
The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time
{*}
Gadis itu langsung berlari sekuat tenaga sambil memapah ranselnya ketika jam sudah menunjukkan pukul 7. Ikatan rambutnya terombang-ambing sehingga membuatnya sedikit berantakan.
Telat. Ia tidak suka hal itu. Reputasi baiknya akan hancur ketika dirinya dihukum berjemur di bawah tiang bendera. Bukan hanya itu, Rara juga tidak mau mendekilkan kulitnya lagi karena bisa-bisa ia menjadi genderuwo nyasar di sekolah.
Kaki mungilnya-pun berhenti melangkah saat gerbang depan sekolah sudah tertutup. Matanya menangkap sosok yang sangat ia hindari, guru piket. Dengan cepat, ia langsung mencari tempat persembunyian dan berjongkok menghadap tembok. Jantungnya masih berdebar cepat, entah karena berlari atau takut.
"Apa gue pulang aja ya?" batin Rara. "Eh, tapi kalo gue pulang, nanti kena omel mama."
Butuh beberapa menit untuk Rara berfikir. Wajahnya semakin pucat. Satu hal yang harus diketahui, Rara tidak suka di permalukan di depan umum. Jadi, daripada di hukum, lebih baik ia pulang dan membuat surat izin sakit palsu.
Ia pun berdiri. Lalu, saat tubuhnya ingin berbalik, ia malah menabrak seseorang. Cowok itu sangat tinggi sampai-sampai menutupi Rara dari sinar matahari. Seragamnya urak-urakkan, dasi tak berada di tempat yang semestinya, dan wajahnya bahkan sangat angkuh!
Tangan cowok itu menunjuk sebuah jalan kecil. "Bisa lewat pintu belakang."
Rara terpaku sebentar lalu kembali sadar dari lamunannya, "Eh? Kena-"
Belum sempat Rara mengucapkan kalimatnya, cowok itu malah berjalan melewati Rara sambil bergumam kecil, "Kalau gak mau ikut, yaudah."
Rara menautkan alisnya bingung dan menarik nafasnya pelan. Ini namanya sudah pelanggaran. Bagaimana kalau ia ketahuan? Apa yang harus ia jelaskan nantinya? Lagipula ia juga tak mengenal cowok itu. Padahal ia sudah 3 bulan bersekolah di sini.
Dadanya semakin naik turun karena takut. Matanya kembali mengintip gerbang sekolah dari balik tembok, tapi waktunya tidak tepat karena ia langsung tertangkap basah guru piket. "Siapa di sana?!" teriak Bu Nini, guru piket yang terkenal galaknya.
Jantung Rara berdetak seakan seperti lari marathon. Dengan sisa tenaga yang masih ada, Rara langsung berbelok masuk ke gang kecil untuk menyusul cowok itu. Sesekali ia tersandung karena bebatuan yang tersebar di jalanan sempit ini, tapi, ia tetap berlari.
Akhirnya, ia pun sampai di belakang sekolah. Kepalanya celingukan, berusaha mencari cowok itu. Rara hanya bisa melihat tembok setinggi pundaknya dan tidak ada satu pintu pun yang masuk ke dalam penglihatannya.
__ADS_1
"Ayo, manjat."
Rara kaget setengah mati ketika suara cowok itu terdengar dan ia berada tepat di belakangnya. "Eh?! Lo ngapain?!"
Hazel mengangkat bahu nya enteng sambil melirik minuman yang barusan ia beli di pinggiran jalan. "Bisa manjat?" tanyanya.
Dahi Rara mengerut, tapi Hazel terlihat tidak peduli. Cowok itu menaiki tembok seakan itu hal yang mudah sedangkan Rara hanya terdiam sambil menatap lekat roknya. Padahal ia tau itu hanya membuang waktu.
"Gue pake rok," kata Rara lalu menunjuk seragamnya.
"Gak bakal ada yang mau liat," balas cowok itu dingin dan perkataan itu mampu mengerucutkan bibir Rara.
Dengan perasaan agak kesal, Rara melompat sekali untuk melihat kemampuannya dalam memanjat. Ternyata, nihil. Bukannya keren, ia malah mempermalukan dirinya karena sekarang ia terlihat seperti anak kecil yang berusaha menggapai sesuatu. Sumpah, Rara tidak akan mau telat lagi kalau begini ceritanya.
Melihat wajah Rara yang lucu ternyata sedikit membuka celah di hati Hazel yang sempat ia kunci. Apalagi ketika mendengar erangan kesal dari mulut gadis itu, ia jadi tertarik.
Tangan Hazel terulur dan matanya menatap lurus tepat di manik hitam milik Rara. "Gue bantu."
"Coba dulu," omel Hazel.
Kepala Rara menggeleng lesu, "Gue takut tinggi."
Sebenarnya, bisa saja Hazel meninggalkan gadis itu karena ternyata menolong orang sangat merepotkan. Tapi, ia kembali memanjat dinding pembatas dan membuang nafas kasar. Sepertinya hati dan perkataan Hazel mulai tidak sinkron.
"Yaudah, naik punggung gue." Hazel menepuk punggungnya lalu sedikit membungkuk agar Rara bisa menaikinya.
Mendengar hal itu, Rara langsung terkesiap, "Jangan! Gue berat, tau."
Hazel menatap sinis Rara dan bersiteguh membantunya. "Naik."
__ADS_1
"Nanti kalau punggung lo-"
"Kalau gak mau, gue tinggal." Akhirnya Hazel buka suara.
Rara kicep. "Sorry."
Gadis mungil itupun menaiki punggung Hazel dengan hati-hati. Sesekali ia tidak sengaja menarik rambut Hazel dan berteriak sehingga cowok itu meringis pelan.
Rasa tak enak mulai menyeruak ketika Rara sudah berhasil melewati tembok pembatas.
Rara merapikan seragamnya lalu kepalanya mendongak untuk melihat wajah Hazel. "Makasih." Rara tersenyum canggung sambil mengulurkan tangannya, "Kenalin gue Nayara Pratista. Lo bisa panggil gue Ara."
Hazel hanya menatap manik mata Rara tanpa berbicara satu patah kata pun. Yang dilihat pun hanya bisa merasa tak nyaman karena tatapan tajam itu. Terbesit rasa kecewa karena Hazel tak kunjung membalas uluran tangannya. Saat ia hendak menurunkan uluran tangannya, Hazel malah langsung menyambut tangan Rara.
Senyum Rara mengembang. "Nama lo siapa?" tanyanya penasaran.
"Masuk kelas dulu," ujar Hazel datar.
Rara cemberut tapi tetap mengangguk pelan sebagai respon. "Eh? Hmm, oke. Makasih ya."
Sekarang, Rara bisa melihat wajah cowok itu dengan jelas. Tinggi, kulit sedikit tan, rambut hitam legam, hidung mancung, rahang tegas, dan mata setajam elang. Rara seperti sedang menikmati mahakarya yang sempurna.
"Jangan bengong." Suara itu menyadarkan Rara.
Dengan senyum yang kikuk karena tertangkap basah sedang mengamati, ia langsung meninggalkan Hazel sambil mengucapkan terimakasih dengan canggung.
Entah kenapa, yang diamati malah tersenyum kecil. Apa ia gila? Tidak, tidak. Mungkin ada yang aneh dengan tubuhnya hari ini.
"Hazel! Telat lagi ya kamu?! Jangan kabur!"
__ADS_1
Hazel menoleh ke sumber suara. Ternyata malah ia yang ketahuan.