
Papa Delano menggelengkan kepala pelan. Andai saja tidak ada anak dan istri, bisa saja melakukan apapun demi mengembalikan kedua anak serta saudaranya yang menghilang. Kenapa berkata demikian? Semua itu karena ia merasa serba salah.
Saat ini saja bukan berniat menggantungkan diri pada ketiga muda mudi yang berniat membantunya. Akan tetapi ia hanya tengah memahami keadaan tanpa bertindak ceroboh. Apalagi ia paham ada yang direncanakan Ans dewasa. Tindakan anak muda satu itu sangat diperhitungkan.
"Malam yang panjang, bagaimana kita akan istirahat? Apakah Al dan Ale sudah makan?" tanya Mama Bara pada dirinya sendiri tetapi terdengar oleh Mama Delano dan juga Mama Caldwell.
Ketiga wanita itu berusaha untuk saling menguatkan meski hati seorang ibu terluka. Yah ada kalanya manusia harus bertahan di tengah badai yang menerjang. Meski waktu akan selalu menjadi awal dan akhir. Tetap saja tak akan mengubah garis takdir.
Dua anak yang dikhawatirkan tengah saling berpelukan menahan hawa dingin yang menyerang bahkan Al membiarkan Ale mengenakan jaketnya. Anak itu benar-benar berusaha melindungi adiknya dari bahaya yang menyerang. Entah mereka berada dimana hanya saja semakin lama hanya ada udara lembab.
"Al, kapan kita akan keluar dari sini? Aku rindu papa, mama." bisik Ale setengah menggigil membuat Ans semakin mengeratkan pelukannya.
Tangan terus saling digosokkan agar menghantarkan kehangatan yang sedikit membantu untuk tetap menjaga kesadaran, "Sabar, Ale. Kamu gadis yang kuat."
"Al, apa kita akan bertemu keluarga lagi? Siapa yang tega melakukan ini pada kita berdua? Apa salah ...," tanya Ale beruntun tetapi Al segera mengusap kepalanya agar kembali tenang.
Suara tak akan mampu tembus ke tempat yang jauh untuk dijangkau. Dari keduanya berada, jauh diatas sana bangunan villa berdiri dengan begitu kokohnya. Kegelapan yang ada tak lain karena itu ruangan rahasia bawah tanah. Dimana ruangan itu hanya memiliki satu pintu masuk yang menjadi pintu keluar juga.
Angan tak mampu tuk berpikir ketika orang-orang yang memiliki pertanyaan tidak melihat denah bangunan. Siapa yang bisa menyelamatkan kedua anak itu? Ketika raga terbenam jauh di bawah tanah dan hanya ditemani satu lampu yang tersorot dari luar ruang penyekapan.
__ADS_1
"Ans, aku ngantuk, bagaimana ini?" Kevin menoel lengan Ans yang entah tengah mendengarkan apa melalui earphones sembari menjaga Monica yang terlelap.
Sekali saja Kevin terlelap. Apa yang akan terjadi? Setelah mengetahui kebiasaan Kevin lewat Monica, tentu saja ia berpikir sepuluh kali lipat untuk membiarkan sang sahabat terlelap. Apapun yang terjadi, kevin harus tetap terjaga tapi bagaimana? Selain makanan, tidak ada yang menarik bagi sahabatnya.
"Coba tanya Tuan Delano atau Tuan Bara. Apakah ada obat agar tidak merasa mengantuk, aku cuma khawatir keamanan kita bisa dipertaruhkan. Makhluk itu bisa datang lagi karena pengaruhnya padamu masih ada." ucap Ans menarik kesimpulan secara logis.
Pada dasarnya ilmu gaib akan mengikuti raga yang sudah terkontaminasi. Yah, Kevin tidak lagi bersih tetapi juga tidak bersalah hanya saja keadaan membuat pria satu itu harus berjuang di dunia kehidupan berbeda. Sebagai manusia normal, ia tak bisa berkata tau perasaan sang sahabat.
Seperti yang disarankan oleh Ans, Kevin beranjak meninggalkan sahabatnya lalu berjalan menghampiri keberadaan Papa Bara dan Papa Delano. Pria itu bertanya tanpa sungkan tetapi sayang saat ini tidak memiliki obat yang bisa mencegah orang kantuk. Meski begitu menyarankan untuk ikut ngobrol saja.
Tawaran yang cukup menggiurkan karena dipikir bisa menjadi solusi. Sementara di kamar lain Noland berusaha untuk beranjak dari tempat berbaringnya tapi sayang sekali tubuh terasa sakit bahkan nyeri hingga ke tulang rusuk. Umpatan kasat tak bisa menahannya lagi.
"Ck, bed3bah. Apa yang mereka berikan padaku? Kurang ngajar." Noland tak sanggup untuk berdiri hingga ia hanya memiliki satu jalan terakhir. Helaan napas panjang mengurangi ketegangan bersambut senandung yang mengalun lirih bergema dalam irama.
Njupuk awak ketutup dosa.
Tangi saka ing antarane wong mati.
Ketemu kurban urip.
__ADS_1
Semilir angin berembus menerpa dedaunan basah bersambut gemericik air hujan tak tentu arah. Suara bising di luar villa terdengar begitu jelas menggetarkan hati yang mendengarnya. Sayup-sayup senandung menyebar menelusup menghantarkan kengerian. Irama tanpa nada yang mampu membangkitkan bulu kuduk.
"Ayo menyelinap ke rumahku. Ambil tubuh yang tertutup dosa. Bangkit dari kematian. Temui pengorbanan hidup." Ans tanpa sadar mengartikan senandung yang memang terdengar sangat jelas di telinganya hal itu dikarenakan sebuah rekaman dari kamar tempat Noland berada tersambung ke earphones yang terpasang di telinganya.
Senandung dengan arti pemanggilan arwah dari alam kematian itu pasti bertujuan untuk membantu si pria asing. Satu pertanyaannya, memang apa yang terjadi pada orang tadi? Bukankah hanya diobati biasa saja atau? Seketika tanda tanya berlalih tertuju pada Papa Delano.
Rupanya, Tuan itu memiliki rencana cadangan tanpa memberitahu. Semoga itu membantu karena pasti dia menemukan kebenaran lain yang masih disimpan sendirian. Hanya saja sekarang harus apa? Setelah yang terjadi, pasti pria asing tadi tengah melakukan sesuatu di luar kendali manusia.~monolog hati Ans mencoba berpikir keras.
Gemericik air hujan semakin terdengar keras bahkan mengusik lelapnya tidur Monica yang akhirnya terbangun. "Ans, mereka datang tapi terlalu banyak. Aku takut ...,"
"Kamu bisa melihat mereka 'kan?" tanya Ans yang hampir lupa satu fakta tentang Monica. Gadis itu mengangguk pelan dengan mata sendu. "Bantu aku melihat mereka, bagaimana caranya?"
Satu permintaan yang membuat Monica bertingkat hingga memundurkan tubuhnya ke belakang beruntung Ans sigap merengkuh pinggang gadis itu agar tidak terjatuh dari sofa. "Jangan terkejut, aku cuma mau mata batinku dibuka. Apa yang harus dilakukan?"
Monica tak bisa berpikir lagi akan permintaan Ans. Membuka mata batin? Dia saja yang memiliki kemampuan melihat para makhluk ingin segera menutupnya hanya saja keadaan Kevin masih sangat membutuhkan dirinya. Lalu tiba-tiba Ans mengajukan pertanyaan yang ingin sekali dilupakan begitu saja.
Namun tatapan mata pria itu menyiratkan akan keseriusan. Ia tahu betapa Ans berusaha untuk tetap bertahan di tengah tekanan tapi apa jaminannya akan baik? Andai mata batin terbuka yang ada hanya terkejut akan alam lain yang lebih tak mengenakkan hati dan pandangan mata.
"Kamu harus melakukan ini, berdoa Kepada Allah.
__ADS_1
Cara pertama untuk membuka mata batin adalah dengan berdoa kepada tuhan dan melakukan meditasi, sebelum melakukan meditasi jangan lupa untuk mengucapkan niat di dalam diri untuk membantu terbukanya mata batin kalian.
"Ketika kamu melakukan meditasi untuk membuka mata batin kalian, lakukan meditasi tersebut pada waktu tertentu seperti di jam dua belas malam atau waktu tengah malam. Jadi waktunya masih dua jam dari sekarang." Monica melirik jam yang ada melingkari tangan kanannya. "Ans, pikirkan baik-baik karena selalu mata batin terbuka, tidak bisa melakukan apapun selama beberapa waktu ke depan jika mengalami shock."