
The saddest kind of sad is when your tears can't even drop and you feel nothing. It's like the world has just ended.
{*}
"Lo gapapa, Zel? Badan lo panas banget," tanya Adrian, teman dekat Hazel khawatir. "Harusnya lo kasih tau aja ke bokap lo. Pasti gak bakal jadi gini."
Hak istimewa. Sebagai siswa yang memiliki kuasa, Hazel bisa melakukan apa saja yang ia mau. Ia bisa mencabut jabatan ketua osis, mengeluarkan siswa, bahkan memecat guru. Namun, Hazel tidak mau. Itu namanya penindasan terhadap orang lemah dan Hazel tidak suka itu.
"Gue nerima semua resiko," kata Hazel sok bijak, membuat Adrian ingin menoyor kepala sahabatnya itu.
Adrian memasang ekspresi mual. "Untung lagi sakit. Coba kalau gak, udah gue tabok bolak-balik tuh muka,"
Hazel tertawa tapi matanya terlihat semakin sayu. Dengan sekuat tenaga, ia tahan rasa pusing yang mulai meguasai kepalanya. Ah, berada terlalu lama di bawah sinar matahari membuat tubuhnya agak lemas. Bukannya lemah, tapi hukuman ini memang lebih di beratkan karena Bu Nini tau tipe Hazel yang susah di atur.
Bu Nini adalah tante Hazel. Itu sebabnya Hazel tak berani membantah terlalu banyak. Lagipula, Hazel tau niat Bu Nini baik. Wanita paruh baya itu ingin Hazel tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab dan Hazel mengerti akan hal itu.
Adrian memegang jidat Hazel. "Tuh, badan lo udah kayak kompor. Gue anterin lo ke UKS, se-ka-rang," tekannya tapi lebih lebih terdengar seperti perintah.
Hazel menggeleng pelan. "Gue udah gede, Rian."
"Gak ada yang bilang lo masih kecil, Hazel," balas Adrian tak mau kalah.
"Theresa!"
Tubuh Hazel bergeming saat mendengar nama itu. Matanya menangkap sosok Theresa yang sedang berdiri di ambang pintu dan tersenyum. Gadis itu masuk ke dalam kelas, lalu duduk di sebelah Mitchell, sahabat dekatnya. Kontak matapun tak terhindari, tapi Hazel duluan memutuskan kontak. Hazel benci iris mata itu
Mata Adrian mengikuti arah pandang Hazel dan ia mendengus.
"Ayo, kita ke UKS!" ajak Adrian ulang, menyadarkan lamunan Hazel.
"Gue aja yang temenin, ya," pinta Theresa dari tempatnya.
Hazel dan Adrian sama sama sinis. Hazel tidak suka kalau Theresa ikut campur urusannya. Sebenarnya, jarak tempat duduk mereka sangatlah dekat. Mungkin itu sebabnya Theresa bisa tau apa yang dikatakan Adrian. Namun, Hazel seakan membangun benteng baru agar Theresa tak mampu melewatinya.
Lagipula, Hazel tak akan membiarkan Theresa melewati benteng ini lagi untuk kedua kalinya.
"Gue temenin lo ya." Theresa menggenggam tangan Hazel, tapi Hazel menepisnya pelan.
Hazel bangkit berdiri, memberi aba-aba kalau ia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Gue cabut dulu, Rian."
__ADS_1
Tubuh Hazel melenggang keluar kelas, meninggalkan Theresa dan Adrian dengan hati yang kacau, mengerutuki masa lalunya.
Sedangkan Thesa, gadis itu masih belum berpaling dari punggung Hazel yang menghilang di belokan.
"Hazel kok berubah?"
Adrian tersenyum mengejek. Pertanyaan itu seakan menunjukkan kalau Thesa tidak pernah merasa bersalah sedikitpun atas perbuatannya.
Mata Adrian melirik tak suka ke arah gadis dengan rambut sepinggang dan paras seperti model. "Enggak, dia gak berubah. Dia cuma kecewa aja sama lo, sama dirinya, juga," jawab Adrian.
Gadis itu tak tau efek dari perbuatannya. Ia tidak akan tau apa yang sudah di lalui Hazel selama gadis itu pergi entah kemana, entah dengan siapa.
{*}
Hazel duduk di ujung kolam tanpa berani menyentuh air itu. Kejadian tahun lalu benar-benar mengubah kecintaannya terhadap berenang. Tapi, manusia memang seperti itu, kan? Kita membuang semua kenangan buruk dan menyimpan semua kenangan baik.
Saat Hazel terlarut dalam pikirannya sendiri, pintu ruangan renang di buka dan di tutup dengan hentakkan keras. Kepala Hazel menoleh untuk melihat siapa yang datang. Lalu, kerutan di matanya mulai muncul. Ia tersenyum.
"Benci banget!" gerutu seorang gadis berbalut jaket merah muda. Wajahnya yang cemberut selalu membuat tingkat ketertarikan Hazel bertambah. "Ah, cemburu, cemburu, cemburu!"
Rara menghentakkan kakinya lalu tubuhnya terjungkal ke belakang ketika irisnya menangkap sosok Hazel disana, sedang memperhatikan Rara dengan intens. Dia sudah daritadi memperhatikan Rara?
"LO NGAPAIN?" teriak Rara lalu ia mengusap dadanya. "Bikin gue kaget aja!"
Rara mengerutkan keningnya. "Lo sendiri? Kok belom pulang?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Hazel.
"Lupain aja," kata Hazel, tak minat dengan topik pembicaraan tadi. "Anak baru, ya?"
Rara mengangguk sebagai jawaban. Kakinya melangkah mendekati kolam, tak jauh dari tempat Hazel. "Nama lo Hazel, kan? Makasih bantuannya tadi pagi."
"Iya, gara-gara lo, gue yang telat," omel Hazel dengan suara baritonnya. "Lo harus traktir gue sebagai balasan!"
"Enak aja! Gak mau! Beli aja sendiri!" sahut Rara sambil memeletkan lidahnya.
Ternyata Hazel tak sedingin yang Rara kira. Mungkin karena tektur rahangnya yang kokoh, setiap mimik yang Hazel ciptakan pasti terlihat angkuh dan dingin.
Rara melepas sepatu dan kaos kakinya lalu memasukkan kakinya ke dalam kolam. Rasanya adem. Tangannya pun tak bisa berhenti bergerak di dalam air.
Kolam renang yang di miliki SMA Tantara bisa di bilang mewah karena dibuat semirip mungkin dengan kolam renang olimpiade. Itu sebabnya, banyak siswa-siswi Tentara yang berprestasi dalam olahraga renang, salah satunya Hazel.
Tapi itu dulu, sebelum semuanya membuyar.
__ADS_1
Memori Hazel mendadak berputar di kepalanya. Ia mengerang kesakitan sambil memegang keningnya. Pusing. Nafasnya tidak stabil dan dadanya sesak.
Ia benci memori ini.
"Eh?" Rara panik dan menghampiri Hazel. "Lo kenapa?!"
Wajahnya Hazel memerah dan air mata perlahan menetes membasahi pipinya. Isakan yang tak tertahan-pun memecahkan keheningan
ketika hati berteriak karna segundah rasa.
Rara diam. Pandangan Hazel yang kosong membuat Rara mendekatkan kepalanya lalu berjongkok tepat dihadapan Hazel. Tangannya mengenggam erat kedua tangan Hazel, tapi mulutnya masih tak mampu berucap.
Kalau tadi pagi Hazel menolong Rara, sekarang malah Rara yang menolong hati Hazel.
{*}
Mama: Semua salah kamu. Mama sama papa udah gak bisa biayain sekolah kamu lagi.
Thesa: Aku bakal berusaha, Ma. Tenang, Kita gak bakal kenapa-napa.
Theresa menutup ponselnya kasar lalu menutup kedua matanya dengan tangan. Ia benar-benar frustasi.
Hatinya menyesal karena telah mengambil langkah yang malah mengjungkirbalikkan kehidupannya. Dulu ia hidup enak, tapi keegoisannya membuat dirinya berada di ambang keputus-asaan.
Pulang sekolah yang biasanya menyenangkan menjadi hal yang paling ia benci. Ia kini sendirian, tidak ada yang berdiri di sampingnya dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja.
"Gue kangen sama Hazel," gumamnya pelan.
Suara ketukan kakinya menggema di koridor sekolah. Kelas-kelas yang awalnya penuh dengan lautan manusia, sekarang kosong.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore sedangkan jadwal kegiatan belajar hanya sampai pukul 3 sore. Mungkin hanya ada beberapa siswa-siswi di sekolah seperti yang sedang belajar kelompok atau ekstrakulikuler.
"Thesa! 10 menit lagi ke ruang tari!" Dinda, teman Theresa berteriak dari ruang tari.
Theresa mengangguk sebagai respon. "Bentar, gue mau ke toilet dulu," teriaknya sambil berjalan menjauhi ruang tari yang terletak di lantai 1.
Kakinya terus melangkah menuju toilet, melewati kolam renang, tapi terhenti dan ia mundur beberapa langkah untuk melihat tempat itu, lagi.
Tempat favorite Hazel dulu, kolam renang. Thesa bahkan masih ingat kenangan indah yang mereka lalui di ruangan ini. Ada tawa dan duka yang tak dapat di hindari.
Hatinya tergerak untuk sekadar melihat tempat itu. Lalu, ketika tangannya mendorong pintu utama kolam, kakinya mematung dan matanya menjadi saksi bisu atas yang sudah terjadi.
__ADS_1
Air mata gadis itu mengalir tiba-tiba, mengukir bekas aliran di pipinya. Hatinya seakan diremas dan ia tidak bisa menahan gejolak ini.
Theresa tidak suka Hazel di ambil gadis lain dan ia tak akan membiarkan siapapun mengambil Hazel darinya.