
They leave and act like it never happened. They come back and act like they never left.
{*}
Orang kira Hazel itu dingin tak tersentuh. Wajahnya agak angkuh, membuat orang segan kepadanya. Statusnya yang tinggi juga membuat orang takut membuat masalah dengannya. Tapi, Hazel bukan orang yang seperti itu. Dia juga sama seperti yang lain. Ia butuh perhatian dan kasih sayang. Memang, Hazel bukan orang yang mudah bergaul, apalagi terbuka pada orang lain.
Setiap orang itu berbeda-beda bukan?
Pagi itu, di hari Selasa, matahari dengan ceria mulai menampakkan dirinya. Sinarnya masuk menerobos lewat jendela milik rumah megah bernuansa klasik sehingga menebarkan hangatnya ke seluruh ruangan.
Ia melirik jam dinding yang terpasang di ruang tamu. Masih pukul 6 lewat 20, tapi ia sudah siap di meja makan. Padahal biasanya Hazel bangun tepat saat bel masuk SMA Tantara berbunyi. Ia bahkan sudah rapih sambil menikmati semangkuk serealnya.
Sebenarnya, ia sengaja bangun lebih awal agar bisa bertemu kedua orang tuanya. Mereka sangat sibuk sehingga jarang meluangkan waktu untuk Hazel.
Tangan kirinya meraih kasar ponsel yang terletak di depannya sedangkan tangan kanannya menyuapkan sesendok sereal ke dalam mulut.
Keningnya berkerut. Ada pesan masuk dari orang yang tidak dikenal. Seharusnya, tidak ada satu-pun siswa SMA Tantara yang tau kontaknya. Ia berhenti makan dan otaknya terus menerka-nerka, siapa yang mengirim pesan ini.
Lo udah baikan? Istirahat aja dulu. Kalau butuh apa-apa, kabarin aja ya! Oh iya, ini nomor gue. Di save, ya!
Hazel mematung lalu dengan cepat membanting asal ponselnya. Ia menepuk jidatnya. Ah, kejadian kemarin. Kenapa harus menunjukkan kelemahannya di depan gadis itu? Hazel tidak suka terlihat lemah. Ia kuat, dan akan selalu kuat.
"Aku bisa ngomong apa nanti ke orang lain?!" Terdengar suara bentakkan dari kamar orang tuanya hingga membuat Hazel sedikit kaget. "Hancur reputasi kita, Elly!"
"Kamu masih peduliin reputasi?! Di mana hati kamu, Alex? Anak kita baru aja-" wanita paruh baya itu menghentikkan ucapannya dan terisak. Ia tidak sanggup melanjutkan kalimat itu. "..meninggal."
Hazel menghela nafasnya. Kepalanya menunduk lalu ia mengusap wajahnya pelan. Ada sorot kekecewaan yang mendalam, tapi lambat laun Hazel mulai terbiasa. Suasana ini sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tidak ada yang berubah, semuanya sama, hanya sesak yang bisa Hazel terima.
"Pokoknya, jangan sampai anak itu buat ulah lagi," ingat Alex pada Elly, Ibu Hazel. "Kejadian kemarin gak bakal kesebar di media. SMA Tantara gak boleh kena skandal!" ujarnya dingin, lalu berlalu meninggalkan Elly dengan hentakkan pintu yang keras.
Baik Alex maupun Hazel sama-sama mematung di tempat. Saat itu juga, Hazel melihat ayahnya untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Bahkan di hari terpuruknya, Alex tidak hadir di sampingnya.
Alex benar-benar tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali terhadap Hazel. Ketika Hazel ingin berbicara, Alex malah membuang wajahnya dan mempercepat langkahnya ke teras.
Selalu seperti itu.
Hazel membuang nafasnya kasar lalu menoleh saat decitan pintu terdengar. Ternyata Elly yang muncul dengan wajah sembabnya.
"Papa nyakitin mama lagi, ya?" tanya Hazel khawatir, padahal ia sudah tau jawabannya.
Elly menggeleng pelan. "Udah, kamu gak usah mikirin mama. Kamu urusin dulu aja sekolah kamu."
__ADS_1
"Papa jahat. Aku gak suka sama papa." sahut Hazel sarkatis, membuat raut Elly sedikit marah. "Aku bangun pagi buat liat mama sama papa akur, bukan berantem kayak gini."
"Kamu gak boleh gitu, Hazel. Papa sebenernya baik, dia cuma tergila-gila aja sama pekerjaannya," jelas Elly, menahan emosi yang tiba-tiba bergejolak di dalam dada.
Hazel ikut tersulut emosinya. "Dia nikah sama mama cuma buat sekedar status, Ma. Kapan mama bisa ngertiin itu?!"
Nafas Elly kembang-kempis ketika mendengar perkataan itu. "Hazel!"
"Aku bener kan?!"
"Kamu gak berhak ngomong kayak gitu!" teriak Elly sambil menunjuk anaknya. "Gara-gara kamu, keluarga kita hancur! Jangan salahkan papamu! Kamu yang buat Lidya meninggal!"
Hazel diam hingga kesunyian meliputi mereka. Elly-pun merasa bersalah, tapi hati Hazel sudah terlanjur terluka.
"Maaf, mama-"
"Gapapa ma," Hazel memotong pembicaraan. "Aku tau, emang aku penyebabnya kan?"
Ia mengaitkan ransel di pundaknya lalu beranjak dari kursinya. Kaki Hazel melangkah memasuki toilet, meninggalkan mamanya, dan termenung di depan kaca. Ia melihat pantulan dirinya sendiri.
Mamanya benar. Ia penyebab utama kehancuran keluarga ini. Kenapa ia terus mencari celah dari papanya agar kesalahannya beralih?
Tidak ada yang peduli padanya. Tidak ada yang percaya padanya.
Rasanya perih, tapi tak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Ia terlalu enggan berbagi cerita, apalagi menyangkut hatinya.
TING. Sebuah ringtone pesan masuk berbunyi, membuat sang pemilik menoleh dan irisnya menangkap nomor itu lagi di sana.
Nayara Pratista: Halo? Lo belom bangun, ya? Kalau udah baca, jawab dong.
Tidak ada orang yang pantas untuk dirinya.
{*}
Rara mengerucutkan bibirnya saat pesan singkat itu tak kunjung di balas Hazel. Apa cowok itu baik-baik saja sekarang? Melihat kejadian kemarin, Rara yakin, Hazel pasti punya trauma terhadap sesuatu. Ia bisa merasakannya.
Bus berwarna hijau muncul di hadapannya sehingga ia langsung buru-buru mematikan handphone dan masuk ke dalam. Ia duduk di baris kedua, tepatnya dekat jendela.
Biasanya, ia akan berangkat ke sekolah bersama Alzra karena cowok itu terus bersikeras untuk mengantarnya dengan alasan keselamatan. Tapi, ia tidak boleh terlalu bergantung pada Alzra.
Rara membuka ranselnya lalu mengambil novel kesukaannya. Baru saja ia ingin membuka novelnya, sebuah tangan mengusap kasar rambutnya lalu memberikan cengiran khas dirinya.
__ADS_1
Mata Rara terbelalak. "Lo kok naik bus juga?!"
"Loh? Emangnya gak boleh?" tanya Alzra bingung. "Bosen tau kalau ke sekolahnya sendiri."
Rara berdecak lalu mendelik tajam. "Jadi lo ngikutin gue?!"
Alzra mengangguk dengan polosnya lalu duduk di sebelah Rara. Senyumnya mengembang hingga Rara dapat melihat deretan gigi yang terjajar rapi. Alzra terlihat sepuluh kali lebih tampan ketika tersenyum.
"2 minggu lagi gue lomba di SMA Tirta. Kebetulan sekolah mereka lagi ngadain cup," jelas Alzra lalu tangannya merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan selembaran kertas tipis dari sana. "Nih, gue beliin tiketnya buat lo. Jangan lupa dateng ya! Gak ada alesan!" celoteh Alzra sambil nyengir.
Rara mengambil tiket itu dari Alzra lalu mengamatinya. "Gue harus banget dateng, ya? Suruh Della aja yang dateng."
Alis Alzra bertautan. "Harus lah! Gue kan juga butuh dukungan dari lo." katanya semangat. "Kali ini, lo harus barbar pas support gue! Jangan diem-diem kayak kemarin! Untung gue menang."
Rara memutar bola matanya, pura-pura kesal, tapi ia tetap tak bisa menahan senyum.
Alzra menguap lalu merenggangkan tubuhnya. "Yaudah, gue tidur dulu ya. Capek nih, bangunin ya kalo udah nyampe."
Rara mengangguk, tapi jantungnya terus berdetak seakan ingin meledak. Pertama, ia tidak menyangka kalau Alzra pergi bersamanya, dan yang kedua, dari sekian banyak kursi penumpang di bus, kenapa harus bersebalahan dengan Rara?
Perasaan itu pun mulai muncul lagi, membuat sang pemilik menekannya erat-erat. Perjalanan yang dekat malah terasa jauh.
Rara melirik Alzra yang sepertinya sudah tertidur pulas, tapi ia langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Tidak, tidak. Ia tidak boleh menyukai Alzra, apapun yang terjadi.
Matanya-pun menyapu semua yang terlihat sepanjang perjalanan. Tangannya meremas kuat roknya hingga menimbulkan bekas kerutan di seragamnya.
DUG! Bus sekolah mendadak tergoncang akibat tanjakkan yang agak tinggi.
Disaat itu juga, Rara mematung ketika ia merasakan beban di bahunya. Seseorang sedang bersandar ke arahnya.
Diam. Hanya itu yang bisa Rara lakukan. Ia menutup kedua matanya lalu menghela nafas kasar.
Ia pun membuka matanya lalu hati Rara seakan bergetar kala sepasang manik mata abu-abu itu masih tertutup. Pandangan Rara terhalang karena keindahannya. Sekujur tubuhnya-pun lemas seketika, tapi tak lama ia tersadar.
Alzra milik Della. Apa daya diri ini? Rara bukan siapa-siapa melainkan seorang yang mencintainya dalam diam.
Bagai senja dan daratan, saling melihat tapi tak saling terikat, saling menatap tapi tak saling menetap
{*}
__ADS_1