
Honest feelings and bad timing made the most painful combination
{*}
Rara benci kalau semua orang mulai menangkap sinyal yang selama ini berusaha ia hilangkan. Sinyal yang bisa merusak pertemanannya, bahkan hidupnya. Lalu, pemancar itu muncul satu-persatu, membuat rangkaian hingga sinyal mulai terdeteksi.
"Main truth or dare, yuk?" ujar Leo penuh semangat sambil membuat lingkaran dengan teman satu gengnya. "Makin seru kalo satu kelas ikutan!"
Antusias siswa-siswi terlihat sehingga mereka ikutan duduk di lantai, begitujuga dengan Alzra dan Rara. Mereka duduk bersebelahan karena Galih dan Della sedang pergi ke ruang guru untuk membicarakan lomba tari yang di adakan dua hari lagi. Teman-teman Rara memang berbakat. Berbeda dengan Rara yang kerjaannya hanya rebahan dan makan.
"Ayo kita puter botolnya! Udah pada tau peraturannya kan?" tanya Laras agak lantang supaya yang lain bisa mendengar suaranya. Ketika semuanya mengangguk, dia berbicara. "Oke, gue yang puter ya. Yang kena, harus pilih truth!"
Rara menelan ludahnya, takut kalau botol itu mengarah padanya. Mulutnya terus berkomat-kamit, memohon berkah dari Tuhan. Untung saja keberuntungan masih berpihak karena ternyata tutup botol berlabuh pada Leo.
Nafas lega mencelos, "Wah, untung bukan gue!" seru Rara pelan, tapi Alzra mendengarnya. Jantungnya serasa berlari maraton hanya karena permainan ini.
"Emangnya kenapa kalo lo yang kena?" tanya Alzra penasaran. "Kan cuma buat seru-seruan."
"Gapapa sih, gue cuma males aja main ginian," jawab Rara acuh, berusaha menjauhi pertanyaan yang malah menjebak dirinya. Alzra memang tidak peka. Apa cowok itu tidak menyadari kalau tubuh Rara sudah bercucuran keringat sampai ia bau ketek?!
Baru saja Alzra ingin bertanya lagi, Laras sudah lebih dulu berteriak yang malah membuat satu kelas heboh, "Leo, coba jujur, lo pernah suka sama Hesti kan?!"
"OOOOOOWWW!" Aldo menatap penuh arti ke arah Hesti yang sekarang sudah malu-malu kucing. "Gue pernah denger berita kalau Hesti juga naksir sama Leo pas kelas 9!"
__ADS_1
Suasana makin riuh. Alzra dan Rara-pun juga ikut tertawa. Ternyata Leo yang sering mengolok-oloh Hesti menyimpan rasa pada gadis itu. Suatu fakta yang mengejutkan bukan? Cinta bisa tumbuh dari cara yang tak lazim.
"Tembak! Tembak! Tembak!" semuanya terlihat gaduh. "Haduh, pasangan baru! Ciee!"
Saat semuanya sibuk mengejek, Leo langsung memutar botol itu lagi tanpa menjawab pertanyaan yang sebelumnya sudah di lontarkan. Ia terlalu malu, begitujuga Hesti.
Lalu yang ditakutkan Rara terjadi.
Botol itu mengarah padanya.
"Nah! Sekarang Ara yang kena!" ketus Leo agak canggung.
Rara terlihat kaget, matanya membulat dan ia langsung mengelak. "Ih, lo kan belom jawab pertanyaannya! Curang!"
Rara diam seribu bahasa saat Aldo berbicara seperti itu. Ia menatap Alzra, melihat ekspresi cowok itu. Ada tatapan keraguan dalam matanya.
Tangan Rara saling bertautan. Ia takut. Aldo memang selalu menyebalkan! Tentunya, ia memang anak berandalan.
"Gue yang kasih pertanyaan," ujar Aldo dengan tatapan sinisnya. Rara tau kemana arah pembicaraan ini. "Di antara semua orang yang main, ada orang yang lo taksir kan?"
"Gue belum pilih truth or dare!" kata Rara, berusaha menghindari pertanyaan yang mengskak-mat dirinya.
"Gak! Sekarang kita pengen main truth game, bukan truth or dare," ujar Dinda yang di setujui semua.
__ADS_1
Nafas Rara seakan tercekat, ia tidak bisa mengelak, tapi juga takmau mengiyakan. Rara menggigit bibirnya cemas.
"Kok diem aja sih?" Dega bersuara, membuat semuanya ikut merasakan sinyal yang Rara kubur dalam-dalam. "Pasti ada nih!"
Alzra ikutan penasaran. "Kok lo gak kasih tau gue sih? Suka sama siapa, dah?"
Rara menatap Alzra, tapi tak berani melihat ke dalam corak mata perak miliknya. "Gue gak suka sama siapa-siapa," jawabnya cepat, membuat sinyal itu semakin terbentuk.
Yang lain kelihatan tak percaya. "Lo suka sama Galih ya?"
"Eh, Galih kan gak ada di sini," Ujar Laras sambil melihat kesana-kemari.
Disaat yang lain sibuk menebak, Aldo tertawa. "Aduh, padahal udah jelas loh," katanya, lalu ekspresinya berubah serius. "Lo suka sama Alzra kan?"
Disaat itu, ia merasa dunianya runtuh, bersamaan dengan masuknya Galih dan Della ke dalam kelas. Semuanya diam, tak mau ikut terlibat dalam konflik.
"Lo.." perkataan Della menggantung dari ujung pintu, diikuti suara bergetarnya, "Suka sama pacar gue?"
"Itu salah paham, gue-"
Della menutup kedua matanya lalu memotong perkataan Rara dengan suara yang cukup keras, "Jawab iya atau enggak!"
Cobaan apalagi ini?
__ADS_1