The Gubuk

The Gubuk
TG 42: Monster


__ADS_3

Langkah Ans sengaja diperlambat agar Black bisa mendahuluinya, ia tak ingin ketiga saudaranya terjebak dengan makhluk yang sebenarnya sama seperti dia. Seorang manusia dengan jiwa iblis tetapi tak sempurna. Cukup melihat hasil dari kegagalan ritual, ia sudah tau asal usul kekuatan nenek itu.


Jembatan goyang semakin bergoyang karena langkah kaki bukan lagi berjalan tapi berlari berusaha menjauhi makhluk yang jelas disebut monster. Langkah Blue disusul Red mencapai ujung jembatan, sedangkan black masih kurang sepuluh balok kayu sementara Ans berada paling belakang dan sengaja berhenti.



Pria itu mulai mengaktifkan energinya membuat mata kembali berwarna merah darah. Energi yang terasa begitu kuat menyebar membentuk putaran angin. Melihat itu blue dan red langsung menarik tangan black yang mencapai ujung jembatan. Mereka tak paham apa yang akan dilakukan kakak tertua.


__ADS_1


"Ka, cepatlah!" Seru blue mengkhawatirkan Ans tetapi yang dikhawatirkan justru melambaikan tangan pada monster yang menatap dengan tatapan haus darah.


Black menyadari perubahan atmosfer disekitarnya. Tubuh manusia biasa tidak bisa mendekati energi sebesar itu sehingga ia menarik kedua saudaranya agar mundur menjauh dari jembatan. Red yang memberontak harus menerima pukulan telak, sedangkan blue masih bisa dikendalikan dengan satu cengkraman tangan.


Red menatap black kesal, "Apa maksudmu memukul perutku?"


"Jangan bertindak apapun. Satu langkah kita maju, bukan monster itu yang dibasmi tapi manusia seperti kita. Ka Ans dipengaruhi jiwa iblisnya agar bisa melawan bangsanya." Tangan dilepaskan dari lengan Red, "Majulah, jika ingin membuat Ka Ans menyesal seumur hidupnya."


__ADS_1


Dimana monster itu meraung lalu merangkak mendekati Ans dengan gerakan yang cepat. Seulas senyum devil tersungging menghiasi wajah Ans seraya mengeluarkan sebilah pisau bertuah andalannya. Ia menghentakkan kaki hingga tubuh melambung ke udara memutar dengan ayunan tangan melepaskan pisau dengan sasaran utama yang siap menyerangnya.



Suara desingan pisau bergesekan bersama semilir angin mengubah esensi sekitar menjadi lebih mencekam. Aura negatif kian pekat seakan pertarungan itu diselimuti kabut kegelapan. Pisau melesat mengikuti gerakan tubuh Ans yang meliuk-liuk di udara hingga kembali jatuh menapaki papan kayu usang dengan jembatan bergoyang.


Meskipun jembatan terombang-ambing membuat hati ketiga saudaranya kian berdebat tak karuan. Ans masih tetap tenang kembali menangkap pisau bertuahnya. Moneter itu semakin merintih kesakitan setelah terkena beberapa sayatan. "Apa yang membuatmu disekap? Bukankah karena manusia itu membutuhkan darahmu sebagai syarat pembukaan ritual. Aku akan memberikan dua pilihan untukmu."


"Pertama tetaplah di dalam gubuk itu dan jadi penjaga hutan ini tanpa menyentuh manusia. Pilihan kedua lenyap ditanganku. Jadi apa pilihanmu?" tawaran yang cukup adil tetapi apa yang akan dilakukan makhluk tak berakal itu. Ia hanya mencoba memberikan kesempatan pada monster yang sebenarnya kegagalan manusia.

__ADS_1


Seakan memahami apa yang dikatakan Ans monster itu mulai merangkak mundur menjauhi jembatan membuat Ans tersenyum simpul. Lalu berbalik tanpa melepaskan kekuatan. Langkah kaki berjalan maju tetapi semilir angin menghantarkan gesekan pergerakan cepat dari arah belakang. Hal itu tak bisa dipungkiri.


"Ka Ans!" seru ketiga saudaranya benar-benar mendadak terkena jantung melihat apa yang terjadi di depan mata.


__ADS_2