
Bulu kuduk meremang bersamaan bisikan lembut yang terdengar menyeramkan. Ans mengusap tengkuk lehernya yang terasa berat seperti seseorang baru saja menghantam tanpa perasaan. Wajahnya mulai memucat tapi mungkinkah karena kurang istirahat? Ia pun tidak tahu karena mendadak lemas seperti tak bertenaga.
"Ans, kamu kenapa?" Papa Delano mendekati anak lelakinya tanpa beranjak dari tempat duduk. Tangannya memeriksa kening yang terasa dingin seperti baru saja dikompres air es. "Kok dingin? Apa kalian gadang lagi semalam?"
Ketika suhu tubuh menurun drastis menurut ilmu kedokteran bisa disebabkan karena beberapa faktor seperti demam, anemia, kurang tidur, kekurangan gizi dan beberapa faktor lain. Sebab itu Papa Delano berpikir Ans pasti begadang lagi atau lupa minum vitamin.
"Kami tidak gadang, Pa. Pasti Ans kecapean dan memerlukan istirahat lebih. Kenapa tidak berikan vitamin saja? Setidaknya akan membantu." jawab Al jujur. Meski semalam gadang sebentar, tapi masih dibatas aman.
Kepanikan sesaat yang langsung diatasi Papa Delano, membuat satu per satu anggota keluarga Wellington membubarkan diri. Apa yang sudah direncanakan tetap dilakukan. Semua terjadi tanpa ada penundaan. Padahal Ar masih mode ngambek hingga mengurung diri di dalam kamar.
__ADS_1
Anak satu itu sibuk menggambar di buku gambar milik Ale. Ia tak peduli jika si pemilik akan marah atau sekedar berteriak memanggil namanya. Saat ini hanya ingin meluapkan semua emosi dari dalam hati. Coretan pena warna merah bergerak tak tentu arah. Garis satu dengan garis lainnya saling bersinggungan.
Awalnya tidak ada yang aneh karena fokus pada tekanan tangan memainkan pena tetapi setelah beberapa waktu dan emosi mereda. Barulah Ar mengamati hasil coretan pena yang ada di depan mata. "Kenapa bisa seperti itu? Ini rumput hutan di tempat tadi pagi, tapi bayangan samar ...,"
"Ar!" panggil Al dari luar kamar dengan ketukan pintu yang mengejutkan si penghuni di dalam ruangan yang terkunci. "Bukain pintu, kami ingin masuk."
Lalu berjalan menghampiri pintu, "Sabar, aku datang." Langkah kaki semakin mendekat tapi tiba-tiba semilir angin datang menyapa menghentakkan jendela yang terbuka begitu saja.
Suara benturan yang cukup keras terdengar hingga sampai keluar kamar. Ale tak sabar lagi dan mulai mengetuk pintu tanpa irama. Hatinya merasa was-was takut Ar melakukan sesuatu yang bukan-bukan. Untung saja Al langsung memeluk tubuh saudarinya seraya meminta gadis itu untuk tenang.
__ADS_1
Pintu terbuka secara perlahan dan Ar menyambut ketiga saudaranya dengan wajah ambigu. Tatapan matanya kosong dan bibir pucat seperti beredam di air es. Melihat itu perubahan wajah kedua saudaranya, Al merasa semakin cemas. Hati tak tenang bahkan sekedar untuk berpikir positif. Apa yang terjadi dan kenapa? Ia sendiri tidak bisa memahami.
Kini keempat anak itu masuk ke dalam kamar. Tak satupun dari mereka yang baik-baik saja. Dimana Ar diam mematung seperti tenggelam dalam lamunan. Al berdiri di depan jendela menatap ke luar, Ans yang memilih berbaring di ranjang, sedangkan Ale duduk di tempat Ar sebelumnya.
Gambar yang asing terus diamati hingga sebuah pola terlihat cukup kontrak di antara garis coretan tak senada. "Aku pernah lihat simbol ini tapi dimana ya?" Tangan menangkup wajah seraya mencoba mengingat rasi bintang yang tampak dominan di antara garis pena yang tergambar di buku gambar.
Semribit angin menyebarkan semerbak aroma bunga kantil. Harum menyengat menarik perhatian keempat bersaudara yang langsung saling pandang satu sama lain. Entah itu kebetulan atau memang mereka memiliki rasa penasaran yang sama. Apakah aroma semakin tercium seakan itu memang untuk menyambut mereka.
"Apa pemikiran kita sama?" tanya Ans yang sudah duduk seraya menatap ketiga saudaranya secara bergantian.
__ADS_1