
Namun tak ada siapapun bahkan aroma parfum sang istri juga tidak tercium. Sehingga ia bergegas meninggalkan kamar, lalu kembali ke ruang tamu. Dimana seluruh anggota keluarga masih berkumpul bahkan terlihat sibuk menikmati mie. Tak ingin menimbulkan kegaduhan maka ia memilih diam.
"Papa lama banget," Semangkuk mie disodorkan ke hadapan Papa Delano, "Dimakan dulu, Pa."
Sesi makan yang cukup menyita kesibukan tetapi perhatian Papa Delano terbagi. Perasaannya semakin tidak enak. Entah kenapa ia berpikir ingin memanggil adiknya kembali ke rumah. Padahal baru saja pergi. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam villa tempat ia tinggal?
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa malam tiba berteman sinar rembulan di angkasa. Hujan sudah reda menyisakan tanah basah yang terlihat segar. Meski langit masih mendung, tak membuat perubahan udara yang tetap begitu dingin. Semua anggota keluarga kembali ke kamar masing-masing setelah makan malam.
Kali ini anak-anak langsung tidur karena lelah. Begitu juga dengan para orang tua. Mereka seperti terkena demam ngantuk yang melanda secara bersamaan. Villa terasa begitu sunyi senyap tanpa ada kehidupan hangat. Suasana kian mencekam ketika lampu tiba-tiba mati tetapi tidak seorangpun menyadari.
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar suara derit pintu besi dari arah belakang rumah. Sesaat kembali hening hingga bersambut suara langkah kaki berat menyusuri lantai bagian bawah. Raga berselimut jas hujan dengan kepala tertutup tudung, tangan kanan menggenggam sebilah pisau nan tajam.
Langkah kakinya pasti tetapi berjalan terseok-seok seakan kesulitan berjalan, "Darah anak-anak yang kubutuhkan." Tatapan mata nyalang menatap pintu kamar anak-anak.
Ketika raga lelah. Jiwa terdiam, lalu siapa yang mendapatkan pengharapan? Hanya insan yang terjaga. Semua itu hanya untuk kisah tak berujung. Seperti embusan semilir angin yang menerpa.
Pisau nan tajam siap melaksanakan tugasnya. Didekatinya Ans yang berada di posisi paling dekat. Wajah tampan karena keturunan bule jelas tercetak nyata. Tangan yang menggantung diudara menjadi tujuannya.
"Setetes darah dari Ans akan kujadikan sebagai detak jantung pertama." Dipegangnya satu jari telunjuk tangan kanan Ans, lalu tanpa ini itu disayat hingga mengeluarkan cairan merah yang dimasukkan ke dalam tabung kaca kecil.
__ADS_1
Pria misterius itu melakukan hal sama pada Al, Ar dan juga Ale sehingga tabung kaca yang dibawa bercampur empat teted darah satu keluarga. Anak-anak terlelap bahkan tidak merasakan apapun ketika ada yang menyentuh mereka. Semua itu tak luput dari bubuk obat tidur yang sudah dicampurkan pada sop menu makan malam.
Setelah mendapat apa yang diharapkan, tak lantas membuat pria misterius itu pergi meninggalkan kamar. Justru ia berjalan mendekati jendela yang terarah ke balkon. Tatapan mata dipenuhi binar kerinduan walau tertutup tudung jas hujan. Samar-samar tampak pucuk sebuah corong yang sangat dikenalnya.
"Sebentar lagi, kita akan kembali memiliki kehidupan yang sejahtera dan abadi. Tidak akan ada orang yang memisahkan hanya karena masalah duniawi. Kedamaian menanti bagaikan surga." ucapnya bermonolog pada dirinya sendiri.
Sementara di sisi lain, perjalanan yang seharusnya berjalan lancar justru terhenti karena kondisi jalanan benar-benar tidak baik. Mau, tak mau harus kembali memutar haluan dengan pasrah tanpa bisa mencari jalan keluar. Apalagi kendaraan yang lewat sangatlah jarang.
"Eh, lihat di depan sana!" Tangannya menunjuk ke depan. Terlihat sebuah bangunan yang dilewati saat sore hari, "Kenapa tidak mampir dulu saja? Sekarang semakin larut dan tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan."
__ADS_1