara baru ceritain kejadiannya. Udah sore, Zra.”


Alzra masih terlihat tidak suka, tapi mereka berpamitan dan Rara dapat melihat dengan jelas kebencian di mata Alzra untuk Hazel, seakan mereka pernah mempunyai masalah sebelumnya.


Rara-pun langsung menyadari kalau ekspresi Hazel ikut berubah. Wajahnya kembali datar, padahal sebelumnya cowok itu masih tertawa.


Merasa tak enak, Rara langsung bersuara, “Jangan dipikirin omongan Alzra, dia emang peduli banget sama temennya sampe-“


Alzra menggeleng dan memotong perkataan Rara, “Gak, Alzra emang bener. Gue emang selalu jadi penyebabnya kan?”

__ADS_1


Rara mendadak teringat perkataan Erik. Yang Hazel ucapkan, sama persis dengan yang Erik ucapkan.


Apa yang pernah Hazel lakukan sehingga cowok itu terus-menerus menyalahkan dirinya?


__ADS_2