The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
Episode 42


__ADS_3

Chatrina buru-buru turun dari lantai dua memakai sepatunya sambil berlarian menuruni tangga, di ruang makan sudah ada Erika yang duduk akan menikmati sarapan pagi ini namun menunggu Chatrina datang. 5 bulan telah berlalu sejak Erika diusir dari rumahnya, dia tinggal di rumah Chatrina, mereka berdua bersama satu pembantu yang membantu kebutuhan Chatrina sekaligus Erika. Sedangkan Sarah pindah ke rumah suaminya, ayah tiri Chatrina, bukan karena tidak nyaman di rumah, tetapi memang sejak awal setelah pernikahan, Sarah akan tinggal di rumah Kevin bersama dengan Chatrina, namun karena ada Erika, Chatrina memilih untuk tetap tinggal di rumah itu.


“Gue udah hampir telat, lo makan aja ya.” Chatrina menepuk pundak Erika dan buru-buru keluar, di luar rumah sudah ada Alga yang menunggunya sejak tadi, memang Alga tidak mau masuk dan memilih menunggu di luar saja sampai Chatrina keluar.


Hari ini ujian akhir semester, bukan ujian kelulusan, tetapi semua bersiap sangat baik, keadaan sekolah lebih sepi dari hari biasanya karena yang wajib masuk hanyalah kelas 12, selama ujian ini berlangsung, kelas 11 dan 10 diliburkan atau melakukan pembelajaran di rumah masing-masing.


Chatrina duduk di bangkunya setelah meletakkan tas didepan, dia datang dengan Alga, satu kelas dengan Alga saat ujian akhir. Hanya saja jarak bangkunya lumayan jauh, jika Chatrina ingin lulus sekolah, Alga juga sama, niatnya ujian hanyalah agar lulus SMA, tidak peduli berapa nilainya selama lulus maka tidak masalah berapapun hasilnya.


Setelah ujian hari ini berakhir, Chatrina dan Alga keluar kelas bersamaan. Menuju ke parkiran dimana Gavin dan Edgar berada, mereka tengah membahas mengenai ujian mereka sendiri, karena Edgar dan Gavin berada di jurusan IPS berbeda dengan Algaleo.


“Bos, hari ini turun kuy.” Ajak Edgar, sebagai antek-antek orang dalam yang mengadakan balapan liar, Edgar memiliki peran penting untuk mendapatkan keuntungan juga.


“Males.”


“Hari terakhir ujian juga, ngapain sih di rumah aja, atau lo mau kencan sama Chatrina.”


“Nggak ada kencan kok, emang kalian mau ngapain?.” Tanya Chatrina penasaran.


“Mau ba-.” Alga langsung membekap mulut Edgar.


“Biasa nongkrong anak Butterfly.” Jawab Gavin santai.


“Ohh ya udah nongkrong aja, nanti juga gue mau nganterin Erika ke dokter buat check up.”


“Gimana keadaannya sekarang?.” Tanya Gavin dengan penasaran.


“Kalo penasaran ya datengin lah.” Ucap Alga menggoda Gavin, sepertinya semua teman-teman dekatnya sudah sadar kalau Gavin sedikit menaruh hati pada Erika sejak awal, dia hanya kurang tau perasaannya sendiri karena terlarut dalam kesedihan setelah kematian Naya.


“Enggak! Gue mau balik dulu, jemput adik.”


“Mampir ya vin.” Goda Chatrina.


“NGGAKK!.”


Menggoda teman adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, terkadang dengan begitu seseorang akan sadar atas apa yang dia rasakan sendiri. Tapi kalaupun Gavin menyukai Erika, maka percuma saja keluarganya tidak akan pernah setuju jika Gavin berhubungan dengan gadis itu, memang dari keluarga yang tidak bermasalah tapi Erika nya sendiri sudah bermasalah, tidak mungkin kedua orang tua Gavin menyukai Erika.


“Gue juga duluan.” Alga menepuk pundak Edgar.


“Duluan.” Chatrina tersenyum mengikuti Alga menuju ke motor.

__ADS_1


Mereka berdua pulang kerumah, lebih tepatnya Alga mengantarkan Chatrina pulang kerumahnya. Sampai dirumah, ada mobil milik Sarah di depan garasi, Alga membantu Chatrina melepaskan helmnya.


“Thanks, mau mampir dulu? Kayaknya mama ada dirumah.”


“Boleh, bentar doang soalnya harus ke pabrik.”


“Okay.”


Chatrina membawa Alga masuk kedalam rumah, disana bukan hanya ada Sarah tapi juga ada Kevin dan Devano yang masih mengenakan seragam sekolah, Devano memang pulang lebih awal ketimbang Chatrina dan Alga yang masih mampir berbincang dengan Edgar dan Gavin.


“Siang ma, pa.”


“Duduk, eh ada Alga, duduk duduk.”


Alga tersenyum dan duduk disebelah Chatrina, pandangan tertuju pada Devano yang juga ada disana.


“Ada kabar bagus.” Ucap Sarah yang membuat Chatrina menoleh ke arah ibunya.


“Kenapa ma?.”


“Mama hamil.”


“Selamat ma.” Chatrina memeluk ibunya erat.


“Selamat tante.”


“Makasih ya.”


“Dan satu lagi-.” Ucapan dari Kevin membuat Chatrina dan Alga menoleh ke arah pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan tersebut, Kevin melihat kearah Devano “Devano akan menikahi Erika setelah dia melahirkan.”


Chatrina dan Alga sangat terkejut dengan ucapan Kevin, Devano juga tidak mengatakan apapun selain mengangguk.


Prangg!!


Suara gelas pecah membuat semua orang yang duduk di ruang tamu melihat ke arah menuju dapur, disana ada Erika yang berdiri menjatuhkan minuman dalam nampan yang dia bawa hingga semuanya pecah.


“Maaf.”


Sarah langsung berdiri dan menghampiri Erika, mengajaknya duduk dan menyuruh pembantunya membereskan semuanya.

__ADS_1


Erika sendiri ternyata juga terkejut dengan hal ini, dia bahkan tidak menyangka tapi satu hal yang tidak bisa Erika terima, kenapa harus sekarang saat perasaannya mati, dia sama sekali tidak mencintai siapapun, bahkan sekalipun Alga menjadi tertarik dengannya, Erika sama sekali tidak menginginkannya, dia hanya ingin hidup dengan baik bersama putrinya, itu saja.


“Maaf terlalu mendadak, saya pikir itu lebih baik untuk anak Erika. Saya akan menikahinya, lagipula saya bertanggung jawab atas Erika juga.” Jelas Devano.


Chatrina dan Alga tidak habis pikir, sekolahnya memang sudah berakhir karena setelah ini hanya menunggu pengumuman kelulusan saja, bukan berarti menikah itu sangat mudah, dia harus bertanggung jawab atas anak orang, apalagi bukan hanya Erika yang menjadi tanggung jawabnya tapi juga anak yang Erika kandung.


“Bisa bicara sebentar?.” Tanya Alga pada Devano.


“Boleh.”


“Ayo, sebentar ya om tante.” Alga mengajak Devano ke halaman belakang.


Alga menghentikan langkahnya saat sampai di halaman belakang, kemudian membalik badan pada Devano yang ada dibelakangnya.


“Apa yang lo pikirin?.”


“Apa kurang jelas, gue bertanggung jawab atas Erika, gue akan jadi ayahnya.”


“Kenapa? Bukannya lo juga tau kalo itu bukan anak lo.”


“Gue tau.”


“Tapi bukan itu yang gue tanyain, kenapa nggak sejak awal lo tanggung jawab kalau emang mau tanggung jawab? Lo tau Erika diusir dari rumahnya, tidak dianggap anak orang keluarganya sendiri, kenapa lo nggak bantuin dia sejak awal.”


“Karena gue pikir gue nggak ada tanggung jawab buat itu, lo juga tau sendiri gue bukan ayahnya.”


“Bukannya lebih baik kayak gitu terus aja? Kenapa sekarang lo nawarin buat jadi ayahnya?.”


Devano terdiam.


“Karena Nayla? Lo bersalah karena kejadian Nayla kan?.”


Devano hanya diam, apa yang dikatakan oleh Alga ada benarnya, Devano hanya merasa Nayla ada di diri Erika dan dia harus bertanggung jawab atas hal itu sekarang.


Tanpa mereka sadari Chatrina berdiri di pintu, mendengarkan semuanya dengan jelas. Dia tidak bisa bereaksi apapun karena Erika mengatakan akan menerima Devano kalau memang akan menikahinya.


“Alga, Devano.” Keduanya menoleh saat suara Chatrina memanggil. “Erika menyetujuinya, dia mau menikah sama lo.” Alga melihat kearah Devano dengan tatapan kecewa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2