
Lantai dua gedung sekolah menjadi sangat penuh saat Erika meninggalkan sekolah bersama dengan kedua orang tuanya, banyak anak menjelekkannya bahkan melempari kertas berisikan cacian pada gadis dibawah 17 tahun tersebut.
“CEWEK MURAHAN!.”
“DUH HABIS INI MAU OPEN BO AJA YA!.”
“BAGUS KELUAR DARI SEKOLAH.”
“BIKIN MALU!.”
“ARTIS BOKEP!.”
“SANA SINI HAYUK!.”
Banyak lagi ucapan yang tidak bisa di dengar padahal Erika bersama dengan kedua orang tuanya, sedangkan Chatrina yang melihat dari jendela kelasnya hanya diam memperhatikan ayahnya. Iya ayahnya yang datang menjemput Erika secara langsung, dia ingat kejadian hari itu, dia dan Erika dengan posisi yang sama.
“PEMBUNUH!.”
“MATI AJA LO!.”
“SANA PERGI!.”
“DASAR PEMBUNUH!.”
Chatrina memejamkan matanya melupakan kejadian itu yang masih teringat di kepalanya hingga hari ini, bahkan saat semuanya tau fakta yang sebenarnya, kesan pembunuh pada dirinya masih ada, bahkan Chatrina berpikir kalau dia benar-benar membunuh orang karena cap itu.
“Chatrina.” Sebuah panggilan membuatnya menoleh kesamping, Devano berada disana menghampirinya saat Alga tidak ada.
“Iya?.”
“Gue mau ngomong sama lo.”
“Ngomong aja.”
“Kesana bentar.” Devano mengajak Chatrina duduk di bangku paling belakang, pria itu berbeda dari pertama Chatrina bertemu.
“Lo mau ngomong apa?.”
“Soal Alga.”
“Ya udah ngomong aja.”
“Gue temenan sama Alga udah lama, sejak kecil mungkin, dia orang yang baik, setia kawan. Tapi sayangnya gue yang khianati dia dengan nidurin cewek yang dekat sama dia, bahkan sampai ceweknya hamil terus bunuh diri. Alga ga akan nyentuh cewek selama belum sah, dia bakal jaga cewek itu sampai kapanpun. Tapi bukan berarti dia harus bertanggung jawab atas apa yang bukan perbuatannya, itu prinsip Alga sampai hari ini. Setelah gue kenal lo, tau lo sama Alga. Lo beda Cha, lo beda dari semua cewek yang pernah gue temuin, gue liat sisi Alga ada di diri lo, mungkin itu alasan Alga segitunya suka sama lo melebihi dirinya sendiri.”
Chatrina mendengarkan secara tenang apa yang Devano katakan, dia bahkan melihat Devano lebih bersahabat ketimbang sebelumnya.
“Gue minta maaf sama lo, atas semua yang gue lakuin, kalo gue bikin lo kesel dan sebagainya.”
“Gue udah maafin lo, lagian lo ga pernah ada salah sama gue.” Chatrina menjeda ucapannya kemudian menatap kearah Devano dengan harap “Lo ga nemuin Erika lagi?.”
“Kenapa lo bahas Erika?.”
“Semua orang tau hubungan lo sama Erika nggak cuma teman biasa, pacar pun bukan pacar biasa.”
__ADS_1
“Hubungan gue lama berakhir sama Erika, dia banyak tidur sama cowok, gue harus bertanggung jawab atas bayi yang dikandung juga?.”
“Maksud lo apa?.”
“Menurut lo gue nggak punya alasan jauhin dia?.”
“Erika hamil?.” Chatrina menatap Devano penasaran.
“Iya, 3 bulan, gue disini bahkan belum sampai 2 bulan, apalagi gue tidur sama dia.”
Kejutan yang tidak pernah Chatrina bayangkan sebelumnya mendengar hal ini, tidak ada yang pernah tau mengenai kehamilan Erika, event orang tuanya sendiri juga tidak tau perihal tersebut. Di suruh tanggung jawab, tentu saja Devano tidak akan mau mengingat itu bukan anaknya entah anak siapa dia juga tidak tau.
“Mau gimana pun juga dia adek lo, keluarga lo juga nggak ada yang tau, gue harap lo bisa bantuin dia, walaupun lo tidak berhak bentu orang yang jahat sama lo.”
Perbincangan dengan Devano membuat Chatrina sadar beberapa hal yang harus dia selesaikan, mungkin orang lain jahat dengannya, tapi bukan berarti dia harus membalas itu. Mau bagaimana pun Erika adalah adiknya, dia sendiri dan dia butuh orang yang membantunya keluar dari masalah.
Sayangnya kehadiran Chatrina sore itu di rumah ayahnya mendatangkan masalah baru saat Mayang yang membukakan pintu gerbang untuknya.
“Ngapain kamu datang kesini? Mau nyombongin diri karena udah menang dari Erika?.”
“Saya mau bertemu dengan Erika.”
“Dia nggak bisa ditemui, mending kamu pulang sana gabung sama ayah baru kamu.”
“Saya tau mungkin tante nggak akan percaya yang saya bilang, tapi tolong bantu Erika tan.”
“Maksud kamu apa? Saya ibunya tentu saja saya akan mendapatkan sekolah terbaik untuk Erika.”
“Bukan itu.”
“Pah...”
“Dia juga putriku, biarkan Chatrina masuk.”
Chatrina pun akhirnya di bolehkan masuk setelah ayahnya datang, gadis itu duduk dengan gugup di ruang tamu, memegang tangannya yang mulai dingin karena gugup ingin mulai dari mana hal ini.
“Saya ingin bertemu Erika, sebentar saja.” Ucap Chatrina pada ayahnya.
“Tentu saja, dia ada di kamarnya.”
“Makasih.”
Saat Mayang masih berada di dapur, Chatrina langsung bergegas naik ke lantai dua dan mengetuk pintu kamar Erika.
“Masuk aja ma.”
Ceklek
Chatrina membuka pintunya dan melongokkan kepala “Ini gue.”
Suara Chatrina membuat Erika menoleh.
“Lo ngapain kesini? Merasa puas menang dari gue?.”
__ADS_1
Chatrina menutup pintunya dan duduk dengan nyaman di ranjang Erika, ranjang yang sebelumnya adalah miliknya.
“Berapa bulan?.” Pertanyaan Chatrina membuat Erika gugup.
“Maksud lo?.”
“Berapa bulan kandungan lo?.” Chatrina melihat kearah Erika dengan pandangan dingin.
“Halu lo?.”
“Gue nggak tau Devano bohong atau enggak ke gue, tapi gue percaya apa yang dia bilang ke gue soal lo. Itu yang buat gue datang kesini, gue nggak mau ada korban lain, gue nggak mau lo sendirian.”
Erika meneguk ludahnya kemudian duduk di kursi meja rias sambil menunduk.
“Terus gue harus gimana sekarang? Lo seneng kan gue hancur?.” Air mata Erika menetes untuk pertama kalinya didepan Chatrina.
“Iya gue seneng kalo inget semua yang lo lakuin ke hidup gue, gue seneng banget malahan. Tapi itu kalo gue emang jahat, gue nggak pernah ada niat jahat ke lo. Mau bagaimana pun juga lo adek gue walaupun kita beda rahim bahkan beda ayah.”
“Papa dan Mama nggak tau, jadi gue bakal gugurin dia.”
“Lo yakin?.”
“Enggak, gue takut kak...”
Chatrina menghampiri Erika dan menyentuh kedua tangannya sambil duduk berjongkok di depan Erika.
“Kita masih belum dewasa buat menghadapi semua ini, gue bahkan nggak bisa kasih apapun buat bantuin lo.”
“Gue minta maaf...”
“Jangan pikirin yang nggak penting, sekarang kita harus ngomong ke papa mama soal ini, mereka nggak akan buang anaknya sendiri, jadi jangan khawatir.”
“Lo yakin? Lo kayak nggak tau mama gimana.”
“Tapi gue tau papa kayak gimana.”
Erika terdiam.
“Gue bakal bantuin lo.”
Ceklek
Tiba-tiba pintu terbuka dan Mayang masuk begitu saja mendorong Chatrina menjauh dari Erika dan menarik tangan Erika sangat kasar.
“Apa yang kalian bahas! Apa yang mama denger benar? Jawab Erika!.”
Erika menangis sangat keras.
“PERGI DARI RUMAH! KAMU BUKAN ANAK MAMA LAGI!.”
“Tante...”
“Apa kamu? Kamu mau menertawakan semuanya? Puas kamu?.” Mayang menatap Chatrina kesal.
__ADS_1
Bersambung...