The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
7. Balon yang akan meletus


__ADS_3

Bad timing is not the reason you never got together. Lack of feelings is the reason you never got together.


{*}


“Hazel?” panggil Rara canggung saat mereka sudah sampai di depan rumah miliknya.


“Sana masuk.”


Itulah kalimat pertama yang Hazel katakan sejak pertemuannya dengan Alzra tadi sore. Rara yang kebingungan hanya bisa cemberut lalu mengangguk dan mengucapkan terimakasih karena Hazel mau berbaik hati mengantarnya. Tapi, Rara tetap kesal!


Mobil milik Hazel melaju kencang seakan membelah jalanan setelah Rara menutup pintu mobil, meninggalkan Rara yang manyun meratapi bayangan mobil Hazel.


Setelah kejadian di UKS, Hazel diam seribu bahasa. Wajahnya menegang, tatapan matanya menajam, dan tangannya terus saja mengepal. Sepertinya ada yang mengganggu pikirin cowok itu.


“Dasar cowok aneh! Galak lagi! Nyesel gue ngebayangin kita ciuman!” seru Rara keras sambil menjulurkan lidahnya ke arah laju mobil Hazel dan menghentakkan kakinya, tapi ia langsung berhenti karena kepalanya malah pusing.


Jujur, ia merasa tidak nyaman dan agak merinding saat Hazel ingin mengantarnya dengan kondisi moodnya yang jelek.


"Gue anter." suara Hazel yang sedingin es membuat suasana yang awalnya hangat menjadi betulan dingin. Untung saja Hazel tidak berbuat macam-macam yang mungkin saja bisa mengancam nyawa Rara. Hazel membuat keadaan terasa mencekam!


Akhirnya, Rara langsung memasuki perkarangan rumah di kawasan elite Jakarta dengan langkah tertatih. Rumah dengan luas sebesar ini terasa sepi dan sunyi karena hanya di tinggali oleh Rara, Radit, dan Mbok Atih.


Perasaan takut mulai menyeruak ketika tangannya menyentuh gagang pintu utama rumahnya. Apa respon ayahnya nanti? Radit menjadi lebih posesive dan paranoid semenjak mendiang ibu Rara meninggal. Mungkin Radit takut kehilangan lagi untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Tenang aja Ra, muka lo masih cantik, cuma benjol dikit," yakin Rara pada dirinya sendiri.


Baru saja Rara ingin membuka pintu bernuansa coklat itu, Radit sudah lebih dulu membukanya. Wajah mereka berdua sama-sama terkejut, apalagi Radit.


“Yaampun, Ara sayang! Kamu kenapa?!” Radit mulai berteriak histeris sambil memegang anak semata wayangnya khawatir. “Kamu abis berantem sama siapa? Aduh, udah tau badan kamu mungil! Kalau berantem sama orang pasti kalah, Ara!” cerocos Radit tanpa henti. Tubuhnya terus bergerak kesana-kemari untuk melihat kondisi anaknya dari atas kepala hingga ujung kaki.


Seperti yang Rara duga, Radit selalu saja seperti itu.


“Aku gak apa-apa, Pi,” ucap Rara dengan wajah agak malas. “Aduh, aduh. Lukanya jangan dipegang dong,” Rara protes.


“Papi gak bakal tinggal diam! Siapa yang udah giniin kamu?! Papi bakal ngomongin masalah ini ke kepala sekolah kamu!” cetus Radit dengan wajah yang murka.


“Eh? Jangan, Pi,” Rara panik dan langsung menolak. “Lagian, masalahnya udah kelar kok. Rara sama dia udah baikan. Nanti kalau aku ditonjok lagi gara gara kepala sekolah tau gimana?”


Radit tampak menimang-nimang sambil melihat kondisi anaknya lagi. Lebam di pipi kanan, kepala di perban dengan bekas luka yang agak besar di jidat sebelah kanan di tutupi kapas, dan juga luka goresan di tangan dan kaki. Rara terlihat hantu yang babak belur!


“Siapa yang tega menyakiti anak selucu dan seimut ini?” ujar Radit sedikit hiperbola sehingga mau tak mau Rara meringis geli. “Oke, tapi kamu harus janji sama papi. Gak ada berantem lagi, oke? Besok kita ke rumah sakit. Papi takut kamu kenapa-napa.”


“Tenang aja, Pi! Luka kayak gini mah kecil!” Rara menyombongkan dirinya. Padahal, kepalanya yang tadi siang berciuman romantis dengan batu masih terasa sangat sakit dan ia sedikit pusing.


“Dasar cuma ngomong,” tukas Radit remeh. Radit yakin, anaknya pasti akan merengek kesakitan nanti malam. “Sana masuk terus makan, Papi udah siapin bakpao coklat kesukaan kamu.”


{*}

__ADS_1


Alzra: Ra, lo udah balik? Udah baikan belom? JANGAN LUPA ISTIRAHAT! Tapi bales dulu chat gue!


Pesan singkat dari Alzra terpapar di layar ketika Rara sedang duduk di balkonnya sambil menyeruput coklat hangat yang di buatkan Mbok Atih. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan jalanan depan rumahnya masih kosong, tidak ada yang berlalu-lalang. Lampu-lampu jalanan terlihat remang, tapi tetap mampu menerangi jalan.


Tangannya mengambil benda pipih itu dari saku nya dan bersandar pada kaca di belakangnya. Alzra selalu tau cara membuatnya merasa berati.


**Alzra: Besok pagi gue kerumah lo ya! Kita berangkat bareng ke sekolah! Pokoknya gue sama Della udah janjian buat jagain lo!


Alzra: Gak ada penolakan**!


Alzra cepat sekali membalas pesan dari Rara. Sepertinya ia benar-benar khawatir dan menunggu jawaban Rara. Rara jadi tidak tau harus kesal atau senang. Ternyata, berada di kondisi seperti ini membuat Alzra lebih perhatian padanya. Tapi, Rara bukan orang yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!


Rara memijat pangkal hidungnya pelan. Bergelut dalam masalah percintaan seperti ini sangat menguras tenaga.


Tak lama kemudian, matanya malah menangkap Alzra dengan sweater merah dan celana selututnya sedang memasuki rumah bernuansa putih. Ia pun hampir tersedak dan terjungkal. Alzra dan Rara memang tetanggaan sejak kecil. Itu sebabnya mereka sangat akrab.


Rara kira, Alzra ada di rumah bersama adiknya, Laras. Ternyata, tangan Alzra terlihat sibuk menenteng kantong plastik belanjaan yang sepertinya berasal dari supermarket yang ada dekat rumah mereka. Tak lupa, cowok itu juga masih mengetik pesan untuk Rara menggunakan tangan kanannya.


Alzra: Gue juga udah beliin coklat kesukaan lo


Pesan dari Alzra muncul bersamaan dengan masuknya cowok itu ke dalam rumahnya.


Rara langsung mengerutuki dirinya tatkala sadar kalau bibirnya mengulun sebuah lekukan manis seperti orang gila. Dengan cepat, ia memukul pelan bibirnya agar senyuman itu pudar, tapi ternyata senyuman itu masih mengembang.

__ADS_1


Ah! Sampai kapan perasaan ini harus ia tahan? Ia benci mengetahui fakta kalau ia hanya bisa menyukai Alzra dalam diam. Tidak ada yang bisa lakukan. Seperti balon yang terus di isi angin, hanya tinggal menghitung waktu sebelum balon itu meletus kan?


__ADS_2