The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
Episode 37


__ADS_3

Setelah Erika dan Devano turun, selanjutnya adalah pembacaan kategori Cowok dan Cewek Populer.


“Terima Kasih Angel, selanjutnya kategori cowok dan cewek populer akan dibacakan oleh perwakilan kelas 12, silakan maju kedepan.”


Amanda, perempuan yang tidak bisa dibayangkan akan maju membacakan kategori ini mengingat semua orang berpikir kalau dia lah paling populer , tapi sepertinya bukan.


“Terimakasih.” Amanda mengambil amplop yang ada di belakang papan cowok dan cewek populer “penilaian dari kategori ini didasarkan pada banyaknya siswa yang tertarik dengan satu cewek dan satu cowok di SMA Effect. Bukan hanya segi banyak di perbincangkan, melainkan juga ada beberapa hal yang menjadikannya paling populer.” Ada beberapa foto yang di putar secara acak di layar, foto yang tidak bisa dilihat dengan jelas karena kecepatan putaran “Cowok paling populer di SMA Effect tahun ini jatuh kepada.... Devano Mahaputra!! Dan Cewek paling populer di SMA Effect tahun ini jatuh kepada.... Chatrina Omega Thiga!!.”


Pikiran Chatrina yang berada di tempat lain membuatnya tersadar saat namanya disebut dengan keras, Chatrina melihat kearah Alga yang duduk disebelahnya menahan amarah karena tiba-tiba Devano menghampiri tempat Chatrina dan Alga duduk.


“Mau naik bareng?.” Tanya Devano sambil mengulurkan tangannya.


“Sorry, gue bisa sendiri.” Jawab Chatrina sambil menyentuh tangan Alga lembut, gadis itu mengabaikan Devano dan naik keatas panggung.


Berbeda saat bersama dengan Erika, Devano nampak banyak tersenyum saat berada di sebelah Chatrina, hal tersebut menimbulkan banyak perbincangan mengenai pengakuan cinta Devano beberapa hari yang lalu  yang dianggap sebagai candaan semata.


Acara penerimaan penghargaan pun akhirnya selesai dilanjutkan penutupan acara. Jam sudah menunjukkan setengah 1 dini hari dan semua baru meninggalkan aula, Alga nampak berbincang dengan teman-temannya di parkiran mobil, sedangkan Chatrina masih ada urusan di belakang panggung karena beberapa hal mengenai penghargaan yang dia dapatkan, karena sudah pasti Chatrina mendapatkan gift khusus.


“Lo nggak kebelakang bos?.” Tanya Edgar sambil menghisap rokoknya dengan sangat santai duduk diatas motor Gavin.


“Nggak, Ada Amanda juga disana, aman lah. Tapi kayaknya ada yang aneh sama Chatrina.”


“Kenapa? Lo marahan gara-gara dia naik sama Devano?.” Tanya Gavin penasaran, Gavin sangat paham sifat Alga yang mudah cemburu.


“Bukan itu, tapi ada yang Chatrina sembunyikan dari gue, hal yang buat dia kecewa tapi juga sedih.”


“Emang lo apain dia? Lo selingkuh?.”


“Enggak Monyet!! Ngapain gue selingkuh!.” Kesal Alga pada Edgar yang semaunya sendiri kalau ngomong.


“Terus? Tanya aja ke Amanda, bukannya dia terakhir kali sama Chatrina sebelumnya.”


“Lo bener juga.”


Kedatangan Chatrina menghentikan perbincangan mereka bertiga, Chatrina membawa sebuah kotak berisi makanan ringan yang dia dapatkan dari panitia karena mendapatkan penghargaan.


“Kalian mau?.” Tanya Chatrina pada Edgar dan Gavin.


“Mau!.” Jawab Edgar dengan senang, dia bahkan menerima kotak berisi makanan ringan tersebut dengan bahagia.


Setelah berbincang sebentar, Chatrina dan Alga pulang lebih awal ketimbang kedua temannya yang lain. Selama dalam perjalanan tidak ada perbincangan apapun hingga sampai didepan rumah Chatrina, Alga baru membuka mulutnya untuk bicara.

__ADS_1


“Sayang... ada yang ingin aku tanyakan.”


“Tanyakan aja.” Chatrina menghentikan kegiatannya saat akan membuka pintu mobil Alga.


“Kamu ada masalah? Aku ngerasa ada yang kamu sembunyikan.”


“Aku nggak papa, kamu tenang aja.” Chatrina tersenyum sambil menyentuh tangan Alga lembut.


Alga hanya mengangguk, dia pikir Chatrina akan membuka mulut, tapi kenyataannya tidak. Alga tersenyum dan membiarkan Chatrina keluar dari mobilnya, setelah Chatrina benar-benar masuk rumah menghilang dari matanya, Alga baru meninggalkan area rumah Chatrina menuju ke klub malam untuk bertemu teman-temannya yang kebetulan Amanda juga ada disana, bisanya Alga mengabaikan kegiatan ini dan memilih untuk pulang, tapi hari ini ada yang ingin dia tanyakan pada Amanda secara langsung.


Mobil Alga meluncur menuju ke klub langganannya bersama dengan anak butterfly, baru sampai disana dia sudah bertemu dengan Devano yang baru saja tiba menggunakan mobilnya.


“Lo disini juga?.” Tanya Devano seakan mereka sangat akrab.


“Bukan urusan lo juga.”


“Gue nggak akan rebut cewek lo, tenang aja, gue Cuma mau main-main doang.”


“Lo nggak ada kerjaan? Cari kegiatan lain.” Alga meninggalkan Devano yang tertawa dengan jawaban laki-laki itu, tujuan Alga bukan Devano melainkan Amanda yang duduk di salah satu sofa dengan Gavin dan Edgar.


“Amanda!.” Panggilan Alga membuat Amanda menoleh.


“Kenapa?.”


“Tanya aja.”


“Sana.”


Amanda berdiri dan mengikuti langkah Alga ke meja lain, mereka berdua disana berhadapan, Alga dengan wajah penasarannya dan Amanda dengan wajah santainya.


“Lo ngomong apa ke Chatrina?.”


“Apa?.”


“Tadi lo ngomong apa?.”


“Oh, Chatrina nggak bilang ke lo? Baik juga cewek lo.”


“Lo ngomong apa.” Tanya Alga dengan nada dingin.


“Santai-santai, kayaknya dia udah tanya juga sih sama yang bersangkutan.”

__ADS_1


“Maksud lo?.”


“Lo inget kejadian beberapa minggu yang lalu?.” Amanda menceritakan semuanya pada Alga, Alga sendiri tidak menyangka kalau orang yang dia cari ternyata sangat dekat dengan Chatrina, sangat dekat di depan matanya tapi dia benar-benar tidak sadar.


“Jadi Chatrina tau kalau pelakunya Liana dan Dinda?.”


Amanda mengangguk.


“Kenapa lo baru ngomong ke gue soal ini?.”


“Emang lo nanya ke gue? Setelah jadian sama Chatrina juga kita jarang ngobrol kan.”


“Bukan gitu, Sorry.”


“Santai aja, setidaknya dia lebih baik dari gue. Jadi nggak masalah kalo lo bucin parah ke dia.”


“Thanks ya.”


“Terus apa yang akan lo lakuin setelah ini? Lo kan tau kelakuan Liana, temennya Chatrina sendiri, kayaknya nggak akan sampai sini.”


“Nggak ada, selama Chatrina baik-baik aja dan nggak ngerasa keganggu, gue nggak akan bertindak apa-apa, tapi kalau sampai kejadian yang tidak-tidak jangan harap dia lolos dari gue.”


“Jangan sampe lo nyesel karena nggak ngapa-ngapain setelah tau hal ini.”


...


Erika duduk di sebuah meja kosong di salah satu cafe yang ada di Jakarta, menunggu seseorang dari beberapa menit yang lalu tidak kunjung datang. Hingga perempuan yang di tunggunya pun akhirnya tiba, Liana dengan pakaian santainya menghampiri Erika dan duduk di depannya dengan pandangan dingin.


“Lo ada rencana apa?.”


“Wait santai dulu dong kak.” Erika tersenyum dan meminum minuman yang dia pesan, sedangkan Liana masih resah sendiri bingung harus melakukan apa.


Erika sedikit mendekat kearah Liana dan berbisik sangat lirih, wajah Liana yang semula resah menjadi terkejut tapi kemudian dia mengangguk paham dengan ucapan Erika.


“Gimana? Kalo lo setuju, lo Cuma ngelakuin apa yang gue suruh aja kak.”


“Oke gue setuju, tapi gimana kalau anak butterfly tau atau mereka balas dendam setelah itu ke kita?.”


“Tenang aja, jangan sampai mereka tau soal ini.”


“Oke, gue percaya ke lo.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2