
Tubuh berputar bersama ayunan tangan menebas kepala yang langsung terpisah dari raga. Monster itu terkejut tetapi seketika tak lagi bernyawa. Dua bagian tubuh jatuh ke bawah jembatan, lalu Ans dengan capet berlari menapaki sisa kayu jembatan goyang. Begitu sampai di ujung, hentakkan kakinya sengaja ditekankan hingga jembatan itu tak mampu menahan beban berat lagi.
Ia melompat bersambut suara robohnya jembatan goyang yang menjadi jatuh tergantung di ujung sisi yang lain. Melihat semua itu, ketiga bersaudara terkulai lemas hampir saja mati berdiri karena ulah kakak mereka. Ingin rasanya langsung berlari memeluk sang kakak tetapi menyadari energi masihlah kuat.
Ans memejamkan mata, lalu begitu membuka mata ia sudah kembali menjadi manusia biasa. Tanpa ingin menunjukkan rasa sakit yang menghantam dada. Pria itu berjalan tegap menghampiri ketiga adiknya, ''Ayo, kita harus pulang."
"Ka," Blue berlari menghamburkan memeluk Ans, membuat pria itu tersenyum seraya mengusap kepalanya. "Jangan ulangi lagi, bagaimana jika terjadi sesuatu pada kakak? Kami pasti tidak bisa memaafkan diri sendiri."
"Benar apa yang blue katakan, Ka. Kakak itu segalanya bagi kami." sahut Red yang ikut memeluk Ans.
Black hanya tersenyum melihat sisi manja kedua saudaranya pada kakak pertama. Ia tahu bagaimana tabiat sang kakak tetapi tak memungkiri akan kasih sayang dari keluarga yang memang selalu posesif. Meski dirinya lebih suka menyimak, bukan berarti tidak peduli pada ketiga insan yang ada di depannya itu.
Ikatan mereka seperti satu simpul. Dimana saling mengikat tetapi bukan paksaan. Kebahagiaan, kesedihan dipadukan menjadi satu tanpa ingin memisahkan diri. Seperti bintang menemani bulan. Yah begitulah hubungan mereka berempat.
Semilir angin berembus menghantarkan perubahan arah angin. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu menyambut sinar sang surya di tengah rasa dingin yang menyapa. Mobil Jeep dengan nomor plat kota Jakarta melaju melintasi jalanan tepi hutan. Black yang menyetir selalu lihai di setiap medan tempur.
Ans memilih terlelap duduk di sebelah black dengan mantel hitam dan tudung yang menutupi wajahnya. Red dan Blue sibuk ngobrol ngalor ngidul menemani black agar tidak sendirian selama sisa perjalanan. Sementara di villa akhirnya keluarga Wellington mendapatkan bantuan dengan kedatangan polisi dan mobil ambulance.
Keluarga itu sudah aman dan akan ke kota bersama yang lainnya. Begitu juga dengan Kevin serta Monica. Satu tugas yang kini menjadi beban para polisi yaitu mencari keberadaan Ans yang dikatakan menghilang, sedangkan para dokter harus menerima beberapa mayat untuk diidentifikasi.
Seketika tangisan pecah ketika melihat dua anggota keluarga telah menjadi korban jiwa dalam kegilaan seorang Noland Yoshida. Ikhlas yang harus dilakukan tak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana mereka datang dengan jumlah lengkap tetapi kembali harus meninggalkan dua raga tak bernyawa yang akan dimakamkan di Jakarta nantinya.
Penyelidikan villa akan dilakukan dan berdasarkan penjelasan semua orang. Para polisi hanya bisa menahan napas karena tidak membayangkan jika ada di posisi mereka. Tak ingin menambah trauma, mobil akhirnya mengangkut semua orang untuk meninggalkan villa.
"Vin, kira-kira kemana Ans pergi?" tanya Monica menatap keluar jendela. Suaranya terdengar parau karena menahan rasa sesak didada.
__ADS_1
Sedih karena kenyataan memberikan hasil yang mengejutkan. Selama ini dia pikir sudah sangat mengenal Ans tapi ternyata fakta berkata lain. Kevin tak tau harus berkata apa lagi. Pria itu juga merasa kehilangan sekaligus kecewa akan tindakan Ans yang seenaknya sendiri.
Sahabat? Jika memang sahabat, kenapa pergi tanpa pamit. Apa karena tidak bisa bicara atau bagaimana? Apalagi Monica selalu menekankan ada yang membawa sahabatnya itu pergi. Siapa dan kenapa? Pertanyaan demi pertanyaan hanya berubah menjadi angan semu.
Satu bulan telah berlalu dari hari tragedi yang membuat hati, pikiran dan jiwa luluh lantak dipatahkan oleh kenyataan. Hari ini Kevin dan Monica kembali kuliah menjalani sisa waktu agar bisa melanjutkan kehidupan yang terasa kian hambar. Meski sudah berusaha semaksimal mungkin, pihak kepolisian tak bisa meneruskan pencarian Ans dikarenakan seluruh wilayah hutan bersih.
"Vin, laper. Cari makan ke kantin yuk." ajak Monica yang baru saja memasuki kelas, membuat Kevin menurut tanpa ingin protes.
Keduanya jalan bersebelahan tanpa mempedulikan tatapan orang lain. Langkah kaki yang menyusuri lorong kampus sesekali bersambut usapan kepala nan lembut. Kantin yang berada dilorong ketiga dekat kelas mereka benar-benar mempercepat waktu dan bisa mengganjal perut tanpa harus kelaparan.
"Bu, dua mangkuk bakso, tambah pangsit double." pesan Kevin seraya mengangkat tangan membuat si Ibu kantin mengacungkan jempol menerima pesanannya.
Monica sibuk bermain gawai tetapi tiba-tiba semilir angin yang berembus menyentak kesadarannya. Ponsel diletakkan ke atas meja, tatapan mata beralih menatap pintu masuk kantin yang terlihat begitu sepi. Entah kenapa jantungnya berdetak kencang seakan ada yang akan datang.
Was-was menunggu dengan perasaan tak karuan bahkan panggilan Kevin terabaikan berganti fokus ke depan hingga suara langkah kaki tegas terdengar begitu jelas. Langkah yang semakin mendekat mulai menunjukkan jati diri membuat matanya terpana tak mampu berkedip.
Seorang pemuda dengan wajah campuran Arab berjalan merangkul seorang gadis cantik nan imut dengan santainya. Empat bersaudara yang menjadi pusat perhatian semua orang itu berjalan memasuki kantin dan memilih duduk di sudut demi kenyamanan pribadi.
"Pria paling tampan itu namanya Angkasa Samuel dipanggil Sam. Pemuda yang tampak alim dengan senyuman itu namanya Bryan, si gadis imut dipanggil Aurora, dan yang terakhir Fatih. Mereka berempat pindahan dari Jawa dan baru masuk seminggu ini." Kevin menjelaskan tanpa diminta membuat Monica tersenyum sebagai ucapan terima kasih.
Tak memperdulikan nama karena yang ia ingin tahu kenapa hatinya seakan dekat dengan mahasiswa baru itu. Angkasa Samuel. Namanya asing tetapi emosi di hati terasa sangat familiar. Gadis itu tidak tahu pria yang mencuri perhatiannya hanya bisa membatin dihati tanpa ingin mengutarakan apapun.
"Ka, yakin tidak mau berkenalan?" Aurora menatap Sam yang tak lain adalah Ans. Sang kakak hanya mengedipkan mata bertahan pada pendirian yang sudah diputuskan. "Oke, kalau kakak gak mau, biar aku yang kenalan."
Aurora bangun dari tempat duduknya. Fatih yang ingin menahan justru tangannya sudah tertahan sang kakak pertama. "Ka, bagaimana jika Aurora keceplosan?"
__ADS_1
"Kau itu, dia adik kita dan tau caranya membawakan diri. Cukup lihat dan jangan ikut campur." tukas Bryan mengingatkan membuat Fatih terkekeh pelan. "Niatmu saja ingin ikut merecoki."
Kedatangan Aurora disambut Monica dan Kevin hangat. Dimana obrolan basa-basi membuat ketiga saling berkenalan. Obrolan yang terdengar cukup jelas tetapi hanya dianggap angin lalu oleh Sam. Pria satu itu memilih menunggu pesanan dengan memejamkan mata.
Sekilas ingatan kembali menyapa. Dimana satu minggu setelah tragedi villa, ia sengaja mendatangi rumah kedua sahabatnya hanya untuk memastikan Kevin dan Monica terbebas dari pengaruh ritual pemanggilan jiwa. Di saat itulah pemandangan tak biasa mengubah keputusannya.
Awalnya ingin kembali untuk menjadi bagian dari kehidupan Kevin dan Monica tetapi setelah malam itu. Ia hanya ingin semua tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang harus dirubah, apalagi diperbaiki.
Dari atas pohon yang bisa memantau kamar seorang gadis. Apalagi kondisi jendela terbuka lebar dan dengan mata kepalanya sendiri. Kedua sahabatnya menikmati perjalanan penyatuan raga. Sentuhan Kevin membuat Monica menjadi milik pria itu seutuhnya.
Meski tak melihat semua adegan, ia cukup tau jeritan ditengah malam menjadi batas kesadaran. Yah Kevin dan Monica bisa menjadi pasangan tapi jika ia kembali? Bukan tidak mungkin akan mengubah keadaan yang ada. Mana mungkin ia menyakiti hati kedua insan itu.
Akhirnya pesanan datang membuat Fatih memanggil Aurora untuk kembali. Sesi makan yang terbilang tenang membuat suasana kantin begitu damai. Benar-benar suasana yang kondusif yang membuat Sam merasa lebih baik.
Jangan ditanya kenapa ia bisa berada di kampus itu lagi karena alibi ketiga saudaranya maka harus setuju sebagai kakak pertama. Fakultas yang sama tapi jurusan berbeda dengan identitas baru. Meski kali ini adalah identitas asli yang memiliki riwayat kehidupan complicated.
"Ka, aku merasa aneh dengan gadis itu." Aurora memulai obrolan serius setelah makanannya tinggal separuh mangkuk. "Kenapa aku merasakan adanya kehidupan lain di dalam diri gadis itu. Bukankah dia belum menikah?"
"Kalian kemari untuk belajar dan bukan mencari informasi yang seperti itu. Cepat habiskan!" Sam tak suka ketika adiknya mau ikut campur urusan orang lain tetapi ia juga penasaran kenapa Aurora berkata seperti itu.
Sang adik yang memiliki kelebihan dalam merasakan energi kehidupan membuatnya memejamkan mata. Fokus pada mata batin yang kini menembus tubuh Monica hingga menunjukkan adanya perkembangan kehidupan baru yang akan datang.
Monica hamil, tapi kandungannya terlalu lemah dan bisa menyerap energi gadis itu. Apa aku tidak salah lihat? Jika bayi itu hasil hubungan dengan Kevin, seharusnya Aurora tidak bisa merasakan karena bayi manusia biasa. Jadi, siapa ayah bayi itu?~tanya Sam bermonolog di hatinya sendiri yang pasti tak seorangpun akan memberikan jawaban.
Betapa anehnya kenyataan dan hasil dari apa yang barusan dilihatnya. Bagaimana itu terjadi dan bersama siapa? Ia merasa kebingungan hingga tepukan dipundak mengembalikan kesadarannya yang tersentak. Ternyata Bryan yang memegang pundaknya.
__ADS_1
"Jangan dipikirkan, Ka. Semua akan jelas pada waktunya. Kita harus balik ke kelas. Jadi, ayo, Ka!" ajak Bryan membuatnya harus beranjak dari tempat duduknya.