The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
2. Hal yang sulit


__ADS_3

But, how do you say good bye when your heart still wants to hold on?


{*}


Lorong koridor yang sepi membuat langkah Rara terdengar kencang. Rara bahkan bisa mendengar nafasnya yang terengap-engap. Huh, luas sekolah yang besar membuat dirinya harus bekerja lebih ekstra. Dari pintu belakang, ia harus melewati kantin, kolam renang indoor Tantara, Ruang orkestra, dan naik 5 lantai lewat tangga!


Kejadian barusan membuat memorinya kembali memutar ulang wajah tampan cowok dengan aura dingin itu. Wajahnya memang terlihat galak, tapi Rara tau kalau sebenarnya lelaki itu baik.


Matanya melirik jam tangan pink yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 7.30. Ia sudah telat setengah jam. Oh tidak, sekarang Rara jadi sibuk memikirkan alasan apa yang bisa ia berikan untuk Pak Wawan.


Untungnya, kelas Rara, 10 IPS 1, tidak melewati banyak kelas sehingga resiko ketahuan guru lebih sedikit. Kepala Rara mengintip dengan hati-hati di jendela. Setelah menengok kesana-kemari, ia tidak menemukan sosok berkumis itu di meja guru. Teman sekelasnya juga masih ribut dan asik sendiri. Ia menarif nafas lega, untunglah belum ada guru di dalam kelas.


"Ara! Gue kira lo gak dateng hari ini!" Rara langsung disambut suara Della ketika memasuki kelas.


Siswa-siswi yang awalnya berisik pun mendadak diam, tapi langsung kesal setengah mati ketika yang masuk ternyata Rara. "Gue kira Pak Wawan yang dateng!" seru salah satu murid.


"Ah, Rara bikin jantungan aja." yang lain ikut bersuara.


Yang diomeli hanya terkekeh sambil membentuk peace dengan jari-jarinya. Saat Rara menutup pintu, kegaduhan mulai tercipta lagi. Semua sibuk dengan obrolannya masing-masing.


"Ara, sini!" panggil Della sambil melambaikan tangan kanannya.


Senyum yang ada di bibir Rara memudar, di gantikan dengan senyuman kecewa. Ternyata Alzra duduk dengan Della hari ini. Dengan lesu, Rara menaruh ranselnya di kursi lalu duduk. Kepalanya mendongak dan matanya menatap langit-langit kelas. Ah, baru saja kemarin Rara bahagia bersama Alzra, tapi ternyata itu hanya sementara karena sebenarnya Alzra bukan miliknya.


Melihat ekspresi Rara yang berubah, Galih malah berteriak, "ARA TELAT! AYO, ADUIN GURU"


Rara langsung melotot sebal, "Lama-lama, Gue sumpel mulut lo."


Della memutar tubuhnya, menghadap serong Rara. "Ara, sorry ya, Alzra maksa gue duduk sama dia. Gapapa kan, lo duduk sama Galih?"


Binar di mata gadis itu meredup. "Apes banget hidup gue."


Della nyengir, "Daripada sendiri, kan?"


Sebenarnya, Rara bukan apes karena duduk di sebelah Galih, tapi lebih tepatnya, Apes karena pasangan ini duduk berdekatan. Ia jadi harus melihat banyak adegan yang malah semakin menurunkan mood-nya.


{*}

__ADS_1


"BALIKIN BAJU OLAHRAGA GUE!"


Pergantian jam malah diisi dengan keributan antara Rara dan Galih. Galih memang cowok paling iseng di kelas. Kalau Rara diberi kekuatan, pasti Rara akan mengutuk Galih menjadi batu agar cowok berambut ikal itu tak mengganggunya lagi. Untung Galih adalah teman dekat Rara sejak SMP.


"BALIKIN ATAU GUE ADUIN KE GURU?!" ancam Rara sambil berusaha mengejar Galih, tapi tak kunjung dapat karena tubuhnya tak selincah Galih.


Galih mengangkat baju olahraga Rara lalu tersenyum nakal, "Coba tangkep gue dulu."


Rara mencibir, "DIH, MALES BANGET."


"Kasian si Ara. Liat tuh mukanya udah merah kayak tomat," Alzra bersuara, membuat Rara menautkan kedua alisnya. Cowok itu sebenarnya ingin mengejek atau membantu dirinya?


Tapi, bukan Galih namanya kalau ia tak berulah. Dengan kenakalannya yang di luar batas, cowok itu malah berlari keluar kelas sambil membawa baju olahraga Rara dan berteriak seperti orang yang baru keluar rumah sakit jiwa. Padahal jam olahraga akan dimulai sebentar lagi!


Rara pun langsung keluar mengejar Galih dan langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok lelaki itu lagi di lapangan. Kaki Hazel terangkat satu dengan kedua tangan di telinga. Matanya juga sedikit menyipit karena cahaya matahari yang menyilaukan.


"Hazel, Hazel. Kerjaan kamu telat mulu. Mau jadi apa nanti?" Terdengar suara Bu Nini dari kejauhan. Selain galak, suara ibu Nini juga terkenal oktafnya karena sangat melengking. Apalagi, Bu Nini suka mengoceh, bikin murid yang mendengarnya sakit kepala.


"Gue udah lari sampe bawah, taunya gak dikejer," protes Galih saat ia menghampiri Rara. "Capek tau gue," ujarnya sambil ngos-ngosan. Sepertinya Galih kecewa karena Rara ternyata tidak meladeninya.


"Mau-an amat di kejer gue?" Rara bertanya, tapi masih belum mengalihkan pandangannya dari Hazel.


Rara terlihat penasaran. "Lo kenal?"


"Lo gak tau? Dia kan anaknya pemilik sekolah ini. Katanya, Hazel anaknya diem terus galak banget. Gue juga pernah dapet berita kalau Hazel yang bikin adiknya meninggal."


Wajah Rara langsung terlihat marah, "Wah, gila lo Galih! Jangan ngomong sembarangan kayak gitu. Lo mah doyan banget nyebar hoax!" cecar Rara sambil menjitak kepala Galih berkali-kali.


Galih mengaduh kesakitan sambil berusaha menghindari jitakkan maut Rara. "Tapi, lo juga penasaran kan sama hoaxnya? Hahaha."


Rara menggeleng pasti. "Enggak, tuh! Lagian, Hazel baik tau. Mungkin mukanya aja yang garang."


"Kenapa? Lo suka sama dia?" tembak Galih blak-blakkan.


Rara terperanjat lalu menautkan kedua alisnya, "Yakali, Lih. Lo kan tau gue suka sama siapa."


"MASIH SAMA ALZ-" mulut Galih langsung dibekap oleh Rara. Ternyata Galih memang ember dan tidak bisa menjaga rahasia.

__ADS_1


"Bisa kali suaranya pelanan dikit," sindir Rara sedikit kesal. "Nanti kalau pada tau, terus gue masuk akun gosip SMA Tantara gimana?"


TantaraNews. Penikmat akun ini bukan hanya dari siswa-siswi Tantara saja, tapi juga sebagian di isi oleh siswa-siswi dari sekolah lain. Pengikut akun gosip ini bahkan sudah lebih dari 50K! Mungkin karena SMA Tantara adalah sekolah favorite sehingga semua orang penasaran akan kehidupan di dalamnya. Rara bahkan tidak bisa membayangkan jadi apa dirinya kalau berita ini benar-benar kesebar di akun gosip itu.


"Iya, iya. Maap, Araa," ujar Galih dengan ekspresi yang sok imut. "Tapi, gue serius, Ara. Alzra kan udah punya pacar, sahabat lo sendiri lagi. Kenapa gak coba move on? Banyak cowok yang baik kok di luar sana," Galih terlihat menasehati, lalu matanya mengarah ke tempat Hazel berdiri. "Tuh, dia juga bisa."


"Lo kira move on segampang ngupil?!"


"Eh, lagian Hazel juga mana mau sama lo. Hazel kan udah punya pacar, haha! Terus ya, ceweknya cantik gitu kayak bule, kalo lo kan gak banget banget gitu deh." Galih terlihat mengejek.


Mata Ara memicing, "Gue jitak lo!"


"Tenang neng, masih ada abang Galih yang nungguin eneng di sini." Galih tersenyum jahil sambil menunjuk dirinya.


"Ih, ogah banget kalo cowoknya lo!" Rara mengangkat kedua bahunya geli. Tangan Rara dengan paksa merebut baju olahraganya dari genggaman Galih.


Tangan galih mengacak rambut Rara kasar. "Nah gitu dong. Gue gak mau liat muka lo cemberut lagi kayak tadi. Udah jelek, eh makin jelek."


"Lo juga jelek. Tuh urusin kepala lo yang botak!" kata Ara tak mau kalah.


"Sensian terus, ih. Dengerin, lo itu udah gue anggep kayak adek sendiri," ungkap Galih. "Gue gak suka liat lo sedih apalagi sampe nangis."


Rara melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menyipit, tidak percaya dengan apa yang di katakan Galih. Asal kalian tau saja, Galih bukan tipe orang yang bisa di ajak mellow, apalagi berkata manis seperti tadi. 3 tahun berteman dengan Galih membuat Rara tau betul kepribadian cowok itu.


"Lo ada maunya ya? "


Bibir Galih mengerucut. "Negative thinking mulu."


"Abisnya, lo aneh," sahut Rara sambil membetulkan rambutnya yang diacak Galih. Tiba-tiba terbesit di pikirannya sebuah kenyataan yang mengejutkan. Mulutnya ternganga dan ia langsung menunjuk Galih. "Jangan bilang, lo suka sama gue?!"


"Lah, ge-er amat lo. Lo juga bukan tipe gue." Sudut bibir Galih terangkat. "Tapi, gue beneran nih. Gue gak suka kalau adek gue sedih terus, apalagi kalau gara-gara cowok."


Rara agak ragu, tapi kemudian ia sadar kalau Galih serius. "Gak nyangka gue. Ternyata lo bisa bilang begitu juga."


Bulan sabit yang terbentuk dari lengkungan mata Rara terlihat. Ia senang ketika mengetahui suatu fakta bahwa ada sahabat yang sangat peduli padanya. Ia takut sendiri dan kesepian. Tapi, hal itu hilang ketika Galih datang. Cowok supel yang jahilnya tidak ketolongan.


"Janji ya, jangan suka sama gue," ingat Rara, lalu mengangkat jari kelingkingnya, pingky promise.

__ADS_1


Galih mengaitkan kelingkingnya dengan jari kecil milik Rara. "Janji."


Dari kejauhan, tepatnya lapangan upacara, sepasang mata sudah memperhatikan mereka sedari awal. Raut wajah Hazel berubah, "Ternyata udah ada pacar."


__ADS_2