The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
EPILOG


__ADS_3

7 tahun kemudian...


Satu dua tahun berlalu rasanya semua banyak berubah, hingga 7 tahun dengan banyak perubahan tapi perasaan seseorang tetap sama seperti kemarin. Foto kelulusan SMA dengan buket bunga serta di sebelahnya foto kelulusan kuliah di sebuah gedung ala roma. Pasangan yang saat ini mulai menjelajahi waktu dengan tetap bersama, menempuh banyak cerita dari berbagai tempat, hingga akhirnya berada di titik awal kehidupan yang sesungguhnya yaitu pernikahan.


Wanita cantik dengan gaun putih menjuntai hingga lantai tersenyum di depan kamera yang beberapa kali mengambil gambarnya sebelum upacara pernikahan berlangsung. Rasanya memang gugup, kali pertama dan terakhir kali dia akan menikah, dengan pria yang selalu ada dalam bayangan masa depannya.


“Bunda!.” Seorang anak kecil sekitar umur 7 tahun mengenakan dress soft pink menghampirinya dan memeluknya erat.


“Ele...”


“Tadi kak Bara usil bun.”


“Iya? Nanti bunda bilangin biar nggak usil lagi.”


Gadis kecil bernama Eleanor itu melihat wajah cantik wanita yang dia panggil Bunda selama ini, Chatrina Omega Thiga, bukan ibu pengganti untuk gadis itu tapi dia selalu berusaha terbaik untuk memberikan cinta untuknya. Wajah Erika melekat padanya hingga membuat Chatrina tidak bisa membedakan bahkan dia Eleanor, bukan Erika.


“Kenapa bunda menangis?.” Eleanor menyentuh pipi Chatrina lembut dengan wajah sedih.


“Nggak, bunda nggak nangis, Eleanor cantik.”


“Bunda lebih cantik, nanti kalau Ele udah gede, mau pake gaun kayak gini juga, sama kayak bunda.”


Chatrina mengangguk tapi tetap tidak bisa menahan air matanya yang lolos ke pipi, pintu terbuka, disana Chatrina melihat, Adrian, ayah yang akan mendampingi Chatrina di altar menemui calon suaminya.


“Ele, tadi nenek nyariin.”


“Iya? Nenek nyebelin!.” Eleanor nampak kesal, tetapi dia terus melemparkan senyuman pada Chatrina “Bunda, jangan menangis lagi ya, Eleanor mau ke tempat nenek.”

__ADS_1


Chatrina mengangguk dan tersenyum pada Eleanor, membiarkan nya meninggalkan ruang pengantin.


Hubungan Chatrina dengan ayahnya membaik setelah dia kembali dari London menyelesaikan studinya, rasanya Chatrina tidak bisa terus-terus membenci orang lain karena kematian Erika, karena itu adalah jalan yang Tuhan berikan kepadanya.


“Bagaimana perasaanmu, Papa tidak menyangka kalau papa akan melepaskanmu.”


Chatrina hanya tersenyum simpul.


“Maafin papa yang tidak bisa menjadi orang tua baik untukmu, untuk Erika juga.”


“Chatrina udah maafin semuanya, dan untuk Erika seharusnya dia juga sudah memaafkan papa dan tante Mayang, setidaknya aku berterimakasih karena papa merawat Eleanor sangat baik dan tumbuh menjadi gadis hangat.”


Adrian mengangguk “Eleanor mirip dengan Erika, dia punya kemauan kuat, hanya saja Eleanor masih bisa mengalah.”


“Benarkah? Aku senang mendengarnya.”


“Kamu gugup?.” Pertanyaan Ayahnya membuat Chatrina menoleh sebelum pintu altar terbuka.


Chatrina mengangguk, Adrian mulai mengeratkan tangannya menggandeng Chatrina “Seperti menyambutmu berada di dunia, papa juga sangat gugup, papa senang, bahagia, tapi juga takut jika tidak bisa merawatmu dengan baik. Nyatanya memang seperti itu, tapi pernikahan ini berbeda, kamu bisa menjadi seseorang yang sempurna, seorang istri dan nantinya akan menjadi ibu yang baik. Papa sangat yakin dengan hal itu.”


Ucapan ayahnya membuat Chatrina mulai tenang, pintu altar terbuka, Eleanor dan Bara berada di depannya menaburkan bunga. Adrian hanya mengantarkan Chatrina sampai didepan pintu, dia mulai berjalan sendiri menuju kedepan. Pandangan Chatrina tertuju pada seorang pria yang mengenakan tuxedo putih dengan bunga di kantong kirinya.


Algaleo Thomas Alpha Edison, pria yang berhasil merebut setengah hidupnya menjadi sangat bahagia. Pria yang saat ini meneteskan air mata bahkan menangis didepan semua tamu saat melihat pengantinnya berjalan ke arahnya. Chatrina tersenyum manis, dia tersenyum tapi dia juga meneteskan air mata karena bahagia.


Di sebelah Alga ada Edgar dan Gavin yang selalu mendampinginya hingga hari ini, dua pria itu menepuk pundak Alga dan turun dari Altar membiarkan Alga menyambut calon istrinya yang beberapa detik kemudian sah menjadi istrinya.


“Thanks.” Ucap Alga pada kedua temannya, bahkan hingga pernikahannya, Alga sama sekali tidak memiliki keluarga, mereka berdua sempat mengunjungi rumah ayah Alga di Bali, tapi hasilnya nihil, ayahnya sama sekali tidak ingin menemuinya walau hanya sebentar, entah apa alasannya, Alga pun tidak tau. Hanya saja dia memberikan hadiah untuk pernikahan Alga dan Chatrina, sebuah villa mewah di Bali atas nama Algaleo. Sayangnya Alga sama sekali tidak menginginkan hadiah dari orang tuanya, dia hanya ingin menemui ayahnya untuk sebentar.

__ADS_1


Tangan Alga menyambut tangan lentik Chatrina dalam genggamannya, mereka berdua berdiri di depan altar mengucapkan janji pernikahan dari dalam hati, berjanji kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta dan isinya, berjanji bahwa mereka akan saling mencintai hingga akhir nanti, tidak ada yang lain, hanya mereka berdua untuk selamanya dan selama-lamanya.


Alga dan Chatrina saling berhadapan, tangan Alga membuka tudung yang menutupi wajah cantik Chatrina kemudian mendekatkan wajahnya, bibir mereka saling bertemu, memejamkan mata dan mencurahkan seluruh perasaannya dalam sebuah ciuman singkat yang diiringi tepuk tangan meriah dari semua tamu yang hadir.


Alga memeluk Chatrina erat, dia sangat bahagia, siapapun tidak akan mengerti bahagianya Alga dan Chatrina hari ini.


“Terimakasih telah hadir di hidupku, terimakasih telah menjadi sebagian duniaku, terimakasih telah menyelamatkanku dari gelapnya dunia untukku.” Kalimat yang diucapkan Alga membuat Chatrina tersenyum.


Chatrina menggeleng sambil meneteskan air matanya “Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, dan aku juga yang seharusnya mengatakan itu padamu.”


“Aku mencintaimu Chatrina.”


“Aku juga mencintaimu Algaleo.”


“Sampai akhir.”


Chatrina mengangguk.


Bagaimana kehidupan dua manusia dibelah menjadi dua, saling berbagi karena tidak ada yang bisa di bagi. Mereka hanya saling mengobati sakit masing-masing, mereka tumbuh dari keluarga yang tidak baik-baik saja, bertemu dengan seseorang dengan kehidupan yang sama tidak baik-baik saja. Saling memberikan obat dan saling menyembuhkan, masa depan nanti tidak akan ada yang sakit, tidak ada yang sendirian, dan tidak ada yang merasa bahwa dunia sepenuhnya tidak memihaknya.


The Butterfly Effect adalah sebuah kalimat yang mengajarkan bahwa efek kupu-kupu itu ada untuk semua orang, dengan banyak latar belakang, Algaleo dan Chatrina, pasangan yang tidak pernah hidup di dunia terang selama ini, tetapi dia berhasil menciptakan keindahan dan mendapatkan efek kupu-kupu itu dengan cara mereka sendiri.



Terimakasih telah bersama Algaleo dan Chatrina hingga hari ini, sampai jumpa di lain kesempatan. Yang lebih indah dan lebih hidup.


THE BUTTERFLY EFFECT BY AMERICANANO

__ADS_1


SELESAI.


__ADS_2