The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
12. Jatuh bangun


__ADS_3

They hurt you, and then, they act like you hurt them.


{*}


Hazel duduk di pinggirin aula sambil meminum airnya dengan penuh pikiran. Sahabatnya, Adrian, sedang berlatih sepak bola untuk perlombaan yang di adakan beberapa minggu lagi. Bukan hanya Adrian, rata-rata murid Tantara pasti akan berpatisipasi dalam lomba karena mereka sangat lihai.


PRITTT! Pluit dari wasit berbunyi nyaring, tanda permainan sudah selesai. Adrian dan teman satu timnya berteriak senang sambil berjoget ria. Ternyata, mereka memenangkan permainan ini.


"Adrian! Tendangan lo mantep juga kayak Ronaldo Wati," puji Angga, teman satu timnya, membuat Adrian tertawa cekikikan.


Adrian mengibaskan tangannya sombong, "Gue kan emang titisan Ronaldo Wati!"


"Kalo dipuji jadi gitu tuh," ujar Angga lalu menoyor kepala temannya keras. "Tuh, Hazel udah dateng." Angga menunjuk Hazel lewat dagunya. Saat Hazel menatapnya, Angga malah langsung salah tingkah.


Adrian tertawa jahil seakan mengerti mimik Angga. "Takut amat sama Hazel," cibir Adrian. "Dia gak gigit tau."


"Sorry-sorry aja nih, gue gak mau berurusan sama orang berpengaruh kayak dia yang nyelesein semua masalahnya pake uang," jelas Angga panjang lebar.


Adrian mendesis lalu menepuk pundah teman satu timnya itu, "Yah, kalo lo berpikiran kayak gitu, berati lo belum kenal sama Hazel."


Cowok bernomor punggung 8 itu tersenyum samar sebelum berpamitan dengan teman satu timnya untuk menemui Hazel.


Sambil berjalan ke arah Hazel, ia mengelap bulir-bulir keringatnya yang menetes dengan handuk kecil di pundaknya. Berolahraga sangat melelahkan jiwa dan raga.


"Woi! Aduh, ada apa gerangan? Tuh muka sumpek amat?" ujar Adrian lalu duduk di sebelah temannya. "Lukanya makin banyak aja. Lo abis ngapain kemaren?"


Perhatian Adrian teralihkan. Ia menarik lengan Hazel dan mendapati beberapa luka sayat di sana. Beberapa kubu-kubu jarinya juga terluka, seperti tertancap beling. Kenapa Adrian baru menyadari ini?


"Sampe kapan lo bakal kayak gini?" desah Adrian lemah. "Lo cuma nyakitin diri lo sendiri. Gue udah bilang berapa kali kalo ini tuh bahaya?!"


Wajah Hazel tetap tidak berubah. Matanya menerawang ke depan dengan pandangan kosong. "Gue gak tau harus gimana lagi. Rasa sakit di hati gue lebih kerasa."


Adrian membuang nafasnya kasar. "Tapi, bukan berati lo bisa seenaknya ngelukain badan lo!"


Hazel malah terkekeh mendengar celotehan temannya, "Gue bahkan gak tau kalo gue hidup."


Kernyitan dahi terlihat di wajah Adrian, lalu ia buang jauh-jauh rasa kesal yang mulai mencabik dirinya. Keadaan psikologis Hazel sudah benar-benar sakit.


"Lo udah gak ke arena lagi kan?" akhirnya hanya itu yang bisa Adrian tanya.


"Sejauh ini belum."


Adrian mangut-mangut. Ia takut kalau Hazel kembali masuk dalam dunia illegal itu lagi. Dunia di mana yang terus-menerus membawa masalah pada kehidupan Hazel.

__ADS_1


"Jangan ke sana lagi, ya?" pinta Adrian, lebih terdengar seperti perintah.


"Keluarga gue aja gak seperhatian itu. Lo baik banget sih sama gue, padahal gue gak pernah kasih apa-apa ke lo."


Setelah mendengar Hazel kembali menyebut keluarganya, Adrian malah merasa bersalah. Ia membuat Hazel kembali memikirkan hal itu.


"Ayo, semuanya latihan lagi. Pertandinganya sudah dekat!" guru pengajar futsal berteriak hingga semua siswa mulai berkumpul lagi.


Adrian berdiri dengan ogah-ogahan, tapi dalam hati kecilnya, ia juga tidak mau berada di situasi seperti ini."Gue latihan dulu deh, nanti kita lanjut lagi ya?"


Hazel mengangguk dan pergi meninggalkan aula dengan perasaan yang berkecamuk.


Lalu, saat ia menuruni tangga, getaran ponsel terasa hingga menghentikan langkahnya. Ia buka ponselnya itu dan menangkap nama itu lagi di sana.


Damian.


{*}


Kebencian Della kian menumpuk saat Alzra lebih memilih Rara daripada kekasihnya sendiri. Rasanya seakan tercabik, Della dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Air mata hampir merebak kalau saja tidak segera ia tahan.


"Sorry," ujar Alzra dari arah berlawanan tanpa suara, tapi Della masih mampu melihat gerakan mulutnya.


Dengan cepat, gadis itu berpaling dan menghampiri Laras. Tentu saja perasaannya jadi mengebu-ngebu dan di penuhi amarah. Ia mulai benci saat melihat Rara lebih menarik dari dirinya.


Cara bermain bola tangan sangatlah mudah, tapi butuh ketangkasan. Siswa yang menjadi ratu harus di lindungi sampai akhir permainan. Yang terkena pukulan bola duluan, maka tim itu di nyatakan kalah.


"Ara," panggil Pak Zomar ramah. "Kamu yakin mau ikut main?"


Rara mengangguk tapi temannya terlihat meremehkan. Akhirnya, Pak Zomar memberikan bola pertama pada Aldo. "Oke, kalau begitu, semua tim bersiap ya."


"Lo pasti kalah, Alzra. Lo salah besar milih Ara jadi ratu." Aldo tersenyum miring, yakin kalau dirinya pasti menang.


Alzra tidak menanggapi godaan angin itu. Ia malah melirik Rara yang sekarang berdiri tepat di belakangnya, berlindung dari segala kemungkinan arah serangan bola dengan perban yang masih melilit di kepalanya.


"Jangan lepas pegangan lo," suara Alzra terdengar lebih canggung dari biasanya. "Pegang aja yang kuat."


Rara mengangguk, tapi tangannya tetap saja bergetar. Ia merasa tidak nyaman, seakan Alzra adalah orang asing sekarang.


PRITT! Pluit Pak Zomar berbunyi sehingga Aldo langsung menggencarkan serangannya ke arah Tobi. Untungnya, Tobi yang berada di samping Rara sangat sigap menangkap bola. Ia langsung berbalik melempar bola ke arah lawan dan mengenai Hesti.


Hesti keluar dengan kecewa, begitupula Aldo yang kesal. Padahal ini hanya permainan. Jiwa persaingannya memang tinggi.


"Jaga depan, Sam!" perintah Alzra pada temannya.

__ADS_1


Lalu saat Alzra bergerak ke kiri menghindari bola, Rara malah terselengkat kakinya sendiri akibat gerakan tiba-tiba Alzra.


"Aw!" ringisnya pelan.


Alzra agak panik dan menunduk. "Sorry,"


Rara menggigit bibirnya, mengangguk. "Iya, gapapa."


Setelah Alzra membantunya berdiri dan memastikan keadaan Rara, kedua tim terus-menerus melempar bola hingga menyisakan Rara di tim Alzra dan Dega serta Della di tim Aldo.


Ketika bola berhasil Alzra tangkap, ia lambungkan keras-keras ke arah Aldo hingga cowok itu tak mampu menangkapnya.


Senyum Alzra merekah, tapi meredup tatkala melihat iris Della. Ia merasa asing dengan tatapan itu.


TAK! Bola terkena tepat di tubuh Alzra tanpa perlawanan, membuat teman satu tim berteriak greget. "ALZRA JANGAN BENGONG, IH!"


Alzra tersadar dari lamunannya dan menoleh ke belakang.


Ia menatap Rara yang juga sedang mengadahkan kepalanya untuk menyeimbangkan tatapan Alzra. "Sorry." hanya itu yang bisa Alzra ucapkan.


Alzra keluar lapangan sedangkan Rara sedang bergumul dengan pikirannya sendiri. Semua pasti sudah gila kalau membuatnya berada di posisi terpenting seperti ini. Rara bukan gadis yang ahli dalam bidang olahraga!


"Ambil bolanya, Ra!" teriak salah satu temannya.


Ia meneguk ludahnya pelan sambil meraih bola tangan itu.


"Lempar yang keras!" intruksi temannya lagi. "Jangan sampe kena bolanya!"


"Yaelah!" Galih menginterupsi kicauan burung dari mulut teman satu kelasnya. "Lo mau maksain orang sakit buat olahraga?! Emang lo mau di gituin?!" tanyanya sarkatis, lebih ke arah galak.


Rara tersenyum samar. Ia bertekat untuk memberikan yang terbaik. Namun, bukannya melempar, Rara malah terlihat seperti memberi bola untuk Della. Tentunya, Della dengan mudah menangkap bola itu tanpa kesulitan.


"Lemparan apaan dah itu? Lembek amat kayak bubur," cibir Tobi seakan lemparan Rara dijadikan bahan candaan yang lucu.


Rara menunduk. Ia gagal. Saat ia mendongak, matanya bertemu dengan Della.


Della membuang pandangannya dan mendecih. Dengan satu lemparan telak, bola itu mengenai kepala Rara karena gadis itu memang mengincar kepalanya.


Ada rasa senang saat Rara terjatuh, meringis untuk kedua kalinya sambil memegang kepalanya. Rara tatap sekelilingnya dengan pandangan agam buram. Teman satu tim Della tertawa gembira, begitujuga lengosan kecewa dari teman satu tim Rara yang beberapa menggerutu.


Ia merasa terkucilkan.


Saat Galih ingin membantu, Alzra langsung berdiri. "Della!" bentakan itu terdengar menyapa indra pendengaran semua murid hingga semuanya terdiam. "Lo udah gila ya?"

__ADS_1


Alzra Lagi-lagi, menjadi pahlawan bagi Rara, mengecewakan Della.


__ADS_2