The Gubuk

The Gubuk
TG 47: ENDING


__ADS_3

Dibiarkannya Monica kembali berbaring seraya menerima infus darah yang terakhir untuk hari ini. Lalu Ia beranjak dari tempatnya sekedar ingin menghubungi Bryan menanyakan keadaan di luar. Bukan luar rumah, melainkan dunia yang selama hampir tiga bulan ini diabaikannya. Kehamilan Monica benar-benar menjadi prioritas utama.


"Bryan, apa kamu bisa melakukan sesuatu untukku?" tanya Ans setelah panggilan tersambung.


[Katakan saja, Ka. Aku akan mendengarkan.]~jawab Bryan dari seberang yang mendengar helaan napas panjang sang kakak.


"Atur pertemuan antara Kevin dan Monica tapi ajak dia untuk datang ke rumah kita. Hanya itu yang aku perlukan. Jika mungkin malam ini juga." pinta Ans yang terdengar sebagai perintah bagi Bryan.


Panggilan telepon itu berakhir seperti permintaan Ans. Bryan datang menghampiri Fatih dan juga Aurora yang masih berada di kelas. Ia berbicara seperti apa yang diinginkan sang kakak lalu berdiskusi apa yang akan mereka lakukan.


Sementara orang yang ingin mereka temui. Justru hari ini tidak berangkat ke kampus. Mereka sampai lupa jika Kevin memang lebih sering berada di luar dibandingkan melakukan rutinitas kuliah. Apa yang seharusnya dilakukan seorang mahasiswa? Tentu menimba ilmu hanya saja Kevin selalu berusaha mencari keberadaan Monica.


Sehingga sekarang mereka bertiga memilih untuk cabut dari Universitas lebih awal dari biasanya. Tidak begitu sulit untuk menemukan keberadaan Kevin karena mereka sudah menyewa seseorang untuk selalu membuntuti pria itu. Jadi apapun info terbaru akan selalu didapatkan.


Bukankah itu terlalu berlebihan? Tentu bagi mereka tidak karena semua akan menjadi rencana di tengah rencana. Sesuai informasi dari sang informan yang mengatakan Kevin kembali mendatangi kantor polisi untuk memeriksa catatan dan mencari info yang memang selalu dilakukan setiap seminggu sekali.


Sayangnya pihak kepolisian tak menemukan apapun. Justru berujung meminta Kevin untuk mengikhlaskan dan melupakan sahabatnya. Apalagi pesan terakhir Monica menunjukkan bahwa gadis itu pergi atas kemauannya sendiri.


Ucapan yang menyulut, membuat Kevin tak terima dengan perkataan sang polisi. Pria itu bahkan sempat harus mendekam di penjara semalaman karena memukul salah seorang opsir. Kekerasan itu memang dilarang ketika kita melakukan pada petugas pemerintah.



Namun hati siapa yang tak geram ketika mengatakan hal yang dirasa itu tidaklah benar. Jelas-jelas firasat hatinya mengatakan Monica dalam keadaan tidak baik. Tak peduli jika pesan dari sang sahabat jelas mengatakan ingin melakukan pekerjaan darurat.


Satu pertanyaan yang hingga kini tak akan kunjung mendapatkan jawaban. Pekerjaan apa yang dimaksud Monica? Gadis itu bersama siapa dan sampai kapan? Jika memang itu hanya pekerjaan. Lalu kenapa sampai menghilang seperti ditelan oleh bumi.


Kebingungan yang mendera selama tiga bulan kurang takkan menemukan jawaban ketika orang-orang di sekelilingnya menutupi semua kemungkinan. Pria itu hanya seorang diri tetapi Ans memiliki orang-orang yang mampu melindunginya. Bukan untuk berbuat tidak baik hanya saja Ans ingin Monica menjalani kehamilan tanpa gangguan.


Kehamilan begitu sangat menyita perhatian dan waktu bahkan Ans sekalipun godam berpikir untuk menjauhkan diri dari gadis itu. Pria itu juga meliburkan semua pelayan selama waktu yang tidak memungkinkan. Sehingga ketiga bersaudara selalu berusaha membantu untuk membereskan segala sesuatunya.


Keluarga Itu tampak saling melengkapi satu sama lain tanpa mempedulikan rasa lelah ataupun rasa yang mungkin sudah sangat kesepian. Sejak kedatangan Monica yang berpindah di ruangan khusus membuat ketiga bersaudara kehilangan waktu untuk bersama sang kakak.


Namun mereka juga menyadari bahwa bayi yang dikandung Monica lebih membutuhkan sosok seorang ayah. Gadis itu juga membutuhkan sang kekasih untuk menjadi pendukung serta sandaran. Apalagi yang mereka butuhkan selama ini selalu terpenuhi.


Lalu ketika tiba giliran menjaga keluarga. Tentu tidak ada salahnya untuk belajar berbagi tugas. Seperti yang sudah diduga Kevin berada di tempat yang membuat ketiga bersaudara menatap dari kejauhan. Mereka masih berusaha mengamati situasi dan kondisi untuk melakukan rencana selanjutnya.



Niat hati ingin segera mengeksekusi tetapi tiba-tiba mereka melihat seorang pria dengan pakaian tradisional menghampiri Kevin yang duduk seorang diri. Tampak obrolan serius membuat Bryan mengernyitkan dahi.

__ADS_1


Bryan penasaran lalu menggunakan kekuatannya mencoba untuk menguping. Akan tetapi tiba-tiba ada energi yang mengalihkan perhatiannya. Jelas pria berbaju tradisional itu bukanlah orang sembarangan.


"Bryan, kamu kenapa?" tanya Aurora panik karena melihat darah segar yang mengalir dari bibir saudaranya.


Bryan hanya menggelengkan kepala seraya mengusap darah dari bibir. Tak ingin kalah begitu saja, ia mengucapkan sebuah mantra. Semilir angin yang berembus berteman arak awan di atas langit seketika berubah mendung.



Kali ini ia menggunakan kekuatan seperti yang diajarkan Ans dengan menggunakan energi jiwanya sendiri untuk menetralisir perisai yang telah membentur. Sayup-sayup terdengar obrolan akhir. Percakapan singkat yang menentukan waktu membuat ia tak mengerti apa yang barusan menjadi topik obrolan.



Jadi apa yang baru saja dibicarakan kedua pria asing itu? Satu hal pasti adalah akan ada pertemuan di antara keduanya karena waktu dan tempat sudah ditentukan. Entah kenapa prediksinya memperkirakan akan terjadi sesuatu hal yang buruk.


"Sebaiknya kita pergi dari sini. Aku tidak tahu tapi ini berbahaya untuk kita." Bryan memberi kode pada Fatih yang kali ini menjadi supir.


Aurora hanya mengangguk membuat Fatih menyetujui. Ketiga bersaudara itu akhirnya pergi meninggalkan halaman kantor polisi dan membiarkan Kevin juga pergi melalui jalan lain. Apa yang diminta sang kakak pertama gagal karena ada hal yang tidak bisa dijelaskan melalui telepon.


Setelah mencapai perjalanan setengah mereka menghentikan mobil. Bukan disengaja melainkan karena terlihat seorang pria berpakaian tradisional yang seharusnya masih berada di tempat sebelumnya tiba-tiba sudah ada di depan jalan berdiri menghadang mobil mereka.


Bryan bukannya takut tetapi ia hanya ingin waspada sehingga ia tak membiarkan kedua saudaranya untuk turun. Sebagai kakak, maka ia sendiri yang turun. Meskipun ditolak tetapi ia tak ingin mendengarkan.


"Bapak kenapa di sini? Apa ada yang bisa kami bantu." ucap Bryan basa-basi karena ia ingin meminta pria itu untuk menepi dari hadapan mobil mereka.


Si bapak tersenyum seraya menggelengkan kepala keheranan. "Apa yang kamu harapkan mengikuti makhluk sesat itu? Apa kamu tidak sadar bahwa manusia itu lebih mulia dibandingkan mereka."


Ia paham maksud dari si bapak yang tengah mengomentari kehidupan sang kakak pertama tapi tak seorangpun berhak menilai apalagi membuat pernyataan yang tidak sesuai faktanya. Meski ia tahu dengan benar Kakak pertama bukanlah manusia.



Bukan ingin membanggakan tetapi ia sadar bahwa seorang iblis memiliki hati untuk memberikan makan kepada manusia yang membutuhkan. Seperti dia yang dipungut dari pinggir jalan, sedangkan manusia lain hanya menatapnya seperti debu tak berarti.


Orang boleh saja mencoba menghakimi para makhluk tak kasat mata karena telah mengganggu para manusia. Akan tetapi apa hak dari pria itu hingga menilai kakaknya? Bahkan tak mengenal, rasanya seperti orang yang tidak bercermin untuk melihat bagaimana wajahnya sendiri.


"Maaf ya, Pak. Kehidupan saya ada6 milik saya dan kehidupan Bapak adalah milik Bapak. Apakah pantas untuk menilai orang lain tanpa kita tahu bagaimana kehidupannya? Tentu tidak." ucap Bryan memberikan balasan yang lebih sopan karena ia tak ingin nama kakaknya semakin tercemar.


"Kamu itu terlalu muda bahkan masih sangat muda untuk mudah dimanipulasi. Bagaimana rasanya jika kamu akan dikhianati? Bapak lupa jika semua perintahnya mutlak." jawab Bapak itu membuat Bryan tidak bisa sabar lagi.


Bagaimana bisa membiarkan ucapan sembarangan seperti itu? Hanya saja ia tak ingin memperpanjang masalah. Bryan menghela napas panjang berusaha untuk tetap tenang. "Terima kasih atas nasehatnya, tapi bisakah Bapak pergi! Kami harus kembali pulang karena Kakak bisa khawatir jika sampai terlambat."

__ADS_1


Seperti tak ingin melawan, bapak itu menyingkir dari jalan membuat Bryan kembali masuk ke dalam mobil lalu perjalanan kembali dilanjutkan. Tak ada pikiran apapun apalagi memperdulikan penilaian orang asing tentang kakaknya.


"Bryan, apa yang dikatakan Bapak tadi?" tanya Aurora dengan rasa penasaran.


Bryan hanya menggantikan topik pembicaraan mengabaikan pertanyaan sang saudara karena itu memang tidak penting. Fatih menyadari perubahan raut wajah sang saudara. Yah pasti terjadi sesuatu dan bapak itu mengatakan hal yang tidak disukai.


Meski begitu ia memilih untuk diam karena itu akan lebih baik. Mobil akhirnya memasuki halaman rumah sehingga membuat Aurora bergegas memasuki rumah terlebih dahulu. Gadis itu sudah sangat merindukan Kakak pertamanya.



Namun sepertinya Ia lupa akan kedua saudara lainnya yang juga memiliki perasaan sama. Bersyukur karena perisai rumah itu pun semakin diperketat ketika menyadari akan ada bahaya yang siap melanda. Musuh bisa datang kapan saja.



Tatapan mata jahat sudah bisa dirasakan sejak seminggu terakhir membuat Ans lebih benar-benar menjaga keluarga. Sebenarnya pria itu juga melarang ketiga saudaranya untuk keluar dari rumah. Akan tetapi menolak karena masih ingin menimba ilmu.



Mau, tak mau, ia terpaksa mengizinkan dengan syarat akan selalu bersama tanpa harus terpisahkan. Hal itu bertujuan agar saling menjaga dan bisa menghormati satu sama lain. Manusia itu lebih sering mendengarkan omongan dan bisikan yang berhawa panas.


Meski kenyataannya kepercayaan itu tetap teguh ia menyadari akan satu hal. Fakta bahwa perbedaan dunia tetaplah berbeda. Sebagai seorang kakak yang menjadi incaran utama para musuh ia tak mungkin membiarkan ketiga adiknya mengalami kesulitan. Jadi jalan satu-satunya adalah membuat peraturan ketat.


Aurora langsung memasuki lift begitu sampai di dalam rumah. Gadis itu mendatangi ruangan dimana kakaknya berada. Seperti biasa akan ada pelukan dan juga kecupan manja yang terbenam di keningnya.


Ans juga membiarkan gadis itu untuk mengobrol dengan Monica setelah semua rutinitas harian. Obrolan yang pasti akan saling membawa kebahagiaan. Padahal yang diobrolkan hanya tentang tingkah orang-orang di luar sana.


"Aurora, dimana kedua saudara kita? Apa kalian tidak pulang bersama?" tanya Ans sedikit cemas yang membuat Aurora mengalihkan perhatian ke arahnya.


"Mereka pulang kok, Kak. Mungkin masih di luar atau ke kamar dulu untuk ganti pakaian. Aku saja yang langsung ke sini tanpa nunggu mereka, jadi sebentar lagi pasti nongol, Kak." jelas Aurora membuat Ans mengangguk.


Setelah mendapatkan jawaban, Ans kembali melakukan sesuatu yang tak seorangpun akan paham. Kecuali dirinya sendiri. Benar saja tak berselang lama Fatih dan Bryan ikut masuk ke ruangan yang sama. Akan tetapi wajah kedua pemuda itu tampak begitu kusut.



Melihat itu, Ans berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Bukannya tak ingin tahu tapi ia harus melakukan segala sesuatunya disaat Monica terlelap.


"Ka, bisa kita bicara sebentar di luar?" tanya Bryan karena ingin mengatakan sesuatu. Pria itu tak sanggup menahan kesedihan atas penghakiman si bapak.


"Pergilah! Aku masih ditemani Aurora ada Fatih juga. Sebentar saja tidak masalah ditinggalkan olehmu, Ans." Monica mempersilahkan agar kekasihnya bisa mendengarkan keluhan sang adik.

__ADS_1


Entah kenapa hatinya ikut was-was ketika melihat sorot mata Bryan. Jelas adik pertama dari Ans tengah bersedih dan ingin mengutarakan isi hati serta pikiran yang memang seharusnya jatuh pada pangkuan seorang kakak.


__ADS_2