
Akhirnya kakak beradik itu pindah ke ruang sebelah. Ruang pemeriksaan yang menjadi pilihan terbaik. Setidaknya bisa menutup pintu agar obrolan tetap berada di dalam satu ruangan.
Bryan menceritakan semua yang terjadi hari ini pada kakaknya membuat Ans terdiam mencerna semuanya tanpa menyela. Pria itu berpikir apa yang akan ia lakukan dan siapa yang sudah mengincar keluarganya. Apalagi selama beberapa bulan Ia hanya berada di rumah dan tak menampakkan diri bahkan semua urusan mengenai perburuan para makhluk tak kasat mata juga dihentikan.
Aneh saja ketika tiba-tiba ada yang menghakimi seakan ia akan melakukan kejahatan. Apakah mungkin ada orang masa lalunya yang datang atau justru orang baru yang memang sengaja ingin mengambil sesuatu darinya.
Ia baru ingat beberapa malam terakhir ini selalu tak tenang. Pasti ada hal yang janggal tapi apa? Padahal energi dari si jabang bayi tidak keluar rumah karena Monica selalu menjadi perisai utama sebagai seorang ibu.
Apakah mungkin perisai yang mengelilingi rumahnya masih kurang? Sehingga energi bayinya memang sudah tampak tapi rahim sang Ibu seperti perisa juga yang tidak membiarkan auranya keluar semua. Maka dari itu ia tahu benar betapa sakitnya Monica dalam kehamilan kali ini.
Bryan mencoba mengingatkan kakaknya agar lebih berhati-hati. Apalagi setelah melihat Kevin yang mengobrol serius dengan pria tua tadi. Tak ingin berburuk sangka tetapi ia hanya tak mau salah satu anggota keluarganya mengalami luka.
Sebenarnya kekhawatiran Bryan pantas untuk dibenarkan karena pria yang dimaksud sudah berdiri di depan rumah dengan bibir tersenyum simpul menatap aura merah darah yang menyelimuti rumah tersebut. Seringai di bibir tak lagi menunjukkan kebaikan, apalagi tatapan mata tajam.
Entah apa yang ada di pikirannya yang jelas terlihat begitu bahagia seakan mendapatkan sesuatu yang sangat langka. Pria itu menyadari di dalam rumah itu terdapat sesuatu yang sangat berharga. Meski bibir tak ingin kata apa-apa hanya saja tak ingin bertindak gegabah.
Sehingga ia memilih meninggalkan tempat itu, sedangkan di sisi lain Kevin masih merenung di tepi jalan seraya menatap lalu lalang kendaraan. Menikmati rasa tak karuan yang membelenggu pikiran. Apa yang terjadi padanya? Ia tahu.
Tiba-tiba seorang pedagang asongan duduk di sebelahnya menawarkan air secara cuma-cuma. Rasa haus yang melanda membuat Kevin menerima lalu menekuk hingga tandas tak tersisa. Kevin berulang kali menghela napas seakan beban seluruh dunia berada di pundaknya.
"Mas itu kenapa? Kok terlihat begitu sedih." tanya si pedagang asongan mengalihkan perhatian Kevin menatap ke arahnya.
Hanya tersenyum simpul, lalu kembali menatap ke jalanan. "Bagaimana aku tidak sedih ketika orang yang kucintai tiba-tiba menghilang."
"Mungkin saja orang yang Mas cintai sudah memiliki cinta yang sebenarnya." balas pedagang asongan itu mencoba membuat Kevin paham bahwa cinta tak harus memiliki.
"Jika demikian aku tidak akan mengapa. Hanya saja, bagaimana ketika seseorang yang begitu dekat dengan hati. Kemudian tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Pasti kita khawatir bukan? Itulah yang tengah aku rasakan." Kevin menjelaskan situasinya yang membuat si pedagang asongan manggut-manggut paham.
"Begini saja kalau Masnya memang beneran cinta. Doakanlah agar dia tetap selamat di manapun berada ketika memang hati masih meragukan, maka cobalah untuk meminta petunjuk dari yang Maha Kuasa. Insya Allah doa yang tulus akan didengarkan dan jalan pun akan diterangi.
"Selain itu hati kita juga akan merasa tentram. Bukankah kewajiban seorang manusia adalah berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain kita berusaha untuk melakukan yang terbaik yang dinamakan ikhtiar." Sambung si pedagang asongan begitu dewasa dan juga memahami agama.
Seketika Kevin tersadar bahwa dirinya saja terlalu sangat jarang melakukan ibadah. Satu pertanyaan yang kini justru mengusik hati. Apakah doanya akan diterima ketika ia saja selalu melupakan Sang Pencipta.
Tak ada angin ataupun hujan pertanyaan meluncur dari bibirnya. "Bagaimana jika kita sangat jarang melaksanakan sholat tetapi ketika kita ada masalah langsung lari kepada Sang Pencipta. Bukankah terkesan kita salah satu manusia yang licik? Kita memang hambaNya tetapi kita selalu mengingat ketika kita jatuh tapi di saat kita merasa senang justru melupakan."
"Ketika kita menangkupkan kedua tangan berdoa sepenuh hati tak peduli seberapa banyak dosa kita. Allah akan memberikan pintu pengampunan ketika kita memang bersungguh-sungguh untuk meminta ampunan.
"Bahkan orang panjang bukan Islam saja mereka masih mau datang ke masjid sekedar untuk meminta doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Pada dasarnya manusia itu akan selalu membutuhkan bimbingan, Mas.
"Akan tetapi manusia itu memiliki ego yang tinggi hingga lupa bahwa kita ini hanyalah manusia biasa. Sifat manusia itu terlalu sok karena bisa melakukan segala sesuatu yang sekali saja Allah berkehendak kita bisa kehilangan semuanya tanpa ada jejak."
Si pedagang asongan benar-benar memberikan ceramahnya membuat Kevin semakin tersudut menyadari akan setiap kesalahannya. Entah kenapa hatinya mulai tenang dan nyaman. Setelah mendengar semua ceramah itu seakan hatinya yang mengalami musim kemarau tiba-tiba tersiram air hujan deras membuat aroma tanah mengeluarkan udara.
Kevin mulai merasa lebih baik dan pikiran juga mulai mendapatkan pencerahan. Satu lagi pertanyaan mungkin hanya untuk dirinya seorang diri. Bagaimana akan memastikan Monica baik-baik saja? Lamunannya seketika buyar karena ajakan si pedagang asongan.
"Sudah adzan, ayo kita lebih baik melaksanakan sholat terlebih dahulu." ajak si pedagang asongan membuat Kevin beranjak dari tempat duduknya.
Langkah kaki kedua pria itu menyusuri Jalan setapak yang memang menuju sebuah desa kecil di seberang jalan raya. Tampak bangunan rusuh dengan ukuran tak seberapa berdiri. Halaman dengan rerumputan yang tinggi tak terawat terlihat sangat jarang untuk dilewati.
"Mari kita berwudhu dan melaksanakan sholat. Di sini sangat jarang orang yang datang karena selain tempatnya juga terlihat begitu kecil. Orang-orang lebih memilih untuk ke masjid sebelah yang lebih besar dan lebih bersih. Seperti itu, kita harus tetap bersyukur bisa menemukan tempat ibadah sebelum waktu sholat selesai."
Akhirnya kedua pria itu mengambil air wudhu lalu memasuki mushola yang ternyata sudah ada seorang Imam. Benar saja setelah melakukan azan, iqomah tetap tak ada manusia lain yang datang. Akhirnya mereka bertiga melakukan salat berjamaah.
Waktu yang dilalui Kevin semakin sempit dan menipis tapi perasaannya semakin membaik ketika berkumpul bersama pedagang asongan dan Imam mushola tersebut. Ia bahkan tak sungkan untuk menceritakan apa yang menjadi masalahnya. Entah kenapa hati merasa inilah tempatnya untuk berbagi.
Obrolan yang serius hingga mencapai pada satu topik yang lebih serius tentang sebuah gambar yang membuat pak ustad minta contoh dari gambar tersebut. Kebetulan satu lembar kertas selalu dibawa Kevin kemana-mana. Sehingga memberikan hasil gambarnya kepada Pak Ustad yang membuat mata pria berusia lima puluh tahun terbelalak.
Jelas sekali pria itu terkejut atas apa yang dilihatnya. Suara istighfar pun terus keluar dari bibir yang kini sudah terlihat agak kehitaman. Gambar itu masih terlihat jelas meski sudah menjadi lipatan. Pak ustad bisa merasakan adanya kehidupan di dalam kertas itu.
"Apakah kamu tahu di mana gadis ini berada?" tanya Pak Ustad lebih teliti. Akan tetapi Kevin hanya bisa menggelengkan kepala pasrah karena benar-benar tak memiliki jawaban tersebut.
__ADS_1
Ketidaktahuan sang anak muda membuat Pak ustad mengucapkan doa khusus seraya memejamkan mata berdoa kepada Sang Pencipta agar diberikan petunjuk yang nyata. Selama beberapa saat hanya ada keheningan berteman lantunan doa dan tiba-tiba Pak Ustadz kembali membuka mata. Pria itu langsung bangun dari tempat duduknya.
"Sebaiknya kita segera pergi. Bapak tidak tahu apakah ini bisa membantu atau tidak hanya saja temanmu dalam bahaya. Gadis itu memiliki kehidupan lain. Dimana kehidupan barunya akan menjadi petaka.
"Semoga kita sampai di tempat tujuan dengan selamat dan tak ada kendala karena saat ini banyak makhluk yang ingin sekali merebut makhluk dari temanmu itu." jelas terus terang Pak Istad membuat Kevin benar-benar tak paham.
Kevin ikut berdiri termenung mencerna apa yang dikatakan Pak Ustad. "Maaf apa maksudnya? Saya benar-benar tidak mengerti satupun dari penjelasan bapak."
"Kamu akan mengerti ketika sudah sampai di sana, Nak. Sekarang sangat penting dan sangat darurat untuk sampai tujuan tepat waktu dan tidak bisa menjelaskan secara langsung di sini. Pada intinya temanmu membutuhkan pertolongan."
Penjelasan itu menyudahi perdebatan Kevin. Ia tak peduli dengan pemikiran yang terus ikut menambah pusing kepala. Sebenarnya Ia menyadari akan satu fakta di mana ia harus mengikuti Pak Ustad.
Kemanapun pria itu pergi begitu juga dengan si pedagang asongan yang merasa memiliki kewajiban untuk membantu sesama manusia. Akhirnya mereka bertiga memilih untuk menaiki satu mobil yaitu milik Kevin.
Jalanan ditunjukkan oleh pak ustad seperti yang Allah tunjukkan. Perjalanan selama tiga puluh menit telah berlalu dan berhenti di depan sebuah rumah. "Itu rumahnya dan temanmu ada di sana tapi bahaya di luar lebih banyak dibandingkan di dalam."
"Bapak percaya orang-orang di rumah itu adalah orang yang baik dan tidak akan menyakiti temanmu hanya saja, bahaya di luar rumah sanggup melakukan apapun agar mendapatkan bayi yang ada di kandungan gadis itu."
Satu kata langsung menyentak kesadaran Kevin. Bayi siapa yang dimaksud Pak Ustad? Pertanyaan itu jelas semakin membuat hati tak karuan. Apalagi Monica sudah pergi selama hampir tiga bulan tetapi bukankah kemungkinan itu terlalu tidak masuk akal?
Ia tak bisa membayangkan apa lagi melanjutkan pemikirannya. Hanya saja benar yang dikatakan pak ustad. Di depan rumah terdapat banyak orang yang bersembunyi bahkan Kevin sendiri bisa melihat seseorang yang pernah dilihatnya.
Seorang pria dengan pakaian tradisional yang menanyakan alamat dan meminta Ia datang ke suatu tempat dengan waktu yang berbeda. "Maaf Pak Ustad, tapi tadi saya bertemu dengan dia. Dia menanyakan sebuah alamat. Sepertinya orang itu tersesat."
Kehebohan di luar rumah tak jauh berbeda dengan keributan di dalam rumah karena tiba-tiba saja Monica merasa kesakitan. Gadis itu menjerit mengerang tak karuan membuat Fatih dan Aurora kelimpungan sehingga bergegas memanggil Ans dan Bryan.
Kini mereka menyadari Monica akan melahirkan. Melihat itu Ans bergegas menggendong tubuh sang kekasih untuk berpindah ke ruang persalinan. Tanpa menunda waktu lagi ia meminta yang lain untuk membantunya seperti yang sudah dijelaskan.
Proses persalinan cukup memakan waktu bahkan membuat seluruh keringat dikeluarkan. Selama lima menit perjuangan akhirnya Monica mencapai akhir perjuangan. Bayi dengan tubuh manusia yang terlahir normal memiliki bobot 4,5 kg.
Ans meminta Aurora untuk membersihkan bayinya, sedangkan Ia melakukan pertolongan pertama pada Monica agar gadis itu bisa kembali normal. Lima suntikan darahnya kini mengalir ke dalam selang infus. Hanya itu satu-satunya cara yang terakhir agar Monica selamat.
Alih-alih merasa semua itu akan gagal tiba-tiba terasa getaran hebat dari luar rumah yang berusaha menghancurkan perisainya. Perasaannya semakin tak karuan hingga ia meminta Bryan dan Fatih untuk bersiap.
Sementara ia meminta Aurora untuk membawa bayinya pergi ke ruang rahasia yang tak seorangpun tahu bersama Monica.
Tak bisa dielakkan lagi Bryan dan Fatih akhirnya menghadang dari pintu depan. Kedua kakak beradik itu siap mengorbankan nyawa demi menyelamatkan keluarga mereka. Sayangnya makhluk yang dikirim cukup banyak hingga keduanya hampir kewalahan.
Sementara di sisi lain Pak Ustad meminta Kevin dan si pedagang asongan untuk membantunya berdoa meski dari dalam hati. Sementara ia sendiri turun dari dalam mobil lalu menghadang pria dengan pakaian tradisional.
Tatapan mata keduanya saling bertemu. Jelas ada rasa benci, ada rasa ingin menghancurkan. Pak ustad menyadari pria itu memiliki niat yang sangat buruk. Ia tak mungkin membiarkan sesuatu yang seharusnya dilindungi justru dihancurkan tanpa ampun.
Apalagi tujuan itu hanya untuk memperkuat diri sendiri atau justru menjadi tumbal. Ia tahu aroma darah yang baru saja terlahir adalah aroma seorang darah campuran. Ketika Ans memiliki jiwa iblis tetapi bayinya justru lebih sempurna sehingga akan sangat berguna untuk semua orang.
Permasalahannya adalah ketika bayi itu jatuh ke tangan yang salah dan dimanfaatkan maka sudah dipastikan orang yang mengendalikan akan memiliki kekuasaan. Siapa yang tak ingin kekuasaan apalagi keabadian.
Seperti tersihir pria berpakaian tradisional hanya tersenyum miris menatap Pak Ustad. Pria itu meremehkan pria yang kini berada di hadapannya. Ia beranggapan kekuatan miliknya lebih dari milik si Ustad. Hati merasa puas karena terlalu sombong.
Sementara Pak Ustad sendiri terus berdoa dari dalam hati serta menguatkan pikiran dan iman. Apalagi para makhluk yang terus menyerang Fatih dan Bryan. Kedua pemuda itu menikmati jamuan makan malam dengan busur panah yang melesat membuat keduanya sedikit mendapatkan pertolongan.
Sementara Ans yang telah memastikan Monica, Aurora dan anaknya selamat. Pria itu mengambil pisau bertuah yang selalu menjadi senjata andalannya. Ans tak ingin orang lain terluka hanya karena dia. Apalagi untuk melakukan satu keputusan ia telah mengambil banyak waktu orang lain.
Seperti halnya takdir kehidupan, alam pun mulai meredup. Pertarungan yang terus bergulir akhirnya mulai berjatuhan korban dari pihak makhluk halus maupun manusia yang kini mendapatkan luka sayatan. Bryan masih bertahan tetapi Fatih mulai kewalahan hingga tiba-tiba Ans datang lalu berdiri di sebelah sang adik.
__ADS_1
"Pergilah bawa Fatih ke tempat seharusnya?" perintahnya untuk terakhir kali. Ia tak ingin ada penolakan membuat Bryan menatap ke arahnya tak senang hati.
Tidak masalah ada perintah di setiap pertempuran. Jika perintah itu untuk melawan ia tak akan menjadi masalah tapi perintahnya selalu untuk melarikan diri sedangkan Ia tak ingin meninggalkan sang kakak seorang diri.
Sehingga ia melakukan sedikit pergerakan, kemudian membantu Fatih agar kembali memasuki rumah. Namun ia mendorong tubuh adiknya lalu mengunci pintu dari luar. Suara panggilan diabaikan seolah-olah ia tak bisa mendengar.
Ans yang mengetahui hal itu, tak bisa berbuat apa-apa lagi karena ia kini fokus untuk membasmi para makhluk. Kekuatannya hanya sedikit tetapi di sisinya masih ada Bryan dan tak mungkin untuk melakukan hal yang sama sehingga akan menyakiti sang adik.
Akhirnya ia hanya menggunakan setengah dari kekuatan yang membuat para makhluk itu meremehkannya. Bryan yang menyadari kakaknya tak sepenuhnya menggunakan kekuatan merasa bersalah karena semua itu pasti demi dia.
Andai ia menurut mungkin Sang Kakak bisa melakukan sesuatu yang langsung membuat para makhluk lenyap seketika. "Maafkan aku, Kak. Aku justru menyusahkan." gumam Bryan menyesali keputusannya.
Ans benar-benar berusaha tak mengeluarkan semua kekuatan tetapi tiba-tiba sebuah jarum hampir mengenai tubuh Bryang. Sontak ia memutar tubuh menghalangi yang justru akhirnya menancap di dada. Sensasi panas yang menjalar bisa ia rasakan tetapi bukan berarti ia menyerah.
Berpura-pura baik-baik saja dan melanjutkan pertarungan. Ans mendorong semua itu hingga meninggalkan halaman dan justru berhamburan di jalanan. Kevin dan pedagang asongan yang melihat seorang pria di depan rumah bertingkat aneh tidak memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.
Apalagi pak ustad dan si pria berpenampilan tradisional juga hanya diam berpandangan mata. Kedua pria yang ada di mobil itu tidak tahu jika saat ini keributan tengah terjadi. Begitulah ketika kita tidak memiliki mata batin yang terbuka hanya bisa melihat sesuatu yang janggal tetapi tak melihat faktanya.
Diantara semua makhluk, Ans terlihat begitu hebat dan bahkan berusaha menahan rasa sakitnya untuk melumpuhkan para makhluk. Ia tak membiarkan satu makhluk pun untuk kembali memasuki halaman rumah. Satu harapannya adalah Aurora berhasil membawa Monica dan bayinya ke tempat yang sudah disediakan.
Pertarungan ini mungkin tak direncanakan tetapi ia sudah membuat semua rencana. Apapun yang terjadi bisa diantisipasi. Seperti hari ini yang harus menerima satu kenyataan Bryan berada di sisinya untuk membantu. Apa yang harus dilakukan pada anak satu itu?
Ans bingung karena para makhluk masih berusaha menerobos masuk. Sementara saat ini perisai rumah sudah hancur total yang pasti membuat semua makhluk itu datang ke rumahnya. Tak peduli siapa yang memulai ia harus mengakhiri hingga jalan terakhir Ia menggunakan pisau bertuahnya.
Bryan yang melihat sang kakak sudah mulai menggunakan pisau harus menjaga jarak karena pisau itu tak kenal ampun terhadap siapapun yang terkena pasti akan lumpuh. Tak peduli itu makhluk lain atau manusia maka akan tetap menjadi luka yang sangat sulit disembuhkan.
Hal itu disebabkan karena racun yang sudah dioleskan bercampur ramuan yang mematikan. Sementara Pak Ustad semakin menguras energinya melawan pria yang berpakaian tradisional dengan kekuatan ilmu dalam. Keduanya tampak tak mau mengalah bukan karena ingin menang tetapi mereka berusaha untuk mendapatkan tujuan masing-masing.
Merasa semua itu aneh ingin sekali turun tetapi Si pedagang asongan menahannya dan mengatakan akan lebih akan lebih baik jika berada di dalam karena Pak Ustad mengatakan. Jangan menambah masalah ketika kamu bisa menghindari masalah.
Pertarungan masih terus lanjut hingga Ans mulai mengeluarkan hampir seluruh energinya yang membuat Bryan mundur karena tak kuasa menanggung beban aura yang semakin begitu besar. Ingin sekali mendekat menolong tetapi Kakaknya sudah cukup memukul mundur para makhluk.
Ia memilih untuk mendekati pak ustad membantu pria bersorban itu melawan si pria tradisional. Bantuan yang sangat diharapkan bukan karena tak mampu tetapi pria tradisional itu ternyata memiliki kekuatan yang cukup lebih dibandingkan paranormal kebanyakan.
Sementara di ruangan lain yang begitu menjorok ke dalam. Aurora hanya bisa mencoba menenangkan bayi yang terus menangis. Tubuh Monica masih tak bergerak bahkan infus itu hampir habis. Ia tak tahu harus bagaimana selain mencoba menenangkan sang keponakan.
Tiba-tiba suara dentuman keras terdengar dari atas. Disaat bersamaan tubuh Monica mengalami goncangan. Gadis itu terlihat begitu pucat pasi dengan tubuh tak memiliki daging. Setelah beberapa saat mulai mengalami perubahan. Aurora yang melihat itu terpana tak mengerti apa yang terjadi.
Kebangkitan Monica membuat bayi yang ada di pangkuan mulai tenang. Rupanya bayi itu hanya ingin mendapatkan kasih sayang sang ibu tetapi satu kebangkitan juga menghancurkan segalanya.
Di atas sana Ans terlanjur menggunakan semua energinya agar bisa memusnahkan semua makhluk. Pria itu benar-benar sudah memikirkan segala sesuatu sehingga ia merasakan pisau bertuah berputar dengan raga hingga menerjang melewati keseimbangan alam.
Gerakan yang begitu cepat berdesing membelah hembusan angin hingga suara jeritannmemekakan telinga menyadarkan pak ustad akan apa yang dilakukan oleh Ans. Pria dengan raga manusia berjiwa iblis itu menargetkan si pria tradisional sebagai akhir pertarungan.
Pisau bertuah masih terus berputar menyerang pria yang bertanggung jawab atas kehancuran hingga tubuhnya tak sanggup lagi menahan rasa sakit dari racun yang kini mulai menyebar.
Akhirnya pisau itu berhasil menancap tepat di dada si pria tradisional. Akan tetapi di saat bersamaan tubuh Ans jatuh tersungkur. Sontak saja Bryan berlari. Pria itu berusaha untuk menyadarkan kayaknya hanya saja tidak bisa melakukan apapun lagi.
Inilah takdir Tuhan yang tak mampu dirubah yaitu kematian. Maka yakinlah pada takdir yang telah ditetapkan.
ALLAH berfirman dalam surah Al baqarah ayat 216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Seorang muslim dalam Menyikapi qodo dan qodar atau takdir ALLAH yaitu dengan meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala hal yang telah , sedang dan akan terjadi pada diri kita ini adalah kehendak dari ALLAH , dan dalam menyikapi takdir itu kita harus menerimanya dengan ikhtiar dan tawakal.
__ADS_1
Ikhtiar berarti berusaha untuk merubah keadaan atau mencapai keadaan yang kita inginkan dengan berusaha sebaik mungkin mewujudkannya. Kemudian tawakal yaitu menyerahkan segala hasil ikhtiar yang kita lakukan kepada ALLAh dan ikhlas menerima segala keputusan ALLAH untuk kita.