The Butterfly Effect

The Butterfly Effect
8. Orang yang terluka


__ADS_3

Sometimes, I just want to give up, go crawl under my covers and cry myself to sleep. But I never tell anyone this because I know they won't understand.


{*}


Theresa memasuki sebuah gang kecil dekat pasar. Kakinya terus melangkah sambil memapah tas ranselnya. Sesekali, ia menengok untuk memastikan tidak ada yang mengetahui tempat tinggalnya. Ia tidak mau ada orang yang tau tentang hal ini.


Ia bukanlah orang kaya seperti siswa-siswi yang berada di SMA Lantana. Theresa hanyalah siswi yang bisa bersekolah karena Hazel menolongnya.


Hembusan nafas terdengar. Ia mulai merasa sesak ketika nama Hazel terlintas lagi dalam pikirannya.


Setelah 5 menit berjalan kaki, ia berhenti tepat di depan rumah kontrakan kecilnya. Kepalanya menunduk. Ia malu, tapi memang seperti inilah kondisinya.


Jemari lentiknya berniat mengetuk pintu kayu itu, tapi terhenti karena suara decitan keras terdengar, disusul suara keras lainnya.


"Kalau aku miskin memangnya kenapa? Kamu mau cerai? Oke, ayo cerai!" Robert, ayah Thesa berteriak. Darahnya mendidih sampai keubun dan ia mengerang kesal.


Mata Nia mendadak berembun, lalu buliran cair berwarna kristal berhasil melongos dari matanya, "Oke, terserah kamu aja. Aku udah cape berantem sama kamu."


"Baguslah, aku juga udah cape hidup sama kamu dan anak itu!"


Theresa langsung membuka pintu rumahnya sehingga percakapan mereka berdua terhenti. Suasana rumah sangat kacau, semuanya terlihat berantakan. Robert pasti sedang mabuk.


Thesa berusaha tersenyum, "Aku pulang, Ma, Pa."


Nia menutup kedua matanya dan berucap, "Thesa, ikut mama ke kamar."


Theresa menggigit bibirnya takut dan menuruti perkataan Nia. Robert hanya bisa mendecih sekaligus mengambil batang rokok dalam sakunya. "Ibu dan anak sama aja."


Theresa memberhentikan langkahnya. Kepalanya menoleh. Ia ingin sekali melampiaskan amarahnya kepada Robert, tapi Nia langsung menariknya masuk ke dalam kamarnya.


Suasana canggung kembali tercipta ketika pintu kamar terkunci rapat. Tidak ada yang mau memulai percakapan lebih dulu.


Tangan Thesa saling bertautan cemas, ia sudah tau apa yang diinginkan oleh ibunya itu.

__ADS_1


"Kita keluar kota, tinggal di kampung mama, cuma itu satu-satunya jalan." Nia mulai memasukkan bajunya ke dalam koper. "Kita gak akan bisa bertahan di sini."


Walaupun Thesa tau akan seperti ini, ucapan itu tetap menampar keras Theresa. Semua tekad dan impian yang sudah dibangun mendadak luruh, tidak menyisakan sepercik harapan-pun.


Gadis itu menggeleng pelan, "Tapi, mimpi Thesa jadi penari! Kalau kita pergi ke kampung, Thesa gak akan bisa ikut lomba internasional 6 bulan lagi!"


Nia mendelik, "Uang darimana?! Kamu kira ngebiayain kamu tari itu murah? Kalau kamu lomba, kamu harus beli baju, beli perlengkapan lainnya." Nada suaranya meninggi. "Makan aja kita susah, Thes."


Sudah setahun hidupnya berlalu seperti ini. Ia serba kekurangan dalam hal materi. Ayahnya juga pemabuk berat dan kerjanya hanya bisa menghamburkan uang untuk judi.


Awalnya, ada Hazel yang berada di sisinya, mendukung gadis itu dan mencintai gadis itu dengan segala kekurangannya. Namun, Theresa malah meninggalkan Hazel di titik terendahnya. Itu penyeselan terbesar seumur hidup Theresa.


"Mama balik aja ke kampung. Aku bakal cari tempat tinggal lain." Theresa terlihat bersikeras. "Nanti aku cari kerjaan tambahan."


Nia menyentuh pundak anaknya. "Kapan kamu sadar kalau semua ini sia-sia?" tanyanya pelan sambil menatap dalam mata Theresa. "Kamu cuma menyulitkan diri sendiri dan kita semua kena imbasnya."


"Tapi, Ma-"


Dada Theresa terasa tertekan saat kalimat itu ia dengar. Matanya mendadak basah dan pandangannya buram. Ia seakan jatuh terhempas dari gedung pencakar langit. Semuanya buyar.


Theresa tidak terima lalu langsung melongos masuk ke kamar mandi dengan langkah kesal. Di bantingnya pintu itu sekuat tenaga sampai-sampai bergema menciptakan kesunyian yang menyesakkan dada.


Tidak, apapun yang terjadi, ia tetap harus menari. Ia tidak bisa meninggalkan tari. Ia tidak mau kehilangan separuh jiwanya lagi. Hidupnya hanya tercipta oleh dua hal: Hazel dan tari.


Gadis itu menoleh ke samping, melihat pantulan dirinya di cermin.


Pokoknya, ia akan mendapatkan semuanya lagi, seperti dulu sebelum Rara datang ke dalam kehidupan Hazel. Dengan cara apapun.


{*}


"Om Radit!"


Suara sapaan Alzra terdengar hangat dan riang di pagi hari, padahal jam masih menunjukkan angka 6 lebih 30 menit. Rara yang agak tidak nafsu makan-pun langsung mendadak ganas melahap makanannya. Ia tidak ingin membuat Alzra menunggu.

__ADS_1


Tak lupa, Rara juga merapikan rambutnya dan juga seragamnya. Semua harus terlihat baik di depan Alzra.


"Masuk aja, Alzra. Tuan puteri kita lagi makan cantik nih," ujar Radit sambil tersenyum, sadar akan tingkah Rara.


"Hai, Ara!" sapa Alzra dengan lambaian tangan ringan. "Gimana kepalanya? Masih sakit?"


Alzra datang sambil menenteng tas hitam dan sebuah totebag kuning. Senyumnya yang manis masih tercetak jelas. Senyum yang mampu menciptakan kebahagiaan dalam relung hati Rara.


"Aduh, Nak Alzra perhatian banget sama Rara. Nanti bahaya loh kalau Rara baper." Radit tertawa cekikikan seperti anak kecil, sedangkan Rara hanya bisa melongo tak percaya.


Seriusan ayahnya berbicara seperti itu?!


"Papi! Apaan sih?!"


Radit terlihat senang, "Tuhkan, liat muka anak om langsung merah!?


Raut muka Rara berubah jadi orang yang murka dan matanya menyorotkan tatapan ingin mencubitu ayahnya dalam sekejab. Anak durhaka. "Aduh papi ganteng banget deh hari ini! Gimana kalau Ara sama Alzra pergi dulu ya? Udah telat nih, hehe," ujar Rara dengan tawa yang di paksa.


Radit tertawa jahil. Dari dulu, Radit memang suka mengcomblangi Rara dan Alzra. Sayang sekali, ternyata Alzra sudah menaruh hatinya pada Della. Bukan hanya hati Rara yang patah, hati Radit juga patah karena ia tau kalau anaknya sangat menyukai Alzra.


"Jagain anak om ya!" ingat Radit khawatir. "Om percaya sama kamu, Alzra."


Alzra mengangguk pasti. "Tenang, om, Ara udah kayak adik aku sendiri."


Radit berdeham, "Jadi cuma adik aja nih? Gak lebih? Haduh, padahal om berharap lebih."


"Papi!" Rara mendesah kesal lagi.


"Santai aja, Ra." kekeh Alzra. "Ayo, Ra. Nanti telat loh."


Rara masih terdiam di tempatnya. Dalam hatinya, ia takut kalau Alzra malah jadi canggung dan menjaga jarak.


Siapa yang akan menjadi bintang di antara gelapnya dunia?

__ADS_1


__ADS_2