
Seluruh persiapan pernikahan antara Sarah, ibu Chatrina dengan Kevin, Ceo perusahaan tempat ibunya bekerja segera di gelar. Posisi Sarah yang seorang ibu tunggal dengan Kevin Mahaputra, Seorang duda tanpa anak karena ditinggal istri dan anaknya meninggal dunia, ceritanya panjang tapi kali ini bukan membahas masa lalu mereka melainkan hari ini, hari yang paling bahagia untuk pasangan itu yang sedang menerima tamu-tamu penting, dari rekan bisnis, keluarga dan juga teman-teman.
Chatrina berada di antara mereka semua yang tidak dia kenal sama sekali, Algaleo harusnya malam ini datang tapi baru saja tiba, dia dikabari kalau ibunya sedang kambuh dan dia harus segera kesana.
Jadilah sekarang Chatrina sendirian disana sambil minum-minuman yang di sediakan, bukan minuman dengan kandungan alkohol karena Chatrina tidak minum-minuman beralkohol.
“Mana cowok lo?.”
Sebuah suara mengalihkan pandangan Chatrina dari lampu jalanan di luar dari lantai 10.
“Bukan urusan lo.”
“Lo kalo galak makin cantik loh.”
“Bisa nggak sih lo tuh diem sekali aja, pergi sana.”
“Gue nggak mau, tempatnya luas jadi gue bisa berdiri dimana aja.”
“Kalo gitu gue yang pergi.” Chatrina memberikan gelas minumannya yang sudah kosong pada Devano.
Namun reaksi Devano hanya tersenyum, bukannya tau diri kalau sudah di tolak malah masih mengejar gadis itu, mengikutinya bagaikan ekor.
“DEVANO! BISA NGGAK SIH NGGAK USAH NGIKUTIN GUE.” Chatrina sangat kesal, benar-benar kesal dengan Devano.
“Oke-oke, tapi gue mau nanya ke lo, kenapa lo mau sama Algaleo? Keluarganya kan berantakan, lo pernah denger nggak kalau sifat anak bakalan mengikuti orang tuanya.”
“Terus menurut lo? Apa bedanya gue sama dia kalo gitu? Bokap gue selingkuh dan nikah lagi.”
“Sorry gue nggak tau.”
“Makanya kalau nggak tau nggak usah banyak komentar.”
Chatrina kembali berjalan meninggalkan Devano keluar dari hall masuk kedalam lift menekan angka satu, yaitu lobby, dia belum berpamitan pada ibunya tapi dia lelah jadi ingin pulang lebih awal.
Sambil mengetik pesan pada ibunya, Chatrina benar-benar meninggalkan hotel tempat acara pesta pernikahan. Gadis itu menghentikan taksi untuk pergi ke rumah sakit jiwa, tempat ibu Algaleo dirawat.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil yang di tumpangi Chatrina tiba di rumah sakit jiwa. Dengan memakai dress putih panjang dan rambut tergerai indah serta make up tipisnya, Chatrina berlari masuk kedalam menuju ke resepsionis untuk menanyakan dimana letak kamar ibu Algaleo.
“Maaf sus, saya mau bertanya. Kamar ibu Algaleo dimana ya?.”
“Oh ibunya mas Alga di pindah ke rumah sakit biasa karena kejang.”
“Kira-kira rumah sakit mana ya?.”
“Rumah sakit Niara pelita.”
“Makasih sus.” Chatrina segera berlari keluar menuju ke pinggir jalan dan menghentikan taksi kembali, salahnya tidak menghubungi Algaleo terlebih dahulu, tapi percuma juga menghubungi karena pesan terakhir Chatrina saja belum di balas sampai sekarang.
Rumah Sakit Niara Pelita ada didepan mata, semua mata tertuju pada Chatrina yang memakai pakaian seperti pesta dengan penampilan wajahnya pun sangat cantik serta high heels yang di tenteng.
“Sus, ODGJ yang baru saja dibawa kemari ada di kamar mana ya?.”
“UGD.”
“Makasih sus.”
Jantung Chatrina seakan berhenti berdetak, kekhawatiran yang tiba-tiba menghantuinya tanpa merasakan sakit ini adalah pertanda buruk. Tubuh Chatrina terduduk di lantai saat melihat Algaleo menangis sambil memanggil ibunya untuk bangun.
“Maaa... bangunn! Maaaa! Mama!! Alga sama siapa maaa...!.” Suara Algaleo di sertai tangisannya membuat air mata Chatrina terjatuh.
Sekuat tenaga Chatrina bangkit kembali dan menyentuh tangan Algaleo lembut, Chatrina tidak bisa menahan air matanya, berusaha kuat untuk Algaleo, tapi dia tidak bisa melakukan itu, dia tetap menangis sama seperti Algaleo.
“Chatrina...” Algaleo memeluk Chatrina erat, terisak di pelukan gadis itu.
Chatrina mengusap punggung Alga perlahan, “Alga... Mama udah bahagia, mama nggak sakit lagi sekarang, waktunya kamu juga bahagia dengan kehidupanmu. Nggak papa nangis sekarang, kamu boleh nangis sampai kamu lelah, tapi nanti iklasin mama.” Suara lembut Chatrina mengalun indah di telinga Alga.
Tangisan Alga semakin parau di pelukan Chatrina, Chatrina sendiri tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh.
Semalaman Chatrina menemani Alga di rumahnya, pemakaman ibu Alga di lakukan saat pagi hari, layaknya seseorang yang meninggal, banyak orang berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa. Selama itu juga hanya Chatrina yang ada di sebelah Alga, dia merelakan kelas nya untuk menemani Alga yang sendirian.
Dress hitam menjadi pakaian yang selalu Chatrina pakai selama di rumah Algaleo, dia tidak pulang, dia juga sudah izin pada ibunya kalau dia akan menemani Alga selama satu minggu kedepan, setelah Alga baik-baik saja.
__ADS_1
“Makan dulu ya.” Chatrina membawakan sepiring makanan ke kamar Alga, setelah beberapa hari, Alga terus berdiam diri di kamarnya.
Jadi dirumah itu bukan hanya ada Chatrina dan Alga saja, tapi juga ada pembantu yang sempat kerja di rumah Chatrina yang sebenarnya menemani Chatrina saat sendirian. Berhubung anaknya lagi di rumah Alga, jadilah bibi bantuin di rumah Alga sekarang, untuk bersih-bersih dan membuat makanan.
Teman-teman Alga semuanya sudah datang, mereka juga beberapa kali mampir ke rumah setelah pulang sekolah.
“Kamu nggak sekolah aja?.”
“Aku udah ijin kok.”
“Mau sampai kapan kamu ijin terus?.”
“Kalau gitu kita sama-sama ke sekolah seperti biasanya.”
“Cha... Sebenarnya aku sekarang hidup buat siapa sih? Udah nggak ada, papa aja nggak pulang walaupun denger mama udah nggak ada.”
Chatrina menyentuh tangan Alga lembut.
“Aku, aku masih butuh kamu ga, kamu satu-satunya orang yang membuatku tau kalau aku pantas bertahan disini.”
“Kamu masih ada tante Sarah, mama mu.”
“Aku nggak mau adu nasib sama kamu, tapi mama ku sudah menikah sekarang, mau bagaimanapun juga dia akan memiliki keluarga sendiri, anak sendiri, keluarga mereka juga akan sempurna.”
Entah kenapa air mata Chatrina ikut jatuh, dia duduk di sebelah Alga yang duduk di lantai bersandarkan ranjangnya.
Alga melihat kearah gadis yang sangat dia cintai, sekarang dia tau kenapa dia memilih Chatrina, kenapa dia tertarik pada gadis itu lebih dari apa yang dia pikirkan sebelumnya. Mereka hanyalah pasangan yang tidak memiliki apapun selain saling melengkapi satu sama lain.
“Maaf.” Suara lirih Alga membuat Chatrina menoleh.
“Yang hidup harus tetap hidup ga, aku atau kamu, kita harus bisa mengisi kekosongan kita masing-masing, kamu masih ada aku, dan aku harap kamu masih bisa aku andalkan untuk ada untukku juga.”
Alga mengangguk, pelukan hangat mereka menjadi penutup pada hari ini sebelum mereka harus melanjutkan kehidupan.
Bersambung...
__ADS_1