
Seperti janji yang sudah di buat siang tadi, Chatrina keluar dari rumahnya sekitar pukul 7 malam untuk menemui Devano di cafe depan SMA Effect, entah apa yang akan Devano katakan, karena Chatrina sangat penasaran dengan hal itu. Chatrina tidak akan mengatakan pada Algaleo kalau dia menemui Devano kecuali Algaleo curiga kalau Chatrina bertemu Devano.
Chatrina menggunakan taksi online, tidak lama dia tiba didepan Cafe, gadis itu langsung masuk kedalam cafe yang pengunjungnya tidak sedikit, cafe-cafe di Jakarta ini lumayan rame kalau malam, bukan hanya anak nongkrong tapi juga orang yang habis kerja menghabiskan untuk mengobrol satu sama lain membahas mengenai pekerjaan. Tapi memang lokasinya di seberang SMA Effect, jadi kemungkinan rata-rata anak sekolahnya.
Devano duduk di meja paling pojok sambil menghisap rokoknya dengan santai, saat Chatrina datang, Devano langsung berdiri sambil tersenyum dan menarik kursi untuk Chatrina duduk. Tanpa mengatakan apapun, Chatrina duduk didepan Devano meja yang sama.
“Jadi apa?.”
“Sabar dong sayang.” Devano mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
Pelayan dengan pakaian ala-ala pegawai cafe datang menghampiri dengan membawa buku menu.
“Americano hot sama cheese cake yang ukuran sedang. Lo apa?.”
“Cafe latte ice aja.”
Pelayan tersebut menuliskannya ke dalam kertas dan memberikan bills nya pada Devano.
“Thank you.”
Sambil menunggu minuman datang, Chatrina terus menunggu apa yang akan dikatakan oleh Devano karena sejak tadi dia sama sekali tidak memulai pembicaraan mengenai masa lalu Algaleo.
Tanpa Chatrina sadari, saat dia tengah membalas pesan dari Algaleo yang menanyakan lokasinya, Devano memotret gadis itu dan mengunggahnya di media sosial pribadinya.
Disaat yang bersamaan hari yang sama dengan jam yang sama, Gavin baru saja pulang dari sekolah setelah menyelesaikan pertemuan dengan guru kelasnya yang akan membimbing menuju ke perguruan tinggi yang dia impikan. Lumayan sore dia baru selesai dan tidak langsung pulang karena sambil menunggu menjumput adiknya di rumah kerabat karena mereka sedang jalan-jalan. Jadilan Gavin sambil menunggu dia mampir di warung dekat sekolah sendirian, ada anak butterfly lain tapi dari kelas 11 dan dia tidak sedekat Algaleo dalam berteman dengan adik kelasnya.
Setelah habis maghrib, tanpa sengaja Gavin melihat mobil Devano yang berhenti di depan cafe yang ada di sebrang SMA Effect, Gavin langsung mengirim pesan ke grup inti nya mengenai Devano karena Gavin curiga Devano akan bertemu seseorang disana.
Beberapa saat kemudian dia melihat Chatrina yang keluar dari mobil taksi dan menghampiri Devano yang duduk di cafe itu sendirian, Devano nampak sangat perhatian pada Chatrina walaupun terlihat jelas Chatrina yang menunjukkan wajah malasnya.
__ADS_1
Balik lagi di pov Chatrina dan Devano yang berhadapan satu sama lain, minuman dan makanan yang dipesan mereka sudah datang dan siap di santap.
“Jadi apa? Gue nggak bisa lama-lama disini.”
“Sabar dong.” Devano meminum americano yang dia pesan sebelumnya “Ehmm! Lo pasti penasaran kan kenapa gue sama Alga bisa musuhan, alasannya karena cewek, gue suka sama cewek yang juga di sukai sama Alga, tapi cewek itu milih gue, akhirnya kita berantem dan cewek itu meninggal. Udah gitu, dan gue pindah ke luar negeri karena merasa bersalah, dan lo liat sendiri juga kalau Algaleo sama sekali nggak ngerasa bersalah.”
“Hahaha! Kenapa lo lucu banget, lo bisa nggak sih ngarang ceritanya yang masuk akal dikit?.”
“Maksud lo?.”
“Gue tau kok sebenarnya lo yang bangsat disini, lo hamilin tuh cewek padahal cewek itu lagi deket sama Alga kan? Gila lo, bikin anak orang hancur.”
Rahang Devano mengeras, sudah lama dia tidak mendengar kisah itu yang telah lama dia kubur, walaupun kali ini dia sengaja menggalinya dengan cerita lain tapi gadis yang menjadi targetnya sudah tau.
“Tau dari mana lo?.”
“Amanda, dia cerita semua ke gue karena Alga nggak akan cerita perihal itu ke gue. Kalau nggak ada yang di bahas lagi, gue mau pulang.”
Terlihat motor Alga yang sudah menunggu Chatrina di depan cafe, Chatrina melambaikan tangannya pada Alga sambil tersenyum, tanpa mengatakan apapun lagi pada Devano, Chatrin menghampiri Alga setelah meninggalkan uang 50rb an diatas meja untuk mengganti uang minuman yang dia pesan.
“Kamu nggak di apa-apain kan sama tuh cowok?.”
“Sayang, lain kali bilang dulu ya, aku nggak mau telat bantuin kalau ada apa-apa sama kamu.”
“Iyaaa pasti.”
Chatrina naik ke atas motor Alga, meninggalkan area tersebut menuju ke rumah Chatrina. Sebenarnya Alga sudah mengajak Chatrina untuk jalan-jalan tapi Chatrina menolak karena dia harus mempersiapkan beberapa hal untuk pernikahan ibunya.
Sampai didepan rumah Chatrina, gadis itu langsung turun dan melepaskan helmnya kemudian memberikan pada Alga.
Alga mengusap kepala Chatrina lembut “Istirahat yang cukup, jangan banyak pikiran, kalau ada apa-apa, kabarin aja.”
Chatrina mengangguk sambil tersenyum pada Algaleo, setelah itu dia masuk kedalam rumah sambil melambaikan tangannya pada Alga.
Algaleo meninggalkan area tempat tinggal Chatrina untuk bertemu dengan teman-temannya di tempat tongkrongan seperti biasa, karena malam ini ada balapan liar di jalanan dekat sekolahnya, banyak yang ikutan tapi kali ini Algaleo tidak berniat untuk ikut, dia hanya akan melihat saja bersama Edgar dan Gavin.
Alga menjemput Edgar terlebih dahulu kemudian menuju ke tempat lokasi.
__ADS_1
“Gimana tadi? lo ketemu cewek lo bos?.”
“Ketemu, Devano mau bahas soal Nayla dengan cerita yang dikarang sendiri.”
“Wah kacau tuh anak lama-lama. Terus gimana?.”
“Untungnya Amanda udah ngasih tau soal itu ke Chatrina sebelumnya, jadi Chatrina biasa aja.”
“Ayang Manda baik ya sebenarnya.”
“Mundur aja kalo bahas soal Amanda, tipenya bukan cowok kayak lo yang rajin dan berbakti pada orang tua.”
“Jahat banget lo.”
Jalanan sudah ramai dengan anak yang menonton balapan liar, di sana sudah ada dua motor yang saling memberikan taruhan untuk pemenang, mereka juga menarik uang khusus penonton yang melihat acara tersebut, judi.
Sambil menunggu Gavin datang, Algaleo duduk di warung bu Endang lagi yang bukanya cukup malam kali ini, hanya ada bu Endang dan suaminya, anaknya lagi tidak ikut jualan.
“Bu En, Kopi susu nya satu.”
“Dua bu!.” Edgar ikutan teriak memesan yang sama dengan yang dipesan Algaleo.
“Tumben lo ga pesen nutrisari, ntar ga bisa tidur lagi.”
“Gue udah gede kali.”
“Hahaha gede badan doang.”
Pesan masuk ke ponsel mereka berdua, dari Gavin yang tidak ikut melihat balapan malam ini karena harus menemani adiknya dirumah sendirian.
Kali ini mereka juga melihat motor gede warna merah yang datang menyala sangat terang di area balapan, saat helm di lepas, wajah Devano terpampang jelas di sana sambil menyeringai ke arah Alga. Devano memberikan jempol terbaliknya pada Alga seakan mengejek karena Alga tidak turun malam ini.
“Nggak usah di tanggepin lah tuh anak.”
Mengindahkan ucapan Edgar, Algaleo mengambil motornya yang diparkir di depan warung dan menghampiri Devano yang ada di arena balapan.
__ADS_1
“Shitt!.”
Bersambung...