The Gubuk

The Gubuk
TG 10: Perubahan Cuaca


__ADS_3

Ale, Al dan Ar menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Ans. Keempat bersaudara yang sepemikiran itu akhirnya mencari tempat duduk yang nyaman. Lalu menggabungkan buku gambar, pesan dari group chat serta papan ouija yang pernah dimainkan.


Entah kenapa mereka sependapat bahwa ketiga hal tersebut saling berkaitan bahkan Ar kembali menjadi dirinya sendiri tanpa memiliki emosi yang berlebihan. Ale mencoba mencari tahu tentang simbol yang ada di gambar karena itu sangat menarik perhatiannya, sedangkan Al berusaha menggabungkan setiap peristiwa.


Berbeda dengan Ar dan Ans. Dimana kedua anak lelaki itu memilih diam menunggu informasi karena mereka lebih suka mendengar daripada berkelana mencari bukti yang bisa dijadikan sebagai pemecah masalah. Detik demi detik berlalu menyisakan kesunyian sesaat ditemani langit mendung berarak awan hitam.


Padahal waktu baru menunjukkan pukul sebelas siang tetapi cuaca mungkin tengah tidak menentu. Apalagi suara gelegar petir mulai menampakan eksistensinya, membuat perhatian anak-anak teralihkan menatap ke luar jendela. Tirai yang terbuka memperlihatkan suasana di luar sana.


"Kalian disini saja! Aku akan menutup tirainya." ujar Ale, lalu beranjak dari tempat duduknya seraya meletakkan ponsel.


Langkah kaki berjalan mendekati jendela besar yang berjarak tiga meter dari tempat berkumpul. Gadis itu masih bersikap wajar bahkan tidak terpengaruh dengan cuaca yang memburuk hingga ia berhenti melihat sekeliling balkon yang tampak begitu tenang. Terlalu sunyi. Apakah itu normal?

__ADS_1


Al menoleh menatap Ale yang terdiam di depan jendela. "Ale, apa yang kamu tunggu? Cepatlah!"


Ale masih diam menatap ke depan. Dibalik rimbunnya hutan yang memang mengelilingi bagian belakang villa, ia tak sengaja melihat asap putih membumbung tinggi. Jika ada asap setebal itu maka ada penyebab dan biasanya hanya manusia yang melakukan sesuatu.


"Ale!" panggil Ans ikut heran dengan diamnya sang adik. "Kesana aja, entah apa yang dilihat anak itu."


Ar dan Al setuju dengan saran Ans. Sehingga mereka bertiga langsung menghampiri Ale tanpa ini dan itu. Tatapan mata fokus ke depan sang saudari membuat ketika lelaki itu mencari sebab diamnya sang adik. Ternyata hanya wilayah hutan dengan pepohonan yang berjejer rapi nan rindang.


"Bukan itu, Al. Coba perhatikan di tempat itu." Ale menunjuk ke suatu arah yang beberapa saat terkena terpaan angin sehingga menunjukkan sebuah corong bangunan.


Ketiga saudaranya mengikuti arah tangan Ale dan menemukan penyebab diamnya sang adik kecil. Hanya corong yang sesekali tampak tetapi cuaca semakin buruk sehingga sulit untuk memastikan apakah di dalam hutan ada penghuninya atau mereka salah lihat.

__ADS_1


Al tak ingin pemikiran mereka semakin terkontaminasi. Apalagi suara panggilan dari luar mengharuskan mereka bergegas turun dari kamar. Suara langkah kaki terdengar menjauh meninggalkan kamar. Semilir angin yang berembus menyebarkan aroma anyir.


Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam tinggi berdiri di depan jendela. Kilatan cahaya petir dengan suara menggelegar memperjelas bayangan yang diam menatap toples kunang-kunang. Aura anyep yang menyebar menghantarkan energi negatif bersama pudarnya bayangan. Sementara di bawah tengah terjadi perpisahan keluarga.


Dimana mereka semua tetap melakukan keputusan yang telah diambil Papa Delano. Meski ada drama penolakan yang Ar lakukan. Nyatanya semua harus berusaha mengalah untuk memahami masalah keluarga mereka. Pelukan hangat menjadi pengantar perjalanan. Cuaca bahkan tidak dianggap sebagai kendala untuk perjalanan pertama dari sepasang anggota keluarga Wellington.


"Kalian jaga diri, ya. Ingat untuk patuh pada orang tua. Kami pamit dulu. Doakan semua lancar dan bisa cepat pulang." ucap Papa Aldo melambaikan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri enggan melepaskan diri merengkuh pinggang sang istri.


Salam perpisahan bersambut deru mesin mobil yang mulai dijalankan. Tatapan mata penantian terasa diasingkan. "Pa, Apa semua ini harus dilakukan?"


Mama Aldo menatap pria yang menyetir dengan tatapan sendu. Untuk pertama kalinya jauh dari keluarga saat liburan. Biasanya hanya para ayah yang sibuk tapi kali ini seperti tidak memiliki solusi lain. Apa semua karena masalah perusahaan atau ada hal lain yang menjadi alasan? Jujur saja dia saja tidak tahu apapun. Anggukan kepala sang suami nyatanya tak membuat hati merasakan kedamaian.

__ADS_1


__ADS_2