The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
Episode 21


__ADS_3

Sarah baru saja keluar dari rumahnya, wanita paruh baya yang masih sangat cantik dan muda itu berjalan menuju mobilnya, memasukkan beberapa berkas ke dalam mobil seperti biasa. namun hari itu sepertinya tak biasa saat dia melihat Mayang berada di depan gerbang rumahnya, dengan wajah lumayan kesal.


"Apa yang kamu lakukan disini?." Tanya Sarah bingung, mereka berdua awalnya adalah sahabat yang sangat dekat bahkan Sarah sering menawari Mayang tinggal di rumahnya saat diusir dari rumah hanya karena melakukan sedikit kesalahan, sepertinya apa yang dilakukan Sarah sama sekali tidak membuat Mayang membalas budi padanya, malah merebut suaminya.


Sarah membukakan gerbang, plaaakkk sebuah tamparan melayang tepat di pipi kiri Sarah, bahkan wanita itu tidak tau apa kesalahannya sehingga Mayang menamparnya dengan tiba-tiba.


"Ajari anakmu yang bener, sukanya merebut punya orang lain!."


"Bukankah harusnya kamu yang mengajari anakmu yang benar, kelakuannya 11 12 kayak orang tuanya. Putriku tidak melakukan apapun pada putrimu, jadi jangan asal bicara, lagipula kalau mau protes soal hubungan putriku dengan pacarnya, harusnya kamu juga protes ke pacar nya, lebih suka Chatrin atau Erika."


"Dasar nggak tau diri!." Mayang kembali melayangkan tangannya namun sebuah tangan lain menahan lengannya.


"Jangan membuat kekacauan disini." suara seorang pria berdiri dibelakang Mayang, Adrian. suami Mayang, mantan suami Sarah.


"Mas." protes Mayang.


Mata mereka bertemu, Sarah dan Adrian. Ada perasaan yang berbeda, perasaan sedih kehilangan kerinduan semua menjadi satu, kedua mata itu saling menatap teduh, terkadang kalau mengingat kejadian yang telah berlalu, Sarah merasa sangat sakit hati, tapi Adrian tetaplah ayah dari anaknya.


"Kalian pergi saja, jangan buat keributan disini." Sarah menarik dan menutup gerbangnya kembali, wanita itu masuk kedalam rumah, tadinya ingin berangkat ke kantor tapi karena kejadian itu kayaknya dia harus izin telat, menunggu mereka pergi.


...


Siang itu sepulang sekolah, Alga mengajak Chatrina bertemu dengan ibunya. sebelum menemui ibunya, Alga membeli bunga lily, bunga kesayangan ibunya, selalu saat di rumah dulu, ibunya berlangganan bunga tiap beberapa hari sekali, mengganti bunga lama yang layu.


pertama kali Chatrina tau kalau ibu Alga mengalami gangguan kejiwaan, saat motor mereka berhenti di parkiran rumah sakit jiwa, Chatrina tidak terkejut tapi dia lebih kasihan pada Alga, nyatanya sekuat apapun Alga, dia tetaplah seorang anak yang masih membutuhkan sosok orang tua.


"Ayo." Ajak Alga, dengan mambawa bunga, Chatrina berjalan disamping Alga menuju halaman belakang rumah sakit jiwa, dimana banyak orang yang dirawat disana berada di halaman.


"Itu mama." Ucap Alga sambil menunjuk seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik dengan rambut panjang berantakan.


Chatrina mengikuti langkah Alga menuju ibunya yang duduk sendirian dengan membawa boneka di pangkuannya.


"Ma Alga datang."


"Algaleo, mama takut, papa.."


"Nggak papa ma, Alga selalu ada buat mama." Alga memeluk ibunya sangat erat. "ma, Alga membawa gadis yang pernah Alga ceritakan ke mama." Alga melepaskan pelukannya dan menunjukkan Catrina.

__ADS_1


"Selamat siang tante, saya Chatrina." ucap Chatrina lembut sambil memberikan bunga untuk ibu Alga


"Terimakasih, kamu sangat cantik." Tangan ibu Alga menyentuh pipi Chatrina lembut


"Tante juga."


"Sini nak."


Chatrina mendekat dan duduk di sebelah ibu Alga, entah kenapa ibu Alga memeluk Chatrina erat "Jagain Alga, jangan sampai dia bawa papa nya."


"Chatrina pasti jagain Alga tante."


"Syukurlah tante tenang."


setelah mengantarkan ibunya ke kamar, Alga dan Chatrina masih duduk di taman, hanya mereka berdua, semua pasien sudah masuk ke kamar masing-masing. keduanya masih saling diam, tidak ada yang bersuara hingga Chatrina mulai membuka pembicaraan.


"Sejak kapan?." tanya Chatrina


"Sejak aku mulai masuk SMA, mama sudah tidak punya keluarga lain selain aku anaknya. Dia sejak kecil yatim piatu, kadang kalau denger cerita awal mama ketemu papa, kayak cerita-cerita novel, tapi pada akhirnya novel tidak menceritakan cerita akhir yang sebenarnya."


Chatrina menyenderkan kepalanya di lengan Alga.


"Kamu pasti bisa."


"Thanks udah nerima semua ini." Alga melihat ke arah Chatrina dengan tatapan mata teduh.


"Aku tidak pernah berpikir bahwa banyak orang yang lebih sakit ketimbang apa yang aku rasakan hingga aku bertemu denganmu, aku kagum denganmu yang masih bisa sekuat ini menjalani hidupmu yang lebih berat."


"Aku tidak pernah merasa berat, aku hanya berusaha menerima apa yang telah terjadi."


Sepulang dari rumah sakit, mereka terlebih dahulu mampir di salah satu warung makan pinggir jalan, bisa saja seorang Alga membawa pacarnya ke rumah makan bintang lima, tapi tiba-tiba Chatrina menyuruhnya berhenti di salah satu warung yang menjual lalapan. lalapan itu ayam goreng dengan sambal dan topingnya kubis atau sayuran yang mentah tapi bisa dimakan.


"Lalapan disini enak, kamu bakalan suka." Ucap Chatrina yang baru saja turun dari motor Alga. "Bu, lalapan ya 2 ya.


"Iya baik, mohon di tunggu ya neng."


"Iya bu." Chatrina mengambil dua botol air mineral. Mereka duduk di salah satu meja menunggu makanan yang mereka pesan datang "kali ini biar aku aja yang traktir."

__ADS_1


"Eh ngga usah, biar aku aja yang bayar."


"Ngga papa kalik, aku juga mau bayarin sekali-kali."


"Ya terserah kamu deh kalo gitu."


Beberapa menit kemudian makanan mereka pun datang, ayam goreng, nasi, sambil, dan sayuran mentah. Alga memang sering makan-makanan yang di jual di pinggir jalan tapi untuk pertama kalinya dia makan disana, dari tempatnya Alga sendiri tidak yakin kalau makanannya enak, tapi melihat Chatrina yang makan dengan lahap, dia juga mulai memakannya.


"Gimana?."


"Woahh enak juga."


"Iya dong, mama sering beli disini kalo pulang kerja."


Sehabis makan, Alga mengantarkan Chatrina pulang, namun sebelum itu Alga mengajak Chatrina mampir dulu ke rumahnya untuk mengambil beberapa berkas yang akan di berikan ke pabrik produksi miliknya yang berada melewati perumahan tempat Chatrina tinggal, biar ngga bolak-balik.


Chatrina menunggu Alga di luar, Alga juga mengganti motornya dengan mobil, jadi harus sedikit menunggu lebih lama lagi. Cuaca tengah mendung, jadi takutnya kalau tiba-tiba hujan, lagipula Alga akan mengambil beberapa sampel kaos yang baru saja di produksi.


Tepat saat itu Chatrina melihat mobil box lewat dan berhenti didepan rumah Erika, Chatrina melihatnya dari gerbang rumah Alga, saat banyak orang memasukkan barang-barang kedalam mobil box tersebut.


"Ihh anaknya kok bisa ya ngelakuin kayak gitu." Bisik beberapa tetangga yang lewat.


"Loh bukannya kamu yang tinggal disitu juga ya?." Tanya ibu-ibu pada Chatrina


"Ah itu, saya sudah pindah tinggal dengan mama."


"Oh jadi beda ibu."


"Memangnya ada apa ya disana bu?."


"Ngga tau juga, kalo pindah sih nggak mungkin ya, katanya sih pada jual barang-barang buat biaya hidup, perusahaannya katanya mau bangkrut, kok kamu ngga tau? kamu kan juga anaknya."


"Saya lama nggak berhubungan dengan papa lagi."


"Kasihan ayahmu itu uangnya di habisin istrinya mulu, kasih tau ya, itu kan juga papa mu."


"Iya bu."

__ADS_1


Chatrina hanya mengiyakan walaupun dia tak akan menasehati apapun ke ayahnya.


Bersambung...


__ADS_2