The Gubuk

The Gubuk
TG 29: Drama Noland Yoshida


__ADS_3

Tak perlu harus membuka pintu agar tau aroma itu disebut apa karena jelas aroma bensin. Pikiran mulai berkelana tak tentu arah tetapi tetap berusaha tenang sebagaimana mestinya. Langkah kaki terhenti sejenak seraya menghirup udara yang berembus.


Benar saja aroma bensin tercium begitu menyengat tapi bagaimana bisa? Keheningan yang melanda terhenyak menjadi suara riuh minta tolong dari luar. Rintihan yang terdengar seperti tengah kesakitan membuat anak-anak memeluk erat Mama Bara.


Kevin berjalan menghampiri Ans. Pria itu ingin meminta sahabatnya untuk tidak nekat karena apapun bisa terjadi tapi baru beberapa langkah berjalan justru Ans sudah berjalan maju menghampiri pintu tanpa pikir panjang. Melihat itu ia berlari sampai akhirnya bisa menghentikan langkah sang sahabat.


Deru napas tak beraturan, "Kamu mau apa? Please jangan nekat deh." Tatapan mata memandang tegas berharap sahabatnya mau melupakan niat hati yang pasti nekat membuka pintu.


Ya itulah Ans ketika memiliki pendirian yang kuat. Pria itu tak segan untuk melakukan apapun yang dirasa memang benar. Meski terkadang cukup menyulitkan. Tetap saja ia bisa mengatasi untuk mendapatkan solusi terbaik. Sesekali memang keputusannya terlalu membabibuta tetapi bukan berarti itu gegabah.


Kenyataannya apapun yang Ans lakukan sudah diperhitungkan secara baik-baik bahkan ketika orang masih memikirkan. Justru pria muda itu sudah bisa melakukan gerakan empat langkah ke depan. Seperti yang dilakukan saat ini dengan berjalan menghampiri pintu utama, lalu membuka hingga melihat tubuh seseorang yang tergeletak di depan pintu persis membuat semua tatapan mata tak percaya.


"Siapa orang ini? Kenapa terbaring lemah tak berdaya di depan pintu?" Ans menatap ke sekeliling tapi tak ada siapapun kecuali aroma yang menyengat yaitu bensin dan berasal dari tubuh orang itu.


Iya berjongkok lalu menggoyangkan tubuh itu sekedar mencoba untuk membangunkan. Akan tetapi tangannya terasa lengket sontak diangkat lalu diamati yang ternyata ada warna merah dan jelas itu darah segar. Disingkapnya kaos yang tampak berubah warna, "Luka sayatan ini masih baru dan dalam, Vin bantu aku angkat dia."


"Are you ...," niat hati ingin membantah hanya saja isyarat tangan Ans yang ada di balik punggung menghentikannya. "Ok, ayo!"

__ADS_1


Kedua pria muda itu akhirnya membantu seseorang yang asing hanya karena melihat luka di lengan. Aroma bensin tak membuat Ans teralihkan karena tubuh yang kini begitu dekat dengannya itu juga menguarkan aroma sabun mandi yang berarti baru saja membersihkan diri. Satu fakta yang disimpan sendiri tetapi ketika melewati Monica, ia memberikan kode lirikan mata yang membuat sahabatnya ikut mengedipkan mata.


Kepergian Ans dan Kevin menuju kamar yang pernah ditempati oleh ketiga muda mudi itu. Begitu sampai, lalu merebahkan perlahan tubuh si pria asing. Papa Delano datang membawa kotak p3k. Sebagai seorang dokter dengan jiwa baik tentu akan mengutamakan keselamatan pasien.


"Kalian bisa ganti baju dulu! Aku yang akan mengobatinya," ujar Papa Delano karena melihat pakaian atas Ans dan Kevin ikut terkena noda darah.


Untung saja pakaian masih ada di dalam kamar yang sama sehingga mempermudah segalanya. Kesibukan Papa Delano memberikan perawatan pertama memang tampak biasa saja. Akan tetapi siapa yang tahu isi hati dan pikiran seseorang?


Sang dokter bukan hanya mengobati luka yang tampak di depan mata tapi ia juga mencermati setiap detail lekuk wajah dan luka yang ada pada tubuh pasiennya. Sebuah fakta kembali ditemukan dan itu hanya menjadi seulas senyum tipis tertahan. Sekarang perlahan akan lebih jelas meski harus lebih waspada.


"Syukurlah lukanya tidak parah, jadi hanya perlu dijahit." ucap Papa Delano kembali menutup kotak p3k setelah sibuk mengobati selama dua puluh menit.


"Ayo, barusan sudah disuntik vitamin agar bisa cepat membaik." sahut Papa Delano beranjak dari tempatnya, begitu juga dengan Ans dan Kevin.


Suara derap langkah kaki terdengar semakin menjauh hingga derit pintu menyudahi pejaman mata sang pasien. Seringai licik tersungging menghiasi wajahnya. "Sukses, siapa yang bisa mengalahkanku? Noland Yoshida."


Bangga akan pencapaiannya karena berhasil mengelabui orang-orang. Awalnya hanya ingin mengetuk pintu seraya meminta tolong tetapi di tengah perjalanan sebuah ide melintas. Kepercayaan itu sangat sulit di dapat, jadi ia mengambil batu dengan ujung runcing dan tanpa perasaan melukai lengannya sendiri.

__ADS_1


Dirasa satu tindakan tidak cukup hingga ide gila kedua muncul yaitu menyiram bensin ke tubuhnya sendiri. Bensin pun sudah tersedia di depan mata yaitu tergeletak di salah satu bagasi mobil yang ada di halaman villa. Rencana yang akhirnya membawa diri sendiri masuk ke dalam villa.


Sementara di sisi lain, semua orang sudah kembali berkumpul tetapi tidak lagi di ruang tamu. Melainkan di ruang keluarga yang memang sudah disiapkan untuk menjadi tempat perlindungan pertama. Malam yang semakin larut membuat anak-anak kelelahan.


"Monica, bagaimana?" tanya Ans begitu duduk di sebelah sahabatnya. Sang gadis yang tiba-tiba memeluknya seraya membisikkan sesuatu agar tidak ada yang ikut mendengar.


Cara Monica cukup mengejutkan karena selama ini tidak sekalipun bersentuhan lebih dari berpegangan tangan. Pelukan bukanlah kebiasaan melainkan sesuatu yang baru untuk dirasakan. "Jangan buat debaran jantungku berubah. Kamu lelah, ya? Tidurlah!"


"Uhuk, mulai ada peningkatan nih." Kevin menyindir Ans secara langsung tapi bukan karena merasa iri karena ia tahu bagaimana perasaan Monica pada pria satu itu.


"Ka, kenapa melamun?" tanya Bara mendekati pria yang berdiri di depan sebuah lukisan pemandangan alam.


Delano berusaha untuk tetap tenang tanpa tekanan. Yah, perasaan yang ingin dinetralisir tapi tak semudah itu karena ia menyadari penghuni baru merupakan orang yang berbahaya. Di saat mengobati luka, ia juga melihat luka lain dan juga beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan.


Sentuhan tangan dipundak mengalihkan perhatiannya. Lalu ia menoleh ke samping, "Aku membutuhkan denah villa untuk mulai pencarian Al dan Ale. Sampai kapan kita akan diam seperti ini? Bahan makanan saja semakin menipis."


Benar yang dikatakan sang kakak hanya saja mereka akan kemana? Villa sangat luas meski sedikit ruangan. Selain itu, terlalu berbahaya jika bertindak gegabah apalagi saling terpecah belah hanya mengedepankan satu emosi di hati.

__ADS_1


Ale dan Al juga anaknya. Mana mungkin tega dan bisa tenang hanya saja ia masih memiliki kepercayaan dimana anak-anak masih dalam keadaan baik-baik saja. Firasat orang tua tidak pernah salah. "Jadi apa yang akan Ka Delano lakukan?"


__ADS_2