The Gubuk

The Gubuk
TG 6: Kunang-Kunang


__ADS_3

Pertemuan itu benar-benar menetralkan emosi di hati. Pemikiran tak karuan seketika hanyut menjauh dari keraguan. Sesaat rasa bersyukur tak mampu dijabarkan selain pelukan hangat menyentuh raga mungil sang buah hati. Sementara anak-anak tampak bingung dengan sikap kedua papa mereka.


Ale yang tak suka dipeluk lama berusaha melepaskan diri agar bisa menghirup udara bebas. "Pa, lepas donk. Peluknya erat banget loh."


"Bener kata Ale. Papa gak papa 'kan? Kenapa wajah tegang begitu?" sahut Al dengan pertanyaannya yang kritis.


Pelukan dilepaskan, lalu Papa Aldo meminta anak-anak untuk duduk di batang pohon yang tumbang. Sedangkan ia memilih berjongkok agar menyetarakan posisi, "Mama minta kalian untuk balik ke Villa. Papa khawatir kena omel, jadi kalian paham 'kan?"


"Ouh, seperti biasanya. Kan Papa bisa telpon salah satu di antara kami." ujar Ar dengan santai. Ia terbiasa tak ambil pusing karena benar-benar hapal satu persatu karakter anggota keluarga Wellington.

__ADS_1


Papa Bara menunjukkan layar ponselnya. Dimana beberapa panggilan keluar tertera nama anaknya. Hal itu membuat anak-anak sadar dimana mereka melupakan si benda pipih ajaib. Kini tidak ada pertanyaan yang bisa diajukan karena kesalahan jelas terletak pada kelalaian masing-masing.


Disaat berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Tiba-tiba Pak Joko datang, pria itu tampak biasa saja seakan mengerti apa yang terjadi. Alih-alih menanyakan rasa penasaran di dalam kepalanya. Sang penjaga justru menyerahkan toples mini yang dihuni hewan mungil terbang ke sana kemari.


Ale begitu senang menerima pemberian Pak Joko bahkan gadis itu langsung berterima kasih. Semalam tidak bisa mendapatkan keinginannya tapi pagi ini, kunang-kunang sudah ada di tangan. Keindahan yang akan menemani sepanjang malamnya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Di hutan banyak kunang-kunang tapi alangkah baiknya untuk tidak dijadikan pajangan. Setiap makhluk ingin kebebasan. Baiklah, saya harus melanjutkan perjalanan ke kota. Apa anak-anak masih diizinkan ikut dengan saya?" balas Pak Joko setengah menyindir secara halus.


Semua makhluk memanglah harus hidup bebas hanya saja arti kebebasan itu sendiri sangatlah luas. Satu kata saja bisa berakhir dengan jalan yang bercabang. Begitu juga dengan pertemuan yang berakhir perpisahan.

__ADS_1


"Anak-anak akan ikut kami kembali ke villa, Pak." Jawab Papa Aldo seraya beranjak dari tempatnya. Tatapan mata tak bisa memungkiri ia masih merasa khawatir karena takut terjadi sesuatu pada anak-anak. "Terimakasih untuk tawarannya, Pak."


Setelah menolak secara baik. Pak Joko membiarkan ke-enam insan beda usia itu pergi meninggalkan hutan terlebih dahulu, sedangkan ia justru duduk dibatang pohon seraya bersenandung lagu Jawa. Semilir angin berembus mengalunkan irama medog menyebar ke seluruh hutan. Semribit hawa dingin menusuk tulang tetapi tak dipedulikannya.


Seulas senyum samar kian jelas tersungging menghiasi wajahnya. Tatapan mata gelap menghitam bak awan mendung tanpa tujuan. Bibirnya terus bergerak tanpa henti hingga satu per satu nama disebutkannya. Nama lengkap dari setiap anak yang kini tengah bercanda ria di dalam mobil. "Sawang ing raga marang sliro ingkang asmi Arsya Caldwell."


Raga yang luruh menyentuh kalbu terdalam menghantarkan rasa kian terbenam. Deg. Detakan jantung yang terdampar seketika ingatan terngiang mengingat kenangan pemandangan hutan. Rasanya ingin sekali menetap menikmati indahnya keindahan alam yang Tuhan ciptakan. Lamunan tak bertuan terhuyung kembali menyentuh kesadaran.


"Ar! Kenapa kamu ngalamun?" tanya Ale setengah berseru seraya menggoyahkan tubuh saudaranya yang diam membatu menatap ke luar jendela.

__ADS_1


__ADS_2